INILAH.COM, Jakarta – Pekan ini, saham PT Bumi Resources (BUMI) melesat tajam. Optimisme pulihnya ekonomi global dan naiknya harga minyak mentah, telah mengerek emiten tambang batubara ini hingga dalam sepekan berhasil mencatatkan penguatan 12%.
Di hari pertama perdagangan pekan ini, IHSG mengalami pergerakan luar biasa melonjak tajam 3,36%, dan mencatatkan nilai transaksi Rp 2,3 triliun. Investor asing dengan porsi 50%, mulai melakukan aksi bargain buying terhadap saham-saham Indonesia. Semua sektor mengalami penguatan akibat bertaburannya sentimen positif di lantai bursa seiring sentimen dari bursa global yang menghijau. Hal ini dipicu rencana pemerintah AS mengeluarkan aset beracun perbankan AS dengan dana senilai US$ 1 triliun. Hal ini menyebabkan dolar melemah dan memicu kenaikan harga minyak ke level US$ 52,9 per barel.
Investor juga mengantisipasi laporan keuangan emiten 2008. Hal itu mendorong investor mengakumulasi saham-saham berfundamental bagus. Apalagi, banyak emiten yang akan membagikan dividen. Salah satunya adalah BUMI yang berencana membagi dividen 30% dari laba bersih 2008.
Dengan payout ratio 30%, dan asumsi laba sesuai guidance manajemen US$ 635 juta, maka dividen BUMI mencapai US$ 190,5 juta. Jika diasumsikan nilai tukar rupiah 12 ribu per dolar AS, dividen final akan mencapai Rp 117,8 per lembar.
Jumlah ini cukup besar, yaitu 15,3% dari harga saham. Tak heran kabar dividen BUMI ini menarik investor. Managemen BUMI pun menyatakan bahwa laporan keuangan 2008 akan dirilis pada 31 Maret 2009 serta mengungkapkan rencana menggelar RUPS untuk pembagian dividen pada Juni 2009 mendatang.
Kabar ini membawa sentimen positif bagi saham BUMI, Senin (23/3) yang ditutup menguat 20 poin (2,6%) ke level Rp 770, setelah sempat naik menyentuh level Rp 790 per unit. Volume ter catat 312 juta lembar saham, senilai Rp242.7 miliar, dengan frekuensi 4.587 kali
Pada Selasa (24/3), IHSG kembali melanjutkan penguatan, seiring sentimen positif bursa global paska Menkeu AS Timothy Geithner mengumumkan detil rencana pengucuran stimulus senilai US$ 1,2 triliun.
Sementara rupiah juga mengalami penguatan ke level 11.440 per dolar AS setelah Indonesia mendapat komitmen pinjaman dalam bentuk bilateral swap arrangement (BSA) senilai Rp 175 triliun.
Sementara naiknya harga minyak ke level US$ 53,80 per barel, mendorong penguatan IHSG. Beberapa saham komoditas menguat, termasuk BUMI yang ditutup naik 30 poin (3,8%) ke Rp 800, setelah menyentuh level Rp 810. Sentimen pembagian dividen BUMI masih mewarnai bursa sehingga mendongkrak emiten promadona ini.
Namun, menyusul rally lima hari berturut-turut, IHSG pada hari Rabu (25/3) akhirnya berakhir terkoreksi dengan trading value cukup besar yaitu Rp 1,7 triliun. Investor melepas saham-saham unggulan menjelang libur hari raya Nyepi untuk mengantisipasi pemburukan ketika bursa libur.
Sementara mayoritas bursa regional mengalami pelemahan merespon turunnya bursa AS, setelah Bank of America memprediksi ekspor Jepang anjlok di Juni 2009. Hal ini menyebabkan pelemahan yen. Sementara rupiah melanjutkan penguatannya ke level Rp 11.550.
Sektor yang mengkontribusi pelemahan terbesar adalah sektor infrastruktur, disusul sektor pertambangan. Di tengah terjunnya saham-saham unggulan ke jurang penurunan, saham BUMI berhasil bertahan dan ditutup stagnan di posisi Rp 800, meski sempat melemah di level Rp 780 per unit.
Meskipun stagnan, tapi emiten ini mencatat volume perdagangan cukup tinggi, yaitu sebanyak 141 juta lembar saham senilai Rp 112,3 miliar dengan frekuensi 2.557 kali.
Hal ini akibat munculnya kabar bahwa anak perusahaan BUMI, PT Kaltim Prima Coal (KPC) telah menyetujui kontrak pengiriman thermal coal ke China hingga lima tahun ke depan. BUMI pada tahun pertama akan mengirim batubara sebanyak 1 juta ton, tahun kedua sebanyak 2 juta ton, dan terus naik hingga 5 juta ton.
Sementara pada Jumat (27/3), libur sehari membawa berkah bagi bursa Indonesia di penghujung. IHSG melejit 3% dan ditutup di level 1.462,7, tertinggi dalam 5 bulan terakhir. Sementara trading value mencapai Rp 2,2 triliun sebanyak 57% atau Rp 1,25 triliun adalah investor asing dan membukukan net-buy sekitar Rp 364,6 miliar.
Optimisme meredanya krisis finansial dunia, membuat IHSG mampu bertahan di teritori positif meski beberapa bursa Asia mengalami profit taking dan berakhir mixed. Hal ini karena IHSG belum meng-adjust penguatan bursa regional sebelumnya.
Sentimen positif lain berasal dari harga minyak mentah yang terus membubung ke level US$ 54,34 per barel, hingga harga emas hitam ini telah menguat 5,4% sepekan ini. Saham-saham berbasis komoditas pun melesat.
Demikian pula BUMI yang melonjak 40 poin (5%) dan ditutup di level Rp 840, tertinggi sejak awal tahun. Saham BUMI pun tetap menjadi saham teraktif yang diperdagangkan di lantai bursa, dengan transaksi senilai Rp 444,662 miliar, volume 1,08 juta dan frekuensi 6,159 kali.