BUMI Sepanjang Pekan Ini Naik 12%


INILAH.COM, Jakarta – Pekan ini, saham PT Bumi Resources (BUMI) melesat tajam. Optimisme pulihnya ekonomi global dan naiknya harga minyak mentah, telah mengerek emiten tambang batubara ini hingga dalam sepekan berhasil mencatatkan penguatan 12%.

Di hari pertama perdagangan pekan ini, IHSG mengalami pergerakan luar biasa melonjak tajam 3,36%, dan mencatatkan nilai transaksi Rp 2,3 triliun. Investor asing dengan porsi 50%, mulai melakukan aksi bargain buying terhadap saham-saham Indonesia. Semua sektor mengalami penguatan akibat bertaburannya sentimen positif di lantai bursa seiring sentimen dari bursa global yang menghijau. Hal ini dipicu rencana pemerintah AS mengeluarkan aset beracun perbankan AS dengan dana senilai US$ 1 triliun. Hal ini menyebabkan dolar melemah dan memicu kenaikan harga minyak ke level US$ 52,9 per barel.

Investor juga mengantisipasi laporan keuangan emiten 2008. Hal itu mendorong investor mengakumulasi saham-saham berfundamental bagus. Apalagi, banyak emiten yang akan membagikan dividen. Salah satunya adalah BUMI yang berencana membagi dividen 30% dari laba bersih 2008.

Dengan payout ratio 30%, dan asumsi laba sesuai guidance manajemen US$ 635 juta, maka dividen BUMI mencapai US$ 190,5 juta. Jika diasumsikan nilai tukar rupiah 12 ribu per dolar AS, dividen final akan mencapai Rp 117,8 per lembar.

Jumlah ini cukup besar, yaitu 15,3% dari harga saham. Tak heran kabar dividen BUMI ini menarik investor. Managemen BUMI pun menyatakan bahwa laporan keuangan 2008 akan dirilis pada 31 Maret 2009 serta mengungkapkan rencana menggelar RUPS untuk pembagian dividen pada Juni 2009 mendatang.

Kabar ini membawa sentimen positif bagi saham BUMI, Senin (23/3) yang ditutup menguat 20 poin (2,6%) ke level Rp 770, setelah sempat naik menyentuh level Rp 790 per unit. Volume ter catat 312 juta lembar saham, senilai Rp242.7 miliar, dengan frekuensi 4.587 kali

Pada Selasa (24/3), IHSG kembali melanjutkan penguatan, seiring sentimen positif bursa global paska Menkeu AS Timothy Geithner mengumumkan detil rencana pengucuran stimulus senilai US$ 1,2 triliun.

Sementara rupiah juga mengalami penguatan ke level 11.440 per dolar AS setelah Indonesia mendapat komitmen pinjaman dalam bentuk bilateral swap arrangement (BSA) senilai Rp 175 triliun.

Sementara naiknya harga minyak ke level US$ 53,80 per barel, mendorong penguatan IHSG. Beberapa saham komoditas menguat, termasuk BUMI yang ditutup naik 30 poin (3,8%) ke Rp 800, setelah menyentuh level Rp 810. Sentimen pembagian dividen BUMI masih mewarnai bursa sehingga mendongkrak emiten promadona ini.

Namun, menyusul rally lima hari berturut-turut, IHSG pada hari Rabu (25/3) akhirnya berakhir terkoreksi dengan trading value cukup besar yaitu Rp 1,7 triliun. Investor melepas saham-saham unggulan menjelang libur hari raya Nyepi untuk mengantisipasi pemburukan ketika bursa libur.

Sementara mayoritas bursa regional mengalami pelemahan merespon turunnya bursa AS, setelah Bank of America memprediksi ekspor Jepang anjlok di Juni 2009. Hal ini menyebabkan pelemahan yen. Sementara rupiah melanjutkan penguatannya ke level Rp 11.550.

Sektor yang mengkontribusi pelemahan terbesar adalah sektor infrastruktur, disusul sektor pertambangan. Di tengah terjunnya saham-saham unggulan ke jurang penurunan, saham BUMI berhasil bertahan dan ditutup stagnan di posisi Rp 800, meski sempat melemah di level Rp 780 per unit.

