BUMI Gemukkan Penawaran Obligasi Konversi, Jadi US$ 375 Juta


JAKARTA. Enercoal Resources Pte, Ltd. menggemukkan rencana penawaran convertible bonds alias obligasi konversi. Semula, Enercoal berencana untuk menawarkan US$ 20-200 juta saja, namun angka ini diperbesar menjadi US$ 375 juta. Obligasi konversi ini bakal digaransi oleh induknya yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Hal ini mencuat dalam sebuah private placement term sheet, seperti yang dikutip dari Dow Jones Newswires, Kamis (30/7). Dokumen tersebut tidak membeberkan besarnya saham yang nanti bakal dikonversi. Namun, menyatakan bahwa obligasi itu akan ditawarkand an dijual diluar AS.

Obligasi ini memberikan opsi untuk dikaji pada 5 Agustus 2011 dan akan jatuh tempo pada 5 Agustus 2014. Kupon obligasi ini sebesar 9,25% dan bisa dinikmati investor per bulan atau monthly basis.

Dokumen itu menyatakan, obligasi bisa dikonversi kapan saja saat atau setelah hari ke-41 setelah obligasi itu diterbitkan; dan hingga 10 hari mendekati jatuh tempo; kecuali bila sebelumnya telah ditebus, dikonversikan atau dibelanjakan dan dibatalkan.

Hasil dari penerbitan obligasi konversi ini akan digunakan untuk membayar kembali utang sekaligus menguatkan modal kerja.

Pemegang Saham Indosat Berhak Tolak Delisting


JAKARTA - Pemegang saham mayoritas PT Indosat Tbk (ISAT) mewacanakan tak ada rencana delisting dan mereka berhak untuk menyampaikan wacana tersebut.

"Ooo...itu wacana dari saya. Ya mereka kan pemegang saham mayoritas, itu wacana dari kita. Mereka berhak menyampaikan wacana seperti itu," tegas Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, di Jakarta, Kamis (30/7/2009).

Di sisi lain, Sofyan mengungkapkan bahwa setoran dividen BUMN hanya untuk perusahaan tertutup saja. Sementara bagi perusahaan terbuka yang sudah melakukan rapat umum pemegang saham (RUPS) akan sulit.

"Kita lihat deh. Bagi-bagi siapa untung banyak, kita ambil. Kalau potensi untung banyak kita interim. Belum tahu teknisnya. Siapa yang punya duit, karena negara yang membutuhkan, kita ambil," pungkasnya.

Laba bersih Astra turun Kinerja United Tractors melonjak 55,22%


JAKARTA: Berkurangnya pendapatan menyeret laba bersih PT Astra International Tbk pada semester I/2009 turun 10,75% menjadi Rp4,24 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp4,75 triliun.

Dalam laporan keuangan yang tidak diaudit, Astra melaporkan sepanjang 6 bulan pertama tahun ini pendapatan bersih turun 3,25% dari Rp46,27 triliun menjadi Rp44,76 triliun.

Beban pokok pendapatan turun 3,03% menjadi Rp34,12 triliun dari sebelumnya Rp35,19 triliun, tetapi beban usaha naik dari Rp4,47 triliun menjadi Rp4,75 triliun. Kenaikan beban usaha ini disumbangkan oleh peningkatan beban penjualan sebesar Rp30 miliar dan beban umum/administrasi sebesar Rp257 miliar. Laba usaha pun anjlok 10,97% dari Rp6,61 triliun menjadi Rp5,89 triliun.

Presiden Direktur Astra Michael D. Ruslim menuturkan bisnis perseroan pada Januari-Juni terimbas efek krisis ekonomi global, sehingga beberapa bidang usaha mengalami penurunan keuntungan, kecuali untuk bidang jasa keuangan, alat berat, dan kontraktor penambangan.

"Kepercayaan konsumen cenderung meningkat seiring dengan perkembangan positif inflasi, suku bunga dan apresiasi terhadap rupiah. Meskipun demikian, perseroan diharapkan tetap dapat menghadapi pasar yang menantang pada semester kedua, terutama di bisnis sepeda motor," kata Michael kemarin.

Untuk per 30 Juni 2009, tanpa memasukkan aktivitas jasa keuangan, perseroan membukukan kas bersih sebesar Rp692 miliar. Hal ini mencerminkan rasio kas bersih terhadap dana pemegang saham sebesar 2% pada akhir Juni.

Secara terpisah, anak usaha Astra yang bergerak di bidang distribusi alat berat yaitu PT United Tractors Tbk membukukan lonjakan laba bersih sebesar 55,22% dari Rp1,21 triliun jadi Rp1,87 triliun.

Penyebab utamanya adalah adanya kenaikan pendapatan bersih sebesar 10,27% menjadi Rp13,88 triliun dibandingkan dengan perolehan semester I/2008 sebesar Rp12,59 triliun.

Beban pokok pendapatan naik Rp526 miliar menjadi Rp10,66 triliun, sedangkan beban usaha naik Rp113,82 miliar menjadi Rp640,81 miliar. Laba kotor masih tumbuh menjadi Rp3,22 triliun dari semula Rp2,46 triliun, dan laba usaha naik dari Rp1,93 triliun menjadi Rp2,58 triliun.

Direktur United Tractors Gidion Hasan menjelaskan kenaikan penjualan didorong oleh peningkatan produksi batu bara dan pemindahan tanah yang dihasilkan oleh anak usaha yakni PT Pamapersada Nusantara.

"Kontribusi pendapatan Pamapersada terhadap total pendapatan bersih perseroan pada tahun ini mencapai 50%."

Laba Niaga, NISP, Permata tumbuh Dana Panin melonjak 41,6%


JAKARTA: Tiga bank dari empat menengah pada semester I/2009 tetap meraup kenaikan keuntungan yang ditopang pendapatan surat berharga dan kenaikan bunga bersih meski pertumbuhan kredit melambat.

PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat laba Rp696 miliar pada Juni 2009 atau naik 20% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp578 miliar.

PT Bank Permata Tbk pada paruh pertama tahun ini membukukan kenaikan laba bersih sebesar 17% menjadi Rp325 miliar. Kenaikan laba bersih ini dikontribusi oleh kenaikan pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lain.

