JAKARTA, Investor Daily
Nilai aset investor asing di pasar saham Indonesia tinggal Rp 405,47 triliun pada Oktober 2008 atau menyusut Rp 274 triliun dibandingkan pada September lalu Rp 563,38 triliun. Penurunan sebesar 30,12% tersebut merupakan terbesar sepanjang tahun ini.
Walaupun aset turun tajam, asing masih menguasai 64,1% dari jumlah aset pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sedangkan pemodal domestik memiliki Rp 226,71 triliun atau 35,9% dari total aset BEI.
Penyusutan aset dipicu kejatuhan harga saham berkapitalisasi besar (blue chips) di BEI, sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah 54,2% per Oktober 2008. Asing menempatkan dana cukup besar pada saham big caps.
Berdasarkan data Kliring Sentral Efek Indonesia (KSEI), sejak Januari-Oktober 2008, aset asing tergerus Rp 353,6 triliun atau turun 46,5%. Nilai aset tertinggi terjadi pada Februari 2008 sebesar Rp 789,8 triliun.
Selain penurunan saham, kepemilikan dana asing pada surat utang negara (SUN) melemah menjadi Rp 92,81 triliun pada Oktober 2008 daripada bulan sebelumnya Rp 105 triliun. Hal sama terjadi pada obligasi korporasi senilai 10,61% dari Rp 3,12 triliun menjadi Rp 2,89 triliun.
Seiring anjloknya pasar finansial global, termasuk di dalam negeri, aset pemodal lokal ikut tergerus 33,58% dari Rp 341,32 triliun pada September menjadi Rp 226,71 triliun pada Oktober 2008, terpuruk sepanjang tahun ini.
Sejak Januari-Oktober 2008, aset investor domestik merosot Rp 169,43 triliun atau turun 42,77%. Aset tertinggi tercatat pada Februari lalu senilai Rp 410,27 triliun.
Sejumlah pengamat berpendapat, penyusutan aset asing di pasar finansial berpotensi kembali naik, bila pasar modal pulih lagi. Pasalnya, hasil imbal investasi tetap menjanjikan di Tanah Air dibandingkan negara Asia lain. Aliran dana (capital outflow) yang sempat keluar diperkirakan kembali masuk dalam waktu tidak terlalu lama.
Mereka mengatakan, di tengah krisis saat ini investor lebih cenderung menyelamatkan dulu portofolionya atau sebagian mengalihkan (switching) kepada jenis investasi yang lebih aman, seperti SUN.
Hal tersebut diungkapkan analis Poltak Hotradero, analis Reliance Securities Andrew Siahaan, dan Analis Optima Securities Ikhsan Binarto secara terpisah kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut Poltak, penyusutan aset tidak hanya terjadi Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Namun, investor berupaya mengurangi risiko investasi (rebalancing asset) dengan cara melepas saham, kendati bursa dalam keadaan buruk. Sebab, mereka menyadari, di tengah resesi ekonomi saat ini risiko investasi tertinggi terdapat di emerging markets seperti Indonesia. Oleh sebab itu, asing menarik dulu investasinya ke negara-negara maju, karena risikonya relatif rendah.
“Jadi, penurunan aset asing wajar, apalagi mereka menempatkan dana cukup besar pada saham-saham blue chips. Saya yakin, asing tidak lama lagi bakal melirik potensi investasi Indonesia,” kata dia.
Dia mencontohkan, total dana asing yang ditarik dari pasar saham Asia per Oktober 2008 di luar Jepang mencapai US$ 25 miliar.
Selain menghindari risiko investasi, kata Poltak, sebagian investor membutuhkan dana likuiditas akibat terkena margil call atau kewajiban lain. Dengan demikian, mereka terpaksa melepas portofolionya pada harga rendah.
Mengenai penurunan aset pemodal nasional, dia berpendapat, hal tersebut dipicu kepanikan berlebihan setelah asing beramai-ramai melego portofolionya. Padahal, investor domestik seharusnya tidak perlu ikut-ikutan, apalagi para dana pensiun yang bertujuan investasi jangka panjang.
