Minyak pertahankan tren penurunan


JAKARTA: Harga minyak mentah melorot di bursa New York menyusul spekulasi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan gagal mendongkrak harga saat resesi global memburuk.

Menurut Shokri Ghanem, pimpinan National Oil Corp, seperti dikutip Bloomberg, negara-negara anggota OPEC kemungkinan akan membahas pemangkasan produksi lanjutan dalam pertemuan mereka di Kairo akhir pekan ini guna menstabilkan pasar.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah untuk pengiriman Januari kemarin turun 0,96% menjadi US$53,48 per barel di New York Merchantile Exchange (Nymex). Dibandingkan dengan posisi awal pekan ini saat harga minyak pada level US$54,50 per barel, harga minyak merosot 1,8%.

Harga kontrak berjangka minyak yang diperdagangkan di New York telah anjlok 63% dari rekor tertingginya yang dicatat 11 Juli, yakni US$147,27 per barel.

"OPEC hanya dapat mengendalikan satu sisi dari hubungan itu dan itulah suplai. Mereka tidak dapat mempengaruhi sisi permintaan sedikit pun. Kami paham permintaan lemah dan kami cukup yakin ini akan semakin lemah," tutur Stephen Schork, presiden Schork Group Inc di Villanova, Pennsylvania.

Resesi AS memicu proyeksi pelemahan permintaan terhadap sejumlah komoditas, terutama minyak, mengingat negara adidaya itu merupakan konsumen energi terbesar di dunia.

Radityo Setyo Wibowo, kepala analis riset dan edukasi PT Monex Investindo Futures, mengatakan pelemahan permintaan merupakan isu terbesar di balik penurunan harga-harga komoditas saat ini yang telah mencapai lebih dari 50% dari rekor tertinggi yang dicatatnya pada semester I/2008.

Harga komoditas, ujarnya, sedang mencari dasarnya dan setelah mencapai level itu akan terjadi masa konsolidasi panjang sebelum akhirnya kembali melonjak. "Seandainya [harga komoditas] jatuh lagi, itu akan menjadi tekanan terakhir."

Rupiah terapresiasi

Di sisi lain, nilai tukar rupiah kemarin menguat sebesar 0,12% menjadi Rp12.360 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan perdagangan sehari sebelumnya yakni Rp12.375 per dolar AS.

Penguatan mata uang lokal ini dipicu spekulasi sejumlah perusahaan yang membeli dolar AS hanya terbatas pada pinjaman dan keperluan impornya. Pembelian mata uang AS yang tidak terkontrol sempat membawa rupiah terdepresiasi tajam hingga level Rp13.000 per dolar AS.

Gubernur BI Boediono mengatakan rupiah masih mencari titik keseimbangan baru terhadap dolar AS. Kurs rupiah, katanya, menjadi salah satu dari sejumlah mata uang lainnya yang pada beberapa pekan terakhir terdepresiasi terhadap dolar AS.

Bakrie Siap Bayar Seluruh Utang Akhir Tahun 2008


Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan menuntaskan seluruh utang-utangnya kepada para kreditor pada akhir tahun 2008. Saat ini cara membayar utang itu masih diselesaikan rencananya.

Demikian disampaikan Presdir BNBR Nalinkant A Rathod dalam jumpa pers di Wisma Bakrie 2 pada Jumat (28/11/2008).

"BNBR akan menyelesaikan hampir semua utang-utang langsung dan akan membuat rencana untuk menyelesaikan sisa-sisa utang yang sekitar US$ 200 juta sekitar akhir tahun 2008," ujar Nalinkant.

"Semua utang diperkirakan selesai Desember ini," jelas Direktur Keuangan BNBR Yuanita Rohali. Ia menambahkan, mekanisme pembayaran utang rencananya baru akan dipaparkan pada Senin (1/12/2008) mendatang.

Dalam kesempatan tersebut, Nalinkant juga mengumumkan bahwa pihaknya telah mencapai kesepakatan dengan Northstar Pacific. Northstar sepakat untuk mengambil alih sebagian utang BNBR kepada Odickson Finance sebesar US$ 575 juta.

Sebagai imbalannya, Northstar akan mendapatkan saham BUMI. Namun tidak disebutkan berapa porsi saham BUMI yang akan diberikan BNBR kepada Northstar.

"Northstar berada dalam posisi untuk masih menjadi strategic partner di BUMI. Jumlah utang yang sangat signifikan BNBR kepada Odickson telah diambil alih oleh Northstar. Dan dia (Northstar) akan mengukuhkan dirinya untuk membentuk joint venture di BNBR," jelas Nalinkant.

Dalam catatan detikFinance, BNBR memiliki pinjaman sebesar US$ 1,086 miliar ke Odickson Finance dan baru dibayar US$ 118,7 juta sehingga tersisa US$ 967 juta. Yuanita menjelaskan, utang BNBR ke Odickson semula memang mencapai US$ 967 juta. Namun seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah atas dolar AS, maka utang ke Odickson turun menjadi sekitar US$ 742 juta.

Jika sebesar US$ 575 juta sudah diambil alih, maka sisa utang BNBR ke Odickson hanya tersisa US$ 167 juta. Menurut Nalinkant, porsi utang itu yang akan diselesaikan hingga akhir tahun.

"Semua utang selesai, semua kewajiban dapat dipenuhi. Tinggal yang US$ 200 juta yang akan kita selesaikan sebelum akhir tahun ini," jelasnya.

Utang-utang BNBR lainnya juga bergerak seiring dengan melemahnya rupiah. Yuanita menjelaskan, pada patokan kurs semula, utang BNBR adalah kepada JP Morgan sebesar US$ 72 juta, ICICI sebesar US$ 105 juta, lokal repo US$ 81,5 juta sehingga secara total mencapai US$ 1,2 miliar.

Namun dengan kurs dolar yang sekitar Rp 12.000, menurut Yuanita terjadi perubahan utang yakni JP Morgan sebesar US$ 72 juta, ICICI sekitar US$ 105 juta dan lokal repo US$ 65 juta.

Baik Yuanita maupun Nalinkant tidak memberi penjelasan secara rinci, mengenai harga BUMI yang digunakan sebagai pembayaran untuk pengambilalihan utang ke Odickson itu. Berapa nilainya? Berapa yang diserahkan ke Northstar?

"Sekarang sedang diselesaikan, sebab pengaturan aset BNBR di Odickson itu sedang dihitung berapa besarannya. Semua aset BUMI akan kembali ke BNBR, baru kita hitung seberapa besar saham yang akan didapat dengan kerjasama ini," jelas Nalinkat.

Northstar Ambil Alih Utang Bakrie ke Odickson US$ 575 Juta


Jakarta - Northstar Pacific sepakat untuk mengambil alih utang PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) kepada Odickson Finance sebesar US$ 575 juta. Sebagai imbalannya, Northstar akan menjadi pemilik saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Demikian disampaikan Presdir BNBR Nalinkant A Rathod dalam jumpa pers di Wisma Bakrie 2 pada Jumat (28/11/2008)

"PT Bakrie & Brothers mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Northstar Pacific untuk membentuk satu kerjasama yang sudah tertuang dalam Sales and Purchase Agreement (SPA) pada 31 Oktober untuk membentuk strategic partnership," ujar Nalinkant.

Ia menjelaskan, kerjasama ini diterjemahkan dalam bentuk pengambilalihan aset-aset yang telah dijaminkan BNBR ke Odickson Finance. Dengan kerjasama ini, Northstar secara tidak langsung mengambil kontrol dari aset-aset portofolio BNBR.

"Dan Northstar berada dalam posisi untuk menjadi strategic partner di BUMI. Jumlah utang yang sangat signifikan BNBR kepada Odickson telah diambil alih oleh Northstar. Dan dia (Northstar) akan mengukuhkan dirinya untuk membentuk joint venture di BNBR," jelas Nalinkant.

Dalam catatan detikFinance, BNBR memiliki pinjaman sebesar US$ 1,086 miliar ke Odickson Finance baru dibayar US$ 118,7 juta atau tersisa sekitar US$ 967,3 juta. Jika memang yang diambil hanya US$ 575 juta, maka utang ke Odickson yang masih tersisa adalah sekitar US$ 392,3 juta.

"Semua utang selesai, semua kewajiban dapat dipenuhi. Tinggal yang US$ 200 juta yang akan kita selesaikan sebelum akhir tahun ini," jelasnya.

Ia menambahkan, kesepakatan akhir masih akan dihitung lagi, termasuk berapa nilai dari aset yang diambil alih Northstar.

Dalam catatan detikFinance, sisa pinjaman saat ini yang masih harus dibayarkan BNBR mencapai US$ 1,146 miliar plus Rp 501,7 miliar kepada Odickson Finance, JP Morgan, ICICI, Mandiri Sekuritas, PT Sucorinvest Gani, PT PNM Investments Management, PT Sarijaya Securities, PT Dinar Sekuritas.

Sementara utang gadai saham Bumi Resources (BUMI) dan Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) ke Recapital Securities dan PT Aldira sebesar Rp 144,9 miliar sudah mengalami gagal bayar.

Astra Agro Lestari Investasi Pabrik Baru US$ 120 Juta


Ciater - PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) sedang membangun sebuah pabrik pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) di Sangatta, Kalimantan Timur. Investasi yang disiapkan mencapai US$ 120 juta.

"Kami sedang membangun pabrik baru di Kalimantan Timur," ujar Direktur Keuangan AALI, Santosa disela acara di Ciater, Subang, Jumat (28/11/2008).

Menurut Santosa, proses konstruksi telah dimulai pertengahan tahun ini. Proses konstruksi diperkirakan akan memakan waktu selama 18 bulan.

"Setelah itu akan memasuki proses housing selama 2 tahun. Jadi baru beroperasi sekitar 2011," jelas Santosa.

Kapasitas pabrik baru tersebut mampu memproduksi 45 ton per jam. Saat ini pabrik AALI ada sebanyak 20 buah.

"Pendanaannya seluruhnya menggunakan kas internal," ujar Santosa.

Produksi minyak dunia diprediksi turun


JAKARTA (Bisnis.com): Kendati masih memegang peran penting dalam memasok energi dunia, posisi minyak mentah mengalami perubahan mendasar.

Harga ditandai dengan fluktuasi di level yang tinggi, sejumlah lapangan mengalami laju penurunan produksi, struktur pasar minyak berubah dengan semakin meningkatnya peran perusahaan nasional sementara permintaan masih terus mengalami peningkatan.
''Era minyak murah sudah lewat dengan ditandai fluktuasi diharga yang tinggi [mahal],'' ujar Direktur Eksekutif Badan Energi Dunia (International Energy Agency-IEA) Nobuo Tanaka, kemarin.

Berdasarkan skenario referensi IEA, permintaan minyak dunia meningkat 1% per tahun dari 85 juta barel per hari (bph) tahun 2006 menjadi 106 juta bph di tahun 2030.

Peningkatan permintaan sebagian besar terjadi di negara non-OECD. Lebih dari 45% peningkatan permintaan dari China, India, dan Timur Tengah. Sedangkan negara OECD justru mengalami penurunan permintaan terutama untuk sektor non transportasi.
Sementara proyeksi produksi memperlihatkan terjadi peningkatan meski tipis. Jika 2007 produksi minyak dunia sebesar 82 juta bph maka 2030 diproyeksikan menjadi sekitar 104 juta bph. Sebagian besar produksi berasal dari negara OPEC, terutama kawasan Timur Tengah.

Jika 2007 kawasan ini menyumbang 44% produksi minyak dunia, maka 2030 meningkat menjadi 51%. Sedangkan produksi minyak dari non-OPEC mencapai plato dan diproyeksikan mulai menurun.
“Berdasarkan analisis kami kapasitas produksi minyak mengalami sensivitas yang tinggi di waktu-waktu mendatang akibat laju penurunan produksi lebih besar dibandingkan dengan laju permintaan,” ujar Nobuo Tanaka.

Berdasarkan analisis terhadap sekitar 800 lapangan utama produksi minyak dunia, IEA memprediksi laju penurunan produksi mencapai 6,7 %. Sebagian besar terjadi di non-OPEC. Selain mengalami laju pengurasan yang tinggi umumnya lapangan produksi minyak di non OPEC juga relatif lebih kecil.

United Tractors Tak Incar Tambang Batubara Hanson


Ciater - PT United Tractors Tbk (UNTR) membantah sedang melakukan uji tuntas (due dilligence) untuk mengakuisisi tambang batubara milik PT Hanson International Tbk (MYRX).

"Kami memang sedang mengincar dua tambang batubara di Kalimantan Tengah. Tapi bukan Hanson," ujar Direktur Keuangan UNTR, Gidion Hasan dalam paparan di Ciater, Subang, Jumat (28/11/2008).

Pernyataan tersebut diungkapkan Gidion untuk membantah kabar yang beredar di kalangan pelaku pasar bahwa perseroan sedang membidik tambang Hanson di Kalimantan Tengah.

Menurut kabar, UNTR dan Jindal sedang bersaing memperebutkan Hanson. Namun Gidion kembali menyanggah kabar tersebut.

"Sampai saat ini kami belum ada minat maupun rencana untuk mengakuisisi Hanson. Apalagi terlibat dalam persaingan perebutan," ujar Gidion.

Kendati demikian, Gidion mengatakan bahwa perseroan memang tengah mengincar dua tambang batubara di Kalimantan Tengah. Saat ini sedang dalam masa due dilligence.

"Dua tambang yang sedang kami bidik merupakan lahan hijau (green field). Masih due dilligence jadi belum dapat kami berikan detail informasinya," ujar Gidion.

Gidion hanya mengatakan, proses due diligence diharapkan akan segera rampung sebelum tutup tahun 2008.

"Kami mengharapkan kepastian akuisisi dapat diperoleh sebelum akhir tahun ini. Paling tidak hingga awal 2009," ujar Gidion.

United Tractors akan Akuisisi Dua Tambang Batubara


Subang (ANTARA News) - PT United Tractors Tbk (UNTR) tengah mengincar dua lahan tambang batubara di Kalimantan Tengah, sekaligus membantah berita bahwa perusahaan itu akan mengakuisisi tambang milik Hanson Internasional.

"Kami rencana akuisisi dua tambang batubara di Kalimantan Tengah. Tapi bukan Hanson," kata Direktur Keuangan UNTR Gidion Hasan dalam paparan kinerja di Ciater, Subang, Jumat.

Dia mengatakan saat ini perseroan sedang dalam masa due dilligence (uji tuntas). "Dua tambang yang sedang kami bidik merupakan lahan hijau (green field). Masih due dilligence jadi belum dapat kami berikan detil informasinya," ujar Gidion.

Gidion hanya mengatakan, proses due dilligence diharapkan akan segera rampung sebelum tutup tahun 2008. "Kami mengharapkan kepastian akuisisi dapat diperoleh sebelum akhir tahun ini. Paling tidak hingga awal 2009," tambahnya.

Ketika disinggung berapa besar cadangan batubara perusahaan yang diakuisisi, Gidion belum dapat menjelaskan, karena masih terikat dengan confidential agreement.

"Paling tidak yang mempunyai cadangan minimal 5 juta ton kami tertarik untuk akuisisi," katanya.

Bakrie Mungkin Lepas 20-25% Saham BUMI ke Northstar


Jakarta - PT Bakrie & Brothers (BNBR) Tbk mungkin melepas 20-25 persen saham PT Bumi Resources Tbk kepada Northstar Pacific.

Menurut sumber detikFinance yang mengetahui transaksi tersebut, para petinggi BNBR, BUMI dan Northstar kini sedang merampungkan mekanisme transaksi dan pembayarannya.

Rencananya, hasil pertemuan itu akan diumumkan di Wisma Bakrie 2 pada Jumat (28/11/2008) sekitar pukul 21.00 WIB.

Dalam kesepakatan awal antara BNBR dan Northstar, disepakati pelepasan 35% saham BUMI senilai US$ 1,3 miliar. Namun setelah transaksi, saham BUMI terus turun dan sempat jatuh di bawah Rp 1.000.

Setelah sempat terpuruk, saham BUMI mulai membaik mendekati tenggat waktu transaksi pada hari ini. Dan pada Jumat ini, saham BUMI menguat hingga Rp 90 (9,78%) menjadi Rp 1.010 dengan nilai perdagangan mencapai Rp 684,7 miliar

BNBR terpaksa melepas seluruh portofolionya di BUMI lantaran sedang dililit utang gadai saham dengan jumlah pokok sebesar Rp 11,51 triliun dan bunga pinjaman sekitar Rp 1,22 triliun. Totalnya sekitar Rp 12,73 triliun

BI Rate Turun 25 BPS, Inflasi November di Bawah 0,5%


JAKARTA , Investor Daily
Sejumlah ekonom memprediksi laju inflasi November 2008 di bawah 0,5% (month on month/mom) dan 12% (year on year/yoy).

Inflasi yang rendah bulan ini akibat turunnya pengeluaran masyarakat dan diikuti pelemahan harga komoditas dunia.

Ekonom CIMB Niaga Winang Budoyo menjelaskan, penurunan harga bahan makanan seperti minyak goreng semakin tajam seiring melemahnya harga minyak sawit mentah (CPO), ditambah dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Pengeluaran masyarakat turun karena tunjangan hari raya (THR) sudah habis dan harga komoditas dunia sudah turun banyak,” kata Winang kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (27/11).

Dia memperkirakan, inflasi November sekitar 0,1% (mom) dan 11,71% (yoy). Namun, inflasi Desember akan naik lagi sehingga inflasi tahunan masih di kisaran 12%.

Direktur Danareksa Research Institute (DRI) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, inflasi November hanya sekitar 0,4% (mom) dan 11,44% (yoy). Itu terjadi karena harga beras yang jatuh dan tidak ada faktor musiman yang mendorong inflasi naik.

“Tapi, mungkin nanti Desember ada faktor pendorongnya seperti Natal dan menjelang Tahun Baru. Dan hingga akhir tahun inflasi bisa 11,88%,” tutur dia.

Sementara itu, ekonom Bank Danamon Helmi Arman memprediksi, inflasi November sekitar 0,47% (mom) dan 12,06% (yoy). Pelemahan nilai rupiah juga akan berpengaruh pada harga daging hewan, ikan segar, harga pakaian jadi, harga emas dan perhiasan.

Ekonom senior BNI Ryan Kiryanto juga memperkirakan, inflasi November akan rendah sekitar 0,4% (mom) dan ekspektasi inflasi hingga akhir 2008 bisa 11%.

”Inflasi akan bergerak turun karena faktor-faktor inflatoir dari internal maupun eksternal sudah semakin melemah, seiring melambatnya perekonomian globa,” papar dia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), laju inflasi pada Oktober lalu 0,45% (mom) atau lebih rendah dari September yang sebesar 0,97%. Sedangkan tingkat inflasi tahunan telah mencapai 10,96% dan 11,77% (yoy).

BI Rate Turun
Menurut Winang, inflasi November yang rendah seharusnya membuat tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) juga ikut menurun 25 basis poins (bps) menjadi 9,25%. “Dengan turunnya BI rate, sektor riil bisa terdorong,” ujar dia.

Purbaya juga mengatakan tidak ada alasan bagi Bank Indonesia (BI) untuk tidak menurunkan BI rate minimal 25 bps menjadi 9,25%. Tujuannya, supaya perekonomian nasional bisa tumbuh. Apalagi perekonomian Indonesia dan global sudah melambat.

”Jadi, penurunan BI rate sangat diperlukan supaya bisa menggerakkan sektor riil dan tetap menjaga demand dalam negeri,” papar dia.

Meski ragu dengan pencairan stimulus dana Rp 120 triliun yang merupakan sisa anggaran 2008 dalam waktu satu bulan, Purbaya mendorong agar janji tersebut direalisasikan untuk menggerakkan perekonomian nasional. Dengan demikian, inflasi 2009 diharapkan bisa kembali pada posisi satu digit.

“Saya ragu Rp 120 triliun itu bisa diserap dalam waktu satu bulan, sebab untuk satu tahun saja sulit, apalagi satu bulan. Tapi intinya, stimulus itu sangat diperlukan untuk menjaga perekonomian. Sebab, negara lain tahun depan sudah bicara tentang deflasi,” tutur dia.

Sementara itu, Ryan Kiryanto mengatakan, dengan inflasi yang rendah, ada ruang penurunan BI rate sekitar 25 bps menjadi 9,25%. “Jika ini berlanjut, Januari 2009 BI rate bisa turun lagi menjadi 9%,” ujar Ryan.

Kinerja Gudang Garam melambat


JAKARTA: PT Gudang Garam Tbk memperkirakan kinerja keuangan perseroan akan mengalami perlambatan tahun depan dibandingkan tahun ini, lantaran kondisi perekonomian yang bergejolak.

Corporate Secretary Gudang Garam Heru Budiman mengatakan kendati terjadi penurunan kinerja, tetapi pihaknya tetap optimistis bahwa perseroan masih mencatat pertumbuhan pada 2009.

"Kebijakan pemerintah menaikkan PPN tentu saja akan meningkatkan biaya produksi. Jika biaya ini bisa dibebankan kepada konsumen dengan menaikkan harga, tentunya tidak ada masalah. Namun, menaikkan harga rokok sulit dilakukan, kendati biaya produksi mengalami kenaikan," tuturnya dalam paparan publik kemarin.

Menurut Heru, perseroan pada kuartal IV ini telah mengantisipasi perlambatan bisnis. Gudang Garam telah siap menghadapi risiko ini, karena rasio utang yang normal, serta transaksi perusahaan dalam denominasi rupiah.

"Kami tetap optimistis bisa tumbuh, tetapi demikian kami tidak menganggap enteng krisis yang terjadi saat ini. Tahun depan kami siap profit perseroan akan turun jika tidak terdapat kenaikan harga."

Kenaikan pajak yang terjadi setiap tahun merupakan beban perseroan, sehingga berpotensi menurunkan laba.

Hingga akhir tahun ini perseroan memperkirakan volume penjualan akan flat dibandingkan tahun lalu. Volume penjualan berpotensi menurun menjadi 220 miliar batang rokok dari sebelumnya 227 miliar batang.

Analis emiten rokok dari CIMB Securities Rumaida Utami mengatakan kinerja keuangan Gudang Garam masih berpotensi tumbuh di tengah kondisi pasar konsumsi yang semakin suram.

Bursa minta Bakrie ungkap identitas Odickson Finance


JAKARTA: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta manajemen PT Bakrie & Brothers Tbk mengungkap pihak di balik Odickson Finance SA, salah satu kreditor terbesar dengan total utang hampir US$1 miliar atau setara Rp12,3 triliun.

Permintaan penjelasan itu merupakan upaya bursa efek untuk mengetahui status utang Bakrie kepada Odickson, mengingat pinjaman itu jatuh tempo pada April 2009.

Dalam keterbukaan informasi kepada BEI kemarin, Direktur dan Sekretaris Bakrie & Brothers R.A. Sri Dharmayanti menyatakan perseroan tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan Odickson, sehingga pinjaman yang diterima oleh Bakrie tidak mengandung benturan kepentingan.

Ketika dikonfirmasi Dirut BEI Erry Firmansyah mengatakan sedang berada di Medan. "Tanyakan ke bagian pencatatan."

Direktur Pencatatan BEI Eddy Sugito menambahkan dalam paparan publik beberapa waktu lalu, Bakrie belum menjelaskan secara detail siapa sebenarnya Odickson.

"Utang Bakrie paling besar ke Odickson, tetapi penjelasannya tidak terlalu detail, sehingga bursa meminta tambahan informasi agar diketahui oleh publik."

Perusahaan induk investasi itu belum lama ini menyatakan gagal bayar total utang Rp144,9 miliar kepada dua kreditornya yaitu PT Recapital Securities dan PT Aldira.

Bakrie mempunyai utang US$1,39 miliar (setara Rp17,09 triliun) dan Rp545,81 miliar kepada sembilan kreditor. Semula, pinjaman ke Odickson mencapai US$1,08 miliar. Namun, Bakrie membayar US$118,7 juta, sehingga total utang ke Odickson US$967,3 juta.

Dalam materi paparan publik, Bakrie menyatakan menjaminkan 3,74 miliar saham PT Bumi Resources Tbk, 4,76 miliar saham PT Energi Mega Persada Tbk, dan 3,79 miliar saham PT Bakrieland Development Tbk untuk mendapat utang dari Odikcson.

Dari total kepemilikan Bakrie di Bumi sebanyak 6,79 miliar saham, mayoritas atau 55% dari saham itu digadaikan ke Odickson. Kreditor Bakrie lainnya adalah JPMorgan, Bank ICICI, PNM Investment Management, Sarijaya Securities, Mandiri Sekuritas, dan Dinar Sekuritas.

Penyelesaian repo

Dirut PT Financorpindo Nusa Edwin Sinaga mengatakan publik, melalui bursa efek, berhak mengetahui pihak di belakang Odickson. Namun, ujarnya, jangan sampai persoalan itu hanya berputar-putar pada kreditor Bakrie.

"Yang terpenting adalah bagaimana Bakrie melunasi transaksi repo [repurchase agreement]," ujarnya.

Satu analis dari broker asing menambahkan penjelasan secara detail pihak di balik Odickson sangat penting terkait dengan penyelesaian masalah repo.

"Odickson bisa saja menjaminkan lagi saham-saham itu [Bumi, Energi, dan Bakrieland] kepada pihak ketiga. Tanpa mengetahui siapa Odickson sebenarnya, sulit untuk melacak aliran saham yang direpo."

Bakrie juga tidak menjelaskan identitas Odickson secara detail dalam laporan keuangan Bakrie per Juni.

Dalam laporan UBS Investment Research yang dirilis pada 9 Oktober disebutkan Odickson merupakan perusahaan, berbasis di British Virgin Island, yang dibentuk dengan tujuan khusus (special purpose vehicle/SPV).

Manajemen Bakrie mengungkapkan Odickson bukan pihak yang terkait, tetapi friendly party.

Pembayaran bunga pinjaman US$70 juta ke Odickson menunjukkan peluangnya sebagai pihak yang terkait dengan Bakrie cukup kecil.

Saham energi sentuh batas bawah


JAKARTA: Harga saham PT Energi Mega Persada Tbk anjlok hingga menyentuh batas bawah perdagangannya kemarin setelah Merrill Lynch & Co memangkas target harga dan rekomendasi terhadap saham perusahaan minyak dan gas keluarga Bakrie itu.

Harga saham berkode ENRG ini anjlok berturut-turut untuk kedelapan kalinya. Harga saham ini ditutup merosot 9,66% atau Rp17 menjadi Rp159. Merrill Lynch menurunkan rekomendasinya terhadap ENRG menjadi underperform dari sebelumnya beli.

Keputusan itu diambil Merrill Lynch dengan pertimbangan harga minyak yang jatuh dan estimasi penurunan produksi migas perseroan, serta ketidakpastian rencana penjualan saham Energi Mega yang sedang dilakukan oleh perusahaan induknya yakni PT Bakrie & Brothers Tbk untuk membayar utang US$1,2 miliar.

Investor Wajib Cermati ANTM


INILAH.COM, Jakarta - Harga saham PT Aneka Tambang (ANTM) belakangan ini anjlok akibat jatuhnya harga logam nikel seiring pelambatan ekonomi global. Namun, beberapa langkah efisiensi dan diversifikasi, membuat emiten logam ini menarik untuk dikoleksi.

Pada perdagangan Kamis (27/11) saham ANTM ditutup di posisi Rp 990 per lembar sesi siang melemah Rp 10 dibanding sehari sebelumnya. Namun saham ANTM sempat berada di level Rp 1.020 per lembar pada perdagangan kemarin. Pada awal November, ANTM masih bertengger di level 1.180 per unitnya.

Head of Research BNI Securities Norico Goman, memaparkan penurunan saham ANTM terimbas perlambatan ekonomi global yang berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan-perusahaan tambang. “Melemahnya ekonomi menurunkan permintaan berbagai komoditi pertambangan, seperti nikel, tembaga dan lainnya,” katanya.

Selain itu, fluktuasi harga minyak juga ikut berpengaruh, terkait 40% total biaya produksi merupakan biaya energi. “Kondisi market seperti ini tentu sangat berpengaruh pada pertumbuhan laba bersih dan margin keuntungan emiten tersebut,” tandas Norico.

Tak heran, perusahaan tambang ini menurunkan target produksi ferronickel di 2009 sebesar 30% menjadi 12 ribu ton dari tahun ini sebanyak 17 ribu ton. Sedangkan produksi emas di 2009 hampir sama dengan 2008, yakni sebanyak 3 ton.

Menurut Presdir ANTM Alwin Syah Loebis, konsumsi global nikel diperkirakan akan turun menjadi di bawah 1 juta ton dari tahun ini 1 juta ton, khususnya akibat perkiraan melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

Keputusan untuk menurunkan target produksi juga diambil karena biaya yang meningkat. Biaya produksi ferronickel di akhir Oktober berada di level US$ 5,69 pe pound dan harga nikel sekitar US$ 4,70/pound.

Namun, analis Pardomuan Sihombing mengatakan, investor saat ini layak mempertimbangkan saham produsen nikel terbesar kedua di Indonesia itu. Menurutnya, harga minyak yang berada dalam tren melemah, membawa keuntungan bagi perseroan, terkait turunnya cost of production.

“Emiten ini menggunakan solar dan bensin untuk produksinya, sehingga turunnya harga minyak akan menekan biaya produksinya,” katanya.

Meski harga nikel turun, Antam sibuk membuat studi untuk penghematan bahan bakar dan melakukan berbagai efisiensi. Seperti membangun PLTU dengan skim Independen Power Producer (IPP) untuk menurunkan biaya produksi feronikel perseroan.

Selain itu juga menghemat biaya dengan melakukan cash preservation dan menempatkan skala prioritas proyek. Kemudian melakukan revisi rencana anggaran 2009 sebagai antisipasi turunnya harga komoditas dan penggunaan bijih Pomalaa dengan kadar yang lebih rendah untuk penghematan biaya transportasi.