Meskipun stagnan, tapi emiten ini mencatat volume perdagangan cukup tinggi, yaitu sebanyak 141 juta lembar saham senilai Rp 112,3 miliar dengan frekuensi 2.557 kali.

Hal ini akibat munculnya kabar bahwa anak perusahaan BUMI, PT Kaltim Prima Coal (KPC) telah menyetujui kontrak pengiriman thermal coal ke China hingga lima tahun ke depan. BUMI pada tahun pertama akan mengirim batubara sebanyak 1 juta ton, tahun kedua sebanyak 2 juta ton, dan terus naik hingga 5 juta ton.

Sementara pada Jumat (27/3), libur sehari membawa berkah bagi bursa Indonesia di penghujung. IHSG melejit 3% dan ditutup di level 1.462,7, tertinggi dalam 5 bulan terakhir. Sementara trading value mencapai Rp 2,2 triliun sebanyak 57% atau Rp 1,25 triliun adalah investor asing dan membukukan net-buy sekitar Rp 364,6 miliar.

Optimisme meredanya krisis finansial dunia, membuat IHSG mampu bertahan di teritori positif meski beberapa bursa Asia mengalami profit taking dan berakhir mixed. Hal ini karena IHSG belum meng-adjust penguatan bursa regional sebelumnya.

Sentimen positif lain berasal dari harga minyak mentah yang terus membubung ke level US$ 54,34 per barel, hingga harga emas hitam ini telah menguat 5,4% sepekan ini. Saham-saham berbasis komoditas pun melesat.

Demikian pula BUMI yang melonjak 40 poin (5%) dan ditutup di level Rp 840, tertinggi sejak awal tahun. Saham BUMI pun tetap menjadi saham teraktif yang diperdagangkan di lantai bursa, dengan transaksi senilai Rp 444,662 miliar, volume 1,08 juta dan frekuensi 6,159 kali.

Laba Bakrie Telecom Turun 5,1%


JAKARTA - PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mencatatkan kerugian laba bersih tahun 2008 hingga 5,168 persen menjadi Rp136,812 miliar, jika dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp144,268 miliar.

Hal tersebut diungkapkan Corporate Secretary BTEL Harry Prabowo, dalam keterbukaan informasi di BEI, di Jakarta, Minggu (29/3/2009).

Meningkatnya kerugian laba bersih perseroan, di pengaruhi oleh melonjaknya rugi selisih kurs bersih perseroan mencapai 655,39 persen menjadi terkoreksi Rp44,487 miliar, jika dibandingkan periode tahun sebelumnya sebesar Rp8,010 miliar.

Kendati demikian, pendapatan usaha bersih perseroan tahun 2008 pun meningkat 70,83 persen menjadi Rp2,202 triliun, dibandingkan periode tahun sebelumnya Rp1,289 triliun. Peningkatan tersebut, didorong oleh naiknya pendapatan dari sektor jasa telekomunikasi tahun 2008 hingga 66,53 persen menjadi Rp2,503 triliun, jika dibandingkan periode tahun sebelumnya Rp1,503 triliun.

Sedangkan, dari pendapatan dari sektor jasa interkoneksi tahun 2008 melonjak 78,74 persen menjadi Rp301,447 miliar, jika dibandingkan periode tahun sebelumnya capai Rp168,642 miliar.

Laba usaha perseroan tahun 2008 pun naik 18,96 persen menjadi Rp378,638 miliar, bila dibandingkan periode tahun sebelumnya yang mencatatkan Rp318,288 miliar.

Pada penutupan perdagangan IHSG sesi kedua akhir pekan, harga saham dengan kode emiten BTEL stagnan Rp50 per lembar sahamnya.

BUMI Melejit, Investor Masih Waspada


INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI) kembali melesat di awal pekan ini. Hal ini dipicu sentimen bullish-nya harga minyak mentah dunia serta rencana perseroan untuk membagikan dividen dari laba tahun lalu.

Pada perdagangan Senin (3/3) saham BUMI berada di level Rp 770, atau naik 20 poin dari penutupan akhir pekan lalu di posisi Rp750 per unit. Harga saham emiten ini terus merambat naik seiring munculnya berbagai sentimen positif.