PT Bank OCBC NISP Tbk meraup laba bersih Rp162,3 miliar atau tumbuh 10,4% yang terdongkrak oleh pendapatan bunga bersih naik 26,6% dari Rp654,6 miliar menjadi Rp829 miliar.

Pada saat kompetitornya membukukan kenaikan, Bank Panin justru harus mencatatkan penurunan laba sebesar 28,8% menjadi Rp339,8 miliar.

Penurunan laba bank publik itu karena peningkatan pencadangan dan peningkatan beban dana. Hal itu terlihat dari laba operasional sebelum pencadangan dan pajak sebesar Rp1,05 triliun.

Sementara itu, dana pihak ketiga Bank Panin hingga akhir semester I/2009 meningkat cukup signifikan, yakni 41,6% menjadi Rp50,6 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara kredit hanya tumbuh 4% menjadi Rp37,02 triliun, sehingga margin bunga bersih tertekan jadi 4,44% dari semula 5,09%.

Dirut CIMB Niaga Arwin Rasyid menuturkan peningkatan laba memang terdorong oleh net interest income dan naiknya pendapatan valas serta mark to market dari surat berharga.

Menurut dia, kredit yang terlihat flat itu sebenarnya sejalan dengan industri perbankan selama tahun ini yang mayoritas menahan ekspansi sehingga pertumbuhan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan pelunasan.

"Kami tetap menyalurkan kredit baru, hanya saja tingkat pelunasan kredit baik dari nasabah korporasi, UKM maupun konsumer juga cukup besar sehingga kredit naiknya baru 3%," ujarnya dalam Paparan Kinerja Keuangan CIMB Niaga Juni 2009, kemarin.

Laba CIMB Niaga disumbang pendapatan bunga bersih yang meningkat 28% menjadi Rp2,98 triliun. Peningkatan cukup signifikan itu terdongkrak net interest margin dari 5,4% menjadi 6,3%.

Hal itu, menolong lambatnya ekspansi kredit yang hanya tumbuh 3% secara tahunan menjadi Rp72,6 triliun. Bahkan dalam 6 bulan pertama 2009 turun Rp1,3 triliun dari akhir tahun lalu Rp73,9 triliun.

Dirut Bank Permata Stewart D. Hall dalam siaran pers mengatakan peningkatan laba perseroan karena manajemen tetap mengucurkan kredit meski kondisi ekonomi nasional tengah melambat dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Laba Bank Permata ditopang oleh pendapatan operasional yang melonjak 52% menjadi Rp460 miliar. Pendapatan ini sebagian besar dihasilkan dari penjualan surat-surat berharga.

Dirut OCBC NISP Parwati Surjaudaja menjelaskan kredit tahunan yang minus 6% disebabkan oleh nilai pembayaran angsuran dari debitur lebih besar dibandingkan dengan kredit baru yang disalurkan.

Bakrie bangun PLTU di Kaltim, tuntas 2011


JAKARTA: Grup Bakrie berencana mendirikan PLTU berkapasitas 2x100 megawatt (MW) di Kalimantan Timur dengan nilai proyek Rp3 triliun dan diharapkan bisa beroperasi pada 2011.

Kepala Dinas Pertambangan Kalimantan Timur Yakub M.T. mengatakan rencana pembangunan pembangkit diharapkan turut mengatasi soal krisis kelistrikan di Kalimantan Timur.

"Kami sangat berharap pembangkit itu bisa segera beroperasi. Kaltim masih krisis listrik. Bila menunggu dari pemerintah, belum tahu kapan bisa terlaksana," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Dalam rangka ekspansi Grup Bakrie itu, kelompok itu menggunakan Bakrie Power sebagai operator PLTU tersebut, sedangkan pemasok bahan bakar batu bara berasal dari PT Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha Kelompok Bakrie.

Menurut Yakub, Bakrie Power masih menyelesaikan dokumen yang menyangkut rencana pembangunan pembangkit listrik itu, baik masalah perizinan maupun mekanisme pembelian listrik oleh PLN.

"Pembangunan diharapkan mulai tahun ini dan beroperasi paling lambat 2011. Ini bentuk tanggung jawab mereka [Grup Bakrie], tidak hanya mengambil sumber daya alam, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar."

Selain rencana pembangunan pembangkit oleh Grup Bakrie, Yakub mengakui pemda telah bekerja sama dengan PLN untuk membangun pembangkit listrik berkapasitas 200 MW senilai Rp2,4 triliun yang masuk dalam proyek 10.000 MW tahap kedua. Grup Jawa Pos dan PT Gunung Bayan juga berniat dirikan PLTU 2x50 di Kutai Kartanegara.

"BPD Kaltim siap mendanai PLTU PLN. Bila semua terbangun sesuai rencana, Kaltim siap menjadi lumbung energi nasional."

2 Proyek mundur

Di tempat terpisah, Direktur Operasi Jawa-Bali PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Murtaqi Syamsudin mengemukakan jadwal operasi (commercial operation date/COD) dua proyek 10.000 MW, PLTU Rembang di Jateng dan PLTU Indramayu di Jawa Barat, akan mundur dari jadwal semula pada September 2009 menjadi Desember 2009.

Namun, dia menambahkan COD proyek 10.000 MW lainnya yakni PLTU Labuan tetap sesuai target yakni September 2009. PLTU Labuan unit I tengah menjalani sinkronisasi dengan sistem interkoneksi Jawa-Bali.

Data PLN menyebutkan pekerjaan fisik proyek PLTU Labuan sudah selesai 96%, Rembang 87%, dan Indramayu 78%. Sesuai dengan target, PLTU Labuan unit I, Rembang unit I, dan Indramayu unit I mulai COD pada September 2009.

Selanjutnya, COD Labuan unit II, Rembang unit II, dan Indramayu unit II pada Desember 2009 serta Indramayu unit III dijadwalkan mulai Maret 2010.

Masih soal pembangunan pembangkit, keandalan pasokan listrik Jawa-Bali akan bertambah lagi sebesar 11,5% dengan masuknya PLTU Tanjung Jati B unit 3 dan 4, yang akan beroperasi pada 2012.