Sedangkan untuk jangka panjang, ANTM melakukan diversifikasi usaha agar tidak hanya tergantung pada nikel semata. Pasalnya, jatuhnya harga nikel telah membuat kinerja ANTM tertekan, sehingga dengan adanya diversifikasi, resiko kinerja makin berkurang.

Salah satunya adalah mengembangkan proyek Tayan, yang merupakan patungan antara ANTM dengan Showa Denko Japan, Marubeni Japan dan Amalgamated Singapore. Di proyek ini ANTM memiliki porsi kepemilikan 65% saham. Proyek Tayan siap beroperasi pada 2010 sehingga mampu mengolah bauksit menjadi mical grade alumnia sebanyak 300 ribu ton per tahun.

Dengan adanya Proyek Tayan ini diharapkan kontribusi aluminium dapat meningkat bagi kinerja perseroan. Tahun lalu sekitar 90% penjualan disumbangkan dari nikel. Nantinya diharapkan kontribusi nikel akan sebesar 50%, 20% dari emas dan 30% dari aluminium.

Hal senada diungkapkan analis Sarijaya Sekuritas Danny Eugene. Menurutnya, kinerja 2008 Antam memang akan turun akibat fluktuasi harga nikel. Namun, nikel cukup diperlukan untuk jangka panjang. “Apalagi Antam juga memiliki emas, bauksit, dan besi. Ini yang membuat perseroan menarik,” katanya.

Untuk menggenjot investasinya, ANTM berencana meningkatkan investasi pada 2009 menjadi Rp 3,02 triliun naik 299% dibandingkan 2008 Rp 758,1 miliar. Investasi yang berasal dari kas internal tersebut digunakan untuk mengembangkan proyek, operasional perseroan, dan pengeluaran lainnya. Saat ini total kas perseroan mencapai US$ 360 juta.

Sedangkan terkait buyback saham, ANTM telah mengeluarkan dana sekitar Rp 13,5 miliar untuk buyback saham dari alokasi dana Rp 200 miliar. Atas beberapa sentimen ini, tim riset Samuel Sekuritas pun menyarankan investor untuk tahan dulu saham ANTM. “Kami rekomendasikan hold untuk ANTM,” katanya.

Antam Bidik Tambang Batubara di Kaltim


Jakarta - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sedang mengincar tambang batubara di kawasan Kalimantan Timur untuk penyediaan pasokan batubara ke PLTU perseroan. Kebutuhan batubara sebanyak 2 juta ton per tahun.

"Ya ada beberapa tambang yang sedang kami incar, terutama di Kalimantan Timur," ujar Direktur Utama ANTM, Alwin Syah Loebis dalam paparan di hotel Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta, Rabu (26/11/2008).

Tahun depan, perseroan berencana membangun PLTU dengan kapasitas 2x75 MW. Proses konstruksi diperkirakan rampung di 2011.

"Kebutuhan batubaranya sekitar 2 juta ton per tahun. Untuk itu kami perlu mengamankan pasokan batubara dengan melakukan akuisisi," ujar Alwin.

Sayangnya, Alwin belum dapat mengumumkan nilai investasi yang disiapkan perseroan untuk rencana tersebut.

"Masih awal sekali. PLTU-nya juga beroperasi di 2011. Jadi waktu untuk melakukan pencarian masih banyak," ujar Alwin.

Mengenai rencana perseroan bergabung dengan konsorsium Northstar Pacific Partners Ltd untuk akuisisi 35% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), Alwin mengatakan pernyataan mundur PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) mewakili seluruh BUMN yang berencana masuk ke saham BUMI.

"Pak Sukrisno (Direktur Utama PTBA) kan sudah menyatakan mundur dari rencana tersebut. Pernyataan itu mewakili seluruh BUMN yang tadinya berminat masuk ke saham BUMI," ujar Alwin.

Tadinya, selain ANTM dan PTBA, PT Timah Tbk (TINS) juga berencana masuk dalam konsorsium Northstar untuk mengakuisisi 35% saham BUMI.

Kalbe Farma Siapkan Capex Hingga Rp 300 Miliar di 2009


Jakarta - PT Kalbe Farma Tbk menganggarkan belanja modal pada tahun 2009 sebesar Rp
250-300 miliar. Dana tersebut sepenuhnya diambil dari kas internal perseroan.

Hal tersebut dikemukakan oleh Direktur PT Kalbe Farma Vidjongtius di sela-sela acara investor Summit dan Capital Market Expo 2008 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (26/11/2008).

"Dana tersebut akan dialokasikan untuk pengembangan kapasitas produksi, penambahan jaringan distribusi, serta pengembangan informasi dan teknologi," jelasnya.

Menurutnya, perseroan akan lebih selektif dalam melakukan investasi melihat kondisi ekonomi yang sangat fluktuatif seperti sekarang ini.

Ia mengatakan, capex tersebut juga akan digunakan untuk mengeluarkan 20 produk baru di tahun depan. Perseroan juga berencana memperluas area cabang distribusi dengan target peningkatan 5 persen per tahun. Saat ini perseroan memiliki kantor cabang sebanyak 150 ribu unit.

Hingga penghujung tahun 2008, perseroan menargetkan perolehan laba bersih sekitar Rp 600-700 miliar atau tumbuh 11 persen.

Kontribusi pendapatan Kalbe Farma bersumber dari divisi obat resep sebesar Rp 1,57 triliun (27,46 persen), divisi nutrisi Rp 1,42 triliun (24,80 persen), divisi distribusi dan konsumer Rp 1,46 triliun (25,55 persen), dan divisi produk konsumer Rp 1,27 triliun (22,19 persen).

Elnusa Ngebor 2 Sumur Gas di Kalteng Awal 2009


Jakarta - PT Elnusa Tbk (ELSA) akan mulai melakukan pengeboran dua sumur gas Blok
Bangkanai, Kalimantan Tengah, di awal tahun 2009.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Elnusa Eteng A Salam di sela-sela acara investor Summit dan Capital Market Expo 2008 di Hotel Ritz Carlton, SCBD Kuningan, Jakarta, Rabu (26/11/2008).

"Tahun ini kita belum bisa lakukan pengeboran karena perlu persiapan hal-hal yang terkait, misalkan dari pengadaan rig pengeboran kemudian pengadaan peralatan eksplorasi, persiapan jalan masuk ke lokasi dan lain-lain," katanya.

Saat ini, proses persiapan yang dilakukan perseroan sudah mencapai pada tender perusahaan untuk pengadaan rig. Setelah itu perseroan akan mulai menunjuk kontraktor untuk melakukan pengeboran. Ia mengaku, bulan depan sudah bisa keluar pemenangnya.

"Peralatan untuk sumur sudah dibeli, jalan masuk ke lokasi juga sudah dilakukan. Semua proses terus berjalan," ujarnya.

Blok tersebut memiliki kedalaman 5000 meter, sehingga membutuhkan bor dengan kekuatan 2000 hp. Menurutnya, tidak banyak perusahaan yang memiliki bor dengan kekuatan tersebut.

Faktor cuaca pun menjadi kendala tersendiri karena jalan masuk menuju lokasi sering terkena pasang surut air laut.

"Lokasinya onshore tapi sering ada pasang surut, yang paling cocok dilakukan di bulan Maret dan April," ujarnya.

Ia mengatakan, perseroan sudah melakukan pembicaraan dengan PT Perusahaan Listrik Negara untuk melakukan perjanjian penjualan gas yang dihasilkan dari Blok Bangkanai.

Elnusa Incar Pendapatan Rp 3,02 Triliun


Jakarta - PT Elnusa Tbk (ELSA) memproyeksikan perolehan pendapatan sebesar Rp 3,02
Triliun di penghujung tahun 2009. Sedangkan untuk laba bersihnya diperkirakan akan mencapai Rp 216 miliar.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Elnusa Eteng A Salam di sela-sela acara investor Summit dan Capital Market Expo 2008 di Hotel Ritz Carlton, SCBD Kuningan, Jakarta, Rabu (26/11/2008).

"Pencapaian proyeksi tersebut antara lain disebabkan oleh aplikasi strategi fokus di jasa hulu migas serta mulai beroperasinya alat-alat produksi dengan belanja modal yang dilakukan mulai tahun 2008, serta peningkatan profitabilitas jasa hulu migas," ujarnya.

Dengan besarnya pembelian alat-alat pengeboran di tahun 2008 ini, maka belanja modal atau capital expenditure (capex) perseroan tahun 2009 tidak terlalu besar. Ia mengatakan, capex untuk tahun depan hanya sebesar US$ 5,1 juta, lebih kecil dari tahun sebelumnya yang mencapai US$ 70,5 juta. "Seluruh dananya diambil dari kas internal perseroan," imbuhnya.

Selain itu, menurutnya kondisi ekonomi di tahun 2009 tidak menggembirakan sehingga perseroan akan lebih mengutamakan optimalisasi aset yang sudah dimiliki.

Sedangkan untuk pendapatan dan laba bersih akhir tahun 2008, perseroan memproyeksikan bisa mencapai Rp 2,5 triliun untuk pendapatan dan Rp 151 miliar untuk laba bersih.

Hingga kini, Elnusa telah mengantongi kontrak-kontrak senilai kurang lebih US$ 297 Juta yang terdiri dari kontrak carry over dari tahun sebelumnya senilai dan kontrak baru yang diperoleh pada tahun 2008 sebesar US$ 156 Juta. Dari sejumlah kontrak tersebut di atas, nilai kontrak untuk pekerjaan di tahun 2009 saja senilai US$ 135 Juta.

Pencapaian tersebut di atas merupakan realisasi strategi fokus bisnis Elnusa di jasa hulu migas, termasuk pengembangan kompetensi di bidang seismic transition zone dan marine serta deep well drilling.

Antam Ancam Batalkan Akuisisi 10% Saham Oxiana


Jakarta - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menyatakan akan membatalkan rencana akuisisi 10% saham Oxiana jika harga tidak diturunkan. Perseroan memberi tenggat waktu hingga Januari 2009.

"Kalau mereka tidak turunkan harga, ya kita batal masuk kesana," ujar Direktur Utama ANTM, Alwin Syah Loebis dalam paparan di hotel Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta, Rabu (26/11/2008).

Namun Alwin mengatakan proses negosiasi masih berlangsung hingga Januari 2009. Harga yang ditawarkan Oxiana untuk 10% sahamnya sebesar US$ 66 juta.

"Harga tersebut terlalu mahal. Tadinya tenggat negosiasi sudah berakhir November ini. Tapi kami memberikan waktu tambahan," ujar Alwin.

Alwin menjelaskan bahwa pada dasarnya perseroan masih tertarik masuk ke Oxiana, pemilik tambang emas di Martabe, Sulawesi. Namun tingginya harga tawaran membuat perseroan berpikir kembali.

"Tentu saja kami masih tertarik. Tapi kalau harganya segitu terlalu mahal," jelas Alwin.

Sayangnya Alwin enggan membeberkan harga yang diinginkan ANTM untuk 10% saham Oxiana. "Nggak etis kalau saya sebutkan. Masih nego," elak Alwin.

Jasa Raharja Serahkan Santunan Rp 706 Miliar


MANADO, Investor Daily

Hingga akhir triwulan III-2008, PT Jasa Raharja telah menyerahkan dana santunan kepada korban kecelakaan transportasi sebesar Rp 706,1 miliar.



“Jumlah itu akan terus meningkat karena adanya PMK 36 dan 37/2008 yang menaikkan santunan rata-rata 150% mulai Februari 2008,” ujar Kepala Divisi Asuransi PT Jasa Raharja Supriyo Joko Nurcahyo dalam dialog bertema Perlindungan Dasar bagi Pengguna Moda Transportasi dan Pengguna

Jalan Lainnya dalam Rangka Mensukseskan WOC (World Ocean Conference) 2009 di Manado, Sulawesi Utara, Senin (24/11).



Menurut dia, jumlah santunan terus meningkat seiring peningkatan frekuensi jumlah kecelakaan lalu lintas. Pada 2004, BUMN itu membayarkan santunan sebesar Rp 487,5 miliar. Sementara itu, jumlah santunan pada 2005 Rp 538,7 miliar, pada 2006 sebesar Rp 500,5 miliar, dan pada 2007 sebesar Rp 530,3 miliar.



Berdasarkan PMK 36 dan 37/2008, kata dia, jumlah santunan untuk korban meninggal akibat kecelakaan transportasi laut dan darat yang semula Rp 10 juta, naik menjadi Rp 25 juta. Santunan untuk korban cacat tetap yang semula maksimal Rp 10 juta berubah menjadi Rp 25 juta. Sedangkan santunan perawatan yang semula maksimal Rp 5 juta naik menjadi Rp 10 juta, serta biaya pemakaman naik menjadi Rp 2 juta dari sebelumnya hanya Rp 1 juta.



Supriyo Joko Nurcahyo menambahkan, santunan untuk korban kecelakaan moda angkutan udara tidak berubah, yaitu Rp 50 juta untuk korban meninggal, maksimal Rp 50 juta untuk korban cacat tetap, maksimal Rp 25 juta untuk biaya perawatan. Namun, biaya pemakaman naik 100% dari Rp 1 juta menjadi Rp 2 juta. “Santunan untuk korban angkutan udara lebih besar karena preminya juga lebih besar,” jelas dia.


Wilayah Sulut



Sementara itu, Kepala PT Jasa Raharja cabang Sulawesi Utara (Sulut) yang juga membawahi Gorontalo dan Ternate Wahyu Purwanto mengungkapkan, Jasa Raharja telah menyerahkan santunan sebesar Rp 6,8 miliar sampai Oktober 2008 khusus wilayah Sulut. Santunan itu diberikan kepada ahli waris korban

meninggal, korban luka-luka, cacat tetap, dan biaya pemakaman.



Jumlah itu, menurut dia, turun Rp 22% dibanding periode yang sama pada 2007.



Dia menambahkan, santunan yang telah diberikan untuk wilayah Gorontalo, mencapai Rp 2,6 miliar dan Rp 1,4 miliar untuk wilayah Ternate. “Jadi, total santunan yang dibayarkan sekitar Rp 10,9 miliar,” jelas dia.

Rowe Price borong saham Bumi


JAKARTA: Harga saham PT Bumi Resources Tbk kemarin melonjak 19,72% karena institusi kakap mulai memborong saham itu dari pasar.

Harga saham Bumi melejit 19,72% ke Rp850 kemarin, sehingga kapitalisasi pasarnya Rp16,49 triliun, kenaikan pertama sejak suspensi saham itu dicabut.

Harga saham Bumi tertinggi di pasar negosiasi kemarin menyentuh Rp930. Pemodal institusi yang memborong saham Bumi adalah T. Rowe Price Group Inc, perusahaan AS yang mengelola aset senilai lebih dari US$340 miliar hingga akhir September.

T. Rowe, seperti dikutip Bloomberg, menyatakan membeli saham Bumi, Peabody Energy Corp, Arch Coal Inc, dan Consol Energy Inc di pasar. Miliader George Soros membeli 2,9 juta saham Arch Coal, sedangkan Citadel Investment Group LLC dan Invesco Ltd membeli 3,5 juta saham Peabody.

Satu manajer investasi menambahkan Sumitomo Energy menyiapkan dana US$500 juta melalui dua broker asing dan lokal untuk memborong saham Bumi. CLSA Securities menjadi broker beli terbanyak saham Bumi Rp50,11 miliar, disusul oleh CIMB-GK Securities senilai Rp21,13 miliar.

Norico Gaman, Kepala Riset PT BNI Securities, mengatakan volume transaksi Bumi mengindikasikan adanya investor institusi yang membeli saham itu. "Saham Bumi masih menarik, apalagi harganya sempat jatuh di bawah nilai bukunya. Northstar Pacific Partners Ltd juga bisa mengumpulkan saham itu."

Dirut PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk Sukrisno mengatakan perseroan mundur dari konsorsium Northstar. Namun, perusahaan investasi itu bisa meneruskan akuisisi Bumi. "Kalaupun membeli, mungkin jumlahnya tidak sampai 35%."

Menurut dia, selama uji tuntas dengan Northstar, perusahaan tersebut menunjukkan kemampuannya membiayai pembelian saham Bumi.

Rowe Price borong saham Bumi


JAKARTA: Harga saham PT Bumi Resources Tbk kemarin melonjak 19,72% karena institusi kakap mulai memborong saham itu dari pasar.

Harga saham Bumi melejit 19,72% ke Rp850 kemarin, sehingga kapitalisasi pasarnya Rp16,49 triliun, kenaikan pertama sejak suspensi saham itu dicabut.

Harga saham Bumi tertinggi di pasar negosiasi kemarin menyentuh Rp930. Pemodal institusi yang memborong saham Bumi adalah T. Rowe Price Group Inc, perusahaan AS yang mengelola aset senilai lebih dari US$340 miliar hingga akhir September.

T. Rowe, seperti dikutip Bloomberg, menyatakan membeli saham Bumi, Peabody Energy Corp, Arch Coal Inc, dan Consol Energy Inc di pasar. Miliader George Soros membeli 2,9 juta saham Arch Coal, sedangkan Citadel Investment Group LLC dan Invesco Ltd membeli 3,5 juta saham Peabody.

Satu manajer investasi menambahkan Sumitomo Energy menyiapkan dana US$500 juta melalui dua broker asing dan lokal untuk memborong saham Bumi. CLSA Securities menjadi broker beli terbanyak saham Bumi Rp50,11 miliar, disusul oleh CIMB-GK Securities senilai Rp21,13 miliar.

Norico Gaman, Kepala Riset PT BNI Securities, mengatakan volume transaksi Bumi mengindikasikan adanya investor institusi yang membeli saham itu. "Saham Bumi masih menarik, apalagi harganya sempat jatuh di bawah nilai bukunya. Northstar Pacific Partners Ltd juga bisa mengumpulkan saham itu."

Dirut PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk Sukrisno mengatakan perseroan mundur dari konsorsium Northstar. Namun, perusahaan investasi itu bisa meneruskan akuisisi Bumi. "Kalaupun membeli, mungkin jumlahnya tidak sampai 35%."

Menurut dia, selama uji tuntas dengan Northstar, perusahaan tersebut menunjukkan kemampuannya membiayai pembelian saham Bumi.

Perumnas serap kredit BRI


SURABAYA: Sebanyak 6.000 rumah di 42 kota dan 1.500 unit rumah susun sederhana milik (rusunami) di Jabodetabek yang dikembangkan oleh Perum Perumnas, siap menyerap pembiayaan KPR dan KPA dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Direktur Bisnis Konsumer BRI A. Toni Soetirto memperkirakan BRI menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) dan apartemen (KPA) sedikitnya Rp500 miliar sampai dengan akhir 2008. "Pada akhir 2008, BRI akan fokus pada pembiayaan KPR dan KPA untuk masyarakat kelas menengah bawah," kata Toni pekan ini.

Wijaya Karya raih utang Rp900 miliar


JAKARTA: PT Wijaya Karya Tbk telah mendapatkan komitmen pinjaman sebesar Rp900 miliar dari konsorsium 6 bank untuk membiayai sejumlah proyek.

Direktur Keuangan Wijaya Karya Ganda Kusuma mengatakan 6 bank tersebut adalah PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Mega Tbk, PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Danamon Tbk.

"Komitmen tersebut dapat di-roll over [diperpanjang]," ujarnya kemarin.

Dia menjelaskan salah satu proyek yang akan digarap perseroan adalah pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Tampomas, Jawa Barat dengan nilai kontrak Rp 1 triliun yang merupakan proyek investasi perusahaan bersama investor daerah.

Perusahaan memiliki bagian saham 55% dalam proyek itu, sedangkan investor daerah memiliki 45% yang terbagi ke dalam PT Jasa Sarana sebesar 40% dan Rajawali Nusantara Indonesia 5%.

"Namun, kami tidak menutup kemungkinan bagi investor lain untuk masuk ke dalam pendanaan itu," tutur Ganda.

Dia mengatakan proyek itu diperkirakan selesai dan dapat menghasilkan listrik pada 2013, sedangkan saat ini dilakukan tahap pembangunan awal yang sudah mencapai 19%.

Selain pembangkit panas bumi, tuturnya, perusahaan juga memiliki sembilan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) dengan nilai kontrak senilai Rp2,9 triliun.

Untuk rencana tahun depan, papar Ganda, perusahaan akan mengembangkan tenaga kerja tidak hanya dari lokal, tetapi juga asing.

Perusahaan memperkirakan pada akhir tahun dapat membukukan penjualan Rp6,4 triliun dan laba bersih Rp144 miliar, yang meningkat 12% dari laba bersih tahun sebelumnya Rp129 miliar.

Proyek jalan tol

BUMN pengelola jalan tol, PT Jasa Marga Tbk siap mengambil alih PT Marga Nujyasumo Agung, menyusul telah disepakatinya porsi kepemilikan saham di perusahaan tersebut dengan Wijaya Karya.

Dalam kesepakatan itu, kedua perusahaan akan mengambil alih saham sebanyak 75%, dengan perincian Jasa Marga sebanyak 51%, dan Wika sebanyak 24%.

Direktur Utama Jasa Marga Frans S. Sunito mengatakan saat ini pihaknya bersama Wika masih menunggu keluarnya izin dari Departemen Pekerjaan Umum, sebelum melanjutkan pengambilalihan saham tersebut.

"Untuk pendanaan, kami [Jasa Marga] akan mengandalkan kas internal. Dengan menguasai hingga 51% saham MNA, dan dana yang akan kami keluarkan sekitar Rp400 miliar," katanya pekan ini.

Menurut Frans, angka tersebut mengacu pada ekuitas yang dibutuhkan perseroan sebesar Rp1,1 triliun. Perseroan akan menggunakan dana hasil penawaran publik perdana (initial public offering/ IPO) beberapa waktu lalu untuk akuisisi MNA.

Marga Nujyasumo mengerjakan proyek tol Surabaya-Mojokerto sepanjang 36,5 km dengan investasi Rp3,3 triliun.

Frans mengatakan pihaknya masih bisa mencapai target pendapatan selama tahun ini sebesar Rp3,2 triliun. Namun, untuk laba bersih, BUMN ini belum bersedia memaparkan angka.

Timah patok laba Rp1,78 triliun


JAKARTA: PT Timah Tbk menargetkan bisa meraup laba bersih hingga akhir tahun ini Rp1,78 triliun, atau sama dengan tahun lalu, di tengah penurunan harga komoditas timah.

Direktur Keuangan Timah Krishna Syarif mengatakan laba bersih itu diperoleh dari pendapatan perseroan yang selama tahun ini dipatok bisa menembus di atas Rp9 triliun.

"Kami berusaha agar laba bersih bisa menyamai tahun lalu. Jika harga jual bisa mencapai US$15.000 per ton, itu sudah bagus, mengingat harga timah saat ini hanya US$12.000 per ton," katanya kemarin.

BUMN tambang timah itu menggunakan belanja modal Rp600 miliar, atau kurang dari 50% dari total yang dialokasikan selama tahun ini sebesar Rp1,4 triliun.

Rendahnya serapan belanja modal itu disebabkan oleh ada sejumlah proyek perseroan yang belum dijalankan. Perusahaan itu akan mengalokasikan Rp1,6 triliun pada tahun depan.

Menurut Krishna, belanja modal itu akan dipakai untuk meningkatkan kapasitas produksi perseroan. Perseroan akan menggenjot produksi timah dari tambang lepas pantai (off shore), yang sejauh ini hanya menyumbang 28% dari total produksi.

"Kami juga tetap membidik tambang batu bara untuk diakuisisi guna ekspansi bisnis perseroan. Kendati kondisi perekonomian global masih belum menentu, kami tetap melanjutkan rencana itu," ujarnya.

Hingga September tahun ini, laba bersih Timah mencapai Rp1,49 triliun, naik 18% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp1,26 triliun.

Harga komoditas

Pada awal tahun ini, harga komoditas itu di level US$16.055 per ton, sedangkan memasuki September harganya US$17.175 per ton, dengan rata-rata mencapai US$20.306 per ton.

Kondisi itu menyebabkan total pendapatan bersih perseroan selama sembilan bulan pertama tahun ini meningkat tipis 0,47% menjadi Rp6,89 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp6,58 triliun.

Dari total nilai penjualan itu, sebanyak 92,2% disumbang oleh penjualan logam timah sebesar Rp6,35 triliun, penjualan batu bara menyumbang 7,5%, atau setara dengan Rp519,9 miliar.

Harga saham perseroan kemarin ditutup ke posisi Rp1.010 per saham, atau naik 1% dari penutupan hari sebelumnya Rp1.000 per saham.

Apabila mengacu pada harga tersebut, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp5,08 triliun dan price to earning ratio sebesar 2,53 kali.

Astra Agro kurangi akuisisi lahan


JAKARTA: PT Astra Agro Lestari Tbk akan mengurangi belanja modal untuk ekspansi dalam bentuk akuisisi lahan kebun pada tahun depan dan mengubah fokus menjadi kepemeliharaan lahan dan tanaman yang sudah ada.

Direktur Keuangan Astra Agro Santosa mengatakan sampai saat ini perseroan telah membelanjakan Rp888 miliar, atau baru 58% dari target belanja modal maksimal perseroan pada tahun ini Rp1,52 triliun.

Target belanja modal tersebut kemungkinan tidak akan maksimal karena kegiatan akuisisi lahan berkurang seiring dengan kenaikan harga lahan kebun, yang terkerek akibat peningkatan harga minyak sawit beberapa waktu yang lalu.

Target belanja modal 2008 tersebut dialokasikan antara lain untuk akuisisi lahan baru, pemeliharaan kebun, dan pembuatan infrastruktur.

Dengan harga lahan yang terus meningkat, perseroan kini mengalihkan fokusnya pada tiga kegiatan yaitu pertama, melanjutkan program penanaman lahan.

Tahun ini, perseroan tercatat telah menanami 22.000 hektare area kebun sehingga luas kebun tertanami kelapa sawit dalam 3 tahun terakhir akan mencapai 55.000 hektare.

Hingga akhir Oktober, Astra Agro tercatat mempunyai lahan tertanami seluas 252.721 hektare, meningkat dibandingkan dengan posisi 2007 seluas 235.210 hektare.

Kedua, perseroan akan mengintensifkan perawatan kebun yang sudah ada. Ketiga, menyiapkan kebun dan infrastruktur dengan saat yang sama mengantisipasi dampak terjadinya bencana terhadap produksi.

"Belanja modal akan dibatasi terutama untuk kegiatan akuisisi kebun, kecuali jika ada pembiayaan [dari pihak ketiga] akan kami pertimbangkan kembali. Namun, untuk sementara kami akan fokus pada tiga hal tadi," ujar Santosa saat paparan publik Investor Summit & Capital Market Expo 2008, kemarin.

Santosa menolak menyebutkan anggaran belanja dan proyeksi produksi kelapa sawit untuk tahun depan.

Direktur Utama Astra Agro Widya Wiryawan mengatakan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada tahun depan tidak jauh berbeda dengan tahun ini, yang berkisar sebesar 900.000 ton-1 juta ton.

Utang Indosat jatuh tempo 2009 Telkom cari pinjaman hingga US$1 miliar


JAKARTA: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengisyaratkan akan mencari pendanaan eksternal sebesar US$1 miliar atau sekitar 40% dari total belanja modal tahun depan yang diperkirakan berkisar US$2,5 miliar.

"Belanja modal tahun depan tidak jauh berbeda dari belanja modal tahun ini US$2,5 miliar," ujar Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah pada paparan publik dalam Investor Summit & Capital Market, kemarin.

Chief Financial Officer Telkom Sudiro Asno mengatakan hingga saat ini penyusunan anggaran belanja perseroan untuk tahun depan masih difinalisasi.

Namun, perseroan berencana untuk mencari pendanaan eksternal dengan komposisi 40% dari belanja modal dan sisanya dari kas internal.

"Budgeting kami belum selesai, karena masih menghitung kurs dolar AS yang tidak dapat diprediksi. Yang jelas, belanja modal pada tahun depan tidak akan lebih besar dibandingkan dengan tahun ini," tuturnya.

Hingga kuartal III/2008, Telkom membukukan pendapatan usaha Rp44,60 triliun dan laba bersih Rp8,92 triliun. Adapun total aset mencapai Rp86,02 triliun dengan total kewajiban Rp44,63 triliun.

Terkait dengan ekspansi, Rinaldi mengatakan perseroan sedang membidik satu perusahaan multimedia melalui PT Multimedia Nusantara, anak usaha dengan kepemilikan 100%.

Rinaldi menolak menyebutkan nama calon perusahaan yang tengah dibidiknya. Dana akuisisi itu, lanjutnya, akan diambil dari kas internal.

"Posisi kas kami masih bagus, ada sekitar Rp8 triliun-Rp9 triliun," ujar Rinaldi. Berdasarkan data Bloomberg, kas dan setara kas Indosat hingga akhir September Rp7,54 triliun.

Pada saat yang sama, Rinaldi mengatakan ekspansi ke Timur Tengah masih terus dijajaki. Telkom sampai saat ini membangun komunikasi mengumpulkan informasi, mempelajari, dan menganalisis perusahaan yang akan dijadikan sasaran ekspansinya ke Iran.

Menurut dia, ekspansi ke negeri Timur Tengah itu menarik karena jumlah penduduk Iran mencapai 75 juta jiwa dengan tingkat penetrasi pengguna seluler sebanyak 35 juta (lebih dari 50%).

Selain itu, pendapatan per kapita penduduk Iran cukup tinggi yakni US$10.000 per tahun, terpaut jauh dibandingkan dengan pendapatan per kapita Indonesia yang menurut World Bank sebesar US$1.946.

Harga saham BUMN operator telekomunikasi yang berkode TLKM ini ditutup turun Rp150 atau 2,68% menjadi Rp5.450.

Jatuh tempo

Sementara itu, PT Indosat Tbk tercatat mempunyai utang senilai Rp400 miliar-Rp500 miliar dari PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Mandiri Tbk yang akan jatuh tempo pada semester II/2009.

"Sampai saat ini, perseroan belum memutuskan untuk membiayai kembali utang atau tidak. Ini akan bergantung pada EBITDA, kalau cukup untuk membiayai kembali utang dan belanja modal tahun depan," ujar Division Head Investor Relations Indosat Armand Hermawan.

