GRESIK: PT Semen Gresik Tbk mengalokasikan kas internal Rp2,1 triliun-Rp2,5 triliun untuk memenuhi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar US$371 juta.
Per September 2008, kas perseroan mencapai Rp3,3 triliun yang digunakan untuk kebutuhan rutin Rp1 triliun dan sisanya untuk belanja modal.
Direktur Utama Semen Gresik Dwi Sutjipto mengatakan peningkatan penggunaan kas internal untuk mengurangi dampak dari krisis finansial, sehingga manajemen seminimal mungkin mengurangi pinjaman eksternal.
"Kebutuhan belanja perseroan periode 2008-2014 mencapai US$1,25 miliar di mana pencarian utang sebesar US$696 juta dan kas internal US$555 juta," ujarnya dalam road show ke Gresik kemarin.
Dia mengatakan perseroan telah menurunkan anggaran untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga uap dari semula US$570 juta menjadi US$114 juta. "Pada awalnya kami akan membangun 10 pembangkit, tetapi diubah menjadi dua pembangkit berkapasitas 2X35 MW."
Dwi mengatakan dari total kebutuhan dana US$114 juta, sekitar 30% akan dibiayai dari kas internal dan sisanya dari perbankan atau instrumen pinjaman lainnya.
Dalam materi paparan publik perseroan pada November 2008, dijelaskan penggunaan belanja modal Semen Gresik untuk periode 2008-2014 a.l untuk penambahan kapasitas pabrik sebesar US$758 juta, pembangunan pembangkit listrik, restrukturisasi perusahaan US$40 juta, biaya pergantian dan lainnya US$161 juta.
Dwi mengatakan volume produksi tahun ini mencapai 18,2 juta ton dan penjualan 18 juta ton. Dari total penjualan tersebut, sekitar 1 juta ton diperuntukkan bagi pasar ekspor.
"Tahun ini, kami menargetkan mampu meningkatkan volume penjualan semen sebesar 2%-3%, dan produksi pabrik secara keseluruhan naik 5% dibandingkan dengan tahun lalu," tuturnya.
Selain itu, lanjutnya, manajemen juga akan memperbesar ekspor menjadi dua juta ton untuk mengantisipasi kemungkinan pelemahan permintaan semen pada triwulan I/2009.
Tujuan ekspor perseroan, lanjutnya, akan difokuskan pada pasar tradisional seperti Timur Tengah, Afrika Selatan dan Asia Selatan.
Kinerja perseroan
Terkait dengan kinerja hingga akhir tahun lalu, Dwi mengatakan manajemen optimistis mampu membukukan pendapatan Rp11,43 triliun atau tumbuh 20% dibandingkan dengan 2007. "Untuk laba bersih pertumbuhannya di atas 20%."
Pada 2007, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp9,6 triliun dengan laba bersih Rp1,77 triliun.
Berdasarkan riset Bahana Securities yang dipublikasikan bulan ini, pendapatan Semen Gresik pada 2008 diperkirakan mencapai Rp11,43 triliun, laba usaha Rp2,94 triliun, laba bersih Rp2,2 triliun dan pendapatan sebelum bunga, pajak, dan amortisasi (EBITDA) Rp3,42 triliun.
Manajemen Semen Gresik, juga akan melanjutkan rencana pembelian kembali saham (buyback) hingga pada level saham tertentu. Saat ini, BUMN semen itu telah menyelesaikan program buyback sebanyak 68,03 juta saham atau sebesar 1,1% dengan nilai Rp168,67 miliar, pada periode 13 Oktober 2008 - 9 Januari 2009.
Rencana semula buyback Semen Gresik dijadwalkan maksimum sebesar 20% dari total saham dengan dana yang dialokasikan sebesar Rp1 triliun.
"Kami me-review untuk melanjutkan buyback sampai pada level tertentu, kami akan menggunakan dana yang tersisa dari program sebelumnya sebesar Rp801,33 miliar," ujar Dwi.
Menurut dia, buyback merupakan langkah untuk meyakinkan investor bahwa kinerja fundamental perusahaan cukup kuat.
"Tidak hanya informasi kinerja yang disampaikan ke publik, tetapi juga ada aksi untuk memantapkan itu yakni melalui buyback," tuturnya.