Menurut General Manager Sumitomo Corporation Wasa Mitra Engineering Join Operation (SC-WME JO)-kontraktor pembangunan PLTU Tanjung Jati-J. Tanimoto, PLTU Tanjung Jati B 3 beroperasi pada Februari 2012, sedangkan untuk unit 4 selesai Maret pada tahun yang sama.

"Pembangunan PLTU yang sudah direalisasikan Maret lalu, perkembangannya mencapai 8% dan diperkirakan dioperasikan pada kuartal pertama 2012," katanya kepada Bisnis.

Antam disiapkan ambil Newmont


JAKARTA: PT Aneka Tambang Tbk (Antam) disiapkan mengambil alih pembelian 14% saham program divestasi PT Newmont Nusa Tenggara periode 2008-2009, bila memang Menteri Keuangan memutuskan untuk tidak membeli saham divestasi itu.

Sekretaris Kementerian Negara BUMN Said Didu mengatakan BUMN tambang sudah melakukan studi dan kajian evaluasi soal saham divestasi Newmont itu, baik mengenai kondisi saham saat ini maupun progresnya.

“Memang keputusan akhir pembelian itu ada di tangan Menteri Keuangan [Sri Mulyani Indrawati]. Namun, bila dilemparkan ke BUMN, kami siap. Mereka [BUMN Tambang] sudah melakukan studinya,” ujarnya kemarin.

Mengenai sumber pendanaan untuk mengambil 14% saham divestasi itu sekitar Rp4 triliun, lanjutnya, BUMN tambang tidak akan kesulitan memenuhinya, karena bisa diambil dari belanja modal per tahunnya yang mencapai Rp1.000 triliun.

Di tempat yang sama, Sekretaris Ditjen Mineral, Batu Bara, dan Panas Bumi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Witoro Soelarno mengatakan untuk memutuskan apakah negara akan mengambil 14% saham divestasi Newmont atau tidak, tentunya menteri terkait akan merembukkannya secara bersama.

“Prinsipnya, keputusan pemerintah tidak bisa ditentukan oleh satu menteri saja. Yang pasti pelaksanaannya akan sesuai dengan mekanisme yang ada,” ujarnya.

Hanya saja, lanjutnya, untuk memutuskan pengambilan 14% saham itu harus mempertimbangkan berbagai instrumen, terutama, signifikansi apakah akan menghasilkan keuntungan bagi negara selama kurun waktu tertentu sampai dengan akhir tambang Newmont.

"Itu harus signifikan. Kalau pemerintah yang ambil kan pakai uang rakyat, jadi harus dihitung tuntas bagaimana ke depannya," tuturnya.

Sementara itu, sumber Bisnis di Departemen Keuangan mengakui sebenarnya pembelian 14% saham divestasi Newmont itu akan lebih memberikan keuntungan bila diarahkan ke BUMN tambang, terutama PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Selain memiliki portofolio yang bagus, lanjutnya, BUMN itu juga mempunyai wilayah dan tenaga tambang yang cukup banyak.

“Jadi tidak akan merugikan siapa pun. Hanya saja sampai saat ini pemerintah belum mau ngomong. Memang masih mempertimbangkan untung rugi saham itu secara perspektif bisnis. Rapat internal pun sekarang masih belum terbuka,” ujarnya.

Yang jelas,lanjutnya, pemerintah sudah menyiapkan tiga skenario pembeliannya, yakni apakah akan diambil langsung oleh pemerintah, dilempar ke BUMN atau ke pihak swasta nasional. "Pemerintah kalau mau beli tentu harus mempertimbangkan kondisi keuangan juga. Arahannya, lebih ke BUMN karena jatuhnya nanti ke pemerintah juga."

Dirjen Minerbapabum Departemen ESDM Bambang Setiawan mengakui keputusan pembelian 14% saham Newmont itu masih berada di tangan Menteri Keuangan.

Jasa Marga kaji akuisisi tol mandek PU akan evaluasi sejumlah proyek mangkrak


JAKARTA: PT Jasa Marga Tbk tengah mengkaji peluang untuk mengakuisisi sejumlah proyek jalan tol trans-Jawa yang mandek, untuk melanjutkan program pemerintah membangun jalan bebas hambatan di Pulau Jawa.

Direktur Utama Jasa Marga Frans Satyaki Sunito mengatakan sebagai BUMN yang bergerak di bidang jalan tol, pihaknya akan terus menambah proyek yang digarap untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan membantu pemerintah menyediakan infrastruktur jalan tol.

“Kami akan meninjau peluang untuk menambah proyek di trans-Jawa. Kalau ada kemungkinan boleh. Lagi dikaji semuanya,” ujarnya baru-baru ini.

Frans mengatakan hal itu ketika ditanya soal peluang mengambil alih proyek jalan tol yang macet dan rencana pemerintah yang akan mengevaluasi kelayakan investor jalan tol pada akhir tahun ini.

Dia mengutarakan jalur jalan tol trans-Jawa memang berpotensi lalu lintas tinggi dan berperan dalam menggerakkan ekonomi. Dia mengatakan Jasa Marga saat ini sudah menguasai ruas jalan tol yang strategis di koridor tersebut yaitu Semarang-Solo, Surabaya-Mojokerto, dan Gempol-Pasuruan.

Namun, untuk memaksimalkan peran ruas jalan tol yang sedang digarap, perlu terkoneksi dengan ruas jalan tol lain pada saat beroperasi agar pasokan lalu lintas kendaraan dapat sesuai dengan yang direncanakan dalam kontrak.

Dia mengatakan proyek jalan tol yang diincar tetap harus mempunyai kelayakan bisnis yang memadai.

Kelayakan bisnis

Menurut dia, tidak semua proyek jalan tol pada jalur trans-Jawa mempunyai kelayakan bisnis memadai, sehingga tetap diperlukan dukungan pemerintah. Apalagi harga lahan di jalur itu sudah naik beberapa kali lipat dibandingkan dengan harga pada saat proyek itu dirancang 4 tahun hingga 5 tahun lalu.

“Dengan kondisi sekarang, harus ada subsidi dari pemerintah. Kalaupun nanti kami masuk, harus ada subsidi [agar kelayakan bisnisnya memadai],” ujarnya.