Berdasarkan data, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) Indosat per 30 September 2008 sebesar Rp6,55 triliun, naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp6,09 triliun.

Armand tidak bersedia menyebutkan belanja modal perseroan untuk tahun depan. Pada tahun ini, perusahaan telekomunikasi terbesar kedua nasional ini menganggarkan belanja modal senilai US$1,4 miliar.

Belanja modal itu hingga akhir September telah dicairkan 70%, dengan alokasi terbesar ke pengembangan seluler 85%.

Perseroan menargetkan dapat membukukan pertumbuhan kinerja 12%-13%, ditunjang oleh penambahan 12 juta pelanggan.

Semen Gresik berpotensi batal bangun pembangkit listrik


JAKARTA: PT Semen Gresik Tbk kemungkinan membatalkan rencana pembangunan pembangkit listrik senilai US$171 juta dan akan menggunakan pembangkit listrik dari luar perseroan.

Adapun, Semen Gresik meraih komitmen dari konsorsium bank asing dan kredit ekspor senilai US$600 juta-US$800 juta dari total kebutuhan pendanaan perseroan US$1,3 miliar.

Menurut Direktur Keuangan Semen Gresik Cholil Hasan, perseroan memperoleh penawaran kredit dari dua konsorsium bank asing dan satu konsorsium bank lokal.

"Kami mendapatkan komitmen dari dua konsorsium bank asing di Asia dan Eropa senilai US$300 juta-US$400 juta. Manajemen juga mendapatkan komitmen kredit ekspor senilai US$300 juta-US$400 juta. Pada Desember, akan kami finalisasi," ujarnya pada paparan publik dalam acara Investor Summit & Capital Market Expo 2008, kemarin.

Semen Gresik mengalokasikan belanja modal tahun depan senilai US$371 juta dari total belanja modal 2008-2014, yaitu US$1,3 miliar. Adapun, dari total US$1,3 miliar itu a.l. senilai US$758 juta akan digunakan untuk peningkatan kapasitas dan replacement senilai US$161 juta.

Guna mendanai kebutuhan tersebut, perseroan mengalokasikan US$753 juta melalui pinjaman perbankan senilai US$555 juta dari kas internal.

Menurut Wakil Direktur Utama Semen Gresik Heru D. Adhiningrat, perseroan menargetkan pertumbuhan volume penjualan sebesar 3,8% pada tahun depan.

Belanja modal

Sementara itu, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk menyiapkan belanja modal US$80 juta-US$90 juta pada tahun depan, yang sebagian digunakan untuk membeli 100 juta ton cadangan andesit di Purwakarta.

Direktur Keuangan Indocement Christian Kartawidjaja mengatakan dana tersebut juga dibelanjakan untuk menambah dua unit penggilingan semen di pabrik Cirebon untuk mendongkrak kapasitas produksi semen menjadi 18,6 juta ton per tahun.

"Belanja modal tahun ini US$50 juta dan US$80 juta-US$90 juta pada tahun depan. Sebagian dari dana itu untuk membeli 100 juta ton simpanan andesit di Purwakarta," tuturnya.

Negosiasi pembelian tersebut, lanjutnya, masih berjalan dan diperkirakan tuntas secepatnya pada akhir tahun ini atau awal tahun depan. Anggaran belanja modal tersebut diambil seluruhnya dari kas internal perseroan.

Sekretaris Perusahaan Indocement Dani Handayani menambahkan perseroan membeli cadangan andesit milik PT Mandiri Sejahtera Sentra yang masih terafiliasi dengan Indocement.

"Nilai transaksi belum bisa disebutkan karena negosiasi masih berjalan. Perusahaan itu milik Indocement."

Christian mengatakan senilai US$50 juta dari belanja modal digunakan untuk menambah unit penggilingan semen di Cirebon, yang prosesnya telah dimulai sejak pertengahan tahun ini.

UT & Grup Jindal bersaing beli tambang batu bara


JAKARTA: PT United Tractors Tbk (UT) dan perusahaan dari India Grup Jindal bersaing mengakuisisi tambang batu bara di Kalimantan Tengah yang dimiliki oleh pengusaha Benny Tjokrosaputro.

Direktur Utama United Tractors Djoko Pranoto mengatakan perseroan kini mempunyai hak eksklusif untuk melaksanakan uji tuntas tambang batu bara tersebut hingga Maret tahun depan.

"Karena yang akan kami akuisisi merupakan perusahaan yang bagus, wajar jika ada perusahaan lain yang juga ingin mengincar. Namun, kami mengantongi hak eksklusif hingga tahun depan," tuturnya saat paparan publik pada Investor Summit & Capital Market Expo 2008 kemarin.

Meski begitu, ujarnya, anak perusahaan PT Astra International Tbk itu berharap bisa merampungkan akuisisi tersebut pada akhir tahun ini.

Sumber Bisnis yang mengetahui transaksi itu mengatakan UT tidak sendiri dalam akuisisi itu. "Grup Jindal dari India yang haus akan batu bara juga berminat. Mereka akan bersaing pada harga penawaran," katanya.

Menurut dia, luas lahan tambang batu bara yang akan dibeli oleh UT mencapai 10.000 ha-22.000 ha. Benny Tjokro adalah pengusaha yang berasal dari Solo. Bisnis keluarga Tjokrosaputro berawal di PT Hanson International Tbk yang kini mempunyai anak perusahaan PT Hanson Energy yang bergerak di bisnis batu bara.

UT berencana membiayai akuisisi dari hasil penawaran umum terbatas (rights issue) US$380 juta beberapa waktu lalu. Nilai tambang yang akan diakuisisi berada di bawah harga PT Tuah Turangga Agung, perusahaan batu bara yang diakuisisi sebelumnya, sebesar US$115 juta. Hingga pertengahan Oktober, perseroan menggunakan dana tersebut sebesar US$280 juta untuk melunasi utang, pemenuhan modal kerja, dan belanja modal.

Menurut laporan UBS AG yang dirilis pada 17 November, penggunaan batu bara global akan naik 2% per tahun hingga 2030, terutama dipelopori oleh China dan India. Permintaan terhadap listrik, di mana bahan bakar batu bara untuk menghasilkan 52% dari total energi, diprediksi meningkat 3,3% pada 2010.

Francisco Blanch, analis Merrill Lynch, seperti dikutip Bloomberg kemarin, mengatakan harga batu bara diprediksi terus menurun karena perekonomian global terus memburuk.

Produksi batu bara

Produksi batu bara di Indonesia, pengekspor batu bara terbesar dunia untuk pembangkit listrik, akan menurun karena krisis kredit global menghambat ekspansi perusahaan batu bara.

Sementara itu, Djoko menambahkan UT memproyeksikan adanya penurunan penjualan unit alat berat karena anjloknya harga komoditas di pasar internasional.

Total pasar penjualan alat berat selama 2009 diperkirakan hanya 6.000 unit, atau turun dari tahun ini yang mencapai 10.000 unit. Dari jumlah itu, UT diperkirakan bisa meraih 2.700 unit.

Hingga akhir September lalu, pendapatan bersih perseroan mencapai Rp21,10 triliun, atau naik 59% dari periode tahun sebelumnya Rp13,23 triliun. Perusahaan distributor alat berat merek Komatsu itu membukukan laba bersih Rp2,09 triliun, atau naik 89% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,11 triliun.

Analis dari Trimegah Securities Stanley Tjiandra mengatakan kinerja keuangan perseroan hingga akhir September lalu masih menarik karena tertolong oleh tingginya harga jual produk perseroan, termasuk harga komoditas yang masih tinggi.

Harga saham UT kemarin ditutup di posisi Rp3.225 per saham, atau naik 4,03% dari penutupan hari sebelumnya di posisi Rp3.100 per saham. Apabila mengacu pada harga itu, kapitalisasi saham perseroan mencapai Rp10,72 triliun.

Bank Mandiri tambah 64 ATM


MAKASSAR: PT Bank Mandiri Tbk menambah sekurangnya 64 mesin anjungan tunai mandiri (ATM) baru di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua untuk meningkatkan pelayanan transaksi perbankan.

Pemimpin Kantor Bank Mandiri Wilayah X Agus Fuad mengatakan penambahan itu membuat jumlah ATM perseroan di kawasan itu jelang akhir tahun ini telah mencapai 300 unit.

Selain mesin ATM, Bank Mandiri tahun ini menambah empat kantor cabang termasuk satu yang baru saja dioperasikan di Mamuju, Sulbar. Perseroan juga memacu jumlah outlet kredit mikro dari 18 menjadi 44 unit.

"Mesin ATM sangat penting untuk mendukung transaksi perbankan yang cepat dan mudah. Itu sudah menjadi keharusan sekarang kalau satu bank ingin meningkatkan jumlah nasabah," kata Agus di Makassar, baru-baru ini.

Pada 2008 Bank Mandiri cukup berhasil memacu jumlah dana masyarakat. Total DPK perseroan di wilayah itu pada September tercatat Rp14,05 triliun atau tumbuh 8,9% dibandingkan dengan posisi awal tahun.

BNI genjot kredit di Maluku Utara


JAKARTA: BNI mencatatkan penyaluran kredit usaha kecil di Provinsi Maluku Utara, melalui kantor cabang BNI Ternate hingga akhir Oktober 2008 mencapai Rp159,37 miliar.

Gatot M Suwondo, Direktur Utama BNI, mengatakan pencapaian itu dibandingkan dengan posisi awal tahun yang sebesar Rp95,01 miliar, kredit usaha kecil yang telah disalurkan BNI ini mengalami pertumbuhan sebesar 68%.

Hal itu disampaikan Gatot pada kesempatan pertemuannya dengan Gubernur Maluku Utara Thaib Armaiyn, bersama para pengusaha kecil dan menengah, di Ternate kemarin.

Pada kesempatan tersebut juga ditandatangani perjanjian kredit sebesar Rp6,22 miliar dari BNI kepada 12 usaha kecil dari Maluku Utara.

"Produk pembiayaan untuk usaha kecil ini telah didesain bagi usaha kecil dengan proses aplikasi yang lebih mudah dan cepat, persyaratan lebih ringan, dan suku bunga yang lebih terjangkau," ujar Gatot dalam rilis yang diterima Bisnis, kemarin. Hingga akhir Oktober 2008, total kredit usaha kecil yang telah disalurkan BNI mencapai Rp23,11 triliun.

BCA raup dana simpanan Rp200 triliun


JAKARTA: PT Bank Central Asia Tbk (BCA) meraup dana pihak ketiga senilai Rp200 triliun yang ditopang pertumbuhan nasabah ritel meski pasar likuiditas perbankan dalam beberapa bulan terakhir sangat ketat.

Direktur BCA Suwignyo Budiman mengutarakan sejak dua pekan lalu nilai dana pihak ketiga perseroan menembus Rp200 triliun yang ditopang mayoritas nasabah ritel dan sebagian kecil nasabah korporasi.

"Likuiditas perseroan tahun ini masih tumbuh sesuai proyeksi diharapkan akhir tahun ini akan naik lagi sebesar Rp7 triliun menjadi Rp207 triliun dengan jumlah nasabah lebih dari tujuh juta rekening," ujarnya seusai penandatanganan nota kesepahaman dengan PT Indomobil Finance di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan data Bank Indonesia, BCA sejak 5 tahun terakhir selalu berada di urutan kedua setelah Bank Mandiri dalam kategori 10 besar peringkat bank berdasarkan dana pihak ketiga.

Pada September 2008, BCA mengumpulkan dana pihak ketiga senilai Rp192,9 triliun atau terpaut Rp38 triliun dari Bank Mandiri dan sekitar Rp17 triliun dari BRI di urutan ketiga.

Suwignyo menyatakan pertumbuhan likuiditas pada tahun depan diprediksi melambat dibandingkan dengan tahun ini menyusul pertumbuhan ekonomi yang diprediksi turun dapat memengaruhi juga industri perbankan.

Hal itu, katanya, membuat proyeksi pertumbuhan dana masyarakat pada tahun depan dilakukan sangat konservatif dan tidak terlalu bermuluk-muluk. Dia memperkirakan pertumbuhan dana hanya sekitar 5%-10%.

Guna mengantisipasi kesulitan likuiditas pada 2009, pihaknya mulai memperlambat kucuran kredit konsumsi maupun korporasi pada kuartal keempat ini agar potensi perlambatan bisnis pada tahun depan dapat dikendalikan.

Saat ini, katanya, pertumbuhan kredit masih cukup ekspansif dengan kucuran kredit mencapai Rp105 triliun.

Seleksi kredit

Suwignyo mengutarakan pihaknya sangat selektif dalam mengucurkan kredit baru hanya untuk beberapa sektor potensial di samping merealisasikan beberapa komitmen pembiayaan.

Menurut dia, kebijakan memperlambat kucuran kredit itu didorong oleh situasi pasar kredit perbankan yang mayoritas mengerem bisnisnya akibat beban biaya dana yang masih sangat tinggi.

"Saat ini, kami hanya mempertahankan kualitas kredit karena kondisi pasar pembiayaan juga tidak menentu dan ekspansi kredit diperlambat untuk menghindari risiko gagal bayar," jelasnya

Suwignyo menyatakan saat ini kualitas kredit macet (non performing loan) masih dapat dikendalikan pada posisi sekitar 0,7% dan belum terlihat adanya peningkatan

Dia menyatakan optimistis perlambatan kredit akhir tahun ini tidak akan mengganggu kinerja bisnis perseroan menyusul pertumbuhan kredit telah sesuai dengan rencana bisnis tahun ini. Adapun proyeksi bisnis tahun depan sulit diprediksi.

"Dalam situasi pasar seperti ini, kami tidak dapat memprediksi pertumbuhan bisnis pada tahun depan. Namun, dipastikan kinerja masih akan tumbuh meski tidak sebesar tahun ini," ujarnya.

Dia menambahkan rencana aksi korporasi pada tahun depan ditargetkan akan melakukan ekspansi 30 kantor cabang baru dari saat ini sebanyak 800 cabang secara nasional.

Northstar & PT BA pecah kongsi beli Bumi


JAKARTA: Northstar Pacific Partners Ltd kemungkinan besar tidak lagi berkongsi dengan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PT BA) dalam mengakuisisi 35% saham PT Bumi Resources Tbk, perusahaan batu bara milik keluarga Bakrie.

Salah satu faktor utama penyebab bubarnya aliansi itu adalah kejatuhan harga saham Bumi, perusahaan batu bara terbesar di Indonesia, secara signifikan.

Harga saham Bumi sejak posisi terakhir sebelum disuspensi pada 6 Oktober hingga kemarin merosot 67,36% dari Rp2.175 menjadi Rp710.

"Inti dari pertemuan antara pemilik Northstar [Patrick S. Walujo] hari ini [kemarin] dan jajaran pejabat Kementerian BUMN adalah dalam rangka pamitan karena Northstar tidak lagi menggandeng Bukit Asam," ujar dua sumber yang mendengar informasi itu kepada Bisnis kemarin.

Seusai pertemuan itu, CEO Northstar Patrick tidak bersedia berkomentar mengenai mundurnya Bukit Asam dari konsorsium. "Jangan berspekulasi dulu."

Dia juga tidak berkomentar ketika ditanya mengenai inti pertemuan dengan jajaran pejabat Kementerian BUMN. Northstar, ujarnya, akan melihat lebih jauh mengenai transaksi itu.

Meneg BUMN Sofyan A. Djalil membenarkan Bukit Asam tidak ikut dalam konsorsium Northstar karena strukturnya berbeda dari semula. "Northstar akan jalan sendiri tanpa BUMN."

Dirut Bukit Asam Sukrisno seperti dikutip Bloomberg kemarin mengatakan perseroan kemungkinan besar meminta harga akuisisi saham itu diturunkan dari kesepakatan semula Rp2.100 per saham.

Namun, dia tidak bersedia menjelaskan lebih detail mengenai permintaan revisi harga tersebut. "Saya belum bisa menyampaikan sesuatu mengenai transaksi Bumi hari ini," ujarnya.

Patrick juga tidak bersedia mengomentari tentang kemungkinan revisi harga akuisisi saham Bumi. "Bumi kan perusahaan publik. Saya tidak bisa berkomentar."

Sumber itu menambahkan Northstar akan melanjutkan akuisisi Bumi tanpa Bukit Asam. "Northstar nantinya bisa membeli lebih kecil dari 35%, karena saham Bumi banyak dijual ke pasar."

Sukrisno menambahkam sebelum Bukit Asam melanjutkan proses akuisisi saham Bumi itu, penurunan harga saham di pasar menjadi pertimbangan. "Bagaimana nanti pertanggungjawabannya jika akuisisi itu dilanjutkan?" tuturnya.

Selain pertimbangan harga, katanya, akuisisi Bumi harus menguntungkan Bukit Asam, transaksinya bersih, dan transparan. "Kalau tidak menguntungkan perusahaan, kami tidak membeli Bumi."

Rugikan BUMN

Sumber itu menambahkan dengan anjloknya harga saham Bumi di pasar, pembelian saham di level harga kesepakatan Rp2.100 justru berpotensi merugikan BUMN tambang batu bara.

"Bagaimana direksi Bukit Asam mempertanggungjawabkan akuisisi itu di depan pemegang saham jika saham Bumi saat ini tinggal Rp710 per saham?" katanya.

Padahal, Sukrisno menjelaskan Bukit Asam mempunyai arus kas yang siap dipakai Rp2,8 triliun.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia kemarin, Senior Vice President Investor Relations Bumi Dileep Srivastava menyatakan menunda pelaksanaan rapat umum pemegang saham luar biasa yang semula dijadwalkan pada 10 Desember.

Bakrie & Brothers juga menunda jadwal rapat pemegang saham dari semula 2 Desember menjadi 11 Desember. "Yang jelas, proses rasionalisasi Bumi tetap berjalan. Tidak ada alasan spesial. Rencana rapat umum ditunda karena alasan business exigencies," katanya.

Harga saham Bumi kemarin mulai berbalik arah setelah 11 kali merosot hingga ditolak secara otomatis oleh sistem perdagangan Bursa Efek Indonesia. Meski kemarin sempat anjlok ke Rp640 per saham, harga Bumi akhirnya ditutup stagnan di posisi Rp710 per saham, pertama kali sejak 6 November.

Total volume transaksi Bumi kemarin 869,6 juta saham, naik 4.628% dibandingkan dengan volume transaksi hari sebelumnya.

Satu pialang saham mengatakan lonjakan volume transaksi Bumi mengindikasikan ada satu pihak yang ingin membeli saham itu dalam jumlah besar.

"Saya mendengar Sumitomo Energy masuk pasar dengan mengalokasikan dana US$200 juta. Bisa saja mereka yang membeli saham Bumi karena volume transaksinya melonjak tiba-tiba."

Direktur Pencatatan BEI Eddy Sugito meminta penjelasan kepada Bakrie atas sejumlah hal yang informasinya dinilai kurang memadai saat perseroan menggelar paparan publik.


JAKARTA: PT Medco Energi Internasional Tbk optimistis meraih laba bersih tahun ini sedikitnya US$300 juta atau setara dengan Rp3,81 triliun, ditopang oleh pendapatan yang berasal dari pelepasan beberapa anak usaha.

Komisaris Utama Medco Energi Hilmi Panigoro mengatakan tahun ini perseroan melepas PT Apexindo Pratama Duta Tbk, Blok Tuban dan dalam waktu dekat Blok Kakap di Pulau Natuna.

"Tahun ini laba bersih Medco bisa mencapai US$300 juta. Bila tahun depan, tidak ada divestasi, ya... flat saja, hanya dari penjualan," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Hilmi menuturkan seiring dengan terjadinya krisis global perseroan merevisi prioritas investasi, target investasi yang semula dipatok US$3 miliar hingga saat ini masih pada tahap finalisasi.

Dia menuturkan manajemen perseroan sudah masuk pada tahap finalisasi dalam pembahasan pelepasan 18% saham Medco di proyek Kakap.

"Hingga saat ini saya belum bisa menyampaikan berapa nilai pelepasan 18% saham Medco di Kakap. Kami sudah tahap finalisasi dengan investor asing," tuturnya.

Direktur Medco Lukman Machfoedz mengatakan perseroan telah menyelesaikan pembangunan pabrik bioethanol di Lampung dengan menggunakan dana internal. "Fase commissioning sedang berlangsung, ditargetkan selesai akhir tahun ini."

Laba bersih melonjak

Sementara itu, PT Elnusa Tbk menargetkan mampu meraih laba bersih sebesar Rp197 miliar pada tahun depan, melonjak 71,3% dibandingkan dengan proyeksi laba bersih tahun ini senilai Rp115 miliar, didorong oleh pertumbuhan pendapatan yang tinggi dan keuntungan akibat penguatan nilai tukar dolar AS.

"Akan ada penghasilan tambahan yang berasal dari nilai tukar, karena sebagian besar pendapatan berasal dari dolar AS, sedangkan pengeluaran biaya dalam rupiah," ujar Direktur Utama Elnusa Eteng A. Salam dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam materi paparan publik yang disampaikan manajemen kepada otoritas bursa disebutkan selain dua faktor itu, penunjang kenaikan laba bersih lainnya adalah margin dari jasa hulu minyak dan gas (migas), kenaikan rate jasa dan alat produksi serta laba yang stabil dari anak usaha.

Laba bersih yang berasal dari anak usaha pada 2009 diperkirakan mencapai Rp222 miliar meningkat dibandingkan dengan perkiraan tahun ini Rp151 miliar.

Hingga September 2008, Elnusa telah mendapatkan beberapa kontrak baru untuk tahun depan dari jasa hulu migas terintegrasi senilai US$156 juta, dengan jangka waktu kontrak antara 6 bulan-3 tahun.

"Dari kontrak Elnusa, sekitar US$135 juta akan dibukukan pada 2009," ujar Eteng.

Dia mengatakan dari 2005-2008 kontribusi pendapatan dari segmen jasa hulu migas terintegrasi terus meningkat. Tahun depan, kontribusi pendapatan jasa migas diperkirakan Rp2,99 triliun dan jasa hulu migas terintegrasi Rp996 miliar.

PT Bukit Asam kantongi 4 proyek hingga 2013


JAKARTA (Bisnis.com): PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) tahun ini hingga 2013 memiliki empat proyek pengembangan, salah satunya membentuk perusahaan patungan untuk kereta api eksisting dengan PT Kereta Api (PTKA).

Bukit Asam mulai semester kedua 2008 bekerjasama PT Kereta Api dalam proses pembentukan perusahaan patungan PTBA-PTKA dalam hal penyediaan kereta api eksisting (TE-Pelabuhan Tarahan dan TE-Pelabuhan Kertapati).

"Kami targetkan pembentukan perusahaan patungan antara PTBA-PTKA pada semester kedua 2008. Pembahasan konsensi antara Departemen Perhubungan dengan PTKA," kata Corporate Secretary Bukit Asam Eko Budhiwijayanto dalam materi public exposenya hari ini.

Para pihak yang terkait yakni PTBA dengan share 30% dan PTKA 70%. Nilai investasi proyek ini yakni US$694 juta (30% saham dan 70% utang) dari perusahaan patungan.

Proyek kereta eksisting ini berkapasitas 20 juta ton per tahun pada 2013 (naik secara bertahap) dengan target pada tahun pertama naik 28% menjadi 10,3 juta ton.

Proyek kedua yakni pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Banjarsari berkapasitas 2x100 MW berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

"Saat ini masih dalam proses negosiasi ulang tarif listrik (power purchase agreement) dengan PT Perusahaan Listrik Negara. Targetnya beroperasi pada 2011, waktu yang dibutuhkan untuk negosiasi tarif listrik tergantung dengan PLN," kata Eko.

Pada proyek ini Bukit Asam berkontribusi 41%, sisanya dua perusahaan lain. Kebutuhan batu bara sebanyak 1 juta ton per tahun (kalori rendah), dipasok oleh PTBA.

Proyek ketiga yakni PLTU Mulut Tambang Banko Tengah berkapasitas 4x600 MW berlokasi di Tanjung Enim. Pihak yang terlibat PTBA, China Huadian Corp, PLN, Truba, dan pemerintah lokal.

Untuk proyek ini menerlukan batu bara 10-12 juta ton per tahun berkalori rendah, dan rencananya beroperasi pada 2013. "Waktu yang dibutuhkan untuk negosiasi tarif listrik tergantung dengan PLN. Pendanaan proyek sehubungan dengan ketatnya likuiditas dan krisis ekonomi global," kata Eko.

Proyek keempat yakni proyek kereta api baru di Tanjung Enim-Pelabuhan Baru Tarahan berkapasitas 20 juta ton per tahun. "Perusahaan patungan telah dibentuk, saat ini dalam proses mendapatkan ijin dari pemerintah yakni departemen perhubungan, dan ditargetkan beroperasi pada 2013," kata Eko.

Para pihak yang terkait yakni PTBA, Transpacific Railway Infrastructure, China Railway Engineering. "Pendanaan proyek terkendala dengan ketatnya likuiditas dan krisis ekonomi global," tutur Eko.

Bakrie Telecom dan Mobile-8 Siap Tanding di SLJJ


JAKARTA, Investor Daily
Untuk memenangi tender Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ), PT Bakrie Telecom Tbk dan PT Mobile-8 Telecom siap membangun jaringan infrastruktur telekomunikasi di kawasan Indonesia timur.


Demikian ditegaskan oleh Director of Corporate Services PT Bakrie Telecom Tbk Rakhmat Junaidi dan Direktur dan Chief Corporate Affairs PT Mobile-8 Telecom Tbk Merza Fachys. Mereka dihubungi di Jakarta, Kamis (20/11).

Dirjen Postel Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar mengatakan, tender SLJJ telah dibuka dan pesertanya cuma dua, yakni PT Bakrie Telecom Tbk dan PT Mobile-8 Telecom Tbk. Operator Esia itu tertarik SLJJ karena ingin menyandingkannya dengan SLI yang telah lebih dulu dimilikinya. Sedangkan operator Fren itu membutuhkan lisensi SLJJ untuk mengembangkan layanan fixed wireless access (FWA)-nya, Hepi.

Menurut Basuki, salah satu kriteria pemenang tender SLJJ adalah operator yang siap membangun sedikitnya 15 kota di kawasan Indonesia Timur. "Kalau di bawah 15 kota, otomatis dia gugur," kata Basuki.

Merza Fachys mengatakan, operator Fren dan Hepi ini menyatakan siap untuk memenuhi kriteria yang ditetapkan pemerintah. “Kita lihat nantilah saat pemasukan dokumen tender. Yang penting M8 siap tanding dengan siapapun. Apalagi lawannya cuma satu,” kata Merza.

Operator Esia juga menyatakan siap membangun jaringan telekomunikasi di Indonesia timur. “Pokoknya sudah kami siapkan di mana saja lokasi (di Indonesia timur) yang akan kami bangun,” kata Rakhmat.

Rakhmat mengakui, sejumlah operator telekomunikasi menganggap kawasan Indonesia timur kurang menjanjikan dari segi bisnis. Namun, Bakrie Telecom melihatnya dari sudut pandang lain sehingga berani membangun infrastruktur telekomunikasi di kawasan tersebut. Di antaranya adalah pengembangan SLI milik Bakrie Telecom telah memasuki tahun kedua.

Pada tahun pertama, Bakrie Telecom membangun jaringan SLI antara Batam-Singapura sepanjang 60 kilometer (km) yang akan dikerjakan pada akhir 2008. Pada tahun kedua, lanjut dia, pihaknya tengah membangun jalur Kupang (NTT, Indonesia) – Darwin (Australia).


Dengan mengaitkan pengembangan SLI dengan SLJJ, kata Rakhmat, tidak ada alasan bagi perusahaan untuk menyatakan investasi ini tidak menarik. Justru investasi ini akan meningkatkan performa perusahaan dan menambah jumlah pelanggannya. Sekarang ini, jumlah pelanggan Esia sebanyak 6,5 juta pelanggan dan pada 2010 ditargetkan menjadi 14 juta pelanggan.

Meski demikian, dia tidak bisa memprediksi berapa kontribusi SLJJ pada pelanggan dan pendapatan. “Perlu saya cek berapa kontribusinya bila SLLJ berhasil kami bangun,” kata dia.

Sedangkan mengenai pendanaannya, Rakhmat mengatakan, berbagai pihak telah siap mendukung pendanaan proyek SLJJ itu. Dana itu di luar anggaran belanja modal (capex) perseroan, yang untuk tiga tahun ke depan (hingga 2010) sudah disiapkan sebesar US$ 600 juta.



Rambah Rusunami

Untuk memperluas segmen pasarnya, Bakrie Telecom menggarap penghuni rumah susun sederhana (rusunami). Tidak kurang dari 5.000 satuan sambungan telepon dipersiapkan bagi penghuni Pancoran Riverside, rusunami yang dibangun oleh pengembang PT Graha Rayhan Tri Putra. Penandatangan kesepakatan (MoU) itu dilakukan Rakhmat Junaidi dan Dirut PT Graha Rayhan Tri Putra Bally Saputra serta disaksikan Menteri Negara Perumahan Rakyat Mohammad Yusuf Asy’ari.

“Ini pekerjaan kami yang pertama di Rusunami dan akan kami jadikan contoh untuk proyek-proyek berikutnya,” kata Rakhmat.

Menurut Rakhmat, perhatian Bakrie Telecom ke sektor properti, khususnya rumah susun sederhana (rusuna) didorong Program Pembangunan Rusuna 1.000 Tower hingga 2011. Sebagian besar rusuna itu berada di Jabodetabek, sisanya di Pulau Jawa dan luar Jawa. Pada 2009, pemerintah memberikan tambahan subsidi perumahan sebesar Rp 2,5 triliun.

”Jelas ini merupakan potensi bisnis yang sangat menjanjikan bagi Bakrie Telecom. Karena itu kami akan semakin fokus menggarap pasar rumah susun sederhana”, kata Rakhmat.

Bank Mandiri incar perusahaan asuransi


BANDUNG (bisnis.com): Bank Mandiri mengincar satu perusahaan asuransi kerugian untuk meng-cover penjaminan kredit maupun nasabahnya.

