JAKARTA: Berkurangnya pendapatan menyeret laba bersih PT Astra International Tbk pada semester I/2009 turun 10,75% menjadi Rp4,24 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp4,75 triliun.
Dalam laporan keuangan yang tidak diaudit, Astra melaporkan sepanjang 6 bulan pertama tahun ini pendapatan bersih turun 3,25% dari Rp46,27 triliun menjadi Rp44,76 triliun.
Beban pokok pendapatan turun 3,03% menjadi Rp34,12 triliun dari sebelumnya Rp35,19 triliun, tetapi beban usaha naik dari Rp4,47 triliun menjadi Rp4,75 triliun. Kenaikan beban usaha ini disumbangkan oleh peningkatan beban penjualan sebesar Rp30 miliar dan beban umum/administrasi sebesar Rp257 miliar. Laba usaha pun anjlok 10,97% dari Rp6,61 triliun menjadi Rp5,89 triliun.
Presiden Direktur Astra Michael D. Ruslim menuturkan bisnis perseroan pada Januari-Juni terimbas efek krisis ekonomi global, sehingga beberapa bidang usaha mengalami penurunan keuntungan, kecuali untuk bidang jasa keuangan, alat berat, dan kontraktor penambangan.
"Kepercayaan konsumen cenderung meningkat seiring dengan perkembangan positif inflasi, suku bunga dan apresiasi terhadap rupiah. Meskipun demikian, perseroan diharapkan tetap dapat menghadapi pasar yang menantang pada semester kedua, terutama di bisnis sepeda motor," kata Michael kemarin.
Untuk per 30 Juni 2009, tanpa memasukkan aktivitas jasa keuangan, perseroan membukukan kas bersih sebesar Rp692 miliar. Hal ini mencerminkan rasio kas bersih terhadap dana pemegang saham sebesar 2% pada akhir Juni.
Secara terpisah, anak usaha Astra yang bergerak di bidang distribusi alat berat yaitu PT United Tractors Tbk membukukan lonjakan laba bersih sebesar 55,22% dari Rp1,21 triliun jadi Rp1,87 triliun.
Penyebab utamanya adalah adanya kenaikan pendapatan bersih sebesar 10,27% menjadi Rp13,88 triliun dibandingkan dengan perolehan semester I/2008 sebesar Rp12,59 triliun.
Beban pokok pendapatan naik Rp526 miliar menjadi Rp10,66 triliun, sedangkan beban usaha naik Rp113,82 miliar menjadi Rp640,81 miliar. Laba kotor masih tumbuh menjadi Rp3,22 triliun dari semula Rp2,46 triliun, dan laba usaha naik dari Rp1,93 triliun menjadi Rp2,58 triliun.
Direktur United Tractors Gidion Hasan menjelaskan kenaikan penjualan didorong oleh peningkatan produksi batu bara dan pemindahan tanah yang dihasilkan oleh anak usaha yakni PT Pamapersada Nusantara.
"Kontribusi pendapatan Pamapersada terhadap total pendapatan bersih perseroan pada tahun ini mencapai 50%."