Analis pasar modal Danny Eugene mengatakan, secara fundamental saham BUMI masih cukup menarik untuk diperdagangkan. Namun, mengingat beberapa aksi korporasinya yang masih dipermasalahkan dan belum tuntas, investor masih harus tetap mencermati pergerakannya. “Saya masih merekomendasikan hold untuk BUMI,” katanya,

Menurut Danny, melejitnya harga minyak mentah hingga tembus US$ 52 per barel, telah membawa sentimen positif. Terutama pada saham berbasis energi dan komoditas di negara-negara yang mengandalkan potensi sumber daya tambangnya, seperti bursa Australia dan Indonesia.

Harga minyak mentah mengalami peningkatan untuk hari ketiga perdagangan terakhir, menyusul pelemahan dolar AS terhadap euro dalam dua pekan terkahir. Hal ini terjadi setelah The Fed menyatakan akan membeli obligasi AS senilai US$ 1,15 triliun. Investor pun kembali tertarik berinvestasi pada kontrak minyak mentah.

Di pasar Asia, harga kontrak minyak mentah bulan Mei menguat 83 sen (1,6%) dan ditransaksikan di level US$ 52,9 per barel, mencapai rekor tertinggi sejak Desember 2008. Harga minyak sendiri diperkirakan akan melanjutkan kenaikan.

Sementara itu, sentimen positif lain datang dari kabar bahwa perseroan yang akan membagikan dividen sekitar 30% dari laba 2008. Manajemen BUMI akan meminta izin pembagian dividen ini kepada pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Juni 2009.

Analis eTrading Adrianus Bias Prasuryo mengatakan, jika menggunakan payout ratio 30%, dan asumsi laba sesuai guidance Management US$ 635 juta, maka dividen BUMI sekitar US$ 190,5 juta.

“Dengan asumsi nilai tukar 12 ribu per dolar AS, maka dividen final akan mencapai Rp 117,8 per lembar atau setara divident yield sebesar 15,7% di posisi harga sekarang,” katanya.

Senior Vice President Hubungan Investor BUMI Dileep Srivastava mengatakan, perseroan masih mengaudit laporan keuangan 2008. Namun, ia sempat menyebutkan bahwa laba bersih BUMI tahun lalu kira-kira dua kali lipat dari laba bersih inti (core net income) 2007 yang senilai US$ 317 juta.

Ini berarti, laba bersih BUMI 2008 diprediksikan akan mencapai US$ 600 juta. Dengan adanya kebijakan pembagian dividen sebesar maksimal 30% dari laba bersih, maka akan dicapai angka Rp 117,8 per lembar.

Sementara analis riset PT Panca Global Securities Bertrand Raynaldi memperhitungkan bahwa kemampuan BUMI membagikan dividen hanyalah sebesar Rp 20-25 per lembar saham. "Dihitung dari cashflow yang free dibagi jumlah saham yang beredar saat ini, maka dividen yang layak hanyalah berkisar Rp 20-25 per lembarnya," ujarnya.

Menurutnya, perhitungan dividen BUMI berdasarkan laporan keuangan kuartal ketiga 2008, yang baru akan dirilis pada 31 Maret 2009. "Kemampuan bagi dividen ya harus dilihat dari cashflow perseroan. Sementara laporan keuangan tahunannya kan belum masuk," imbuhnya.

Pembagian dividen ini ditujukan untuk kembali menaikan harga saham BUMI yang telah tertekan. Kepala Riset PT Mandiri Sekuritas, Ari Pitoyo mengatakan, saat ini harga BUMI sudah cukup murah, jauh lebih rendah di bawah harga fundamentalnya. Namun, karena lebih banyak dipengaruhi sentimen, harga BUMI masih sulit diprediksi.

“BUMI kalau turun, hanya sedikit saja. Kalau naik paling Rp 800-810 dari sekarang. Jadi BUMI mungkin menarik bagi investor yang melakukan trading. Tapi keuntungannya tidak banyak,” imbuhnya.