Haryanto T. Budiman, EVP Coordinator Change Management Office Bank Mandiri, mengatakan akuisisi asuransi menjadi langkah anorganik menuju special dominant bank di Tanah Air.

Dia menuturkan beberapa perusahaan asuransi telah menjadi incaran. "Kami memang mengincar satu asuransi saat ini, proses tengah due dilligence [uji tuntas]," katanya saat press gathering hari ini.

Menurut dia, kepemilikan asuransi kerugian akan melengkapi anak usaha asuransi saat ini yaitu Axa Mandiri Financial Services (AMFS). Haryanto menyebutkan akuisi akan dirampungkan paling lambat akhir tahun ini. Namun dia enggan menyebutkan identitas perusahaan asuransi itu.

Selain AMFS, Bank Mandiri sudah memiliki anak usaha keuangan seperti Bank Syariah Mandiri, Bank Sinar Harapan Bali, Mandiri Sekuritas serta Tunas Finance.

Bank Mandiri Jadi Asisten Teknis Bank Century


Jakarta - Bank Mandiri diminta Bank Indonesia untuk memberikan pendampingan teknis atau technical assistant kepada Bank Century yang kini diambilalih pemerintah melalui LPS.

Demikian disampaikan Direktur Risk Management Bank Mandiri Sentot Sentaosa di Hotel Mason Pine, Bandung, Jumat (21/11/2008).

"Ini hanya atas permintaan BI saja, untuk segera memberi technical asistent, mengatur hal-hal yang bersifat teknis dan bersifat profesional," katanya.

Dalam melaksanakan pendampingan teknis ini, Bank Mandiri akan menerjunkan tim yang terdiri dari tiga orang. Karena hanya memberikan pendampingan teknis, maka Bank Mandiri tidak memberikan garansi atau jaminan dalam bentuk apapun kepada Bank Century.

Sentot juga menegaskan, Bank Mandiri sama sekali tidak ada niatan untuk membeli Bank Century. "Mandiri tidak ada niat untuk mengambil CIC, ini hanya diminta atas permintaan BI saja," katanya.

Seperti diketahui, Grup Head Jakarta Network Bank Mandiri Maryono ditunjuk pemerintah untuk menjadi Dirut baru Bank Century. Sentot menyatakan belum ada kepastian sampai kapan Bank Mandiri akan menjalankan tugasnya sebagai pendamping teknis Bank Century.

"Batas waktunya belum tahu sampai kapan. Tujuannya supaya jaga kerpercayan masyarakat," katanya.

Dana Bank Mandiri Nyangkut di BPR Tripanca


Padalarang - PT Bank Mandiri Tbk mengakui ada sejumlah dana yang tersangkut di PT (Bank Perkreditan Rakyat) BPR Tripanca.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Retail dan Micro Banking Bank Mandiri Budi Sadikin di sela-sela Acara Press Gathering di Hotel Mason Pine, Padalarang, Kabupaten Bandung, Jumat (21/11/2008).

"Dana kita di BPR Tripanca tidak terlalu besar, tapi kalau untuk Grup Tripanca-nya lebih besar lagi," jelasnya. Namun Budi menolak mengatakan berapa jumlah dana yang nyangkut tersebut.

BPR asal Lampung tersebut sedang mengalami kesulitan likuiditas sehingga banyak nasabah yang tidak bisa mengambil simpanannya.

Menurutnya, Bank Mandiri telah melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk menyelesaikan masalah tersebut guna mendapatkan kembali dana perbankan plat merah tersebut.

Ia mengatakan, salah satu cara yang dilakukan agar kreditor bisa menarik dananya kembali melalui penjualan aset-aset Grup Tripanca. Saat ini aset-aset tersebut sedang dihitung untuk kemudian dijual dan dilelang.

"Untungnya kita punya jaminan aset yang jumlahnya melebihi eksposure kredit yang diberikan," tandasnya.

Dengan adanya peristiwa ini, Ia mengatakan, Bank Mandiri bakal lebih berhati-hati untuk melakukan kredit linkage kepada BPR.

Bank Mandiri pun menghimbau kepada Persatuan Bank perkreditan Rakyat Seluruh Indonesia (Perbarindo) untuk menjaga kedisplinan anggotanya.

"Yang bermasalah kan cuma satu, tapi kalau sudah begini kepercayaan kepada BPR bakal berkurang," ucapnya.

Ia menambahkan, selain Bank Mandiri, ada beberapa bank lain yang mengalami masalah yang sama. "Ada sekitar 6 sampai 7 perbankan baik asing maupun lokal yang dananya tersangkut di sana (BPR Tripanca)," pungkasnya.

First Media beli saham Jakarta Marcapada Rp5 miliar


JAKARTA (Bisnis.com): PT First Media Tbk melalui anak perusahaannya PT First Media News, telah menandatangani akta penjualan dan pembelian saham senilai Rp5 miliar dengan PT Spekutrum Duta Corporasi dalam PT Jakarta Marcapada Media.

Pembelian sebanyak 12,5% dari seluruh saham yang telah dikeluarkan dan disetor penuh dalam Jakarta Marcapada Media.

"Penandatanganan jual beli saham Jakarta Marcapada oleh First Media News berlangsung pada 17 November 2008 dihadapan notaris Lindasari Bachroem di Jakarta atas 3.334 lembar saham," kata Wakil Presiden Direktur First Media DR. Yen Hsu didampingi Direktur Wendell Shen dan Corporate Secretary Harianda Noerlan dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia hari ini.

First Media adalah operator multimedia di Indonesia yang mengoperasikan jaringan serat optik dan sistem komunikasi broadband.

First Media, yang merupakan bagian dari Grup Lippo, telah mengganti namanya beberapa kali, terakhir kali pada 16 Juni 2007 dari sebelumnya PT Broadband Multimedia Tbk. Produk-produknya, seperti Kabelvision, Digital1, dan MyNet juga disatukan di bawah merek dagang First Media. Oleh sebab itu First Media memperkenalkan dirinya dengan layanan "Triple Play". Jaringannya meliputi Jabodetabek, Surabaya, dan Bali.

First Media juga memiliki saham di PT Ayunda Prima Mitra yang menguasai mayoritas saham PT Direct Vision, perusahaan yang sebelumnya mengoperasikan jasa televisi satelit Astro Nusantara.

Harga saham First Media berkode KBLV di Bursa Efek Indonesia siang ini tidak bergerak masih di level Rp940.

ELTY Siap Eksekusi Saham Baru BNR Rp 300 Miliar


Jakarta - PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menyatakan siap mengeksekusi 165,837 juta saham baru yang akan diterbitkan PT Bali Nirwana Resort (BNR) senilai Rp 299,9 miliar.

"Bilamana pemegang saham lainnya tidak mengambil bagian atas saham yang akan diterbitkan tersebut, perseroan akan mempertimbangkan untuk mengambil bagian sampai dengan nilai sebesar Rp 300 miliar," ujar Presiden Direktur ELTY, Hiramsyah S Thaib dalam pengumuman yang dipublikasikan, Kamis (20/11/2008).

BNR berencana menerbitkan 165,837 saham baru seri E dengan nilai nominal Rp 1.809 per saham. Total nilai aksi tersebut sebesar Rp 299,9 miliar. BNR merupakan perusahaan yang bergerak di sektor perhotelan resort.

Saat ini ELTY menguasai 27% saham di BNR melalui anak usahanya PT Bakrie Nirwana Semesta (BNS).

"Perseroan, melalui PT Bakrie Nirwana Semesta (BNS) berencana melakukan penyertaan modal sesuai porsi kepemilikannya sebesar 27% dari jumlah saham yang akan diterbitkan oleh BNR," ujar Hiramsyah.

Hiramsyah juga mengatakan, jika pemegang saham lainnya tidak melakukan eksekusi saham baru tersebut, perseroan siap mengeksekusi seluruh saham baru tersebut.

Menurut Hiramsyah transaksi ini dapat meningkatkan investasi di bidang usaha yang memiliki pendapatan yang berkelanjutan, meningkatkan daya saing atas aset yang dimiliki pereroan, peningkatan kemampuan dalam menghasilkan laba di masa yang akan datang, dan penciptaan nilai tambah bagi pemegang saham perseroan.

Aksi korporasi itu akan dimintakan persetujuannya dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang akan dilaksanakan pada 19 Desember 2008.

Wijaya Karya punya anak usaha baru, PT WIKA Insan


JAKARTA (Bisnis.com): PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mengakuisisi 70,08% saham PT Catur Insan Pertiwi senilai Rp23,013 miliar dan mengganti namanya menjadi PT Wijaya Karya Insan Pertiwi.

"Perseroan telah mengambil alih saham PT CIP sebesar 70,08% berdasarkan akta jual-beli saham nomor 28 tanggal 18 November 2008 yang dibuat dihadapan Imas Fatimah, notaris di Jakarta," kata Direktur Utama Wijaya Karya Bintang Perbowo dalam keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Indonesia hari ini.

Dengan demikian, lanjut Bintang, komposisi kepemilikan saham di PT CIP yakni Wijaya Karya sebanyak 438 saham atau 70,08%, Widjanarko Tantono 93 saham atau 14,88%, Hastjaryo 62 saham atau 9,92%, Suprapto 32 saham atau 5,12%, sehingga total 625 saham.

"Pada hari sama dengan penandatanganan akusisi, PT CIP menggelkar rapat umum pemegang saham. Akhirnya diputuskan merubah nama PT CIP menjadi PT Wijaya Karya Insan Pertiwi (PT WIKA Insan Pertiwi)," kata Bintang.

Pengambilalihan saham PT CIP ini, lanjut Bintang, merupakan transaksi material dan transaksi benturan kepentingan.

Harga saham WIKA siang ini terkoreksi 5,08% atau Rp9 menjadi Rp168 dengan volume transaksi sebanyak 7.290 saham senilai Rp618 juta.

PT Catur Insan Pertiwi merupakan perseroan swasta nasional berdiri sejak 1984 merupakan salah satu perusahaan tiga besar di Indonesia yang mengkhususkan diri di bidang konstruksi mekanikal dan elektrikal dengan beragam pengalaman di proyek Pembangkit Listrik, Pabrik Pulp, Fasilitas Pertambangan dan lainnya.

Tujuan dilakukan akuisi perusahaan yang� bergerak di bidang erection dan installation mekanikal elektrikal untuk proyek industrial dan power plant ini adalah untuk memperkuat pertumbuhan non-organiknya dengan cara meningkatkan efisiensi biaya dan efektivitas operasi, dalam pekerjaan mekanikal dan elektrikal.

Saat ini WIKA telah memenangkan beberapa proyek power plant di Jakarta (PLTU Muara Karang), Kalimantan Selatan, Jawa Barat (PLTP Jawa Barat, PLTU Indramayu, PLTU Pelabuhan Ratu), Banten (PLTU Labuan Banten), di Sumatera (PLTU Labuan Angin, Sibolga) dan Sulawesi Utara. Gerak langkah dan pengambilan keputusan terkait dengan scope pekerjaan mekanikal elektrikal di proyek industrial dan� power plant tersebut, diharapkan menjadi lebih efektif dan efisien.

Grup Telkom dipastikan kuasai proyek USO


JAKARTA (Bisnis.com): Grup Telkom dipastikan menguasai minimal tiga blok proyek telepon perdesaan atau universal service obligation (USO) setelah pemerintah memutuskan untuk melakukan penunjukan langsung di blok 1,3,4,5, dan 6.

Santoso Serad, Kepala Badan Telekomunikasi dan Informasi Perdesaan Ditjen Postel, mengatakan hanya ada empat perusahaan yang menyatakan ikut prakualifikasi ulang sementara yang mengembalikan dokumen hanya dua perusahaan.

“Namun sayangnya, dua perusahaan itu pun tak memenuhi persyaratan untuk diloloskan dalam tahapan prakualifikasi ulang sehingga panitia terpaksa melakukan pemilihan dan penunjukkan langsung,” tegasnya kepada bisnis.com, hari ini.

Meskipun telah sesuai dengan aturan yang berlaku, namun menurut Santoso, pemerintah tidak begitu menyukai pola penunjukkan langsung dan lebih menginginkan adanya kompetisi melalui tender.

Dengan kondisi tersebut, maka lelang atau pengajuan penawaran tender hanya terjadi di Blok 2 dan Blok 7. Blok 2 saat ini terdiri dari Telkom, Telkomsel, dan Indonusa System Integrator Prima, sementara Blok 7 terdiri dari Telkom, Telkomsel, Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI), dan Indonusa.

Sementara pada blok 1,3, dan 6 akan dilakukan pemilihan langsung dan di blok 4 dan 5 menggunakan pola penunjukkan langsung.

Blok 1 meliputi Telkom, Telkomsel, dan STI, Blok 3 meliputi Telkom, Telkomsel, dan Indosat, Blok 6 terdiri dari Telkom, Telkomsel, dan Citra Sari Makmur. Adapun di Blok 4 dan 5 hanya terdapat Telkom dan Telkomsel saja.

2008, Telkom Bangun 1.000 BTS di Jatim


SURABAYA, Investor Daily
Sampai akhir tahun ini, PT Telkom Tbk bertekad mengoperasikan 1.000 unit based transceiver station (BTS) di Jawa Timur untuk menjangkau para pelanggan hingga perdesaan. Saat ini, pelanggan Flexi Telkom sebanyak 3,3 juta dan dilayani oleh tak kurang dari 720 BTS di Jatim.


Executive General Manager (EGM) Telkom Divre V Jatim Triana Mulyatsa yakin mampu memperbesar jumlah pelanggar dan memperluas jaringan Flexi di Jatim. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, ia yakin, Flexi menjadi operator terbesar kedua setelah Telkomsel, operator GSM. Apalagi menjelang akhir tahun ini, Telkom giat membangun infrastruktur.

"Satu bulan terakhir ini, paling tidak 100 BTS harus on (beroperasi). Artinya ada tiga BTS yang harus on setiap hari di seluruh Jatim. Tambahan jangkauan ini pasti akan membuka pasar baru di daerah yang selama ini belum terjangkau telekomunikasi yang murah," kata Triana di Surabaya, Selasa (18/11).

Oleh karena itu, Triana juga optimistis bisa mengoperasikan 1.000 BTS hingga akhir tahun ini di Jatim. Kinerja jaringan dan lalu lintas komunikasi pun menjadi lebih baik. "Dengan kinerja yang lebih baik ini, kami optimistis menggebyarkan promo FlexiNet kembali. Tentunya kami berikan dengan penawaran harga yang makin kompetitif," tambah Triana.



Tarif Flexinet Turun

Seiring dengan selesainya pengembangan jaringan demi meningkatkan kualitas layanan bagi pelanggan Flexi di Jatim, Telkom mulai menggalakkan pemasaran layanan akses internet Packet Data Network (PDN). Layanan ini dinamai FlexiNet dan disertai penurunan tarif sampai 60%.

Selama ini, kata dia, untuk Flexi, Telkom memang masih fokus pada layanan voice dan SMS. Faktanya, sekitar 60% lalu lintas komunikasi Flexi dipakai untuk voice, sedangkan untuk SMS hanya 39%, dan akses internet hanya 1%. “Namun dengan infrastruktur sudah makin siap, banyak penambahan jaringan, pelanggan kini bisa memanfaatkan layanan FlexiNet," jelasnya.

Sementara itu, tarif yang ditetapkan juga diturunkan hingga 60% dari tarif normal, yakni Flexi Classy untuk time based Rp 75 per menit dan volume based Rp 1 per KB (belum termasuk PPN). Untuk tarif Flexi Trendy time based sebesar Rp 85 per menit dan volume based Rp 2 per KB.

Hanya saja, lanjut Triana, kecepatan akses internet via Flexi ini belum sebagus Speedy yang telah mencapai 1 Mbps. Kecepatan akses FlexiNet berkisar 100 Kbps. Ada beberapa perangkat tambahan yang bisa dibeli pelanggan untuk bisa mengakses internet dengan FlexiNet, yaitu kabel data.



Hibahkan 100 PC

Telkom juga menjadi sponsor utama penyelenggaraan balap sepeda bertarap internasional, Speedy Tour d'Indonesia, yang digelar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI). Pada ajang yang berlangsung pada 23 November - 5 Desember 2008 ini, Telkom menyediakan hadiah US$ 100.000. Meski demikian, ajang ini bukan sekadar ajang prestasi, tapi lebih jauh adalah sebagai wahana untuk mendorong pariwisata Indonesia.

Dalam rangkaian kegiatan Speedy Tour d’Indonesia ini, kata Eddy, Telkom juga menyerahkan bantuan berupa 100 unit komputer (PC) lengkap dengan booth yang didesain khusus untuk ditempatkan di sekolah-sekolah. Hibah 100 PC ini untuk memfasilitasi para siswa dan sekolah dalam mengakses Internet. “Mereka dapat mengakses Internet melalui PC-PC tersebut antara lain dengan menggunakan layanan Speedy Prabayar (Prepaid),” kata Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia di Jakarta, Rabu (19/11).

BII Beri Lampu Hijau untuk Diakuisisi 20%


JAKARTA - PT Bank International Indonesia Tbk (BBII) memberikan sinyalemen bagi bank sentral Malaysia, Maybank guna mengakuisisi perseroan maksimal 20 persen.

"Aturan Bapepam sudah cukup jelas yakni 20 persen dari seluruh total saham. Realisasinya ada aturan BAP dan mereka sudah memberikan keleluasaan kepada Maybank, apabila penjualan itu berdampak pada kerugian yang signifikan maka diberikan izin sampai harganya cukup baik sehingga tidak terjadi kerugian," ujar Wakil Presiden Direktur BBII Sukatmo Padmosukarso, dalam acara paparan publik BII, di Hotel Intercontinental, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (20/11/2008).

Diharapkan keputusan ini bisa berdampak pada pertumbuhan perseroan dengan cepat dan lebih baik, sehingga pemegang saham senang dan bisa di float lagi ke publik.

Ketika disinggung rencana BBII akan membentuk bank yang berbasis syariah, dia menambahkan belum ada wacana tersebut. "Tidak ada wacana semacam itu, kita selalu mengeksplor kemungkinan melepas unit usaha syariah (UUS) untuk dijadikan bank tersendiri itu opsi terbuka tapi belum bisa diberikan keterangan apapun. Mudah-mudahan tahun depan," ungkapnya.

Untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) saat krisis tahun 1997 dan 1998 itu yang paling berisiko, namun saat ini jauh lebih baik kondisinya dan sampai saat ini perseroan terus berikan kredit UMKM-nya.

"Kami sudah memiliki 62 sentra cabang untuk pengembangan UMKM, untuk yang lebih kecil kami tekankan ke linkage program yang selama ini sudah ada kerja sama dengan 100 BPR di seluruh RI dengan portofolio Rp500 M, sekarang porsi UMKM mencapai 34 persen dari seluruh portofolio. Saat ini tergantung pasar," ujarnya.

Indosat Cairkan Pinjaman Senilai USD450 Juta


JAKARTA - PT Indosat Tbk (ISAT) telah mencairkan seluruh fasilitas pinjaman berjangka waktu lima tahun senilai USD450 juta.

Direktur Utama ISAT Johnny Swandi Sjam, dalam keterangan tertulis yang diterima okezone, di Jakarta, Kamis (20/11/2008), mengatakan fasilitas pinjaman telah dicairkan sebagian pada September 2008 senilai USD150 juta.

Selanjutnya pada November 2008, ISAT mencairkan keseluruhan sisa pinjaman senilai USD300 juta. "Dana hasil pinjaman sebagian telah dipergunakan untuk pendanaan belanja modal dan keperluan lain perusahaan," ungkapnya.

Dia menambahkan, keperluan itu termasuk pelunasan awal obligasi dolar yang jatuh tempo pada 2010 dan 2012 terkait dengan perubahan kepemilikan, setelah akuisisi atas seluruh saham ISAT yang dimiliki Singapore Technology Telemedia (STT) oleh Qatar Telecom.

"Fasilitas ini akan mendukung perseroan untuk mendanai ekspansi belanja modal dalam rangka memenuhi permintaan atas jasa kami yang meningkat dan juga untuk memenuhi kewajiban kami kepada pemegang obligasi di tahun 2008," kata Johnny.

Pada penutupan perdagangan IHSG, kode emiten ISAT ditutup menguat 6,1 persen atau naik Rp250 ke posisi Rp4.350 per lembarnya.

Btel pasok perangkat telekomunikasi di rusunami


JAKARTA (Bisnis.com): PT Bakrie Telecom Tbk memperluas segmen pasarnya dengan memasok kebutuhan telekomunikasi di sektor properti, khususnya perumahan bagi masyarakat luas di rumah susun sederhana milik (rusunami).

Tidak kurang dari 5000 satuan sambungan telepon dipersiapkan Bakrie Telecom bagi ”Pancoran Riverside”, rusunami yang dibangun oleh pengembang PT Graha Rayhan Tri Putra.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan hari ini di lokasi rusunami ”Pancoran Riverside” oleh Rakhmat Junaidi, Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom Tbk, dan Bally Saputra, Direktur Utama PT Graha Rayhan Tri Putra, sebagai pengembang rusunami serta disaksikan oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat Mohammad Yusuf Asy’ari.

”Kami melihat masuknya Bakrie Telecom sebagai penyedia sarana telekomunikasi di sektor properti, khususnya rusunami, akan membuka segmen pasar baru. Sektor ini akan terus tumbuh dan telekomunikasi merupakan sarana dasar yang wajib dimiliki di setiap rusunami. Karena itu kerja sama ini akan menjadi batu pijakan penting bagi Bakrie Telecom untuk berkiprah di sektor properti”, ujar Rakhmat.

Rakhmat mengakui perhatian Bakrie Telecom ke sektor properti, khususnya rumah susun sederhana (rusuna), didorong pula oleh komitmen yang makin besar dari pemerintah.

Alasan lain ketertarikan Bakrie Telecom untuk melengkapi kebutuhan telekomunikasi rumah susun sederhana adalah target pasar rusuna yang sesuai dengan pangsa pasar perusahaan.

Operator telekomunikasi ini dikenal sebagai operator yang gencar dan konsisten menggarap kebutuhan telekomunikasi bagi masyarakat kebanyakan. Berbagai produk layanannya diarahkan untuk membuka akses yang semakin luas bagi masyarakat untuk menikmati jasa layanan telekomunikasi. Karena itu, menurut Rakhmat, konsumen pasar rusuna akan identik dan target sasaran Bakrie Telecom.

Walau Resesi, Bank Mandiri Tetap Ingin Jadi No 1


BANDUNG - PT Bank Mandiri Tbk berambisi ingin menjadi bank nomor satu atau leader perbankan di Indonesia.

Hal ini ditegaskan dengan target pangsa pasarnya di Indonesia tahun ini sebesar 20-30 persen. Kendati pun saat ini sedang terjadi resesi ekonomi global, Mandiri menyakini akan mempengaruhi targetnya.

Hal tersebut disampaikan Chief Financial Office Mandiri Pahala En Mansury, dalam diskusi Dampak Krisis Global, di Hotel Mason Pine, Bandung, Kamis (20/11/2008)

"Untuk memenuhi target, Bank Mandiri melakukan berbagai upaya termasuk diberikannya kemudahan bagi para nasabah dalam pembayaran diberbagai jenis dengan menerapkan teknologi canggih seperti yang dilakukan di luar negeri," katanya.

Untuk hal itu, Bank Mandiri berencana mencoba mengawali pembayaran tol dengan kartu kredit yang tidak dibebankan royalty bagi nasabah.
Untuk saat ini market capital-nya tercatat sebesar Rp2,7 triliun atau setara dengan USD2,5 miliar. Dan bahkan di tahun-tahun sebelumnya Bank Mandiri pernah mencatat angka yang lebih tinggi, sebesar USD7,2 miliar.

Dia mengatakan, pada 2010 Bank Mandiri mempunyai target dengan pangsa pasar sebesar 20 persen dan untuk memenuhi target tersebut beberapa cara akan dilakukan, di antaranya, meningkatkan bisnisnya dengan harapan bisa memberikan kontribusi 15 persen dari pendapatan. Dibandingkan tahun ini hanya mampu memberikan kontribusi sekitar 11-12 persen.

Selain itu, Bank Mandiri juga akan mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK) yang lebih besar lagi dengan memperkuat jaringan yang ada. Kemudian langkah berikutnya, meningkatkan pertumbuhan pendapatan dan bunga sebesar 22-23 persen pada 2010.

"Dengan kondisi pasar saat ini, tidak menutup kemungkinan akan ada resisi karena kejadian seperti ini diluar kendali," tegasnya.

Sahala pun menuturkan, untuk bisa menyaingi pesaingnya seperti BRI, BNI, BCA dan Bank Danamon, Bank Mandiri harus memberikan penjelasan pada masyarakat mengenai persepsi bahwa Bank Mandiri masih mepunyai kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang cukup tinggi.

"Kita akan menyakinkan masyarakat dan investor, bahwas Bank Mandiri sudah berbeda kondisinya dengan sebelumnya pada 2005, di mana NPL-nya tinggi dan tidak mempunyai target," paparnya.

Sebagai gambaran, saat ini Bank Mandiri sudah mengucurkan kredit KPR sebesar Rp12 triliun.

Bursa minta Bumi revisi dokumen buyback saham


JAKARTA: Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta PT Bumi Resources Tbk merevisi dokumen pembelian kembali (buyback) sahamnya senilai Rp8,25 triliun agar tidak menyebarkan informasi yang menyesatkan pemodal publik.

Direktur Utama BEI Erry Firmansyah mengatakan bursa meminta Bumi tidak mencantumkan harga rata-rata buyback. "Itu tidak umum disebutkan," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Dalam dokumen itu, yang dilaksanakan 17 November 2008-16 Februari 2009, pembelian kembali saham Bumi pada harga rata-rata Rp2.500.

BEI juga meminta Bumi tidak memuat estimasi target harga yang diterbitkan oleh analis, terutama potensi peningkatan harga saham hingga 127,8% dari rata-rata harga buyback.

Perusahaan batu bara milik keluarga Bakrie itu berencana buyback 3,29 miliar saham dari total saham yang dikeluarkan 19,40 miliar saham.

Harga rata-rata Rp2.500 itu merupakan hasil dari jumlah maksimum saham yang akan dibeli kembali dan jumlah dana yang dialokasikan.

"Asumsi itu berdasarkan harga rata-rata Rp3.200 per saham yang berlaku pada 29 September dan Rp1.975 pada 6 Oktober, sebelum perdagangan saham perseroan dihentikan," ujar Senior Vice President Investor Relations Bumi Dileep Srivastava, dalam keterbukaan informasi kemarin.

Apabila mengacu pada harga yang disebutkan Bumi, harga rata-rata mencapai Rp2.587,5 atau mendekati Rp2.500.

Namun, harga saham Bumi pada penutupan pasar 6 Oktober adalah Rp2.175, bukan Rp1.975 seperti disebutkan dalam keterbukaan informasi itu. Dengan begitu, harga rata-rata yang tepat untuk kedua posisi penutupan itu Rp2.687,5.

Perseroan, kata Dileep, akan menjaminkan saham hasil buyback ke Credit Suisse, yang memberi utang US$75 juta untuk buyback. Bunganya sebesar London interbank offered rate (Libor)+8% per tahun untuk periode 1-6 bulan, Libor+10% untuk 7-12 bulan, Libor+12% untuk 13-36 bulan. Namun, Bumi harus menjaga utang tidak boleh melebihi US$2,25 miliar.

Hingga per Juni 2008, total utang Bumi US$1,74 miliar, sehingga pinjaman yang bisa didapat agar memenuhi pembatasan keuangan itu US$510 juta.

Utang US$600 juta

Bumi juga mencari utang US$600 juta (Rp7,2 triliun dengan asumsi Rp12.000 per dolar AS) untuk membiayai buyback itu. Perusahaan itu juga akan merogoh kocek kas internal US$224 juta.

Berdasarkan data Bloomberg, arus kas bebas Bumi per Juni 2008 hanya US$114,54 juta, sedangkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi US$466,99 juta.

Norico Gaman, Kepala Riset BNI Securities, belum lama ini mengatakan Bumi harus mempertimbangkan efektivitas buyback karena tekanan jual masih besar. Harga saham Bumi kemarin anjlok 9,47% ke posisi Rp860 dari penutupan sebelumnya Rp950.

Bumi mengakui sedang mempertimbangkan penerbitan medium term notes (MTN), meski tidak memerinci jumlahnya.

Sumber Bisnis mengatakan nilai MTN itu hingga Rp6 triliun yang menawarkan yield 18%-25% per tahun. Pemimpin pengatur penerbitan MTN itu adalah PT Samuel Internasional, dibantu dua agen penjual yaitu PT Asia Kapitalindo Securities Tbk dan PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas.

Wall Street Jatuh ke Level Terendah dalam 5,5 Tahun


New-York - Saham-saham di Wall Street kembali mencatat penurunan tajam hingga level terendahnya dalam 5,5 tahun terakhir. Upaya penyelamatan sektor otomotif yang masih jadi perdebatan menjadi salah satu penyebabnya.

Pada perdagangan Rabu (19/11/2008), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot hingga 427,47 poin (5,07%) ke level 7.997,28. Inilah untuk pertama kalinya Dow Jones berada di bawah level 8.000 sejak Maret 2003.

Sementara indeks Standard & Poor's turun hingga 52,54 poin (6,12%) ke level 806,58. Nasdaq anjlok 96,85 poin (6,53%) ke level 1.386,42. S&P dan Nasdaq berada di titik terendahnya sejak Maret 2003.

Sebanyak 1,64 miliar lembar saham ditransaksikan di New York Stock Exchange, sementara di Nasdaq ada 2,36 miliar lembar saham ditransaksikan.

Saham-saham sektor otomotif berjatuhan. General Motors Corp anjlok ke level terendahnya dalam 66 tahun, Ford terendah dalam 26 tahun. Saham GM kemarin turun hingga 9,7% menjadi 2,79 dolar, sementara Ford jatuh hingga 25% menjadi 1,26 dolar.