Jalan tol trans-Jawa terdiri dari 10 proyek utama mulai dari Cikampek hingga Surabaya. Proyek ini dipegang oleh beberapa investor. Setiap kontrak proyek jalan tol umumnya dipegang oleh perusahaan patungan.

Jasa Marga, awal tahun ini berhasil menambah porsi saham pada ruas jalan tol Surabaya-Mojokerto dari 1,7% menjadi 55%. Proyek itu sekarang sudah memasuki tahap konstruksi, setelah sebelumnya juga tersendat karena masalah restrukturisasi pemegang saham.

Selain Jasa Marga, beberapa proyek jalan tol di koridor ini juga dipegang oleh PT Bakrie Toll Road, anak usaha PT Bakrieland Development Tbk. Bakrie Toll Road menguasai tiga proyek pada koridor utama, yaitu Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, dan Batang-Semarang, serta satu proyek pada koridor lanjutan yakni ruas Pasuruan-Probolinggo.

Ekspansi Telkom ke Iran makin tak menentu


JAKARTA: Rencana PT Telkom menggarap pasar telekomunikasi Iran melalui Telecommunication Company of Iran (TCI)-semakin tak menentu mengingat kondisi politik negeri itu.

Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) Rinaldi Firmansyah mengakui pihaknya belum membatalkan rencana itu.

“Namun kemungkinannya semakin kecil,” katanya di sela-sela Rapimnas Persatuan Insinyur Indonesia (PII) kemarin.

Menurut dia, Telkom melakukan penilaian terhadap TCI dalam berbagai aspek. Secara komersial, tuturnya, TCI sebenarnya termasuk perusahaan yang bagus dan berprospek untuk diakuisisi perusahaan.

“Tapi belum tentu kita ke sana. Iran sendiri termasuk sebagai negara dalam daftar OFAC [Office of Foreign Assets Control/OFAC] Amerika Serikat,” tuturnya.

OFAC merupakan lembaga di AS yang mengatur dan mendorong pemberian sanksi perdagangan dan ekonomi kepada suatu negara, organisasi, dan juga individu, yang dianggap akan mengganggu kepentingan AS. Sejauh ini terdapat tujuh negara yang masih belum terhapus dalam daftar OFAC, termasuk Iran.

Rencana akuisisi TCI sendiri merupakan salah satu isi paket kerja sama yang direncanakan oleh Indonesia-Iran dengan perkiraan nilai US$500 juta. Kerja sama lainnya dari kedua negara itu adalah pembangunan pabrik pupuk di Iran senilai US$700 juta dan pembangunan kilang di Bojonegara, Banten senilai US$4,7 miliar, yang belum satu pun proyek terealisasi.

Berdasarkan catatan Bisnis, semula Telkom membentuk konsorsium dengan yayasan dari Iran untuk membeli 51% saham yang akan dilepas pemerintah Iran. Melalui konsorsium ini, Telkom mengincar minimal 25% saham TCI yang pendanaannya direncanakan diperoleh dari pinjaman dalam negeri.

Dalam kesempatan yang sama Rinaldi mengatakan rencana akuisisi perusahaan teknologi komunikasi dan informasi (ICT) dalam negeri oleh perseroan akan dilakukan pada kuartal keempat tahun ini. Menurut dia, nilai akuisisi dari perusahaan yang tidak disebut namanya itu maksimum sebesar Rp500 miliar.

“Nilai akuisisinya mungkin disekitar Rp500 miliar, dan itu rasanya sudah angka maksimum,” katanya. “Untuk pendanaan akan diambil dari cash flow internal.”

Menurut dia, akuisisi itu ditujukan untuk meningkatkan layanan, termasuk perluasan cakupan pelanggan produk dan jasa perusahaan. Telkom mengalokasikan belanja modal sekitar US$2,1 miliar tahun ini, di antaranya untuk ekspansi baru.

Sebelumnya, Telkom melalui anak perusahaan, PT Multimedia Nusantara (Metra), telah mengakuisisi 49% saham Infomedia Nusantara. Nilai akuisisi anak perusahaan PT Elnusa Tbk itu mencapai Rp598 miliar yang penyelesaian transaksinya diharapkan terjadi pada akhir Agustus 2009.

Laba Bersih PTBA Melonjak 100% Lebih


JAKARTA. Kinerja PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) akan sepanas harga batubara. PTBA memperkirakan, perolehan laba bersih semester pertama 2009, mungkin naik lebih dari 100% dari semester pertama 2008.

Sebagai gambaran, pada semester pertama 2008 lalu, PTBA mengantongi laba bersih Rp 710,35 miliar. Merujuk angka tersebut, paruh pertama 2009 PTBA berhasil mengantongi laba bersih minimal sekitar Rp 1,42 triliun.

Direktur Utama PTBA Sukrisno menyatakan, pada enam bulan pertama tahun ini PTBA mampu mempertahankan volume penjualan batubara seperti tahun lalu, yakni mencapai 5,8 juta ton. "Sementara pada semester pertama tahun ini harga jual batubara PTBA naik. Ini yang menyebabkan laba bersih PTBA tumbuh," ujar Sukrisno, kemarin (27/7).

Penambang batubara milik negara ini juga telah menaikkan harga jual batubara ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tarahan dan PLTU Bukit Asam. Rinciannya, harga batubara untuk pembangkit Tarahan naik 20% menjadi Rp 525.000 per ton. Adapun harga batubara pembangkit Bukit Asam kini menjadi Rp 407.500 per ton, naik 25% ketimbang harga sebelumnya.

Kombinasi antara kenaikan produksi dan lonjakan harga batubara itu membuat pendapatan semester pertama 2009 mencapai sekitar Rp 4,6 triliun. Pendapatan tersebut tumbuh sebesar 59% dari angka setahun lalu.

PTBA pun optimistis kinerjanya akan terus melaju pada semester kedua ini. Maklum, Sukrisno menargetkan, sampai akhir tahun nanti, volume penjualan batubara PTBA mencapai 13,5 juta ton.

Tahun ini PTBA juga berniat mengakuisisi perusahaan tambang batubara untuk menggenjot produksi. Untuk keperluan itu, PTBA menganggarkan duit Rp 1,5 triliun.