Kinerja BUMI tahun lalu diperkirakan cukup baik. Hal ini berdasarkan hasil publikasi riset dari UBS yang menyatakan bahwa manajemen BUMI memperkirakan laba bersih akan mencapai di atas US$ 635 juta. Hal ini didukung pendapatan yang diperkirakan mencapai US$ 3,4 miliar tahun lalu. Namun angka pastinya saat ini masih diaudit.

Akan tetapi utang perseroan selama tahun lalu ikut membumbung tinggi. Perseroan memperkirakan utang tahun lalu akan naik menjadi US$ 1,3 miliar, sebuah rekor baru bagi BUMI. Tahun ini BUMI akan berusaha menurunkan rasio utang terhadap EBITDA agar di bawah satu.

Rugi Kurs Rp 1 Triliun, Telkom Pastikan Laba Turun


Jakarta - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) memastikan laba bersih tahun 2008 turun bila dibandingkan perolehan tahun 2007. Salah satu penyebabnya adalah rugi kurs yang mencapai sekitar Rp 1 triliun.

"Laba ya sudah pasti turun. Semua kan turun, Indosat turun, XL turun, kita sama lah kira-kira," ujar Direktur Utama TLKM, Rinaldi Firmansyah di hotel Four Season, Jl Rasuna Said, Jakarta, Senin (23/3/3009).

Sayangnya, Rinaldi belum dapat memberikan angka pastinya. Namun menurut perhitungan analis, penurunan laba TLKM berkisar di level 12%.

"Sabar dulu dong. Belum bisa dipublikasikan sekarang," ujar Rhinaldi.

Kendati demikian, Rinaldi mengakui bahwa salah satu faktor penyebab turunnya laba bersih perseroan tahun 2008 akibat kerugian kurs yang dibukukan perseroan mencapai Rp 1 triliun.

"Sekitar itu. Lebih dari itu," ujar Rinaldi.

Mengenai rencana pembagian dividen, Rinaldi juga beum bisa memastikan besarannya. Namun Rinaldi mengatakan nilainya akan berkisar di level 50% dari laba bersih 2008.

"Ya sekitar itu. Tapi belum dipastikan," ujar Rinaldi.

Bank Mandiri Siap Terbitkan Subdebt


Jakarta - PT Bank Mandiri (Tbk) berniat menerbitkan obligasi sub ordinasi (subdebt) untuk menambah modal perseroan. Opsi subdebt dinilai sebagai alternatif yang paling memungkinkan di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang.

Demikian disampaikan Dirut Bank Mandiri Agus Martowardoyo disela-sela seminar ekonomi di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta, Senin (23/3/2009).

"Sekarang ini adalah opsi untuk subdebt. Subdebt pun waktunya sangat penting. Jadi kalau bank ingin memperbaiki modalnya, umumnya mereka lari ke subdebt," katanya.

Menurut Agus, sebenarnya ada sejumlah opsi yang bisa dilakukan perseroan pada saat ini. Diantaranya adalah hybrid capital, dividen payment dan menyesuaikan kebijakan yang mempengaruhi kondisi modal.

"Alternatif menambah modal banyak, tapi belum tentu tepat untuk market," katanya.

Ia menjelaskan, opsi hybrid capital saat ini dinilai sulit dilakukan. Yang masih memungkinkan adalah pengurangan pembayaran dividen dan mengurangi kebijakan yang bisa menurunkan modal seperti terkait operational based.

"Jika menaikkan modal dari secondary issuer, market minta diskon besar dan waktunya belum tentu tepat. jadi saya lihat yang paling tepat sekarang adalah subdebt," katanya.

Laba Bersih Semen Gresik Naik 42%


INILAH.cOM, Jakarta - PT Semen Gresik berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,5 triliun pada tahun 2008 atau naik 42% dibanding 2007.

Menurut Dirut Semen Gresik, Dwi Soetjipto, padahal tahun 2004, laba perusahaannya masih Rp 500 miliar. “Ini tidak lepas dari efisiensi yang dilakukan perseroan,” katanya di Gedung BUMN, kemarin.

Padahal sejak 1999, pihaknya belum menaikkan kapasitas produksi. Jadi perolehan laba naik 5 kali lipat dalam waktu 4 tahun.