Kejatuhan saham-saham otomotif ini dipicu oleh kekhawatiran tentang tidak adanya langkah cepat dari kongres untuk membantu menyelamatkan industri ini. Para petinggi sektor otomotif melakukan hearing kedua kalinya dengan kongres AS untuk meminta bailout US$ 25 miliar.

Jika tak ada langkah cepat, maka dikhawatirkan industri-industri otomotif akan bangkrut sehingga semakin memperparah perekonomian AS.

Demikian pula sektor finansial yang juga berjatuhan. Saham Bank of America, JPMorgan Chase &Co, Citigroup, semua jatuh ke titik terendahnya dalam beberapa tahun terakhir. Investor masih khawatir akan nasib sektor finansial mengingat kondisi perekonomian semakin suram. Saham Bank of America anjlok hingga 14%, JPMorgan merosot 11,4% dan Citigroup terpangkas 23,4%.

Sementara Federal Reserve memangkas target pertumbuhan ekonomi 2009, sehingga menambah keterpurukan indeks saham menjelang penutupan. The Fed memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS di tahun 2009 hanya tumbuh 0,2 persen.

"Kita melihat kejatuhan pasar terburuk dalam kehidupan banyak orang. Sepertinya orang-orang saling menikmati berbicara tentang bagaimana buruknya masalah ini. Ini menjadi sebuah kebodohan," ujar David Bianco, kepala strategis UBS seperti dikutip dari Reuters

Belanja modal United Tractors US$315 juta


JAKARTA: PT United Tractors Tbk (UT) akan mengalokasikan dana untuk belanja modal (capital expenditure/capex) 2009 sebesar US$315 juta atau sekitar Rp3,62 triliun, untuk dua lini bisnis utama perseroan, yaitu kontraktor pertambangan dan penjualan alat berat.

Corporate Secretary PT United Tractors Sara K. Loebis mengatakan dari total capex tahun depan, bisnis kontraktor tambang akan mendapat alokasi dana sebesar US$300 juta (sekitar Rp3,45 triliun), dan penjualan alat-alat berat sebesar US$15 juta (sekitar Rp172,5 miliar).

"Untuk capex tahun depan, sebagian dana akan dipenuhi dari pinjaman sindikasi bank yang dipimpin Standard Chartered Bank. Sejauh ini ada dana yang belum kami tarik sekitar US$70 juta," katanya kemarin.

Menurut Sara, selain akan menggenjot bisnis kontraktor pertambangan dan alat berat, perseroan juga akan memperbesar bisnis di sektor batu bara. Untuk keperluan itu, United Tractors tengah menyeleksi tiga perusahaan tambang untuk diakuisisi.

Dalam akuisisi ini United Tractors mensyaratkan perusahaan tambang yang akan dibeli memiliki kandungan batu bara dengan kalori minimal 5.800 kalori. Perseroan akan menggunakan dana dari rights issue beberapa waktu lalu untuk keperluan itu.

"Kami menerapkan mekanisme berjalan. Jika ada satu perusahaan yang tidak lolos seleksi, kami menggantinya dengan yang lain. Saat ini kami mempertahankan jumlah yang diseleksi sebanyak tiga tambang," lanjut Sara.

Akuisisi tambang

Direktur United Tractors Edhie Sarwono baru-baru ini mengatakan kepada Bisnis bahwa akuisisi tambang batu bara di Kalimantan akan rampung pada akhir tahun ini.

Menurut Edhie, waktu yang dibutuhkan perseroan untuk melakukan uji tuntas memang agak lama, karena United Tractors sempat membatalkan akuisisi beberapa tambang.

"Untuk cadangan batu bara dari tambang yang akan diakuisisi ini di bawah tambang milik perseroan, PT Tuah Turangga Agung yang memiliki cadangan 35 juta ton-40 juta ton," tuturnya.

Lahan tambang yang akan diakuisisi tidak jauh dari lokasi tambang lainnya milik United Tractors, karena akan mempermudah pengangkutan komoditas tersebut.

Hingga akhir September, perseroan mencatat penjualan alat berat merek Komatsu mencapai 3.283 unit. Corporate Secretary United Tractors Sara K. Loebis mengatakan penjualan itu sesuai dengan target yang dipatok perseroan.

Berdasarkan catatan Bisnis, tahun ini United Tractors mematok bisa menjual sekitar 4.250 unit alat berat.

"Untuk tahun depan, kami memperkirakan perjualan alat berat secara market akan turun 20% dibandingkan dengan tahun ini."

Harga saham emiten yang berkode UNTR ini kemarin ditutup di posisi Rp3.475 per saham, atau turun 4,14% dibandingkan dengan penutupan sebelumnya.

Excelcomindo pangkas penjualan menara jadi US$900 juta


JAKARTA: Emiten operator telekomunikasi, PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) memangkas target penjualan 7.000 menara menjadi US$700 juta-US$900 juta, dari sebelumnya US$1,1 miliar.

Presiden Direktur Excelcomindo Pratama Hasnul Suhaimi mengatakan target penjualan menara menjadi US$700 juta-US$900 juta cukup wajar di tengah kondisi pasar finansial seperti saat ini.

"Setelah kami melakukan seleksi, saat ini terdapat enam perusahaan yang siap ikut tender. Kami menargetkan bisa merampungkan penjualan pada akhir tahun ini," kata Hasnul kemarin.

Dari calon pembeli yang tengah diseleksi, tidak ada satu pun yang bergerak di bidang telekomunikasi. Enam perusahaan yang ikut tender adalah perusahaan yang bergerak di bidang investasi serta konstruksi.

Untuk keperluan itu, XL menunjuk Goldman Sachs sebagai konsultan. Dana yang diperoleh dari penjualan menara akan dipakai untuk membayar utang ke bank.

Berdasarkan catatan Bisnis, salah satu perusahaan yang mengincar penjualan menara Excelcomindo adalah PT Recapital.

Belanja modal

Hasnul mengatakan perseroan akan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$700 juta atau sekitar Rp8,05 triliun tahun depan.

Menurut dia, belanja modal akan dipakai untuk peningkatan kapasitas, serta pengembangan jaringan perseroan. Sebagian besar kebutuhan dana akan dipenuhi dari internal, dan sisanya dari pinjaman bank.

"Sebesar 75% dari kebutuhan capex akan dipenuhi dari kas internal, sedangkan sisanya sekitar 25% akan dipenuhi dari pinjaman bank. Jika kebutuhan belanja modal bertambah, kami juga akan menaikkan jumlah tersebut secara bertahap," katanya.

Menurut Hasnul, langkah menambah capex secara bertahap dinilai lebih efektif untuk memenuhi kebutuhan pasar. Perseroan melakukan langkah serupa pada tahun ini. Pada rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) yang disusun pada awal tahun ini, perseroan mematok belanja modal sebesar US$650 juta.

Jumlah tersebut dinaikkan menjadi US$1 miliar, dan terakhir dipatok US$1,25 miliar menyusul membesarnya rencana bisnis yang dikembangkan perseroan dalam tahun ini.

Perseroan memproyeksikan pendapatan hingga akhir tahun ini mencapai Rp12,12 triliun atau 45% di atas pendapatan 2007 sebesar Rp8,364 triliun.

Hasnul mengatakan kenaikan pendapatan itu lebih besar dari yang dipatok pada awal tahun ini sebesar 30%. Perseroan menaikkan target tersebut menyusul pendapatan hingga kuartal III/2008 mencapai 60% dari periode yang sama tahun lalu.

Harga minyak dekati US$50 per barel


JAKARTA: Minyak mentah dunia berisiko menyentuh level US$50 per barel setelah pada perdagangan kemarin menyentuh level terendah terbarunya sejak 29 Januari 2007 dipicu rendahnya permintaan energi dunia.

Harga minyak mentah untuk pengiriman Desember turun 0,61% menjadi US$53,78 per barel di New York Merchantile Exchange dari posisi harga pada penutupan perdagangan 18 November yakni US$54,39 per barel.

Saat ini harga tersebut merupakan level terendah dalam 2 tahun terakhir. Pada 29 Januari 2007, harga minyak bertahan pada US$59,93 per barel. Harga minyak anjlok 63% sejak menyentuh rekor US$147,27 per barel yang dicapai pada 11 Juli.

Harga minyak sampai dengan bulan ini sempat menyentuh US$54,25 per barel.

Stefanus P. Susanto, Direktur PT Reliance Securities, mengatakan pergerakan harga mi-nyak masih didominasi perkiraan pertumbuhan ekonomi ta-hun depan. Dia memperkirakan Amerika Serikat akan terjebak dalam krisis finansial lebih dari empat kuartal.

Pengaruh penurunan permintaan China, AS, dan negara maju, sambungnya, bisa mengarahkan harga minyak ke level US$50 per barel. "Harga minyak berpotensi anjlok ke level US$50 per barel," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

David Moore, commodity strategist Commonwealth Bank of Australia, mengatakan laporan konsumsi energi dari AS belum berperan banyak. Kunci pergerakan harga minyak masih dipegang pergerakan indeks saham.

"Permintaan minyak kemungkinan kian memburuk. Pasar masih khawatir dengan konsumsi dunia sehingga harga melorot terus. Laporan konsumsi energi dari AS belum berperan banyak," katanya.

Mayoritas indeks saham Asia turun dipimpin oleh saham produsen komoditas bersamaan dengan jatuhnya harga minyak dan baja. Saham Woodside Petroleum Ltd, perusahaan minyak terbesar kedua di Australia, turun terjun 6,3%, sementara saham perusahaan kilang minyak lepas pantai terbesar di China, Cnooc Ltd, juga melorot 1,8% menjadi HK$5,60.

Fan Gang, penasihat Bank of China, memperkirakan pertumbuhan ekonomi China turun di bawah 9% pada kuartal IV/2008, sedangkan perekonomian Asia tahun depan turun di bawah 8% sebelum akhirnya naik dalam kisaran 8%-9% pada 2010.

Direktur Eksekutif International Energy Agency Nobuo Tanaka menilai langkah pemangkasan produksi minyak oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Oktober merupakan langkah tepat untuk menahan penurunan harga.

"Secara fundamental keadaan di pasar minyak sepertinya pulih, akan tetapi pada elemen yang lain misalnya memasuki cuaca dingin, badai, dan masa-lah kurangnya persediaan membuat OPEC bergerak cepat mendongkrak harga naik," ujarnya.

Pada pertemuan 17 Desember di Oran, Algeria, OPEC diperkirakan menurunkan kuota produksinya kembali.

Namun, Stefanus menilai pemangkasan produksi OPEC hanya bisa menahan penurunan harga tetapi tidak berperan terhadap permintaan.

PGN akan tetapkan harga gas sesuai pasar


JAKARTA: PT Perusahaan Gas Negara Tbk. berancang-ancang untuk menerapkan harga gasnya berdasarkan mekanisme pasar setelah mendapatkan lampu hijau dari pemerintah.

Direktur PGN Michael Baskoro PN mengatakan pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan pemerintah, dalam hal ini Dirjen Minyak dan Gas Bumi Departemen Energi dan Sumber daya Mineral Evita Herawati Legowo.

Dari pertemuan itu, pemerintah memberikan lampu hijau kepada BUMN gas itu untuk menetapkan harga sesuai dengan mekanisme pasar.

"Namun, waktunya nanti akan ditentukan pemerintah. Kami menunggu saja. Yang jelas, keinginan itu sudah mendapatkan persetujuan dari Dirjen Migas yang baru Bu Evita [Herawati Legowo]," katanya kemarin.

Menurut Michael, sikap terbaru pemerintah itu sekaligus akan menghapus niatan pemerintah sebelumnya yang mengendalikan harga gas PGN melalui Peraturan Menteri ESDM tentang formula harga gas, yang hingga kini belum terealisasi.

Formula sementara yang berlaku saat ini adalah bahwa PGN hanya boleh menjual gas dengan batas atas 95% terhadap harga ekspor gas, sebelum diproses menjadi gas alam cair (LNG).

"Dengan persetujuan ini formula itu dengan sendirinya tidak berlaku," katanya menolak menjawab ketika kembali didesak kapan keputusan itu akan diperoleh.

Dia menilai penetapan harga melalui mekanisme pasar merupakan pilihan adil pemerintah.

Selama ini, katanya, PGN diperlakukan tidak adil karena harus membeli gas dari produsen dengan harga pasar sedangkan harga jual dikendalikan oleh pemerintah.

"Itu kan tidak adil. Bagaimana kami bisa maju, ketika beli dibiarkan mengikuti harga pasar, ketika hendak menjual dikendalikan pemerintah."

Bisnis tidak berhasil mengonfirmasi Dirjen Migas Evita Herawati Legowo yang sedang berada di Brasil. Ketika informasi itu dikonfirmasikan kepada Direktur Hilir Migas Saryono Hadiwidjoyo, dia mengaku belum mengetahui tentang adanya kebijakan tersebut.

Global Mediacom masuki bisnis sewa satelit


JAKARTA: PT Global Mediacom Tbk berencana masuk ke bisnis penyewaan satelit penyiaran, terkait dengan kepemilikan perseroan atas satelit Indostar II senilai US$225 juta.

Sekretaris Perusahaan Global Mediacom M. Budi Rustanto menuturkan perseroan saat ini merupakan pemegang saham mayoritas dari PT MNCSkyvision (Indovision) yang nantinya mengendalikan kepemilikan atas satelit tersebut.

"Bisnis MNC Skyvision akan menjadi pendapatan yang juga berkontribusi bagi laba bersih Global Mediacom, karena kami merupakan pemegang saham mayoritas," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Sekretaris Perusahaan MNC Skyvision Arya Mahendra menuturkan rencana masuk ke bisnis penyewaan satelit itu me- mang sedang dipertimbangkan manajemen guna mengembalikan modal pembelian satelit penyiaran tersebut.

"Tidak tertutup kemungkinan satelit penyiaran ini akan menjadi satelit penyiaran yang disewakan bagi media penyiaran, seperti radio dan televisi," tegasnya.

Per Juli lalu, Global Mediacom meraih pinjaman senilai US$225 juta untuk membiayai pembelian satelit yang ditujukan bagi perluasan cakupan (coverage) Indovision.

Arya menambahkan, melalui penambahan satelit baru tersebut, MNC Skyvision mampu menambah kanalnya lebih dari dua kali lipat dari 62 kanal yang dimiliki Indovision saat ini.

Satelit yang memiliki orbit S-Band itu memiliki kapasitas 10 transponder, 100 kanal televisi, kanal radio, dan punya kemampuan gabungan antara MPEG-4 dan MPEG-2.

Satelit yang dibeli dari perusahaan Boeing, AS itu akan diluncurkan di Kazakhztan dan ditargetkan dapat menggenjot jumlah pelanggan Indovision menjadi 1 juta pelanggan pada tahun depan dari target 600.000 pelanggan pada tahun ini.

Terkait dengan ekspansi jaringan televisi lokal tersebut, Global Mediacom juga menyiapkan dana internal US$70 juta guna membiayai ekspansi usaha jaringan televisi lokal yang ditayangkan secara nasional pada tahun ini.

Televisi bergerak

Presiden Grup dan CEO Global Mediacom Hary Tanoesoedibjo belum lama ini menuturkan perseroan akan melun- curkan televisi berlangganan digital bergerak (digital mobile pay tv) di Jabodetabek dengan nilai investasi US$20 juta.

Sementara itu, investasi jaringan televisi lokal yang ditayangkan secara nasional senilai US$40 juta-US$50 juta akan dirogoh Global dari kocek PT Media Nusantara Citra Tbk sebagai anak perusahaan dari Global.

Restrukturisasi perseroan mengubah bisnis inti menjadi fokus pada enam sektor, yaitu media penyiaran, media di luar penyiaran, konten, mobile, televisi berlangganan, dan infrastruktur media.

"Setelah mengakuisisi Linktone 54%, maka tahun ini kami belum ada rencana akuisisi dan fokus pada pengembangan usaha yang sudah ada. Linktone akan menjadi landasan ekspansi media."

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode BMTR ini ditutup pada level Rp190 atau anjlok 9,52% dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada 17 November, yaitu Rp210.

Dengan mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp2,61 triliun.

Bakrie Telecom jual menara


JAKARTA: PT Bakrie Telecom Tbk mematok belanja modal pada tahun depan sekitar US$180 juta dan akan memperoleh tambahan belanja modal dari hasil penjualan menara telekomunikasi Bakrie Telecom.

Direktur Corporate Services Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi mengatakan perseroan akan menggunakan tambahan belanja modal dari penjualan menara telekomunikasi itu untuk menambah kapasitas jaringan.

Bakrie Telecom berencana menjual 543 menara telekomunikasi beserta prasarana dan sarana pendukung infrastruktur telekomunikasi bernilai Rp380,22 miliar dan transaksi itu ditargetkan selesai pada akhir tahun ini.

"Dana investasi perseroan sepanjang 2008-2010 sudah kami peroleh melalui rights issue lalu senilai US$600 juta. Pada 2009, kami alokasikan sekitar US$180 juta," ujarnya, kepada Bisnis, kemarin.

Perincian obyek dalam transaksi itu adalah aset perseroan dengan perincian harga jual minimum untuk 123 menara greenfield Rp115,62 miliar.

Adapun, harga jual minimum untuk 420 menara rooftop adalah Rp264,4 miliar.

Pengaruh transaksi itu terhadap laporan keuangan perseroan, yaitu menurunkan nilai buku bersih aktiva tetap perseroan sekitar Rp185,56 miliar, sehingga akan meningkatkan tingkat pengembalian terhadap aset.

Selain itu, memberikan pengaruh positif terhadap laba bersih perseroan pada tahun penjualan aset dan mendapat keuntungan tambahan kas.

Keuntungan atas hasil penjualan aset itu senilai Rp124,04 miliar.

"Perseroan akan melakukan tender bagi pembeli yang merupakan perusahaan penyelenggara dan penyedia menara," paparnya.

Langkah itu dilaksanakan perseroan karena ingin memfokuskan diri pada kegiatan usaha penyelenggaraan jaringan dan jasa telekomunikasi dan meningkatkan efisiensi.

Selain itu, penjualan itu guna melaksanakan Peraturan Menkominfo tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi per 17 Maret 2008.

Transaksi itu bernilai hingga 22,74% dari total pendapatan perseroan Rp1,67 triliun.

Rencana itu akan dimintakan izin prinsip dalam rapat pemegang saham pada 16 Desember 2008.

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode Bakrie Telecom itu ditutup pada level 55 atau anjlok 5,17% dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada 17 November, yaitu Rp58.

Elnusa raih kontrak US$404,5 juta


JAKARTA: PT Elnusa Tbk hingga bulan ini telah membukukan kontrak senilai US$404,5 juta dari tiga lini bisnis, yaitu jasa seismic, pengeboran (drilling), serta oil field service.

Selain itu, emiten ini juga meraih kontrak untuk tahun depan sebesar US$135 juta dari tiga lini bisnis tersebut.

Vice President Corporate Secretary Elnusa Heru Samodra mengatakan khusus untuk kontrak baru yang diperoleh tahun ini sebesar US$250 juta, dan sisanya merupakan kontrak carry over tahun lalu.

"Dari kontrak yang diperoleh itu, kami menargetkan selama tahun ini bisa mencatat pendapatan sebesar Rp2,3 tri-liun. Sedangkan laba bersih belum kami hitung besarannya," katanya kemarin.

Menurut Heru, proyek yang diraih itu terbagi menjadi tiga waktu, yaitu jangka di bawah satu tahun, antara satu tahun dan lima tahun, dan di atas lima tahun.

Untuk proyek yang dibukukan tahun depan sebesar US$135 juta, 48% disumbang dari pendapatan jasa seismic, 32% dari jasa drilling, serta 20% dari oil field service.

"Kami juga tengah menghitung beberapa target proyek yang prospektif untuk dibidik oleh perseroan. Nilai proyek yang prospektif itu akan kami umumkan dalam waktu dekat ini," tuturnya.

Elnusa baru-baru ini memperoleh kontrak baru Beyond Petroleum Berau di Papua senilai US$43 juta. Eksekusi kontrak akan dilakukan pada November-Desember 2008, dari target semula Oktober.

Elnusa merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bergerak pada jasa pengeboran minyak dan gas. Perusahaan tersebut awal tahun ini mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia.

Perusahaan ini juga membidik kontrak pengeboran dari Pertamina untuk pengeboran minyak dan gas di beberapa blok migas dalam negeri.

Belanja modal (capital expenditure/capex) Elnusa tahun ini mencapai US$130 juta. Dari jumlah itu, 30% di antaranya berasal dari dana IPO, sedangkan untuk 70% si-sanya dianggarkan dari pinjaman perbankan.

Wah! Minyak Kian Gontai di US$ 54




(istimewa)

INILAH.COM, New York – Harga minyak mentah pada perdagangan Selasa (18/11) kian tak berdaya menghadapi kelesuan ekonomi global yang makin parah.

Ketidakpastian mengenai masa depan program talangan senilai US$ 25 miliar untuk industri otomotif AS membuat kecemasan pasar semakin parah, tak hanya di pasar minyak tapi juga di pasar modal.

Tekanan itu membuat harga minyak mentah jenis light sweet ditutup melorot 23 sen menjadi US$ 54,72 per barel, setelah sebelumnya sempat jatuh di US$ 54,13 per barel.

Sementara harga minyak jenis Brent di London merosot 23 sen menjadi US$ 52,08 per barel.

"Harga minyak mentah merosot bersamaan dengan Wall Street. ... Fundamental pasar sangat goyah," kata Andy Lebow, broker di MF Global.

Kejatuhan harga minyak ini membuat OPEC harus segera melakukan pertemuan darurat untuk membahas kemungkinan pemangkasan produksi lagi dari yang disepakati September lalu sekitar 1,5 juta barel per hari.

BILA Q-TEL KUASAI 65% SAHAM INDOSAT, StarOne dan SLJJ Harus Dilepas


JAKARTA, Investor Daily
Pemerintah tetap mengharuskan lisensi jaringan tetap dipisahkan dari Indosat, bila Qatar Telecom (Q-Tel) tetap ingin mengakuisisi 65% saham Indosat. Lisensi jaringan tetap itu tidak termasuk Sambungan Langsung Internasional (SLI).






Demikian ditegaskan Dirjen Postel Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar kepada Investor Daily dalam perbincangan di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, akhir pekan lalu.

“Mereka (Indosat) sudah pernah datang ke saya dan menanyakan masalah itu. Tapi, mereka masih ingin bicara juga dengan Pak Menteri (Menkominfo Muhammad Nuh, red). Ya, tidak apa-apa dan itu baik juga sih,” kata Basuki.

Menurut Basuki, pemerintah bisa memahami kesulitan Indosat dalam melaksanakan pemisahan fixed dan seluler karena perusahaan itu dua layanan itu telah benar-benar menyatu. Namun, pemisahan itu bukan kehendak pemerintah, tetapi amanat undang-undang (UU). Bahwa perusahaan asing hanya boleh memiliki saham perusahaan berlisensi jaringan tetap maksimal 49% dan untuk seluler maksimal 65%.

“Jadi, tinggal pilih saja. Kalau mau 65%, pisahkan fixed-nya. Tapi kalau ingin menguasai Indosat secara utuh, ya ambil sampai 49% saja,” kata Basuki. Jaringan tetap Indosat yang harus dipisahkan itu, kata Basuki, tidak termasuk SLI. Jaringan tetap yang harus dipisahkan itu meliputi fixed line, StarOne (FWA), dan Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ).

Direktur Marketing Indosat Guntur S Siboro mengatakan, berkaitan dengan rencana Q-Tel mengakuisisi 65% saham Indosat, manajemen Indosat menanti petunjuk pelaksanaan (juklak) tentang pemisahan lisensi jaringan tetap itu.

Persoalan lain adalah sebagai operator telekomunikasi satu-satunya di Indonesia yang memberikan layanan lengkap mulai dari layanan SLI, SLJJ, fixed line, FWA, seluler, satelit, dan internet pita lebar (broadband). Seluruh layanan itu telah menyatu, mulai dari jaringan infrastruktur, operasional, billing system dan karyawan telah menyatu. Oleh karena itu, pemisahan itu akan membawa konsekuensi, baik cost maupun tenaga. (Investor Daily, Rabu, 12 November 2008).

Menurut Basuki, pemerintah memberikan waktu dua tahun untuk proses pemisahan itu. Pemisahannya pun bisa dilakukan dengan membentuk perusahaan baru. Perusahaan baru itu bisa saja dijual kepada pihak lain atau dijadikan anak usaha Indosat dan bisa dikonsolidasikan.

“Hanya saja, kalau Indosat ingin menguasai anak usaha yang khusus lisensi jaringan tetap itu tetap harus mengikuti aturan perundang-undangan. Yakni, Q-Tel tetap hanya bisa menguasai maksimal 49% saham anak usaha baru itu. Tapi, meski 49% kan laporan keuangan anak usaha baru itu tetap bisa dikonsolidasikan ke Indosat,” kata Basuki.



Tender USO

Sedangkan mengenai keikutsertaan Indosat dalam tender pembangunan jaringan telepon perdesaan dalam rangka Universal Service Obligation (USO), Basuki belum bisa memberikan jawaban yang tegas. Dalam babak prakualifikasi tender USO itu, Indosat lolos babak prakualifikasi untuk blok II dan III.

Ketika ditanyakan bagaimana bila Indosat pada akhirnya memenangi tender USO itu dan Q-Tel juga akhirnya menguasai 65% saham Indosat, menurut Basuki, hingga saat ini, pemerintah masih mendasarkan penilaiannya pada kondisi Indosat saat ini. Yakni, pada saat pendaftaran, Q-Tel belum menguasai 65% saham Indosat. “Jadi, boleh saja. Tapi, kalau nanti Q-Tel menguasai 65% dan Indosat menang tender USO, itu kita lihat nanti,” kata Basuki.

Sementara itu, Dirut PT Excelcomindo Pratama Hasnul Suhaimi mengatakan, pihaknya tidak mengikuti tender USO bukan karena operator XL itu tidak peduli dengan pembangunan telepon perdesaan. Operator seluler terbesar ketiga di Indonesia itu sangat concern dengan pembangunan telepon hingga ke daerah-daerah terpencil, seperti yang dilakukan di Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.

“Sebenarnya kami ingin ikut. Kami juga punya dana untuk itu. Namun, kami tidak bisa ikut tender USO karena faktor PT Excelcomindo Pratama dimiliki investor asing hingga di atas 49%. USO kan fixed line, jadi UU tidak membolehkan kami membangun fixed line,” kata Hasnul.

IHSG Tertekan Sentimen Bakrie dan Global


Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan yang cukup dalam yang terseret pelemahan bursa regional. Jatuhnya saham-saham kelompok Bakrie juga menambah panjang sentimen negatif di lantai bursa. Harga enam saham grup Bakrie semuanya rontok.

Pada penutupan perdagangan saham, Selasa (18/11/2008) IHSG anjlok 47,071 poin (3,81%) menjadi 1.189,862. Pada sesi I IHSG turun 66,486 poin (5,38%) menjadi 1.170,447.

Indeks LQ-45 turun 12,520 poin (5,24%) menjadi 226,499 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 7,012 poin (3,68%) menjadi 183,352.

IHSG mengikuti pelemahan bursa saham Asia seperti Hang Seng turun 4,54%, KOSPI turun 3,91%, Nikkei turun 2,28%, Shanghai turun 6,31%, STI Singapura turun 2,9% dan Taiwan turun 3,03%.

Perdagangan saham hari ini mencatat transaksi sebanyak 35.061 kali, dengan volume 1,615 miliar saham, senilai Rp 1,113 triliun. Sebanyak 17 saham naik, 136 saham turun dan 36 saham stagnan.

Saham-saham yang turun harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 350 menjadi Rp 5.550, Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 100 menjadi Rp 1.590, Astra Internasional (ASII) turun Rp 250 menjadi Rp 8.550, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 275 menjadi Rp 2.975, Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 100 menjadi Rp 2.625.

Sedangkan saham-saham grup Bakrie yang turun Bumi Resources (BUMI) turun Rp 100 menjadi Rp 950, Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) turun Rp 30 menjadi Rp 275, Bakrieland Development (ELTY) turun Rp 7 menjadi Rp 71, Bakrie Telecom (BTEL) turun Rp 3 menjadi Rp 55, Bakrie & Brothers (BNBR) turun Rp 14 menjadi Rp 131 dan Energi Mega Persada (ENRG) turun Rp 35 menjadi Rp 315.

Sementara saham-saham yang naik harganya antara lain, Indofood Sukses Makmur (INDF) naik Rp 20 menjadi Rp 940, Unilever Indonesia (UNVR) naik Rp 200 menjadi Rp 7.850 dan Bank Permata (BNLI) naik Rp 20 menjadi Rp 540.

BTEL Berencana Jual 543 Menara


JAKARTA. Perusahaan telekomunikasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) berencana menjual menara yang mereka miliki. Jumlah menara yang dijual berjumlah 543 dengan nilai transaksi yang diperkirakan mencapai Rp 380,22 miliar.

Dalam keterbukaan informasi yang mereka sampaikan hari ini, disebutkan ada dua jenis menara yang akan dijual. Pertama, mereka akan menjual 123 menara greenfield senilai Rp 115,62 miliar. Kedua, emiten bersandi BTEL itu juga akan menjual menara jenis rooftop sebanyak 420 menara yang akan dijual seharga Rp 264,6 miliar.

BTEL menargetkan dapat menyelesaikan penjualan menara ini paling lama pada akhir tahun 2008. Dengan adanya penjualan menara ini, hal itu akan berdampak pada menurunnya nilai buku bersih aktiva tetap BTEL sebesar Rp 185,56 miliar. Namun, sebaliknya, return on asset (ROA) BTEL akan meningkat di masa datang. Selain itu, aksi korporasi itu nantinya akan menurunkan jumlah biaya sewa tanah, biaya perbaikan, pemeliharaan dan tenaga kerja mereka.