Sukrisno menyatakan, PTBA masih membahas rencana akuisisi itu dan masih menimbang sebelum menjatuhkan pilihan. Sebab, meski naik, harga batubara saat ini masih belum pulih benar.

Telkom luncurkan Flexi Muslim


SURABAYA: PT Telkom Tbk Divisi Flexi meluncurkan paket bundling Flexi Muslim untuk menggenjot penambahan 1 juta pelanggan baru.

Pemasaran paket bundling bersama PT Heier Indonesia itu diawali dari Jawa Timur sebagai penghargaan terhadap provinsi itu yang selama ini memberikan kontribusi pelanggan Flexi relatif besar. Sementara itu, launching secara nasional, menurut Executive General Manager Divisi Telekom Flexi Dodiet Hendrojono baru akan dilakukan pada awal Agustus.

“Sebagai tahap awal Telkom akan mempersiapkan sebanyak 1 juta unit ponsel Flexi Muslim untuk seluruh Indonesia,” ujar Dodiet pada acara launching Flexi Muslim, kemarin.

WIKA Merambah Sektor Listrik


JAKARTA. PT Wijaya Karya Tbk akan meluaskan sulur-sulur bisnisnya ke jasa penyediaan listrik. Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang memiliki bisnis inti di bidang konstruksi ini akan mendirikan perusahaan listrik panas bumi bernama PT Wijaya Karya Jabar Power (WIKA Power).

WIKA Power tidaklah sepenuhnya dimiliki oleh Wijaya Karya. WIKA hanya menguasai sekitar 55% dari modal disetor perusahaan ini. Sisanya sebesar 40% akan dikuasai PT Jasa Sarana yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Sumedang, dan 5% dimiliki oleh PT Resources Jaya Teknik Management.

Sekretaris Perusahaan WIKA Natal Argawan Pardede menjelaskan, WIKA Power akan menyediakan listrik untuk kawasan Sumedang, Jawa Barat selama 30 tahun ke depan. Ini sesuai dengan tender yang telah dimenangkan oleh WIKA. Tender itu sendiri digelar oleh PLN pada 2008 lalu.

"Untuk survei pendahuluan, kami sudah menyiapkan dana sebesar Rp 36 miliar," kata Natal. Dana tersebut akan digunakan untuk kegiatan eksplorasi kawasan di sekitar Sumedang sekitar dua tahun. Kawasan itu diperkirakan memiliki potensi panas bumi sangat besar.

Namun untuk tahap awal, WIKA Power hanya akan mengantongi dana Rp 9 miliar. "Jadi kalau butuh biaya lagi, baru akan kami tambahkan modalnya," terang Natal.

Setelah eksplorasi rampung, proses akan berlanjut pada pembangunan konstruksi pembangkit listrik geothermal yang diperkirakan akan berlangsung mulai 2012 hingga 2013. Diperkirakan baru pada tahun 2014 mendatang WIKA Power bisa menyediakan listrik untuk daerah Sumedang.

Adapun total dana yang diperlukan WIKA Power untuk persiapan dan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi itu mencapai US$ 107 juta.

Medco Lunasi Obligasi Rp 1,35 Triliun


JAKARTA. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) telah melunasi utang obligasi yang jatuh tempo 12 Juli 2009. Perusahaan minyak ini melunasi Obligasi I terbitan tahun 2004 senilai Rp 1,35 triliun.

Perusahaan minyak dan gas milik keluarga Panigoro itu telah membayar tunai utang obligasi itu pada 13 Juli 2009. "Sumber pendanaan untuk melunasi obligasi tersebut berasal dari kas internal perusahaan kami," demikian tulis surat Direktur Utama Medco Darmoyo Doyoatmojo kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin (15/7).

Obligasi terbitan Medco tersebut terbit pada 12 Juli 2004. Semula, nilai obligasi ini sekitar Rp 1,6 triliun. Surat utang itu memiliki jangka waktu lima tahun dengan kupon bunga 13,125% per tahun.

Medco sudah dua kali membeli kembali (buy back) sebagian obligasi itu. Pada buy back pertama, MEDC membeli Rp 200 miliar dan kedua membeli Rp 37,73 miliar.

Kata Darmoyo, setelah pelunasan obligasi tersebut, rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) Medco kembali turun menjadi sekitar 0,9 kali. "Sebab, kami tidak lagi mencatatkan Obligasi I tahun 2004 itu sebagai utang jangka panjang," tuturnya.

Tadinya rasio utang Medco sempat meningkat menjadi sekitar satu kali dari ekuitas setelah perusahaan minyak ini menerbitkan Obligasi II tahun 2009 senilai Rp 1,5 triliun. Penerbitan Obligasi II berlangsung 18 Juni 2009.

Obligasi baru Medco itu terbit dalam dua seri, yakni seri A dan B. Obligasi Seri A memiliki masa jatuh tempo tiga tahun dan menawarkan suku bunga (kupon) sebesar 13,375% per tahun.
Sementara Obligasi Seri B menawarkan kupon 14,25% per tahun dan akan jatuh tempo pada tahun 2014.

Total Nilai Transaksi BUMI Menyentuh Rp 1 Triliun


JAKARTA. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi perburuan investor. Kemarin (15/7), total nilai transaksi saham sejuta umat itu mencapai Rp 1 triliun, seperempat total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia.

Berdasarkan data RTI, volume perdagangan saham BUMI itu mencapai angka 1,048 juta lot atau sekitar 524 juta saham. Frekuensi transaksinya mencapai 12.420 kali.

PT CLSA Indonesia dan PT UBS Securities Indonesia merupakan dua perusahaan sekuritas yang tercatat paling aktif membeli saham BUMI. CLSA membeli bersih 158.718 lot saham BUMI senilai
Rp 151,2 miliar. UBS membeli bersih 75.869 lot saham BUMI senilai Rp 72,3 miliar.

Kepala Riset Kresna Graha Sekurindo Jordan Zulkarnaen menengarai, aksi beli saham BUMI ini masih berkorelasi dengan aksi korporasi anak usaha BUMI, yakni PT Multicapital, yang akan ikut membeli 10% saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara.