Efisiensi itu, ujar mantan Dirut Semen Padang ini, dilakukan dengan mensinergikan tiga lini usaha, yang sebelumnya menggunakan biaya transport yang sangat besar. Namun perseroan dapat meminimalisir hal itu dengan mensinergikan PT Semen Padang, Semen Tonasa dan Semen Gresik selaku induk usaha.

Salah satu yang patut dicermati adalah EBITDA margin atau efektifitas biaya operasi terhadap pendapatan perusahaan. “Kalau efisiensi itu kita bicara EBITDA margin yang pada tahun 2005 sekitar 24-25% dan tahun 2008 mencapai 31-32 %. Ini berarti kita lakukan penambahan dalam empat tahun,” jelasnya.

Dalam pemanfaatan energi alternatif, PT Semen Gresik mendapatkan penghematan Rp 40 miliar dari biaya energi mencapai Rp 2 triliun. Dengan investasi sebesar Rp 30 miliar, yang berasal dari dana sendiri.

Semen Gresik telah mengembangkan pemanfaatan gas buang dari tungku pembakaran menjadi energi listrik sebesar 8 - 10 MW. Program ini sudah diterapkan di Semen Padang dengan pinjaman dari Jepang.

Sedangkan Semen Gresik memiliki 3 tungku pembakaran atau killen yang juga sedang dipersiapkan menjadi energi listrik. Selama ini biaya bahan bakar sekitar 30% dari total biaya produksi.

Sebanyak 20% biaya energi panas dan 10% untuk biaya energi listrik. Ini mengurangi

ketergantungan listrik dari PLN. "Total biaya energi mencapai Rp 2 triliun secara holding," ujarnya.

BUMI Belum Pastikan Besaran Dividen


INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) belum bisa memastikan kapan dan berapa besar dividen yang bakal dibagikan kepada pemegang saham dari laba bersih 2008.

"Sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan sebelumnya, BUMI akan membagikan deviden sebesar maksimal 30% dari laba bersih," ungkap Senior Vice President Investor Relations & Corporate Secretary BUMI, Dileep Shrivastava, dalam surat elektroniknya kepada INILAH.COM, Jumat malam (20/3).

Dileep memberikan contoh, pada tahun 2007 BUMI membagikan deviden sebesar Rp 111 per lembar saham yang berasal dari pendapatan tambahan sebesar US$ 472 juta dari transaksi Tata dan laba bersih perseroan sebesar US$ 317 juta. "Dari kedua pos tersebut sebesar 30%," ungkapnya.

Namun untuk waktunya, Dileep belum bisa mengatakan secara tepat pastinya. "Setelah AGM (annual general meeting/ rapat umum tahunan) yang akan diselenggarakan Juni mendatang. Di situ akan diputuskan waktunya dan akan disesuaikan dengan aturan yang ada. Dan aturan mengenai pembagian deviden tidak berubah," papar Dileep.

Sementara tentang pemberitaan perseroan yang akan menerbitkan MSN, Dileep tidak menjelaskan secara detil. "Saya sama sekali tidak tahu tentang rencana itu,"pungkasnya.

Sebelumnya, BUMI dikabarkan akan membagikan deviden sebesar 15% dari laba bersih 2008 yang mencapai US$ 600 juta. Selain itu, perseroan juga dikabarkan akan menerbitkan MSN pada akhir bulan ini yang akan mengikat pemegang repo pada harga Rp 2.800 sehingga dapat mengurangi tekanan jual BUMI.


JAKARTA: Pengusaha nasional Soetrisno Bachir melepas portofolionya berupa saham perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia yaitu PT Bumi Resources Tbk dalam sepekan terakhir.

Dia melepas saham perusahaan milik Grup Bakrie itu untuk membiayai ekspansi bisnisnya.

"Sebagian penjualan saham tersebut ada yang melalui PT Samuel Sekuritas. Namun, saham yang dilepas itu bukan hanya milik saya karena di Samuel juga banyak portofolio milik pemodal lain," tuturnya ketika dihubungi Bisnis, kemarin.

Namun, dia tidak bersedia menyebutkan secara detail porsi saham yang dilepas. Alasannya, transaksi jual-beli saham tersebut dilakukan melalui salah satu unit perusahaannya yang khusus bergerak di pasar modal.