BTEL juga menjelaskan, kalau jumlah aktiva akan bertambah menjadi Rp 8,11 triliun. Padahal sebelum transaksi jual beli menara ini, nilai aktivanya hanya Rp 7,98 triliun. Selain itu, penjualan menara juga akan berpengaruh pada pendapatan lain-lain yang diperkirakan meningkat sebesar Rp 124 miliar dari sebelumnya Rp 65 miliar.

XL raih dua penghargaan dari MarkPlus


JAKARTA (Bisnis.com): PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) meraih penghargaan dari MarckPlus Inc untuk dua Award, yaitu Indonesia Busines Award (IndoBSA) kategori Branded Service Champion dan MarkPlus New Wave Marketing Award untuk program marketing XLent Heroes.

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengatakan bahwa penghargaan tersebut yang sangat berarti buat kami, yang akan memicu kami untuk lebih baik lagi dalam memberikan layanan pelanggan dan lebih kreatif dalam mengembangkan program-program marketing bagi pelanggan khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

IndoBSA merupakan penganugerahan MarkPlus Inc kepada 24 perusahaan dari berbagai macam industri yang telah berhasil memberikan pelayanan yang berkualitas dan unik kepada para pelanggannya.

Sementara Markplus New Wave Marketing Award merupakan penganugerahan kepada perusahaan yang dianggap berhasil menggelar konsep New Wave Marketing, suatu model marketing praktis yang merangkul pelanggan secara horisontal, vertikal, dan komunitas.

Konsep marketing baru yang diperkenalkan MarkPlus ini di dalamnya terdapat tiga faktor yaitu mobile, eksperimental, dan sosial.

Tiga unsur tersebut tercermin di program XLent Heroes sehingga layak mendapatkan anugrah New Wave Marketing Award di bulan November 2008.

XLent Heroes merupakan program komunitas XL yang membidik pelajar SMA di seluruh Indonesia dan digelar sejalan dengan program corporate social responsibility XL yaitu Indonesia Berprestasi.

Bentuk hadiah untuk sekolah adalah berupa fasilitas pendukung aktivitas belajar mengajar maupun esktra kurikuler seperti peralatan olah raga lengkap, peralatan band lengkap, laboraturium komputer atau fasilitas pendukung lainnya yang dapat dipilih sesuai dengan keinginan siswa dari masing-masing sekolah.

”Yang menarik dari ajang ini adalah tidak sekadar ajang talent search, tapi ada yang diberikan XL untuk komunitas sekolah tetap mengingat XL dan menciptakan ikatan yang bersifat emosional. Hadiah yang diberikan tidak untuk perseorangan tapi juga untuk sekolah,” ujar Hermawan Kartajaya usai memberikan penghargaan New Wave Marketing Award kepada XL kemarin malam.

Dengan diraihnya penghargaan Branded Service Award dan New Wave Marelting Award ini, sejak awal 2008 XL telah meraih tidak kurang dari 24 penghargaan yang diberikan oleh berbagai kalangan dan untuk berbagai kategori. Penghargaan yang terakhir diterima XL adalah 2008 Frost and Sullivan Indonesia Telecoms Awards untuk kategori Mobile Service Provider of the Year dan Market Challenger of the Year.

Utang default BNBR capai US$118,7 juta


JAKARTA (bisnis.com): PT Bakrie & Brothers Tbk menyatakan 3 dari 10 utang repo saham anak usahanya telah gagal bayar senilai US$118,7 juta dan Rp144,9 miliar.

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Yuanita Rohali mengatakan utang kepada Oddickson Finance telah gagal bayar senilai US$118,7 juta. Utang repo saham kepada Recapital Securities senilai Rp134,9 miliar juga default. Begitu pula utang kepada Aldira Rp10 miliar.

Namun dia tidak menyebutkan dampak dari gagal bayar itu. "Tidak semua default utang yang gagal bayar terkena force sell. Nilai jaminan untuk utang berupa repo saham anak usaha mempunyai level jaminan 1,5-3 kali nilai utang," ujarnya hari ini.

Dia berbicara dalam paparan publik untuk menjelaskan proses divestasi terhadap PT Bumi Resources dan PT Energi Mega Persada, dua anak usahanya yang bergerak di sektor energi.

Yuanita mengungkapkan perseroan telah menambah nilai jaminan terhadap sejumlah utang. Tapi dia menolak untuk merinci utang yang mengalami penambahan jaminan itu.

Sementara itu, Dirut Bakrie & Brothers Nalinkant Rathod mengatakan proses penjualan 35% saham Bumi kepada Northstar Pacific Partner Ltd diharapkan dapat diselesaikan pada 28 November.

Bakrie akan menjual 35% saham Bumi senilai US$1,3 miliar. Nilai itu, menurut manajemen, dapat berubah menyusul penurunan harga saham Bumi di pasar. Namun manajemen tidak mau menyebutkan penurunan nilai jual itu.

Sampai sekarang saham Bakrie dan Energi Mega masih disuspensi BEI. Otoritas bursa menyatakan akan mencabut suspensi itu jika paparan publik ayang digelar sore ini dinilai cukup menjelaskan kesimpangsiuran seputar rencana rasionalisasi portofolio aset yang dilakukan Bakrie & Brothers.

Bakrie Belum Pernah Terima Tawaran San Miguel


Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) membantah kabar yang menyatakan bahwa perseroan akan membuang tawaran Northstar Pacific Partners Ltd dan menerima tawaran San Miguel.

"San Miguel belum kasih tawaran ke kami," ujar Presiden Direktur BNBR, Nalinkant A Rathod dalam paparan di Wisma Bakrie 2, Jl Rasuna Said, Jakarta, Senin (17/11/2008).

Sebelumnya beredar kabar bahwa San Miguel memberikan penawaran senilai US$ 2 miliar atas 51% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Kabar tersebut mengatakan, manajemen BNBR bakal mementahkan tawaran Northstar yang hanya sebesar US$ 1,3 miliar.

"Kalau memang dia (San Miguel) tawar segitu, nggak mungkin kita nolak," ujar Nalinkant.

Mengenai due dilligence dengan Northstar Pacific, Nalinkant mengatakan prosesnya masih berlangsung dan hingga saat ini belum ada perubahan nilai tawaran akibat penurunan tajam saham BUMI sejak dibuka suspensinya 6 November lalu.

"Kami belum menerima renegosiasi nilai tawaran dari Northstar akibat penurunan harga saham BUMI karena Northstar memang berencana membeli bukan dengan mengacu pada harga pasar BUMI melainkan pada value fundamental perusahaan," jelas Nalinkant.

BNBR Siap Beli BUMI di Pasar Untuk Penuhi Penjualan ke Northstar


Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) bakal membeli saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di pasar jika terdapat kekurangan dalam memenuhi jumlah yang akan dijual ke Northstar Pacific Partners Ltd sebanyak 35%.

"Kalau memang ternyata sahamnya kurang, kami bisa membeli dari pasar," ujar Presiden Direktur BNBR, Nalinkant A Rathod dalam paparan di Wisma Bakrie 2, Jl Rasuna Said, Jakarta, Senin (17/11/2008).

Pada 31 Oktober 2008, BNBR telah menandatangani kesepakatan jual beli dengan Northstar atas 35% saham BUMI senilai US$ 1,3 miliar. Masalahnya, sebanyak 5.126.427.858 (26,42%) saham BUMI yang dimiliki BNBR sedang digadaikan ke sejumlah institusi.

Artinya, kepemilikan BNBR di BUMI saat ini hanya ada sebanyak 1.664.972.142 (8,58%). Dalam klausul kesepakatan, Northstar meminta BNBR agar mengamankan saham-sahamnya yang beredar di kreditur-krediturnya baru transaksi senilai US$ 1,3 miliar dapat dilakukan.

Masalahnya, 2 dari 10 pinjaman tersebut telah gagal (default) lantaran harga saham yang dijadikan jaminan telah anjlok tajam hingga berada di bawah required collateral level. Default tersebut berpotensi kreditur melakukan jual paksa (forced sell) atas saham-saham jaminan tersebut.

Jika demikian, artinya syarat 35% saham yang diminta Northstar akan tidak dapat dipenuhi. Direktur Keuangan BNBR, Yuanita Rohali pun mengakui bahwa salah satu faktor yang dapat membahayakan kelangsungan transaksi dengan Northstar adalah forced sell.

"Forced sell adalah salah satu faktor yang dapat membahayakan transaksi ini," ujar Yuanita.

Namun ia memastikan hingga saat ini kreditur-kreditur tersebut belum ada yang melakukan forced atas saham-saham BUMI.

"Kami sudah bicara pada mereka. Sejauh ini belum ada yang mereka lepas di pasar. Jadi jumlah 35% diharapkan dapat dipenuhi," ujar Yuanita.

Dua pinjaman yang default tersebut adalah pinjaman kepada PT Recapital Securities dan PT Aldira. BNBR menggadaikan 116.667.000 saham UNSP dan 45.947.500 saham BUMI pada Recapital senilai Rp 189 miliar.

Pinjaman pada Recapital yang telah dibayarkan sebesar Rp 45 miliar, sedangkan yang default sebesar Rp 134,9 miliar.

Pada Aldira, BNBR menggadaikan 11.450.500 saham UNSP senilai Rp 10 miliar. Pinjaman ini default seluruhnya akibat penurunan saham UNSP hingga di bawah required collateral level 1,5 hingga 3 kali.


Bakrie Brothers Minta Doa Restu


Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) meminta doa restu pada publik agar transaksi penjualan 35% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada Northstar Pacific Partners Ltd berjalan lancar. Masa due dilligence berakhir pada 28 November 2008.

"Kami minta doa restu pada publik agar transaksi ini lancar. Semoga tidak terjadi halangan," pinta Corporate Secretary BNBR, R.A. Sri Dharmayanti dalam paparan publik di Wisma Bakrie 2, Jl Rasuna Said, Jakarta, Senin (17/11/2008).

Perseroan berharap proses due diligence dengan Northstar dapat berjalan lancar hingga berakhir 28 November 2008.

Saat ini, Northstar sedang melakukan due diligence (uji tuntas) atas rencana akuisisi 35% saham BUMI senilai US$ 1,3 miliar. Penandatangan kesepakatan telah dilakukan pada 31 Oktober lalu.

Dalam klausul perjanjian, Northstar meminta BNBR mengamankan saham-sahamnya di BUMI yang sebesar 35%. Saat ini sebagian besar saham BUMI milik BNBR sedang digadaikan pada sejumlah institusi.

Oleh karena itu, Northstar menegaskan bahwa nilai transaksi US$ 1,3 miliar berlaku jika BNBR berhasil memberikan 35% saham BUMI secara clear and clean, dalam arti bebas dari masalah gadai saham BNBR.

Jika BNBR tidak berhasil mengumpulkan kembali saham-sahamnya, Northstar mengatakan akan menegosiasikan ulang penawarannya.

Kendati demikian, Presiden Direktur BNBR Nalinkant A Rathod mengatakan hingga saat ini belum ada permintaan negosiasi ulang dari Northstar.

Namun bukan tidak mungkin BNBR tidak dapat mengamankan 35% sahamnya di BUMI. Sebab, 2 dari 10 pinjaman gadai saham BNBR telah mengalami kegagalan alias default akibat penurunan harga saham yang dijaminkan hingga di bawah required collateral level 1,5-3 kali.

Hal ini bisa memicu 2 kreditor tersebut melepas aset saham gadai yang default tersebut ke pasar. Kalau sudah begini, jumlah 35% dapat dipastikan tidak akan dapat dipenuhi oleh BNBR.

Menganggapi hal ini, Direktur Keuangan BNBR Yuanita Rohali mengatakan hingga saat ini belum ada aksi jual dari 2 kreditur yang default tersebut.

"Kami sudah berbicara dengan mereka. Hingga saat ini belum ada yang dilepas di pasar. Jadi 35% masih bisa aman," jelas Yuanita.

Namun seandainya itu terjadi pun, Nalinkant mengatakan perseroan bisa membeli saham BUMI secara langsung dari pasar untuk menutupi kekurangannya.

"Masih bisa beli di pasar jika kurang," ujar Nalinkant.

Akhir dari lika-liku gadai saham grup Bakrie masih belum dapat dipastikan. Segala kemungkinan masih dapat terjadi hingga 28 November mendatang. Oleh karena itu, manajemen perseroan meminta doa restu kepada publik agar proses transaksi dapat berjalan lancar tanpa halangan.


BNBR Sudah Prediksi Dampak Penjualan BUMI


JAKARTA - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sudah memprediksi dampak hasil penjualan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terhadap kinerja keuangannya nanti.

"Dampak penjualan saham BUMI oleh BNBR terhadap kinerja keuangan BUMI nantinya akan berdampak pada jumlah kewajiban akan menurun, biaya bunga menurun, aset menjadi kecil, neraca lebih stabil, pendapatan dari associate income menurun, rugi divestasi," ujar Direktur Keuangan BNBR Yuanita Rohali dalam paparan publik insidentil, di Wisma Bakrie 2, Kuningan, Jakarta, Senin (17/11/2008).

Menurut Presiden Direktur BNBR Nalinkant A Rathod, di tempat yang sama, saat disinggung mengenai jumlah total aset BNBR terhadap BUMI sehingga dampaknya menjadi lebih kecil, dia hanya menjawab hingga saat ini total kepemilikan mayoritas BNBR diserahkan kepada pemilikan yang akan mendapatkan 35 persen saham BUMI nantinya.

"Sebenarnya kepemilikan atas kami hanya sembilan persen di BUMI, sisanya sudah kami gadaikan kepada perusahaan lain. Jika ada pihak yang menanyakan, kami tinggal mencantumkan kalau sahamnya sedang digadaikan. Mengenai repo yang dilakukan oleh anggota grup yakni BUMI, bukan urusan kami," ujar Nalinkant.

Dia menambahkan, kewajiban manajemen BNBR hanya kepada 10 kreditor. "Kalau memang ini meluas itu dampaknya ke pasar, bukan sepenuhnya tanggung jawab perseroan. Tanyakan saja nanti kepada manajemen BUMI," tandasnya.

Sebagai informasi, selama periode April-Oktober 2008, perseroan setidaknya telah menggadaikan sejumlah saham anak usaha kepada 10 kreditur senilai USD1,386 miliar dan Rp560,81 miliar.

"Total nilai saham yang digadaikan mencapai USD1,3 miliar lebih dan sekira Rp560 miliar dalam bentuk rupiah," tegasnya.

BNBR Sudah Top Up Repo BUMI 1,5-3 Kali


JAKARTA - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) telah melakukan penambahan (top up) 1,5 sampai tiga kali ke sebagian besar pinjaman yang menjaminkan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ke pihak kreditur.

"Setidaknya, kami sudah menambah 1,5 sampai tiga kali," ujar Direktur Keuangan BNBR Yuanita Rohali, dalam paparan publik insidentil di Jakata, Senin (17/11/2008).

BNBR menjaminkan saham BUMI ke beberapa institusi, yakni Oddickson Finance, Recapital Securities, dan JP Morgan, serta beberapa institusi lain.

Ketika disinggung adanya kemungkinan BNBR tidak bisa menyediakan 35 persen saham ke Northstar Pacific disebabkan terjadinya force sell terhadap saham BUMI, Yuanita mengatakan, "Kita akan sediakan 35 persen. Kalau ternyata kurang atau lebih akan kita bicarakan dengan Northstar. Kalau kurang kita bisa membeli saham yang diperdagangkan di bursa," ujar Yuanita.

Northstar akan mengadakan verifikasi hingga 28 November. Setelah terjadinya MoU dengan Northstar, ada kemungkinan BNBR tidak bisa menyediakan 35 persen karena force sell yang menyebabkan fasilitas repo dalam transaksi. "Tapi BNBR berusaha keras untuk mensetujui transaksi ini," ujarnya.

Jika terjadi kesepakatan, soal perubahan pengurus akan ditentukan dalam RUPS Desember 2008 mendatang. Diagendakan, RUSP BNBR akan dilaksanakan 2 Desember 2008.

LSM Laporkan Rencana Pembelian Saham Bumi ke KPK


Jakarta (ANTARA News) - Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Senin, melaporkan rencana pembelian saham perusahaan tambang Bumi Resources oleh pemerintah kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Negara melalui Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berniat membeli sebagian saham Bumi Resources dengan menggunakan dana dari BUMN. Hal itu dilakukan untuk menjaga operasional Bumi Resources sebagai salah satu perusahaan unggul di bidang batubara.

Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Danang Widoyoko menegaskan, uang yang ada di BUMN pada dasarnya adalah uang negara. Penggunaan uang BUMN, termasuk untuk membeli sebagian saham Bumi Resources, berpotensi merugikan keuangan negara. "Kami meminta KPK untuk memperhatikan hal itu," kata Danang.

Sementara itu, Yanuar Rizki dari Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) menegaskan, rencana penggunaan dana BUMN itu adalah kebijakan yang irasional karena kondisi keuangan negara sedang tidak stabil. "Kondisi APBN kita sedang tidak kaya," katanya.

Yanuar memperkirakan, salah satu BUMN yang akan digunakan sebagai sumber dana untuk membeli sebagian saham Bumi Resources adalah PT Bukit Asam.

Menurut Yanuar, PT Bukit Asam akan kehilangan sekitar 70 persen saldo laba perusahaan jika pemerintah menggunakan dana Bukit Asam sebesar Rp1 triliun untuk membeli saham Bumi Resources. "Hal itu tentu akan berpengaruh pada setoran deviden Bukit Asam pada
APBN," kata Yanuar.

Yanuar juga khawatir, BUMN pembeli saham Bumi Resources nantinya wajib menanggung utang Bumi Resources, berupa utang royalti batubara dan utang operasional.

Dalam laporan kepada KPK tersebut juga dipermasalahkan tentang kemungkinan konflik kepentingan yang dialami Meneg BUMN Sofyan Djalil.

Menurut Danang Widoyoko dari ICW, Meneg BUMN tercatat sebagai pemegang saham di Bumi Resources. "Artinya semua kebijakan yang akan diimplementasikan oleh Meneg BUMN
akan terkait dengan posisinya sebagai pemegang saham," kata Danang.

Danang mendorong KPK untuk memantau kemungkinan konflik kepentingan dalam penanganan kasus Bumi Resources tersebut.

Dalam beberapa kesempatan, Meneg BUMN Sofyan Djalil sudah membantah bahwa tidak ada konflik kepentingan dalam menangani masalah tersebut.

BRI Targetkan Raih Dana Tabungan Rp6 T


JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) menargetkan menggaet dana tabungan sebesar Rp6 triliun dengan satu juga nasabah baru. Hal tersebut dilakukan dengan kembali meluncurkan program Untung Beliung Britama periode 2008-2009.

Demikian dikatakan oleh Kepala Divisi Dana dan Jasa BRI Susilo, saat media gathering di Menara Mulia, Jakarta, Minggu (16/11/2008).

Susilo menuturkan, sejak tahun 2007 BRI telah meluncurkan program Untung Beliung Britama yang menggarap pasar konsumer di perkotaan. "Mengingat besarnya pangsa bisnis konsumer yang ada dan sebagian besar dana berputar di perkotaan, maka program ini adalah langkah tepat dalam meningkatkan market share simpanan, terutama di kalangan menengah ke atas di daerah urban," jelas Susilo.

Pada program yang diluncurkan pada tahun 2007, perseroan berhasil meraup dana tabungan masyarakat sekira Rp4 triliun dengan jumlah nasabah baru 700 ribu. Sedangkan pada program untuk tahun 2008-2009 mampu menarik dana tabungan sebesar Rp6 triliun dengan nasabah baru satu juta serta meningkatkan pendapatan berbasis komisi (fee based income) sebesar 40 persen.

"Saat ini fee based income yang didapatkan BRI sekira Rp1,5 triliun dan tahun depan bisa bertambah menjadi Rp2 triliun. Sedangkan simpanan per September-Oktober terjadi kenaikan sebesar Rp2 triliun, terutama di atas Rp500 juta yang masuk ke deposito," paparnya.

Susilo menambahkan, perseroan optimistis mampu memenuhi target tersebut karena memiliki outlet yang tersebar di Indonesia. Saat ini sudah ada 3.360 real time online unit kerja dan memiliki kinerja yang positif sehingga mendapat perhatian bagi masyarakat.

Lebih lanjut, Susilo menjelaskan pada program undian berhadiah kali ini, BRI menuediakan tiga jenis hadiah yaitu regional prize yang setiap minggu diundi untuk 40 pemenang masing-masing Rp20 juta, reguler nasional prize setiap minggu diundi tujuh mobil all new nissan X Trail dan grand prize satu unit mobil range rover sport yang diundi pada akhir periode.

"Untuk regional prize dengan syarat penabung memiliki saldo minimal Rp1 juta pada akhir periode, reguler nasional prize Rp5 juta dan grand prize Rp50 juta," tandasnya.

Fasilitas produksi etanol Medco di Lampung selesai


JAKARTA: PT Medco Ethanol Indonesia, unit usaha PT Medco Energy Internasional Tbk., telah menyelesaikan pembangunan pabrik etanol senilai US$40 juta di Kotabumi, Lampung Utara.

Direktur Operasi Medco Lukman Mahfoedz mengatakan perseroan telah menuntaskan proyek pabrik berkapasitas 60.000 kiloliter per tahun tersebut telah memasuki tahap commissioning. Kini, tuturnya, pihaknya sedang dalam pembicaraan mengenai alokasi produk etanol yang akan diproduksi.

"Kami sedang bicara kepada siapa akan dijual. Soal kemungkinan Pertamina akan mendapatkan etanol dari sana, saya belum dapat laporan dari unit usaha," katanya, kepada Bisnis, kemarin.

Medco Ethanol Indonesia menggandeng PT Trada Bioenergy mendirikan perusahaan patungan bernama PT Medco Ethanol Lampung untuk membangun pabrik tersebut.

Komposisi saham dari dua perusahaan tersebut, 85% untuk Medco dan 15% untuk Trada. Etanol yang diproduksi dari pabrik tersebut berkualitas industri yang berbahan baku dari tepung singkong ataupun molase dari tetes tebu.

Tahap awal perencanaan, etanol yang diproduksi akan dijual ke pasar di Singapura dan Jepang. Namun, manajemen Medco menjanjikan bioetanol dalam bentuk gasohol bila pasar gasohol telah terbentuk di Indonesia.

Dirut Pertamina Ari Hernanto Soemarno menyatakan pihaknya menargetkan perseroan akan menyediaan biofuel, termasuk bioetanol untuk Jawa, Sumatra, dan Makassar, serta sebagian Kalimantan. Adapun pada 2010, biofuel diharapkan sudah dapat tersedia di seluruh Indonesia.

Untuk bisnis etanol, Medco juga melakukan rencana ekspansi ke Papua dengan menggandeng Dedini Brasil dengan nilai investasi mencapai US$2 miliar. Kerja sama antara dua perusahaan itu diharapkan bisa diteken pada November ketika kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Brasil.

MIRA Optimistis Raih Pertumbuhan Laba 180%


JAKARTA - Gejolak ekonomi yang terjadi saat ini, tidak akan mempengaruhi pertumbuhan laba PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA). Perusahaan jasa transportasi darat, yang kini beralih ke usaha pengeboran itu memperkirakan mampu meraih laba bersih sebesar Rp70 miliar, atau tumbuh 180 persen dari Rp25,49 miliar untuk periode yang sama tahun sebelumnya.

"Kami optimistis mampu meraih target laba tersebut. Karena kondisi keuangan MIRA aman dan tidak terpengaruh oleh krisis keuangan global," kata Direktur Utama MIRA, Beni Prananto, di Jakarta, Minggu (16/11/2008).

Menurut Beni, selama sembilan bulan pertama 2008, perseroan berhasil Selama sembilan bulan pertama 2008, Mitra Rajasa mencatat laba bersih Rp58,384 miliar (Rp21,11 per saham), melejit 3,468 persen dibanding periode sama tahun 2007 sebesar Rp1,636 miliar (Rp7 per saham).

Lonjakan laba perseroan ditunjang oleh pendapatan hingga kuartal III-2008 yang telah mencapai Rp453,179 miliar, atau meningkat 493 persen, dari Rp90,026 miliar periode yang sama tahun 2007.

Kontributor pendapatan hingga kuartal III-2008 tersebut berasal dari jasa pengeboran lepas pantai sebesar Rp129,413 miliar, jasa angkutan Rp104 miliar, serta jasa bongkar muat produksi minyak terapung (floating production storage and offloading) sebesar Rp93,562 miliar.

Lonjakan pendapatan perseroan seiring pengoperasian kapal produksi, penyimpanan, dan FPSO. Hingga September 2008, MIRA telah mendapatkan kontrak produksi minyak dan pengangkutan dari Santos sebesar Rp111,834 miliar dan Medco Energi Rp117,208 miliar.

Selain itu, perseroan optimistis tahun depan akan bisa meraih pertumbuhan hingga 20 persen. Pertumbuhan, terutama disebabkan masuknya pendapatan konsolidasi dari PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX), per 31 Desember 2008.

Menurut Beni, kontribusi APEX terhadap pendapatan maupun laba MIRA sekira 98 persen. Oleh sebab itu, Mitra Rajasa akan mendapatkan tambahan pendapatan yang cukup signifikan dari APEX. Untuk 2009, APEX diperkirakan mampu meraih pertumbuhan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA sebesar 20 persen, dengan pendapatan lebih dari USD220 juta.

Estimasi tersebut didapat dari kontrak yang telah diamankan perseroan hingga 2010. Saat ini, Apex tengah melakukan negosiasi perpanjangan kontrak dengan PT Total EP Indonesie untuk penyewaan rig Raisis dan Yani. Kedua rig itu akan jatuh tempo pada akhir 2008.

Perseroan juga menegosiasikan penambahan biaya harian (daily fee) sebesar 20 persen. "Untuk kontrak yang lainnya sudah kami amankan hingga 2010," ujar Wakil Presiden Direktur APEX Tito Sulistio.

Perpanjangan kontrak untuk rig Yani akan dilakukan selama 2+1 yakni, waktu pemakaian rig dua tahun ditambah opsi penambahan satu tahun. Sedangkan perpanjangan rig Raisis 1+1, yakni satu tahun masa pemakaian dan satu tahun masa opsi.

Sementara hasil penawaran umum terbatas atau right issue, dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) yang dilakukan MIRA, sebesar Rp470,4 miliar telah digunakan untuk ekspansi usaha.

Dari total dana tersebut, sebesar Rp 391,5 miliar untuk membeli 4,45 juta saham pada harga Rp87,879 per lembar, seiring penyertaan 99 persen pada Sabre System International Pte Ltd.

Perseroan juga mengalokasikan sebanyak Rp8,5 miliar untuk membeli 1.200 saham pada harga Rp7,08 juta per lembar sebagai penyertaan sebesar 100 persen pada PT Pulau Kencana Raya. Sedangkan sebanyak Rp20,4 miliar untuk pembayaran uang muka pembelian 250 unit truk, dan Rp50 miliar sebagai setoran awal pembelian saham APEX.

BUMI turun tipis, IHSG naik 0,37%


JAKARTA (Bisnis.com): Indeks harga saham gabungan (IHSG) sore ini ditutup naik 0,37% menjadi 1.264,38 meski saham perkebunan, tambang dan aneka industri terkoreksi.� Sebaliknya, rupiah masih terus terdepresiasi terhadap dolar AS.

Kenaikan indeks kali ini dipicu melonjaknya saham Gudang Garam (GGRM) yang menanjak 15,11% menjadi R4.950, bersama Tambang Batubara (PTBA) naik 7,68% menjadi Rp6.300, Indo tambang (ITMG) naik 3,59% menjadi Rp8.650, Bank Central Asia (BBCA) naik 6,42% menjadi Rp2.900, United Tractors (UNTR) naik 4,02% menjadi Rp3.875 dan Telkom (TLKM) naik 1,75% menjadi Rp5.800.

Saham Bumi Resources (BUMI) hanya terkoreksi 1,69% menjadi Rp1.160, bahkan tadi siang sempat tidak bergerak dan berhenti di level Rp1.180.

BUMI berniat buyback saham sebanyak 3,3 miliar saham (17%) senilai Rp8,25 triliun atau Rp2.500 per saham selama tiga bulan. Perseroan juga berencana menerbitkan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) mencapai Rp6 triliun, bertenor 1-2 tahun dengan bunga 25% per tahun yang berdenominasi rupiah dan 20% per tahun berdenominasi dolar AS dalam waktu dekat ini.

Indeks saham di bursa Asia juga mayoritas menguat. Nikkei +2,72%, Strait Times +0,04%, Hang Seng +2,43%, KLCI +0,22%, Kospi -0,02%, ZSE Selandia Baru +1,39%, Shanghai +3,05%, dan S&P ASX200 Australia +1,37%.

Pagi tadi bursa Dow Jones New York ditutup menguat tajam 6,67% (552,59 poin) akibat mulai masuknya likuiditas ke dalam bursa dimana investor saat ini sudah menganggap bahwa indeks sudah mendiskon berita-berita yang beredar sehingga kondisi saat ini sudah priced in.

Head of Research Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing mengatakan selain harga saham sudah diskon habis-habisan, investor juga mengantisipasi berita baik yang diperkirakan akan muncul dari hasil pertemuan negara G-20 mengenai usaha mengatasi krisis finansial global saat ini, serta kembali reboundnya harga minyak terkait spekulasi OPEC akan kembali memangkas produksinya.

Penguatan Nikkei Jepang juga akibat terpengaruh rally bursa Amerika serta melemahnya kembali kurs Yen terhadap beberapa mata uang utama dunia sehingga memberikan angin segar untuk saham-saham dengan basis ekspor. Dengan sentimen dari luar ini, kata Pardomuan, IHSG bergerak menguat.

Kebalikan dari IHSG, rupiah masih terdepresiasi terhadap dolar AS yakni turun 125 poin menjadi Rp11.625. Minyak mentah sore ini juga turun US$0,86 menjadi US$57,38 per barel untuk kontrak Desember di bursa New York Mercantile Exchange.