Secara tak langsung, BUMI memang memiliki 5% Multicapital. Tapi, Jordan menduga, lambat laun BUMI akan menambah kepemilikan saham di anak perusahaannya tersebut. Oleh sebab itu, BUMI membutuhkan tambahan dana untuk menambah kepemilikan saham di Multicapital. "BUMI kan memang sudah jadi kendaraan Grup Bakrie di sektor pertambangan," ujarnya, kemarin (15/7).

Sebagai catatan, kini, Multicapital menjadi mitra PT Daya Maju Bersaing dalam pembelian 10% saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara. Daya Maju merupakan perusahaan patungan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa dan Pemkab Sumbawa Barat.

Sesuai kesepakatan mereka, Multicapital akan menanggung seluruh anggaran pembelian 10% saham divestasi senilai US$ 391 juta, atau Rp 3,94 triliun (kurs Rp 10.100 per dolar AS). "Semua anggaran berasal dari kas internal Multicapital," kata Dileep Srivastava, Selasa (14/7).

Menurut kalkulasi Jordan, harga wajar BUMI berada di level Rp 3.500 per saham. Kemarin, harga saham BUMI ditutup di posisi Rp 1.940 per saham, naik 4,30% dari penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Cermati Saham Elnusa



Ekonomi
[Bookmark this] [Print this page] [Send to mail]
16/07/2009 - 07:25
[increase] [decrease]
Cermati Saham Elnusa
Susan Silaban

INILAH.COM, Jakarta – Harga saham PT Elnusa Tbk (ELSA) akan digerek menuju Rp390-395 dalan jangka pendek seiring dengan rampungnya akuisisi 37,15% saham perseroan oleh Northstar Pasific Pte dan Saratoga Capital bulan ini.

Selain itu, beredar di pasar perseroan juga tengah mensiasati untuk rencana akuisisi blok migas di Sumatera. Hal ini akan menjadi momentum kenaikan harga saham ELSA.

Pada penutupan perdagangan saham ELSA keamrin (15/7), harga saham ditutup mengaut 25 poin ke level Rp335.

Hold Saham INCO


INILAH.COM, Jakarta – Harga saham PT International Nickle Indonesia Tbk (INCO) ditargetkan mencapai Rp4.000 dalam waktu dekat.

Hal ini diprediksi oleh analis Bhakti Securities Nuvrial Prakasa dalam risetnya Kamis (16/7). “Kita merekomendasikan tahan untuk saham INCO,” prediksi Nuvrial.

Ia melihat, harga nikel mulai beranjak naik. Meski begitu, tahun ini harga rata-rata nikel hanya US$12.500 per ton anjlok 40% dar itahun lalu. Kinerja INCO pun diprediksi melorot tahun ini.

Pada penutupan saham di lantai bursa kemarin (15/7), harga sham INCO ditutup menguat 175 poin ke posisi Rp3.825.

Uang BNI Rp 15 Miliar yang Dirampok Sudah Diasuransikan


Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (BNI) mengaku tidak mengalami kerugian akibat perampokan uang Rp 15 miliar yang akan dikirim ke kantor pusat. Setiap distribusi uang BNI selalu dilindungi asuransi uang (money insurance).

Menurut juru bicara BNI Ryan Kryanto, uang yang dalam proses distribusi selalu diasuransikan melalui perusahaan pengamanannya, yaitu Certis Cisco.

"Dari sisi finansial, BNI tidak mengalami kerugian, semua ada asuransinya dan melalui Certis Cisco kita sudah menggunakan asuransi Tri Pakarta dalam proteksi money insurance," ujar ekonom dan juru bicara BNI di Gedung BNI, Jakarta, Selasa (14/07/2009).

Dengan begitu, raibnya uang Rp 15 miliar tidak mempengaruhi kinerja maupun pelayanan BNI terhadap nasabah lainnya.

Ryan menjelaskan, dana tersebut merupakan dana operasional harian yang memang surplus di kantor cabang tersebut. "Hal tersebut memang biasa terjadi. Di suatu kantor cabang dan kantor layanan jika memang banyak yang setor uang, maka daripada mengendap, BNI akan melakukan distribusi dana tersebut ke kantor pusat," papar Ryan.

Hal ini dilakukan agar jika ada cabang BNI yang kekurangan likuiditas bisa dipinjamkan dari surplus dana ini. "Ini biar tidak ngendon di suatu cabang," katanya.

Ryan menambahkan sejauh ini kita belum mendapatkan keterangan lebih lanjut atas kasus tersebut. "Semua
di tangan kepolisian dan Certis Cisco selaku perusahaan yang telah bekerjasama sejak tahun 2007 tersebut akan bertanggung jawab sepenuhnya," ujar Ryan.

Untuk diketahui, PT Certis Cisco mengalami musibah perampokan pada senin (13/07/2009) malam. Salah satu armada Cisco mengalami musibah di kawasan Grogol, Jakarta Barat ketika sedang mengirimkan uang dari BNI Cabang Tangerang sebesar Rp 5 miliar dan dari BNI Soewarna sebesar Rp 10 miliar menuju Cash Center BNI di kantor pusat.

Cisco merupakan salah satu perusahaan vendor pelayanan pengantaran dan penjemputan uang dari dan ke cabang BNI. Selain Cisco, BNI juga menggunakan jasa dari 5 perusahaan lainnya.

Sejak tahun 2004, BNI telah mengimplementasikan sistem pooling cash dimana pendistribusian uang tunai dilakukan secara sentralisasi sehingga lebih efektif dan efisien mendukung kegiatan bisnis perusahaan secara keseluruhan.

Akuisisi saham Elnusa diharapkan rampung bulan ini


JAKARTA: Konsorsium Saratoga Capital dan Northstar berharap proses akuisisi terhadap 37,67% saham PT Elnusa Tbk bisa rampung bulan ini atau lebih cepat dari rencana semula yaitu Agustus-September 2009.

CEO Northstar Pacific Partners Patrick Walujo menuturkan proses akuisisi masih berjalan. Selain itu, proses tersebut juga masih menunggu kedatangan CEO Saratoga Sandiaga S. Uno dari luar negeri.

"Semoga proses akuisisi sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Namun untuk harganya, kami belum bisa menyebutkan dulu," katanya kemarin.