"Transaksi di pasar dilakukan oleh direktur di perusahaan tersebut. Kami memiliki beberapa portofolio saham, ada saham perusahaan telekomunikasi, pertambangan, dan lainnya," ujarnya.

Saat ini, Soetrisno yang juga Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) itu membutuhkan dana ekspansi untuk menggiatkan bisnisnya di sektor riil, di antaranya bisnis perkebunan kelapa sawit di Aceh dan pertambangan batu bara di Jambi.

Dia berencana memperluas lahan perkebunan sawit tersebut hingga 12.000 hektare pada tahun ini. Namun, Soetrisno tidak bersedia memaparkan jumlah dana yang dibutuhkan untuk ekspansi tersebut.

Kepala Riset BNI Securities Norico Gaman menambahkan apabila Soetrisno memiliki saham Bumi dalam jumlah di atas 5%, pengusaha itu diwajibkan melaporkan penjualan saham itu kepada otoritas pasar modal.

Harga saham Bumi kemarin ditutup melemah 2,70% ke posisi Rp720 per saham setelah sehari sebelumnya sempat menguat 2,78% di level Rp740. Pada perdagangan 2 hari pertama pekan ini, saham Bumi tergerus 1,28% dan 6,49%, sehingga harganya melemah ke posisi Rp770 dan Rp720 per saham.

Menurut Norico, penurunan saham Bumi karena ada aksi jual dari pemodal yang merealisasikan dana tunai.

"Bantahan dari Tata Power yang akan menjual saham Kaltim Prima Coal [KPC] dan Arutmin Indonesia juga memberi sentimen negatif terhadap saham Bumi," ujarnya.

KPC dan Arutmin Indonesia merupakan dua aset terpenting Bumi Resources. Pemodal saham masih mengoleksi saham Bumi karena adanya KPC dan Arutmin.

Sebelum Maret 2007, Bumi masih menguasai secara penuh saham kedua tambang batu bara tersebut.

Namun, Bumi menjual 30% saham KPC dan Arutmin kepada Tata Power senilai US$1,1 miliar pada Maret 2 tahun lalu.

Kesepakatan itu memberi hak bagi Tata Power untuk membeli 10 juta ton batu bara dari Bumi, sehingga mengamankan pasokan energi untuk perusahaan pembangkit listrik itu. Hasil dari penjualan 30% saham KPC dan Arutmin digunakan untuk melunasi utang Bumi dan surat utang seri 2006-2 senilai total US$900 juta.

Potensi keuntungan

Norico menambahkan seandainya Tata menjual kembali saham tambang itu ke Bumi, berarti potensi keuntungan yang akan diperoleh anak perusahaan PT Bakrie & Brothers Tbk itu semakin besar. "Bumi tak perlu lagi berbagi dividen dari KPC dan Arutmin dengan Tata Power."

Menurut dia, saham Bumi ke depan masih berpotensi tertekan karena berbagai sentimen di pasar. Namun, fundamental perusahaan batu bara itu masih prospektif, mengingat kemungkinan pencapaian kinerja ke depan.

Berdasarkan data Bloomberg, sejak 16 Maret hingga 19 Maret, penjual bersih saham Bumi terbesar adalah Samuel Sekuritas senilai Rp234,97 miliar, hampir 40% dari total nilai transaksi Rp618,38 miliar.

Nilai penjualan bersih saham Bumi pada Samuel Sekuritas jauh di atas nilai jual bersih pada beberapa broker seperti Lautandhana Securindo Rp16,01 miliar, Nusadana Capital Indonesia Rp15,08 miliar, UBS Securities Rp8,60 miliar.

Merrill Lynch hanya membukukan jual bersih saham Bumi Rp7,37 miliar, Mahakarya Artha Securities Rp4,08 miliar, Henan Putihrai Rp1,93 miliar, Harumdana Sekuritas Rp1,54 miliar, Victoria Sekuritas Rp1,15 miliar, dan Paramitra senilai Rp410,75 juta.