PTBA Tak Pernah Ajukan Penawaran, Ical: Northstar Tidak Mundur


JAKARTA, Investor Daily

Northstar Pacific Patners tidak akan mundur dari pembelian 35% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Perusahaan investasi itu juga tidak mengajukan negosiasi ulang, meskipun harga BUMI telah jatuh 38,61% di bawah harga penawarannya.



Pendiri Bumi Resources Aburizal Bakrie menegaskan hal tersebut pada acara pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan pengusaha dan perbankan di Gedung Utama Sekretariat Negara kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (12/11).



“Tidak ada negosiasi harga dengan Northstar dan tetap membeli saham Bumi Resources,” tandas Aburizal Bakrie atau akrab disapa Ical.



Pada 31 Oktober 2008, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebagai induk perusahaan keluarga Bakrie menandatangani jual beli 35% saham Bumi Resources dengan Northstar senilai US$ 1,3 miliar.



Bila mengacu pada nilai tukar dolar AS terhadap rupiah saat itu, Bakrie & Brothers melepas saham seharga Rp 2.134 per unit, lebih rendah dibandingkan harga penutupan BUMI Rp 2.175 pada 7 Oktober lalu.



Sejak suspensi perdagangan saham BUMI dicabut pada 7 November 2008, harganya terus terpuruk dari Rp 2.175 menjadi Rp 1.310 per unit sampai kemarin. Artinya, harga telah anjlok 39,77%. Harga tertinggi penghasil batubara terbesar di Indonesia itu pernah menyentuh Rp 8.550 pada 12 Juni lalu atau melemah 84,67%.



Bumi Resources selama ini mengontribusi sekitar 6% terhadap nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI).



Sejumlah pengamat pasar modal berpendapat, kejatuhan harga saham dipicu besarnya tekanan jual investor setiap hari akibat terkena margin call dan belum jelasnya penyelesaian gadai saham (repurcase agreement (repo). Nilai repo diperkirakan mencapai Rp 6,3 triliun.



Aburizal yang juga menko kesra itu mengatakan, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) belum pernah mengajukan penawaran resmi untuk membeli saham Bumi. “Jadi, buat apa Bukit Asam menyatakan mundur,” jelas dia.



Hal senada dilontarkan salah satu konsultan keuangan Bakrie & Brothers bahwa pihaknya belum pernah menerima tawaran resmi dari BUMN pertambangan itu. Dia menengarai, rencana Bukit Asam bergabung dengan konsorsium Northstar berasal dari pejabat pemerintah, bukan inisiatif jajaran direksi Bukit Asam.



“Buktinya, belum apa-apa, kami mendengar Bukit Asam telah menyatakan mundur seiring anjloknya harga saham,” ungkap dia.



Menurut eksekutif itu, baik pengusaha nasional maupun BUMN, kemungkinan besar tidak ada yang bergabung dengan konsorsium Northstar di tengah krisis finansial global saat ini.



Walaupun demikian, kata dia, saham BUMI siap dilepas minimal seharga Rp 2.000, karena hasilnya dipakai melunasi seluruh kewajiban dan gadai saham. Bertindak sebagai konsultan adalah UBS Securities Indonesia dan Danatama Makmur.



Sebelumnya, Menneg BUMN Sofyan Djalil mengungkapkan, Bukit Asam kemungkinan besar mundur dari pembelian saham Bumi Resources. Sofyan juga memiliki saham BUMI dan berpotensi merugi miliaran rupiah.



Dihubungi terpisah, Presdir Tambang Batubara Bukit Asam Sukrisno mengakui, perseroan belum pernah mengajukan surat resmi kepada Bakrie dan menneg BUMN. “Kalau berbicara lisan pernah dengan Pak Sofyan Djalil, tapi tidak melalui surat resmi. Saat itu, beliau hanya memberikan saran agar prosesnya dilakukan sebaik mungkin, sehingga tidak sampai merugikan perseroan,” ujar dia kepada Investor Daily.



Menurut dia, proses jual beli saham tidak harus melalui izin pemerintah. Sebab, Bukit Asam sudah menjadi perusahaan terbuka. Dengan demikian, jajaran direksi bertanggung jawab kepada pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham (RUPS).



Kendati belum mengajukan resmi, tegas Sukrisno, perseroan tetap berminat membeli saham BUMI dan belum pernah menyatakan mundur. Pasalnya, Bukit Asam belum menerima hasil uji tuntas dari konsultan. “Jadi, semuanya tergantung pada hasil uji tuntas. Pastinya, karena kami adalah perusahaan terbuka, setiap keputusan harus clear, clean, dan transparan serta menguntungkan pemegang saham,” kata dia.



Sukrisno membantah jika manajemen telah menyiapkan dana senilai US$ 100 juta guna membeli saham BUMI.



Berpotensi Menguat



Sementara itu, pengamat pasar modal Felix Sindhunata menilai, masuknya Northstar tidak bakal memengaruhi pergerakan harga saham. Sebab, Bumi merupakan saham sejuta umat. “Siapapun pembeli Bumi, tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Selain merupakan industri strategis, fundamental cukup bagus,” ujar dia.



Felix optimistis, harga sahamnya masih berpotensi menguat ke level normal dalam jangka panjang seiring tingginya permintaan batubara di pasar internasional. Anjloknya harga akhir-akhir ini lebih dipicu kesimpangsiuran isu yang beredar.



Pendapat senada dilontarkan pengamat pasar modal Edwin Sinaga. Dia mengatakan, kehadiran Northstar tidak akan berdampak besar atas pergerakan harga sahamnya.



Menurut dia, batalnya Bukit Asam membeli saham Bumi juga merupakan keputusan bisnis yang tepat. “Buat apa perseroan bergabung dengan konsorsium Northstar guna membeli sahamnya. Lebih baik mereka menjadi investor ritel, karena harganya murah,” ujar dia.



San Miguel



Mengenai niat San Miguel Corp dari Filipina, Aburizal Bakrie menegaskan, pihaknya tidak pernah menerima penawaran resmi sampai sekarang. Padahal, manajemen perusahaan makanan dan minuman terbesar di Asia Tenggara tersebut mengungkapkan niatnya untuk mengambil alih 51% saham BUMI.



San Miguel bersedia menawarkan opsi pembelian kembali (buyback) saham Bumi Resources kepada Bakrie dalam tempo lima tahun. Hal tersebut dilakukan guna menyaingi penawaran Northstar yang tidak mengajukan opsi buyback. Harga penawaran dikabarkan mencapai Rp 2.100 per lembar.



Dalam pernyataan tertulisnya kepada otoritas bursa Filipina akhir pekan lalu, San Miguel menjelaskan, perseroan memiliki dana kas US$ 4 triliun, setelah menjual sejumlah perusahaan makanan dan minuman di Australia dan Singapura belum lama ini. Dana tersebut digunakan untuk memasuki bisnis properti, pertambangan, dan listrik di kawasan ini.



Selain San Miguel, Tata Group dari India dan beberapa pengusaha nasional, antara lain Tommy Winata dan Grup Djarum sebelumnya berniat membeli saham BUMI. Tapi, Northstar dianggap paling siap dari segi pendanaan.

Northstar merupakan perpanjangan tangan Texas Pacific Group (TPG) dari Amerika Serikat, salah satu lembaga investasi terkemuka di negara itu. Di Indonesia, TPG bermitra dengan Patric Walujo, mantan bankir Goldman Sachs. Dana kelolaan TPG kini mencapai US$ 50 miliar.



Sementara itu, pekan ini Bumi Resources mendapat utang baru dari Credit Suisse Singapura senilai US$ 75 juta. Pinjaman ini berjangka waktu 32 bulan.



Di samping itu, perseroan berkomitmen memberikan pinjaman US$ 30 juta lewat fasilitas standby loan kepada Herald Resources Ltd dari Australia. Pinjaman itu merupakan bagian dari komitmen sebesar US$ 160 juta dan dapat ditarik US$ 5 juta per bulan tanpa dikenai bunga.



Bumi saat ini menguasai 84% saham Herald, setelah mengalahkan konsorsium PT Aneka Tambang Tbk belum lama ini lewat anak usahanya, Calipso Investment Ltd.

BUMI Targetkan Buy Back USD824 Juta


JAKARTA - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menargetkan pembelian kembali saham (buy back) dari pemegang sahamnya dalam jumlah sebanyak-banyaknya 3,298 miliar saham, atau tidak lebih dari 17 persen dari seluruh jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh.

"Sehubungan dengan hal tersebut, perseroan akan menyisihkan dana yang diperlukan untuk pembelian kembali sebesar Rp8,246 triliun atau setara dengan USD824,670 juta yang berasal dari pinjaman dan internal kas perseroan," ujar Direktur BUMI Eddie J Soebari, dalam laporannya di keterbukaan informasi BEI, Jakarta, Kamis (13/11/2008).

Perseroan menargetkan untuk melakukan pembelian kembali pada harga rata-rata Rp2.500 per lembar saham. Perusahaan yang belakangan menjadi kontroversi ini pun menunjuk PT Recapital Securities sebagai pedagang perantara efek dalam program buy back ini.

"Pembelian kembali saham akan dilakukan dalam kurun tiga bulan, terhitung sejak satu hari setelah disampaikannya keterbukaan informasi ini kepada Bapepam-LK dan PT Bursa Efek Indonesia," katanya.

Dalam hal ini, perseroan memutuskan untuk menjual kembali saham-saham yang telah diperoleh kembali dengan harga yang lebih baik, maka perseroan akan menikmati keuntungan kas.

"Berdasarkan rata-rata estimasi target harga yang diterbitkan analis dari beberapa lembaga riset, baik asing maupun domestik, harga saham perseroan mempunyai potensi peningkatan (apresiasi) sebesar 127,8 persen dari rata-rata harga pembelian kembali saham," tutupnya.

Harga emas diperkirakan melonjak


SINGAPURA: Harga emas diproyeksikan menembus level US$1.000 per ounce pada 2011 akibat turunnya produksi tambang dunia, naiknya biaya penambangan, dan meningkatnya permintaan.

"Produksi tambang dunia sebenarnya mencapai puncak pada 2001 dan sejak itu pun penurunan sudah berlangsung," kata Hussein Allidina, analis komoditas Morgan Stanley, kemarin.

Harga emas naik hampir dua kali lipat dalam enam tahun terakhir dan akhirnya sempat mencapai rekor US$1.032 per ounce pada 17 Maret.

Kenaikan harga logam mulia itu dipicu pelemahan dolar AS terhadap euro dan peningkatan minyak mentah. Hal itu mendorong emas dijadikan alternatif investasi.

Pada perdagangan kemarin, harga emas untuk pengiriman segera diperdagangkan pada US$714,45 per ounce.

Investasi Antam & BHP di Buli batal


JAKARTA: PT Aneka Tambang Tbk. dan BHP Billiton membatalkan rencana kerja sama pengembangan nikel senilai US$4,5 miliar di Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara, karena kurang� prospektif selain terlambatnya persetujuan kontrak karya (KK).

Corporate Secretary Antam Bimo Budi Satriyo mengatakan pembatalan proyek dilakukan karena dua alasan, yaitu masalah keekonomian proyek dan juga kejelasan masalah kontrak dan kebijakan.

Menurut dia, hasil kajian yang dilakukan BHP Billiton yang diterima perseroan menyebutkan proyek tersebut tidak layak dilanjutkan karena kurang prospek.

"Hasil kajian mereka memang menyebutkan bahwa proyek itu dianggap tidak prospek. Kadar nikel di Halmahera, Maluku Utara tergolong rendah sehingga butuh investasi proyek yang besar. Padahal, harga nikel saat ini sedang jatuh," katanya kepada Bisnis kemarin.

Menurut Bimo, perjanjian joint venture agreement antara Antam dan BHP menyebutkan persyaratan bahwa kerja sama bisa dilanjutkan asalkan pada 31 Oktober kontrak karya sudah disetujui. "Ternyata kontrak karya memang belum ada. Itu juga menjadi penyebab utama apalagi UU Minerba [mineral dan batu bara] sampai sekarang belum turun. Asing agak menahan diri juga."

Dirjen Mineral, Batu Bara, dan Panas Bumi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Bambang Setiawan mengatakan pembatalan proyek tersebut lebih disebabkan oleh kondisi pasar finansial yang buruk, sekalipun memang dalam perjanjian diantara kedua perusahaan disebutkan persetujuan kontrak karya sebagai prasyarat kerja sama.

Komitmen Rio Tinto

Kendati harga nikel di dunia tengah melemah, PT Rio Tinto Indonesia tetap berkomitmen melakukan pengembangan nikel di Lasamphala di Sulawesi Tenggara dan Tengah.

Menurut Presdir Rio Tinto Indonesia Omar S. Anwar, persero tetap tetap berkomitmen melakukan penambangan nikel di Lasamphala.

Bahkan, nilai investasi yang akan ditanamkan pada proyek tersebut juga tidak berubah, yakni tetap sebesar US$ 2 miliar atau sekitar Rp 20 triliun. "Rio Tinto tetap berkomitmen mewujudkan penambangan nikel di Lasamphala. Nilai investasinya juga tidak berubah," tegas Omar.

Bumi jajaki emisi MTN hingga Rp6 triliun


JAKARTA: PT Bumi Resources Tbk menjajaki penerbitan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) hingga Rp6 triliun dalam waktu dekat.

Satu eksekutif yang mengetahui informasi tersebut mengatakan hasil dari penjualan surat utang itu akan digunakan oleh Bumi untuk membiayai modal kerja dan belanja modal.

"Bumi dibantu oleh PT Samuel Internasional sebagai pengatur penerbitan MTN tersebut. Pengatur mengi- rimkan informasi seputar rencana penerbitan surat utang itu kepada beberapa calon investor institusi melalui surat elektronik," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Menurut dia, PT Samuel Sekuritas Indonesia bertindak sebagai agen pembayaran dalam transaksi tersebut. Goldman Sachs kemungkinan besar terlibat dalam transaksi itu.

Surat utang itu, katanya, yang bertenor 1 tahun atau 2 tahun, menawarkan bunga 25% per tahun untuk yang berdenominasi rupiah dan 20% per tahun untuk MTN yang bermata uang dolar AS.

Untuk menarik calon investor, katanya, MTN itu dijamin dengan saham Bumi sebesar 100% dari nilai penerbitan surat utang. "Calon pembeli MTN juga ditawari insentif 10% dari harga penutupan Bumi menjelang jatuh tempo," tuturnya.

Pada akhir Juni tahun ini, total utang lancar Bumi mencapai US$1,04 miliar, sedangkan aset lancarnya US$1,57 miliar.

Hingga berita ini diturunkan, SVP Investor Relations Bumi Dileep Srivastava tidak bisa dikonfirmasi.

Presiden Komisaris Bumi Suryo Bambang Sulisto mengatakan belum mendengar rencana penerbitan MTN tersebut. "Mungkin juga pembahasannya belum final, sehingga belum dilaporkan ke komisaris," katanya.

Managing Partner Samuel Sekuritas Miming Satyono mengaku sedang rapat ketika dikonfirmasi seputar MTN tersebut.

Samuel International tidak asing lagi dalam urusan pencarian dana dengan Bumi. Pada 22 Januari dan 9 Maret 2007, Samuel International menandatangani perjanjian surat sanggup senilai total Rp179,67 miliar dengan Bumi.Pinjaman itu dimanfaatkan oleh perusahaan tambang batu bara yang terafiliasi dengan Menko Perekonomian Aburizal Bakrie untuk membeli 20,40 juta saham perusahaan Australia Westside Corporation Ltd dalam penawaran umum perdana. Namun, utang itu dilunasi seluruhnya pada 5 Juli 2007.

Keraguan pembeli

Eksekutif itu menambahkan de-ngan rencana penerbitan MTN itu bisa menimbulkan keraguan dari calon pembeli terhadap niat Grup Bakrie menjual Bumi.

"Apakah benar Bakrie ingin menjual Bumi? Di satu sisi Northstar dan San Miguel sedang bernegosiasi de-ngan Bakrie, di sisi lain Bumi justru menjajaki penerbitan MTN.

Norico Gaman, Kepala Riset BNI Securities, mengatakan struktur MTN itu sangat menarik, terutama adanya bunga 25% per tahun. "Secara prinsip penerbitan MTN itu mirip dengan repurchase agreement, tetapi tidak ada top-up [penambahan kolateral jika terjadi penurunan nilai]," ujarnya.

Menurut dia, bunga yang ditawarkan MTN itu lebih tinggi daripada bunga pinjaman komersial bank. "Masalahnya apakah ada calon pembeli yang mau menampung surat utang itu?" tuturnya.
Calon pembeli MTN, ujarnya, perlu mempertanyakan asal usul saham Bumi yang dijadikan kolateral penerbitan surat utang tersebut. "Apakah itu saham treasury atau dari pemegang saham lainnya? Itu yang harus dipertanyakan."

Pada saat yang sama, Bumi juga mengumumkan rencana buyback 3,29 miliar sahamnya atau 17% saham senilai Rp8,25 triliun di pasar reguler. Pembelian kembali saham itu akan dilak- sanakan di level Rp2.500 per saham dengan memanfaatkan pinjaman dan kas internal.

Saham yang telah dibeli kembali tersebut bisa dijual atau dialihkan kepada pihak ketiga dengan harga tidak lebih rendah dari harga pembelian kembali. Saham itu bisa digunakan untuk mendapat pinjaman, sebagai jaminan, konversi kewajiban perseroan menjadi saham, dan menyelesaikan kewajiban.

Dampak dari buyback itu diperkirakan memangkas laba bersih Bumi US$3,4 juta pada tahun ini, US$44,1 juta pada 2009, dan US$49,1 juta pada 2010. Penurunan laba itu disebabkan oleh peningkatan beban bunga bersih US$4,9 juta pada dua bulan terakhir tahun ini, US$63 juta pada 2009, dan US$70,1 juta pada 2010.

Pada perdagangan kemarin, saham berkode BUMI ini masih terkena penolakan otomatis karena harganya anjlok sebesar 9,92% atau Rp130 ke level Rp1.180. Apabila mengacu harga penutupan tersebut, Bumi kini memiliki nilai pasar Rp22,90 triliun.

Mitra Rajasa raup kontrak US$650 juta


JAKARTA: PT Mitra Rajasa Tbk mengantongi kontrak US$650 juta hingga dua tahun ke depan dari kontrak floating production, storage and offloading (FPSO) dan rig anak perusahaannya, yaitu PT Apexindo Pratama Duta Tbk.

Apexindo segera mengantongi pinjaman lebih dari US$200 juta guna pembelian FPSO Mitra Rajasa dan akan didanai dari Goldman Sachs dan dua bank investasi asing lainnya yang berminat membiayai utang itu.

Rencana utang dan penjaminan aset untuk mendukung utang tersebut telah memperoleh restu dalam rapat umum pemegang saham luar biasa Apexindo kemarin.

Komisaris Utama Mitra Rajasa, yang juga Wakil Direktur Utama Apexindo, Tito Sulistio memastikan penawaran tender Mitra Rajasa terhadap Apexindo senilai Rp1,19 triliun akan dituntaskan hari ini, sehingga emiten yang bergerak di bidang penunjang sektor migas itu resmi menguasai 98,11% saham Apexindo.

Dia mengatakan setelah Mitra Rajasa menguasai 98,11% saham Apexindo tersebut, rencana pemecahan nilai saham (stock split) Apexindo kemungkinan batal.

"Sisa saham publik di pasar tinggal sekitar 1%, jadi kemungkinan ditunda [stock split], entah sampai kapan. Entah jadi atau tidak, karena toh tidak berpengaruh juga terhadap likuiditas di pasar," ujarnya, seusai rapat pemegang saham Mitra Rajasa dan Apexindo, kemarin.

Tito menuturkan ke depan sektor penunjang jasa migas akan berkontribusi hingga 95% bagi pendapatan dan laba bersih Mitra Rajasa, sedangkan sisanya dari sektor transportasi.

Pada rapat pemegang saham Mitra Rajasa yang digelar kemarin, pemegang saham menyetujui rencana perseroan menggelar penawaran umum terbatas senilai Rp882 miliar.

"Dana yang dialokasikan dari rights issue US$25 juta untuk mengakuisisi sebuah perusahaan penunjang jasa migas di Indonesia, tapi hingga saat ini kami belum bisa ungkapkan perusahaan mana. Kami akan tandatangani nota kesepahaman akuisisi ini dalam dua pekan ke depan," tuturnya.

Langkah itu ditujukan guna pengembangan usaha perseroan di bidang jasa penunjang kegiatan minyak, gas, dan panas bumi serta pertambangan.

Direktur Utama Mitra Rajasa Beni Prananto mengatakan rapat itu juga menyetujui pengangkatan direktur baru, yaitu Jusuf Hamka dan Sudarsono. Selain itu, pengangkatan komisaris baru, yaitu Fitria Jusuf dan komisaris independen yakni Moermahadi Sorja Djanegara dan Irwansyah Said.

Target Apexindo

Tito mengatakan tahun depan Apexindo mengincar laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi US$150 juta dan pendapatan berkisar US$220 juta.

Peningkatan pendapatan dan laba bersih sebesar 20% itu akan didapat dari peningkatan nilai kontrak rig perseroan.

Presiden Direktur Apexindo Hertriono Kartowisastro mengatakan pada akhir tahun ini Apexindo mengincar perpanjangan kontrak selama satu tahun ditambah potensi satu tahun perpanjangan untuk rig Raisis dan kontrak dua tahun ditambah potensi satu tahun untuk rig Yani.

Jadi, berdasarkan data Mitra Rajasa, pada akhir tahun ini Apexindo berpotensi meraih kontrak baru sedikitnya US$95 juta dari perpanjangan kontrak rig Raisis dan Yani. "Setidaknya, naik 25% dari harga sewa rig harian saat ini." ujar Tito.

BNBR telat laporkan kinerja


JAKARTA (Bisnis.com): PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) bakal telat melaporkan kinerjanya untuk periode yang berakhir pada 30 September akibat rencana rasionalisasi portofolio aset dan telaah terbatas ataupun audit laporan keuangan kedua anak usahanya.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bakrie & Brothers R.A. Sri Dharmayanti mengatakan ada kendala yang dihadapi perseroan sehingga perusahaan investasi itu akan mengalami keterlambatan penyampaian laporan keuangan konsolidasi dan anak usaha untuk periode Januari-September.

"Sehubungan dengan rencana rasionalisasi portofolio aset yang akan dilaksanakan, perseroan telah meminta kesediaan PT Bumi Resources Tbk dan PT Energi Mega Persada Tbk untuk melaksanakan penelaahan secara terbatas atas laporan keuangan masing-masing untuk periode 30 September," jelasnya dalam keterbukaan informasinya di situs Bursa Efek Indonesia hari ini.

Dia menjelaskan perseroan telah memperoleh konfirmasi Bumi akan melakukan penelaahan terbatas, sedangkan Energi Mega mmemutuskan untuk mengaudit laporan keuangan kuartal III/2008. Karena hal tersebut, kata Sri Dharmayanti, selama proses penelaahan terbatas atas laporan keuangan Bumi dan proses auidt leporan keuangan Energi Mega masih berlangsung, perseroan belum dapat memfinalisasi laporan keuangan konsolidasi dan anak usaha periode 30 September 2008.

Hingga kini, Bakrie & Brothers masih memproses penjualan 35% saham Bumi dengan calon pembeli Northstar Pacific Partners Ltd. Perseroan pada 1 November menyatakan proses uji tuntas penjualan saham Bumi diperkirakan berlangsung 21-28 hari ke depan. Saham Bumi pada siang ini berada di level 1.310 setelah anjlok lagi hampir 10%.

Sementara itu, Bakrie & Brothers menyatakan akan menjual saham Energi Mega. Namun, hingga kini belum disebutkan calon pembelinya. Saham Energi Mega terakhir ditutup di level Rp350 pada 6 Oktober. Sampai saat ini, bursa masih menyetop sementara perdagangan saham perusahaan eksplorasi dan produksi minyak dan gas berkode ENRG ini. Suspensi berlangsung sejak 7 Oktober.

XL belum berhasil jual menara


JAKARTA (bisnis.com): PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) hingga saat ini belum berhasil melelang 7.000 menara telekomunikasi miliknya karena terbentur krisis ekonomi global.

Presdir XL Hasnul Suhaimi mengungkapkan butuh waktu lebih lama untuk menjual menara XL mengingat kondisi dan situasi terakhir yang tidak memungkinkan.

“Hingga saat ini kami belum berhasil memutuskan pemenang tender. Semua ini karena adanya perubahan kondisi ekonomi global yang membuat perseroan harus hati-hati
sebelum mengambil keputusan. Namun demikian, hal tersebut tidak begitu mengganggu kinerja dan performa XL,” tuturnya kepada bisnis.com, hari ini.

Sebelumnya, perseroan menargetkan awal November ini proses tender telah selesai setelah menyisakan enam peserta lelang.

Rencananya, dari penjualan menara tersebut, XL akan mendapatkan dana segar sebesar US$700 juta hingga US$1 miliar.

Meskipun menara belum berhasil dijual, lanjutnya, aksi korporasi tersebut tidak mempengaruhi kinerja keuangan XL pada kuartal ketiga tahun ini. Tercatat, perseroan memperoleh laba bersih sebesar Rp891 miliar.

Sedangkan margin EBITDA meningkat 3% menjadi 45% dan laba bersih normal sebesar Rp754 miliar atau naik 64% dibandingkan dengan kurun waktu yang sama 2007.

Rupiah Jatuh ke 11.500/US$


Jakarta - Rupiah mengalami pelemahan signifikan di perdagangan Rabu ini. Mata uang lokal bahkan harus melewati level 11.500 per dolar AS.

Pada perdagangan valas pukul 17.00 WIB, data CNBC, Rabu (12/11/2008) rupiah melemah 400 poin ke posisi 11.500 per dolar AS. Rupiah sempat melemah hingga ke posisi 11.650 per dolar AS.

Rupiah terus mengalami tekanan karena kekhawatiran akan terus melemahnya mata uang lokal ini hingga akhir tahun. Korporasi diduga membutuhkan dolar AS yang banyak untuk membayar utang yang jatuh tempo di akhir pekan.

Sementara mata uang Asia lainnya ditutup bervariasi terhadap dolar AS, rupee India melemah 2,59%, yen Jepang menguat 0,12%, won Korea melemah 2,4%, peso Filipina melemah 0,41%, dolar Singapura menguat 0,22%, bath Thailand menguat 0,03% dan dolar Taiwan melemah 0,34%.

Sementara Bank Indonesia akan mengeluarkan aturan jual beli valuta asing agar lebih tertib di saat kondisi pasar global sedang berfluktuatif. BI akan mengumumkan aturan itu pukul 17.30 WIB Rabu ini.

"Isinya kurang lebih mengenai pengaturan dan pemantauan jual beli valas. Tujuannya agar lebih rapi," kata Deputi Gubernur BI, Muliman Hadad di acara seminar Infobank di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Rabu (12/11/2008).

Dengan aturan tersebut, jelas Muliaman bukan berarti BI tidak ingin siapapun membeli atau menjual valas. Namun dalam kondisi seperti ini aktivitas tersebut harus lebih dipantau arahnya.

"Kita harus tahu tujuan mereka dengan jual beli valas. Jika underlying asetnya lebih ke arah situ," tukas Muliaman.

Wall Street turun lagi, minyak sentuh US$57 per barel


NEW YORK (AP): Wall Street dibuka turun lagi Rabu, atau melemah tiga hari berturut-turut pekan ini, di tengah kecemasan bahwa tingkat konsumsi di AS bakalan anjlok signifikan karena warga mengurangi belanja.

Operator pusat perbelanjaan Macy's Inc mengumumkan kerugian US$44 juta pada kuartal ketiga tahun ini, sedangkan produsen peralatan elektronik Best Buy Co menyatakan target penjualan 2009 dipotong karena kemungkinan pembelian melemah.

Para investor di pasar saham AS cemas bahwa melemahnya belanja konsumen—yang menyumbang dua pertiga kekuatan ekonomi AS—akan membuat krisis global menjadi lebih lama.

Wall Street hari ini juga menunggu laporan Menteri Keuangan Henry Paulson tentang paket penyelamatan finansial dari pemerintah. Pada awal perdagangan hari ini, indeks Dow Jones industrial turun 184 poin atau 2,12% menjadi 8.509 poin. Sedangkan indeks-indeks lainnya turun lebih dari satu persen.

Sementara itu harga minyak merosot 2,5% menjadi US$58 per barel hari ini di tengah ekspektasi permintaan energi akan turun lagi serta kemungkinan OPEC mempertimbangkan pemotongan produksi.

Harga minyak mentah AS untuk penyerahan Desember tercatat US$57,70 per barel, turun US$1,63 dan merupakan harga terendahnya sejak 20 Maret 2007, sebelum reli pada US$58,10 per barel. Harga crude London Brent turun US$0,88 menjadi US$54,83 per barel.

International Energy Agency menyatakan melambatnya perekonomian global dapat membuat permintaan terhadap energi turun, sehingga lembaga itu menurunkan prediksi pertumbuhan permintaan dalam laporan bulannya pekan ini.

Rontoknya industri finansial AS dan ancaman krisis global membuat IEA, yang bertugas memberikan saran-saran kepada banyak negara terkait energi,� menurunkan asumsi untuk permintaan minyak tahun ini ke angka terendah dalam 15 tahun terakhir yakni hanya 440.000 barel per hari.

PTBA sulit raih hak eksklusif di Bumi


JAKARTA: PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk (PTBA) kesulitan mendapat hak eksklusif di PT Bumi Resources Tbk karena saham perusahaan tambang batu bara milik Grup Bakrie itu dimiliki oleh banyak pihak.

Atas dasar itulah Bukit Asam akan mundur dari konsorsium Northstar Pacific sekaligus tidak ingin membeli saham Bumi dari pasar meski harganya kemarin jatuh lagi ke Rp1.310, atau hanya 1,98 kali nilai bukunya Rp661,10.�

"Bukit Asam ingin mengakuisisi Bumi dengan tujuan meraih hak eksklusif yang memungkinkan ikut mengendalikan manajemen dan produksi. Namun hak tersebut sulit diperoleh karena saham Bumi tidak lagi dipegang oleh satu pihak, tetapi oleh banyak pihak yang tersebar luas," tutur sumber Bisnis kemarin.