Konsorsium Saratoga-Northstar ditetapkan menjadi preferred bidder 37,67% saham Elnusa yang dijual PT Tri Daya Esta. Konsorsium tersebut mengungguli calon pembeli lainnya, yaitu PT Pertamina (Persero) dan konsorsium Ciptadana.

Untuk keperluan masuk menjadi pemegang saham Elnusa, konsorsium Saratoga dan Northstar menyiapkan dana hingga US$150 juta.

Kendati demikian, harga akuisisi saham tersebut hingga kini belum diungkap secara resmi dengan alasan menjaga perjanjian kerahasiaan.

Beberapa waktu lalu, CEO Saratoga Sandiaga Uno mengatakan pihaknya tidak bisa membuka nilai akuisisi lantaran terikat perjanjian kerahasiaan.

Namun berdasarkan catatan Bisnis, konsorsium Saratoga-Northstar membeli saham Elnusa Rp425. Jika dikalkulasi, nilai akuisisi saham itu diperkirakan mencapai Rp1,15 triliun, sedangkan Rp360 miliar akan dimanfaatkan untuk membiayai pengembangan Elnusa ke depan.

Jumlah itu lebih tinggi dari dua calon pembeli lainnya, yaitu Pertamina di bawah Rp300 per saham dan Ciptadana di Rp315 per saham.

Sebelum pengambilalihan saham, pemegang saham Elnusa adalah Pertamina dan Tri Daya Esta.

Terkait dengan Elnusa, baru-baru ini jajaran manajemen perseroan menyatakan hingga Mei 2009 berhasil membukukan kontrak sebesar US$218 juta, yang terdiri dari carry over tahun lalu sebesar US$130 juta dan kontrak baru selama 5 bulan pertama tahun ini sebesar US$87,5 juta.

Perseroan optimistis selama tahun ini bisa meraih lagi kontrak baru hingga US$186 juta. Untuk revenue, perseroan menargetkan bisa membukukan sebesar Rp3 triliun.

Harga saham emiten berkode ELSA ini kemarin ditutup di posisi Rp310 per saham atau tidak ada perubahan dari harga penutupan hari sebelumnya. Apabila mengacu pada harga tersebut, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp2,26 triliun dan price to earning ratio (P/E) 12,11 kali.

BNI Rampungkan Sindikasi Pembiayaan PLTU Mulut Tambang

Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menargetkan sindikasi pembiayaan PLTU Mulut Tambang Keban Agung di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan bisa selesai pekan depan.

Menurut Direktur Korporasi BNI Krishna Suparto, saat ini perseroan sudah melakukan pembicaraan beberapa beberapa anggota Asbanda dan bank swasta untuk sindikasi tersebut.

"Bank partner kita jajaki Asbanda, ada beberapa bank swasta juga yang diundang. Minggu depan sudah selesai," ujarnya di kantor kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (9/7/2009).

PLTU yang akan dibangun oleh PT Primanaya Energi itu merupakan bagian dari percepatan 10.000 MW tahap II PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang melibatkan swasta.

Proyek tersebut membutuhkan biaya sebesar US$ 230 juta. Sindikasi yang dipimpin bank plat merah tersebut akan membiayai porsi dalam rupiah.

"Semua porsi rupiah dari kita (sindikasi)," imbuhnya.

Sementara itu, mengenai pendanaan 10.000 MW tahap I, tahun ini BNI memberi plafon pinjaman sebesar Rp 3 triliun. Sedangkan yang sudah terserap sekitar hingga Juni 2009 sekitar Rp 2-2,5 triliun.

"Yang sudah diambil sekitar Rp 2-2,5 triliun," katanya.


United Tractors punya sisa dana

JAKARTA: PT United Tractors Tbk masih memiliki sisa dana hasil penawaran saham terbatas pada tahun lalu sebanyak Rp697,94 miliar.

Direktur Keuangan United Tractors Gidion Hasan menyatakan perseroan meraup dana senilai Rp3,56 triliun melalui penawaran saham terbatas.

"Dana sudah dipergunakan untuk melunasi utang yang dipakai untuk akuisisi PT Tuah Turangga Agung. Selain itu, dialokasikan untuk pemenuhan modal kerja yang sudah dipakai sebanyak 58% dari total alokasi," paparnya kemarin.

Selain itu, perseroan mengalokasikan untuk belanja modal anak perusahaannya PT Pama Persada.


Inflasi tahun ini diprediksi 4% Samurai bond belum direspons positif

AKARTA : Pemerintah optimistis realisasi inflasi pada tahun ini akan berada di kisaran 4% sehingga memberi peluang bagi Bank Indonesia untuk kembali menurunkan tingkat suku bunganya menjadi 6%.

Menteri Keuangan sekaligus Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati menuturkan sepanjang semester I/2009 harga-harga barang relatif terkendali dengan laju inflasi tahun kalender sebesar 3,67%.

Kecenderungannya kemungkinan masih akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan sehingga sangat mungkin rata-rata inflasi sepanjang tahun ini mendekati 4%.

"Untuk beberapa bulan ke depan faktor-faktor yang menjadi pemicu inflasi seperti hari raya, lebaran, puasa atau akhir tahun, saya rasa semuanya sudah relatif diantisipasi. Saya rasa harapan Bapak Presiden [Soesilo Bambang Yudhoyono] untuk inflasi mendekati 4% sangat beralasan kalau dilihat dari stabilitas harga yang sekarang ini terjaga sampai akhir tahun," jelasnya kemarin.

Secara otomatis, lanjutnya, itu membuka peluang untuk tingkat suku bunga BI Rate kembali ditekan hingga menjadi 6%. "Awal tauhn ini kan BI Rate masih di kisaran 8% atau di atas 8%. Berarti kalau sekarang dapat rata-rata 7%, berarti akhir tahun bisa 6%," tegasnya.

Di tempat terpisah, Pjs. Gubernur BI Miranda S. Goeltom Miranda memperhitungkan akan terjadi penurunan pada tahun ini di bawah 5%. Angka ini lebih baik dari target sebelumnya yang diperkirakan 5%-7%.

Akan tetapi, prediksi inflasi rendah tersebut tidak terkait dengan kemenangan sementara salah satu pasangan capres yang merupakan mantan Gubernur BI. "Nggak ada urusannya bekas gubernur BI kemudian jadi wapres, nggak ada iming-iming itu," katanya.