Divestasi saham XL terancam batal TM International rights issue US$1,4 miliar


JAKARTA: TM International Berhad mengisyaratkan pembatalan penerbitan saham baru (rights issue) PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) yang direncanakan berlangsung tahun ini.

Kebijakan ini akan ditempuh terkait dengan rendahnya harga saham Excelcomindo dan rencana TM International menggelar rights issue senilai US$1,4 miliar tahun ini.

Excelcomindo meraih persetujuan pemegang saham atas rencana mendapatkan pinjaman baru senilai US$400 juta guna membiayai kembali (refinancing) utang perseroan pada 2009-2011.

Presiden Komisaris Excelcomindo M. Radzi Mansor mengatakan manajemen perseroan telah bertemu otoritas pasar modal dan menyampaikan tidak akan menambah likuiditas pasar pada 2009.

"Harga saham Excelcomindo saat ini tidak menunjukkan performa perseroan dan TM International akan melaksanakan rights issue US$1,4 miliar tahun ini," ujar Radzi seusai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Excelcomindo, kemarin.

Saat ini, saham publik di Excelcomindo di bawah 1% mengingat kepemilikan TM international melalui Indocel Holding Sdn Bhd menguasai 83,79% saham Excelcomindo. Selain itu, Faramix Limited S/A Etisalat Intl memiliki 15,97% saham Excelcomindo.

Guna meningkatkan likuiditas dan memenuhi belanja modal, Excelcomindo menyiapkan menjajaki rencana rights issue hingga 15% dari jumlah saham beredar saat ini.

Direktur Utama Excelcomindo Hasnul Suhaimi mengatakan guna memenuhi belanja modal tahun ini perseroan menggunakan kas internal, vendor financing, dan mempertimbangkan langkah pendanaan lain selain rights issue.

Belanja modal perseroan tahun ini yang dipatok US$600 juta-US$700 juta terkait dengan pengeluaran Excelcomindo yang lebih selektif, karena ekspansi coverage dan peningkatan kapasitas telah selesai.

Selanjutnya, Hasnul menargetkan pada tahun ini perseroan bisa meraih 30 juta pelanggan.

Dia menjelaskan sebagian dari laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (earnings before interest, tax, depreciation, amortization/EBITDA) per 31 Desember 2008 senilai Rp5,13 triliun akan digunakan untuk memenuhi belanja modal.

"Jadi, kami tidak akan menambah pinjaman baru pada tahun ini, kecuali untuk refinancing. Karena itu, total pinjaman perseroan akan tetap sama seperti pada akhir 2008 atau bahkan dapat lebih rendah," kata Hasnul.

Utang Excelcomindo per 31 Desember 2008 tercatat total Rp18,83 triliun dengan perincian utang berdenominasi dolar senilai US$862 juta atau setara dengan Rp9,48 triliun (dengan asumsi US$1 = Rp11.000) dan utang berdenominasi rupiah senilai Rp9,35 triliun.

Pinjaman baru

Terkait dengan refinancing, Excelcomindo telah mengantongi restu dari pemegang saham untuk merealisasikan pinjaman baru senilai US$400 juta guna melunasi utang (refinancing) yang jatuh tempo tahun ini senilai US$130 juta.

Senior Vice President Corporate Finance Excelcomindo Johnson Chan menuturkan sisa pinjaman senilai US$270 juta dari total US$400 juta itu akan dialokasikan untuk melunasi utang perseroan pada 2010 dan 2011.

Direktur Keuangan Excelcomindo Willem Lucas Timmermans menambahkan perseroan telah memperoleh komitmen pinjaman dari Standard Chartered Bank dan Royal Bank of Scotland senilai US$200 juta.

Sisanya, tuturnya, akan dicari melalui pinjaman perbankan lokal berdenominasi rupiah guna mengurangi risiko rugi kurs ke depan.

Pada akhir 2008 beban bunga pinjaman Excelcomindo membengkak 61,62% menjadi Rp1,12 triliun dibandingkan dengan akhir 2007 senilai Rp694,38 miliar.

Pada penutupan perdagangan 12 Maret 2009, harga saham emiten berkode EXCL ini ditutup pada level Rp1.200 atau stagnan dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Dengan mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp8,5 triliun.

Copyright © 2008 - Informasi Saham - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template