Andrew Siahaan mengakui, menyusutnya aset asing, karena banyak hedge fund yang menarik dana ke negara asalnya. Mereka sangat membutuhkan likuiditas di tengah krisis finansial global. “Indonesia merupakan emerging market yang volatilitasnya cukup tinggi, sehingga risiko investasi juga meningkat,” kata dia.
Menurut Andrew, asing lebih banyak memegang dana tunai dan akan dialihkan lagi, bila tekanan dampak krisis berkurang. Namun, sampai akhir 2008, mereka lebih memilih keluar dari pasar saham guna mengamankan hasil investasinya.
“Per September 2008, komposisi asing di bursa saham mencapai 64,25% dan sisanya lokal. Tapi, komposisinya kini hampir berimbang,” jelas dia.
Andrew menyambut positif kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) pada level 9,5%, menyusul berkurangnya tekanan inflasi. Menurut dia, BI rate masih menarik untuk mendorong dana asing masuk (capital inflow), karena bank-bank sentral di dunia berlomba-lomba memangkas suku bunganya.
“Fundamental tidak ada masalah. Inflasi mulai berkurang, stabilitas politik cukup terjaga, dan produk domestik bruto (PDB) bagus. Sumber masalahnya tetap berasal dari luar negeri, terutama Amerika Serikat, sehingga asing menarik dananya dari emerging markets,” ujar dia.
Dilematis
Ikhsan Binarto menambahkan, penurunan aset asing disebabkan anjloknya harga saham unggulan, salah satunya PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Saat ini, banyak asing yang masih mengoleksi saham BUMI pada harga Rp 6.000-8.000. “Kalau harganya sekarang terkoreksi ke level 1.780, berarti aset mereka turun signifikan,” tutur dia.
Menurut Ikhsan, posisi asing sebenarnya dilematis. Mereka ingin menjual saham guna mencukupi likuiditas, tapi banyak saham yang tidak laku dijual, karena tidak ada penawaran. Nasib serupa banyak dialami investor lokal. Hal tersebut ikut menurunkan volume transaksi di bursa.
Dampaknya, tegas dia, investor domestik juga banyak mengalihkan investasinya ke deposito, karena tingkat suku bunga lebih menarik dan investasi lebih aman daripada saham.
Dihubungi terpisah, pengamat pasar modal Felix Sindhunata mengatakan, penurunan nilai aset asing dipicu dua faktor. Pertama, asing menarik dana untuk jangka pendek dari emerging markets seperti Indonesia guna menutupi kekurangan likuiditas. Hal ini dapat dilihat dari pelemahan nilai tukar rupiah dan penguatan dolar AS.
“Seluruh emerging markets, antara lain Indonesia, Korsel, dan Taiwan, terkena imbas penarikan dana asing. Mereka menjual sebagian asetnya untuk menambah likuiditas di negaranya,” jelash Felix.
Dia menjelaskan, penurunan aset dipengaruhi anjloknya harga saham selama Oktober 2008. Hal tersebut diperkirakan masih terus berlanjut, bila ekonomi global belum pulih. Soalnya, investor menunggu pulihnya perekonomian global dan dampak resesi terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
Menurut dia, pemodal asing dan lokal kini mencermati perkembangan ekonomi dunia. Namun demikian, investasi yang bersifat jangka panjang tidak terlalu berpengaruh dengan krisis.
Felix menambahkan, semua usaha telah ditempuh pemerintah di seluruh dunia untuk menangkal dampak krisis. Tapi, kebijakan tersebut dinilai belum mampu meningkatkan kepercayaan investor, sehingga pasar modal terus tertekan.
“Yang paling sulit dalam mencegah krisis adalah mengembalikan kepercayaan investor kembali masuk pasar. Momentum tepat untuk menggerakkan investor sangat dibutuhkan, sehingga kembali menempatkan dananya di pasar saham dan instrumen investasi lain,” tutur dia.