Proyeksi inflasi rendah pada tahun ini, lanjutnya, sudah didukung oleh tren pencapaian tingkat kenaikan harga yang relatif kecil. Dia memberi contoh laju inflasi tahun kalender Januari-Juni 2009 yang baru mencapai 0,21% atau 0,11% pada Juni (month-on-month).

Lebih jauh Miranda menuturkan output gap atau selisih antara permintaan masyarakat dan ketersediaan barang, saat ini masih besar sehingga belum ada tanda-tanda tekanan harga. Dari sisi faktor musiman, yang kerap memengaruhi harga beras dan pendidikan, tidak memberikan indikasi dorongan terhadap laju inflasi.

"Lebaran yang merupakan faktor musiman diperhitungkan hanya akan memberi dorongan inflasi menjadi 3%-4%."

Begitu pula dengan tekanan inflasi yang ditimbulkan dari impor barang sudah mulai berkurang. Adapun harga minyak mentah dunia yang tidak melonjak membuat administered price (harga yang dapat dikendalikan pemerintah) menjadi lebih rendah.

"Dalam 5 tahun ke depan atau medium terms, inflasi bahkan bisa mencapai 3%-5%."

Belum direspons


Pada bagian lain, upaya pemerintah mempromosikan obligasi berdenominasi yen (Samurai Bond) di pasar Jepang belum mendapatkan respons positif dari para calon investor.

Anggito Abimanyu, Kepala Badan Fiskal Departemen Keuangan, menuturkan pemerintah telah melakukan road show di pasar Jepang dalam rangka penerbitan Samurai Bond. Sejauh ini pemerintah masih menunggu respons dari para calon investor Jepang guna menetapkan waktu dan jumlah penerbitan Samurai Bond.

"Kita belum dapat feedback. Kita kan masih menunggu demand-nya berapa, jumlahnya berapa, mereka minta berapa, yield spread berapa," jelasnya kemarin.

Kendati sudah mendapatkan jaminan dari Japan Bank of International Coorpration (JBIC) dengan rating yang bagus, lanjutnya, tidak serta-merta menarik minat investor. Pasalnya, meraka perlu juga memperhatikan faktor risiko di Indonesia.

"Jangan sampai rating bagus, tapi tetap di atas benchmark. Harus sesuai dengan benchmark."

JBIC telah memberikan jaminan atas penerbitan Samurai Bond senilai US$1,5 miliar melalui skema Deffered Drawdown Option (DDO). Artinya, pinjaman siaga tersebut baru bisa ditarik apabila kondisi pasar Jepang tidak memungkinkan untuk bisa menyerap Samurai Bond.


BRI Danai Proyek 10.000 MW di Lampung Rp 2,7 Triliun

Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dalam waktu dekat akan menandatangani kontrak pembiayaan proyek 10.000 megawatt di Lampung senilai Rp 2,7 triliun.

Demikian dikatakan Direktur Hubungan Kelembagaan BRI, Asmawi Syam usai acara Grand Launching BRI Syariah di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu malam (01/07/2009).

"Setelah dengan Telkom, kemudian semen Tonasa sebesar Rp 1 trilun, BRI dalam waktu
dekat akan signing dengan PLN untuk pembiayaan proyek 10.000 megawat di Tarahan
Lampung Selatan," ujarnya.

Asmawi mengatakan, proyek pembiayaan dengan PLN ini merupakan komitmen baru pemberian kredit korporasi BRI. BRI juga memiliki komitmen baru kredit korporasi dengan Pertamina.

"Kita akan kucurkan pembiayaan untuk operational expenditure (opex) Pertamina sebesar Rp 1,5 triliun dan itu sudah komit," tuturnya.

Pembiayaan untuk opex Pertamina ini merupakan program 'club deal' dengan beberapa
bank-bank lain. "Namun bukan merupakan proyek sindikasi, namun tetap sendiri-sendiri," jelas Asmawi.

Ditempat yang sama, Direktur Korporasi BRI, sudaryanto sudargo mengatakan, sampai Juni 2009 pertumbuhan kredit korporasi BRI cukup baik.

"Sampai Juni 2009 pertumbuhan kredit korporasi sudah mencapai 24 persen," tuturnya.

Ia menambahkan, memang mayoritas pengucuran kredit-kredit baru umumnya kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN).


Credit Suisse Crossing 3,99% Saham BCA Rp 3,377 Triliun

Jakarta - PT Credit Suisse Securities Indonesia (kode broker: CS) menjadi perantara transaksi tutup sendiri (crossing ) atas 986,03 juta saham PT BCA Tbk (BBCA) senilai Rp 3,377 triliun.

Berdasarkan data transaksi Bursa Efek Indonesia (BEI), CS melakukan crossing sebanyak 2 kali transaksi pada pukul 10.24.35 JATS dan 10.24.58 JATS. Crossing dilakukan pada harga Rp 3.425 per saham.

Total jumlah saham yang dipindahtangankan sebanyak 986,03 juta saham (3,99%). Saat ini belum ada keterangan resmi dari BBCA mengenai pemindahtanganan tersebut.

Namun dalam catatan detikFinance , Farallon Capital Management LLC memang sudah melakukan kesepakatan jual beli pelepasan sebagian sahamnya di BBCA. Ketika Farallon bergabung dengan Djarum Group untuk membeli 51,76% saham BCA, harga yang dibayar ketika itu hanya US$ 540 juta.


Inflasi Juni 2009 Sebesar 0,11%

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juni 2009 sebesar 0,11%.

Demikian disampaikan Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ali Rosidi dalam konferensi pers di kantornya, Jalan DR Sutomo, Jakarta, Rabu (1/7/2009).

Inflasi tahun kalender dari Januari-Juni 2009 atau semester pertama 2009 sebesar 0,21%, sementara inflasi year on year atau Juni 2009 terhadap Juni 2008 sebesar 3,65%.

Bahan makanan memberikan kontribusi negatif terhadap inflasi di bulan Juni 0,04%. Tapi kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau memiliki kontribusi 6,29% terhadap inflasi.


Copyright © 2008 - Informasi Saham - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template