Dengan hak eksklusif tersebut, katanya, Bukit Asam bisa menempatkan wakilnya di jajaran komisaris Bumi. BUMN itu, ujarnya, bisa mengendalikan volume produksi batu bara yang dialokasikan untuk keperluan pembangkit listrik di dalam negeri. Untuk memperoleh hak eksklusif tersebut, Bukit Asam minimal harus menguasai 10% saham Bumi.

Direktur Utama Bukit Asam Sukrisno membenarkan perseroan ingin memperoleh hak eksklusif di Bumi, sehingga bisa ikut mengendalikan manajemen Bumi. Menurut dia, saat ini uji tuntas� masih berjalan.�

"Kami tidak mau memberi pernyataan lebih dulu sebelum semuanya rampung. Bagaimanapun yang melaksanakan uji tuntas adalah Northstar dan kami masih menunggu perusahaan itu menuntaskannya," tuturnya.

Sumber Bisnis menambahkan San Miguel Corp, pesaing konsorsium Northstar dan Bukit Asam, menyatakan sanggup menyelesaikan akuisisi Bumi paling lambat bulan ini. Perusahaan Filipina itu juga menawarkan kesediaannya untuk membeli saham Bumi meskipun kondisinya belum bebas dan jelas karena pengaruh transaksi repurchase agreement (repo).

Aksi beli Bumi

Satu direktur dari broker lokal menambahkan pencabutan saham Bumi tidak selalu berdampak negatif. "Justru setelah suspensinya dicabut, saham itu mencari titik keseimbangan baru, meskinya harganya terus jatuh 9% dalam lima hari berturut-turut," ujarnya.

Volume penawaran saham Bumi kemarin, katanya, hanya mencapai 332 juta saham. Hari ini diperkirakan berkurang lagi menjadi 150 juta saham.

"Harga masih menurun, tetapi pada posisi harga Jumat yang diperkirakan Rp1.070 per saham, aksi beli akan ada, sehingga bisa meredam kejatuhan harga."

Sementara itu, satu direktur dari salah satu broker mengatakan sejumlah perusahaan efek yang memiliki repo saham Bumi berencana menawarkan efek itu ke Northstar dan San Miguel. "Repo saham Bumi yang segera jatuh tempo bisa dikumpulkan sebelum ditawarkan."�

Transaksi Saham BUMI Numpuk di Pasar Non Reguler


Jakarta - Transaksi saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sejak dibuka suspensinya terkonsentrasi di pasar non regular. Pada perdagangan hari ini, Selasa (11/11/2008), total volume transaksi di pasar non regular mencapai 271.200 lot (135,6 juta lembar).

"Sejak dibuka suspensinya, nilai dan volume transaksi di pasar non regular lebih besar dari pada yang terjadi di pasar regular," ujar analis PT Valbury Asia Securities, Mastono Ali saat dihubungi detikFinance, Selasa (11/11/2008).

Pada perdagangan hari ini, volume transaksi BUMI di pasar regular hanya sebanyak 3.600 lot atau sekitar 1,8 juta lembar. Nilainya sekitar Rp 2,6 miliar. Perdagangan saham BUMI di pasar negosiasi sebanyak 49.600 lot atau sekitar 24,8 juta lembar. Nilai transaksi di pasar regular sebesar Rp 32,9 miliar.

Transaksi yang terjadi di pasar tutup sendiri (crossing board) lebih besar lagi, sebanyak 221.600 lot atau setara dengan 110,8 juta lembar. Nilainya mencapai Rp 159,9 miliar.

"Mereka yang melepas di pasar non regular itu karena mereka ingin melepas saham, meski harganya murah. Namun ketika mereka ingin melepas di pasar regular sudah tidak bisa karena tidak ada yang melakukan penawaran beli. Itulah sebabnya
mengapa terjadi transaksi dengan nilai besar di pasar non reguler," ujar Mastono.

Mengenai menumpuknya antrean jual di pasar regular, Mastono juga menyatakan ada indikasi aksi jual besar-besaran itu terjadi karena aksi jual paksa (forced sell).

"Forced sell betul, memang ada indikasi ke situ. Tapi ini baru indikasi, saya belum pegang datanya," ujar Mastono.

Seperti diketahui umum, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sedang negosiasi penjualan dengan konsorsium Northstar Pacific yang terafiliasi dengan Texas Pacific Group. Dalam klausul perjanjian, Northstar bersedia membayar US$ 1,3 miliar atas 35% saham BUMI, jika BNBR berhasil mengamankan 35% saham yang dimilikinya di BUMI.

Masalahnya, kepemilikan BNBR di BUMI tidak lagi sebanyak 6.791.400.000 (35%). Dalam materi paparan publik grup Bakrie 13 Oktober 2008, jumlah saham BUMI yang digadaikan BNBR sebanyak 5.126.427.858 (26,43%). Artinya, hanya sebanyak
1.664.972.142 (8,57%) saham BUMI yang benar-benar dimiliki BNBR.

Kabarnya, BNBR menekan kreditor-kreditornya agar jumlah saham BUMI yang digadaikan dapat dijamin keberadaannya, agar bisa dieksekusi kembali untuk dijual ke Northstar.

Masalahnya, beberapa kreditor-kreditornya menggadaikan kembali (repo berantai) saham-saham tersebut kepada investor ritel, asuransi, yayasan dana pensiun dan sebagainya. Lantas, karena BNBR meminta kreditur-krediturnya mengembalikan
saham-saham BUMI yang telah digadaikan, kreditur-krediturnya menjual paksa (forced sell) saham-saham gadai yang beredar di pemegang repo lapisan kedua.

"Indikasinya memang kesana," jelas Mastono.

Telkom Siap Beli BTEL


INILAH.COM, Jakarta - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk siap memberi operator seluler berbasis CDMA, Bakrie Telecom (BTEL).

Hal ini diutarakan Dirut Telkom, Reynaldi Firmansyah menanggapi keinginan Bakrie untuk menjual perusahaan telekomunikasinya ini. Menurutnya, BTEL merupakan perusahaan yang cukup bagus yang memiliki fundamental perusahaan yang kuat.

"Dengan kondisi saat ini, kita harus memperhatikan fundamental perusahaannya. Tetapi karena sama-sama sebagai pemain, kita menunggu sampai Bakrie mau menawarkannya ke kita. Kita tidak ingin aktif duluan, tapi nunggu ditawarin. Kita takut dengan KPPU," tambahnya.

Saham BTEL ini memang berpotensi untuk dijual mengingat saat ini perseroan akan melakukan rasionalisasi aset untuk membayar pinjaman yang jatuh tempo.

Saham BTEL pantas untuk diperebutkan investor, karena saat ini memiliki posisi yang dominan dan image perseroan yang baik di layanan CDMA.

Pada Semester I 2008 BTEL saja, perseroan berhasil mencatatkan laba sebesar Rp62,353 miliar, atau naik 60% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedang jumlah pelanggan BTEL, pada Semester I 2008 mencapai 5,434 juta pelanggan atau naik 141,9% dibanding periode yang sama tahun lalu

Bukit Asam mungkin mundur dari akuisisi Bumi


JAKARTA: PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk akan mundur dari konsorsium Northstar Pacific yang berencana membeli saham PT Bumi Resources Tbk jika saham perusahaan milik keluarga Bakrie itu terus merosot.

"Jika harga saham Bumi terus menurun, kemungkinan Bukit Asam tidak ikut dalam konsorsium Northstar. Yang jelas prosesnya harus clear and clean dan harus sesuai dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan keputusan harus bisa dipertanggungjawabkan dalam rapat umum pemegang saham," tutur Meneg BUMN Sofyan Abdul Djalil kemarin,

Namun, dia tidak menjelaskan alasan yang membuat Bukit Asam mundur dari konsorsium Northstar ketika harga saham Bumi terus tergerus.

Sofyan juga enggan berkomentar mengenai proses uji tuntas Bumi. Keputusan BUMN itu untuk membeli saham Bumi, tuturnya, murni keputusan bisnis perusahaan itu.

Direktur Utama Bukit Asam Sukrisno mengatakan saat ini proses uji tuntas masih berlangsung dan belum mencapai titik final. "Belum ada keputusan final."

Hingga akhir September, arus kas dan setara kas Bukit Asam Rp2,59 triliun. Dana itulah rencananya dipakai oleh perseroan untuk membeli saham Bumi.

Sukrisno belum lama ini mengatakan akan mengalokasikan dana di atas US$100 juta untuk keperluan pembelian saham Bumi itu. Untuk memperkuat pendanaan itu, Bukit Asam berencana menggandeng PT Timah Tbk dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Sejak suspensi sahamnya di-buka pada Kamis pekan lalu, harga Bumi terus turun. Bumi kemarin ditutup anjlok Rp160 per saham ke posisi Rp1.450 dari penutupan hari sebelumnya Rp1.610. Dengan asumsi setiap hari saham Bumi rontok 9%, hingga akhir uji tuntas Northstar pada 28 November, harganya tinggal Rp405.

Beli di pasar

Kepala Riset BNI Securities Norico Gaman mengatakan Bukit Asam bisa membeli saham Bumi di pasar karena memberi peluang yang lebih baik dari sisi harga dibandingkan dengan membeli dari Grup Bakrie yang harganya lebih tinggi. "Volume saham Bumi yang bisa dibeli dari pasar berkisar 5%," tuturnya.

Dengan kombinasi dana internal dan eksternal yang mencapai Rp2 triliun-Rp3 triliun, katanya, Bukit Asam bisa memanfaatkan dana itu untuk membeli Bumi di pasar.

Harga saham Bumi kemarin diperdagangkan di posisi 2,19 kali nilai buku saat ini Rp661,10 per saham. "Saham Bumi di pasar sangat murah. Valuasi saham tambang batu bara diperdagangkan 4 kali-5 kali nilai bukunya."

Volume penawaran saham Bumi kemarin mencapai 486 juta saham pada berbagai level harga. Selain Bukit Asam, katanya, Antam berpeluang mengoleksi saham Bumi di pasar.

Sementara itu, satu pialang dari broker lokal mempertanyakan alasan Bursa Efek Indonesia masih mensuspensi perdagangan saham PT Energi Mega Persada Tbk lebih dari satu bulan sejak 7 Oktober.

"Kalau memang tidak ada transaksi material, kenapa saham Energi Mega terus disuspensi?" ujarnya.

Bapepam tolak suspensi Bumi


JAKARTA: Meski sejumlah broker terus bersikeras meminta saham PT Bumi Resources Tbk disuspensi,� Bapepam-LK dan BEI menolak menghentikan perdagangan saham anak perusahaan Grup Bakrie itu.

"Suspensi saham Bumi yang berkepanjangan bisa memicu redemption reksa dana yang kini nilai aktiva bersihnya mencapai Rp90 triliun. Industri reksa dana sangat penting karena banyak sekali pemodal ritel yang terlibat. Jika suspensi Bumi diteruskan, hal itu justru bisa memicu potensi sistemik yang lebih membahayakan," tutur Ketua Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Ahmad Fuad Rahmany dalam jumpa pers kemarin malam.

Dia memberikan penjelasan itu setelah rapat selama empat jam dengan direksi Bursa Efek Indonesia (BEI), wakil dari direktur anggota bursa,� dan Dirut Bumi Ari S. Hudaya.

Fuad menjelaskan usulan yang disampaikan broker untuk mensuspensi kembali saham Bumi tidak cukup kuat dijadikan dasar oleh Bapepam-LK dan BEI untuk menyetopnya. "Suspensi dilakukan apabila ada potensi sistemik yang membahayakan kepentingan nasional. Kalau saham Bumi disuspensi, itu justru membahayakan," tuturnya.

Fuad menjelaskan modal kerja bersih disesuaikan broker masih memenuhi syarat minimal Rp25 miliar, sehingga belum ada penurunan secara signifikan.

"Ada beberapa broker yang memiliki tingkat konsentrasi tinggi pada saham Grup Bakrie. Lima broker yang memiliki eksposure saham Bumi dalam jumlah besar. Kami minta mereka menyelesaikan masalahnya sendiri dengan Grup Bakrie."

Seorang manajer investasi lokal mengatakan saham Bumi kini menjadi 10 besar pada portofolio reksa dana. "Semakin lama disuspensi, aset yang tersisa nanti tinggal Bumi, karena manajer investasi harus menjual saham lain ketika ada redemption. Itu tidak fair untuk nasabah reksa dana yang tidak menarik dananya."

Sebelum mengajukan usulan suspensi ke Bapepam-LK, seorang kepala riset dari broker lokal mengatakan ada dua hal yang dibahas dalam pertemuan antarbroker kemarin. Pertama, mengenai price finding yang menjadi tujuan pencabutan suspensi saham Bumi. Kedua, mengenai likuiditas terkait dengan jual-beli di pasar.

Perhatian Presiden

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun memberi perhatian khusus terhadap rontoknya harga saham Bumi, emiten batu bara terbesar di bursa efek tersebut. Kepala Negara langsung meminta data terakhir harga saham Bumi dari Meneg BUMN Sofyan Djalil yang juga menjabat sebagai menkeu ad interim.�

Sofyan mengatakan Presiden meminta penanganan seputar saham Bumi dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. "Presiden cuma ingin dengar laporan. Yang punya saham [Bumi Resources] rugi kan? Artinya, potensi kerugian," ujarnya seusai bertemu Presiden Yudhoyono kemarin.

Sofyan, yang memiliki satu juta saham Bumi, mengaku jumlah kekayaannya turun drastis akibat merosotnya harga. "Ini namanya risiko main saham."

Dia sempat membeli saham Bumi ketika harga sedang rendah. "Saya sempat lepas di level Rp8.300 per saham dan kemudian ambil lagi pada level Rp7.000. Eh, sekarang jeblok."

Harga saham Bumi, yang terafiliasi dengan perusahaan milik Menko Kesra Aburizal Bakrie, terus rontok sejak suspensinya dibuka oleh BEI pada 6 November. Bursa efek berencana membuka suspensi itu pada 5 November, tetapi dibatalkan karena ada intervensi dari pemerintah.

Namun, Dirut BEI Erry Firmansyah hingga kini tidak bersedia mengungkapkan pihak yang mengintervensi tersebut.

Saham itu disuspensi oleh bursa efek selama satu bulan penuh untuk memberi kesempatan kepada PT Bakrie & Brothers Tbk, pemilik 35% saham Bumi, menjelaskan seputar anjloknya nilai kolateral terkait dengan kejatuhan harga saham itu secara signifikan.

Pada penutupan� perdagangan kemarin, harga saham Bumi ditutup ke level Rp1.610, anjlok 9,55% di-bandingkan dengan penutupan perdagangan pada 7 November, yaitu Rp1.780. Harga penutupan kemarin mencerminkan 2,43 kali dari nilai buku saham Bumi Rp661,10.

Di pasar negosiasi, harga saham Bumi ditransaksikan di level terendah Rp1.300 per saham dan harga tertinggi Rp1.400.

N.D. Murdani, Ketua Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia, mengatakan masalah yang menyangkut saham Bumi merupakan bagian dari pasar modal, sehingga harus diselesaikan oleh otoritas pasar modal.

"Kalau Presiden ingin mengetahui soal Bumi, itu sah saja. Kami menghargai hal itu, hanya tidak perlu terlibat jauh ke saham Bumi untuk menghindari kesan bahwa saham Bumi masuk ke ranah politik. Itu yang harus dijaga karena bagaimanapun Bumi tidak bisa dilepaskan begitu saja dari menteri yang kini masih menjabat di kabinet," ujarnya.

Menurut Murdani,� biarkan pasar berjalan secara wajar, teratur, dan efisien sesuai dengan UU Pasar Modal. "Otoritas pasar modal tidak boleh diintervensi oleh pihak mana pun."

Head of Research PT Sarijaya Sekuritas Danny Eugene mengatakan dalam pasar yang mengalami anomali saat ini diperlukan intervensi pemerintah. "Kami menilai langkah pemerintah yang saat ini mencermati saham Bumi adalah tepat. Namun, pemerintah harus menghentikan langkah itu jika saham Bumi sudah mulai normal dan stabil," tuturnya.

Sementara itu, Erry Firmansyah terus mendesak Bakrie & Brothers menggelar paparan publik guna menjelaskan proses penjualan saham Bumi.� Menurut dia, manajemen Bakrie & Brothers akan menyampaikan rencana paparan publik. "Nanti kami tunggu [kabar lebih lanjut] dari mereka."

Suspensi BUMI Bisa Membahayakan Ekonomi Nasional


Jakarta - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyatakan, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tidak akan disuspensi lagi, kendati harga saham anak perusahaan Grup Bakrie itu terus menerus turun.

Menurut Ketua Bapepam-LK fuad Rahmany, suspensi atas saham BUMI justru akan membahayakan perekonomian nasional. Disamping juga sudah ada kejelasan soal transaksi dengan Northstar.

"Kalau masih di-suspend bahaya, maka dari itu, saham BUMI tetap dibuka. Kita harus selamatkan pasar," jelas Fuad dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (10/11/2008).

Keterangan pers ini akhirnya diberikan setelah mundur sekitar 3,5 jam dari yang dijadwalkan pada pukul 19.00 WIB. Keterangan pers dilakukan setelah Bapepam melakukan pertemuan dengan Dirut BEI Erry Firmansyah, Presdir BUMI Ari S Hudaya dan Direktur Keuangan PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) Juanita Rohali.

Tak sepatah katapun keluar dari para petinggi BNBR dan BUMI. Demikian pula Dirut BEI yang hanya menyatakan bahwa pihaknya sejalan dengan Bapepam.

Mengawali konferensi pers tersebut, Fuad menjelaskan bahwa saham BUMI akhir-akhir ini terus turun ditengah perkembangan IHSG yang positif.

"Saham BUMI sudah turun ke Rp 1.610, tapi indeks masih positif walaupun tipis. Ini kondisi yang paling buruk, tapi juga bukan yang paling buruk, dibanding bursa lain kita masih oke," jelas Fuad.

Yang pasti, tegas Fuad, turunnya saham BUMI tidak mempengaruhi Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) para broker. Klarifikasi ini penting mengingat banyak rumor seputar kolapsnya sebagian broker karena nyangkut di BUMI.

"Ini yang harus diklarifikasi. Data sudah dikumpulkan dan pada posisi MKBD mereka hingga saat ini tidak ada penunjukan penurunan MKBD. Hampir semua masih memenuhi persyaratan minimum MKBD Rp 25 miliar," tegas Fuad.

Selain itu, tingkat konsentrasi saham Bakrie dilihat dari in house portofolio perusahaan efek tidak besar. Namun demikian, kata Fuad, yang harus diperhatikan adalah posisi repo.

"Kita perhatikan, ada sekitar 5 broker besar pemegang repo Bakrie yang konsentrasinya cukup besar. Tapi ini masih dugaan, belum bermasalah. Pengaruhnya cukup besar dari saham Grup Bakrie, tapi tidak sebesar yang diberitakan media," urainya.

Bapepam dan BEI siang tadi juga sudah menggelar pertemuan dengan Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) untuk mengetahui sejauh mana posisi mereka atas saham BUMI.

"Rata-rata mereka masih minta di-suspend. Tapi Bapepam sebagai otoritas harus melihat dari berbagai posisi dan kepentingan," tambahnya.

Bersamaan waktu, Bapepam juga menggelar pertemuan dengan Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), juga untuk diminta pendapat seputar suspensi saham BUMI.

"Dari mereka justru minta dibuka, suspensi BUMI dinilai akan membuat tidak bisa redemption dan tidak ada acuan harga untuk reksa dana. Ini penting soalnya nanti bisa muncul ketidakpastian dari para pemegang reksa dana," katanya.

"Bisa juga menjadi spekulasi acuan harga dan kapan suspensi akan dibuka. Bapepam melihat potensi masalah di reksa dana cukup besar. Sebagai regulator harus melihat kepentingan semua pihak," imbuhnya.

Menurut Fuad, industri reksa dana ini harus dijaga karena banyak investor ritel domestik yang terlibat.

"NAB (Nilai Aktiva Bersih) reksa dana sekarang ini Rp 90 triliun, kalau misalnya ada redemption gede-gedean, bahaya juga ke pasar modal," tegasnya.

Dulu, lanjut Fuad, BNBR disuspensi karena belum ada kejelasan aksi korporasi. Namun kini, menurut Bapepam, sudah ada kejelasan seputar siapa pembeli BUMI.

"Kalau tidak dibuka akan membahayakan ekonomi nasional. Kalau masih suspend bahaya, maka dari itu, saham BUMI tetap dibuka. Kita harus selamatkan pasar," tambah Fuad.

Rapat Alot Membahas BUMI


Jakarta - Para pemangku kepentingan dan petinggi PT Bumi Resources Tbk yang menggelar pertemuan hingga 3 jam lebih belum juga usai. Rencana konferensi pers yang akan digelar pukul 19.00 WIB hingga pukul 21.30 WIB belum ada tanda-tanda akan dimulai.

Rapat yang berlangsung di kantor Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengenai perihal PT Bumi Resources Tbk, Senin (10/11/2008) ini dihadiri oleh Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany dan juga Dirut BEI Erry Firmansyah.

Sementara dari pihak BUMI diwakili oleh Presdir BUMI Ari S Hudaya dan Direktur Keuangan PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) Juanita Rohali.

Hingga saat ini belum jelas, topik yang akan disampaikan dalam konferensi pers yang
rencananya dilangsungkan pukul 19.00 di lantai 3 gedung eks Kementerian Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) itu.

Yang pasti, puluhan wartawan dan pewarta foto yang sudah berkumpul sejak pukul 18.00 pun belum mendapat kepastian mengenai kapan konferensi pers akan dimulai.

Namun besar kemungkinan rapat ini untuk membahas nasib saham BUMI yang sudah 3 hari berturut-turut terkena auto rejection batas bawah, semenjak suspensinya dibuka pada Kamis, 6 Oktober.

Akibat auto rejection dan tekanan jual yang masih tinggi, saham BUMI kini hanya tinggal Rp 1.610. Harga ini tentu saja jauh dari harga tertinggi yang pernah dicapai BUMI di kisaran Rp 8.500 per lembar.

Kejatuhan harga yang terus menerus ini dikhawatirkan mempengaruhi proses due dilligence yang dilakukan Northstar Pacific dengan pihak BNBR. Sebelumnya, BNBR dan Northstar telah mencapai kesepakatan awal untuk akuisisi 35% saham BUMI senilai US$ 1,3 miliar atau pada harga saham BUMI sekitar Rp 2.067 per lembar.

Anjloknya saham BUMI ini juga sempat menyita perhatian Presiden SBY. Siang tadi, Presiden SBY secara khusus memanggil Menneg BUMN yang juga bertindak sebagai Menkeu ad interim untuk memberikan pemaparan seputar perkembangan saham BUMI.

SBY: Penyelesaian saham Bumi sesuai aturan


JAKARTA (Bisnis.com): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan penanganan masalah seputar saham Bumi Resources dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil seusai pertemuan dengan Presiden Yudhoyono di Kantor Kepresidenan, kemarin. Presiden, lanjutnya, ingin mendengarkan perkembangan perihal anjloknya harga saham Bumi Resources. "Presiden cuma ingin mendengarkan laporan saja. Yang punya saham [Bumi Resources] rugi kan. Artinya mengalami potential loss kan," ujarnya.

Terkait rencana pembelian saham Bumi yang akan dilakukan oleh BUMN, Sofyan menuturkan belum ada BUMN lain, selain PT Bukit Asam, yang menyatakan minat untuk membeli saham Bumi.

Keputusan Bukit Asam, ujar Sofyan, dalam melakukan pembelian sangat tergantung kepada hasil uji tuntas dan perkembangan harga.

Aliran Dana Segera Masuk, Aset Asing Kuasai 64% Aset Saham di BEI


JAKARTA, Investor Daily

Nilai aset investor asing di pasar saham Indonesia tinggal Rp 405,47 triliun pada Oktober 2008 atau menyusut Rp 274 triliun dibandingkan pada September lalu Rp 563,38 triliun. Penurunan sebesar 30,12% tersebut merupakan terbesar sepanjang tahun ini.



Walaupun aset turun tajam, asing masih menguasai 64,1% dari jumlah aset pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sedangkan pemodal domestik memiliki Rp 226,71 triliun atau 35,9% dari total aset BEI.



Penyusutan aset dipicu kejatuhan harga saham berkapitalisasi besar (blue chips) di BEI, sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah 54,2% per Oktober 2008. Asing menempatkan dana cukup besar pada saham big caps.



Berdasarkan data Kliring Sentral Efek Indonesia (KSEI), sejak Januari-Oktober 2008, aset asing tergerus Rp 353,6 triliun atau turun 46,5%. Nilai aset tertinggi terjadi pada Februari 2008 sebesar Rp 789,8 triliun.



Selain penurunan saham, kepemilikan dana asing pada surat utang negara (SUN) melemah menjadi Rp 92,81 triliun pada Oktober 2008 daripada bulan sebelumnya Rp 105 triliun. Hal sama terjadi pada obligasi korporasi senilai 10,61% dari Rp 3,12 triliun menjadi Rp 2,89 triliun.



Seiring anjloknya pasar finansial global, termasuk di dalam negeri, aset pemodal lokal ikut tergerus 33,58% dari Rp 341,32 triliun pada September menjadi Rp 226,71 triliun pada Oktober 2008, terpuruk sepanjang tahun ini.



Sejak Januari-Oktober 2008, aset investor domestik merosot Rp 169,43 triliun atau turun 42,77%. Aset tertinggi tercatat pada Februari lalu senilai Rp 410,27 triliun.



Sejumlah pengamat berpendapat, penyusutan aset asing di pasar finansial berpotensi kembali naik, bila pasar modal pulih lagi. Pasalnya, hasil imbal investasi tetap menjanjikan di Tanah Air dibandingkan negara Asia lain. Aliran dana (capital outflow) yang sempat keluar diperkirakan kembali masuk dalam waktu tidak terlalu lama.



Mereka mengatakan, di tengah krisis saat ini investor lebih cenderung menyelamatkan dulu portofolionya atau sebagian mengalihkan (switching) kepada jenis investasi yang lebih aman, seperti SUN.



Hal tersebut diungkapkan analis Poltak Hotradero, analis Reliance Securities Andrew Siahaan, dan Analis Optima Securities Ikhsan Binarto secara terpisah kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.



Menurut Poltak, penyusutan aset tidak hanya terjadi Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Namun, investor berupaya mengurangi risiko investasi (rebalancing asset) dengan cara melepas saham, kendati bursa dalam keadaan buruk. Sebab, mereka menyadari, di tengah resesi ekonomi saat ini risiko investasi tertinggi terdapat di emerging markets seperti Indonesia. Oleh sebab itu, asing menarik dulu investasinya ke negara-negara maju, karena risikonya relatif rendah.



“Jadi, penurunan aset asing wajar, apalagi mereka menempatkan dana cukup besar pada saham-saham blue chips. Saya yakin, asing tidak lama lagi bakal melirik potensi investasi Indonesia,” kata dia.



Dia mencontohkan, total dana asing yang ditarik dari pasar saham Asia per Oktober 2008 di luar Jepang mencapai US$ 25 miliar.



Selain menghindari risiko investasi, kata Poltak, sebagian investor membutuhkan dana likuiditas akibat terkena margil call atau kewajiban lain. Dengan demikian, mereka terpaksa melepas portofolionya pada harga rendah.



Mengenai penurunan aset pemodal nasional, dia berpendapat, hal tersebut dipicu kepanikan berlebihan setelah asing beramai-ramai melego portofolionya. Padahal, investor domestik seharusnya tidak perlu ikut-ikutan, apalagi para dana pensiun yang bertujuan investasi jangka panjang.



Andrew Siahaan mengakui, menyusutnya aset asing, karena banyak hedge fund yang menarik dana ke negara asalnya. Mereka sangat membutuhkan likuiditas di tengah krisis finansial global. “Indonesia merupakan emerging market yang volatilitasnya cukup tinggi, sehingga risiko investasi juga meningkat,” kata dia.



Menurut Andrew, asing lebih banyak memegang dana tunai dan akan dialihkan lagi, bila tekanan dampak krisis berkurang. Namun, sampai akhir 2008, mereka lebih memilih keluar dari pasar saham guna mengamankan hasil investasinya.



“Per September 2008, komposisi asing di bursa saham mencapai 64,25% dan sisanya lokal. Tapi, komposisinya kini hampir berimbang,” jelas dia.



Andrew menyambut positif kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) pada level 9,5%, menyusul berkurangnya tekanan inflasi. Menurut dia, BI rate masih menarik untuk mendorong dana asing masuk (capital inflow), karena bank-bank sentral di dunia berlomba-lomba memangkas suku bunganya.



“Fundamental tidak ada masalah. Inflasi mulai berkurang, stabilitas politik cukup terjaga, dan produk domestik bruto (PDB) bagus. Sumber masalahnya tetap berasal dari luar negeri, terutama Amerika Serikat, sehingga asing menarik dananya dari emerging markets,” ujar dia.



Dilematis



Ikhsan Binarto menambahkan, penurunan aset asing disebabkan anjloknya harga saham unggulan, salah satunya PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Saat ini, banyak asing yang masih mengoleksi saham BUMI pada harga Rp 6.000-8.000. “Kalau harganya sekarang terkoreksi ke level 1.780, berarti aset mereka turun signifikan,” tutur dia.



Menurut Ikhsan, posisi asing sebenarnya dilematis. Mereka ingin menjual saham guna mencukupi likuiditas, tapi banyak saham yang tidak laku dijual, karena tidak ada penawaran. Nasib serupa banyak dialami investor lokal. Hal tersebut ikut menurunkan volume transaksi di bursa.



Dampaknya, tegas dia, investor domestik juga banyak mengalihkan investasinya ke deposito, karena tingkat suku bunga lebih menarik dan investasi lebih aman daripada saham.



Dihubungi terpisah, pengamat pasar modal Felix Sindhunata mengatakan, penurunan nilai aset asing dipicu dua faktor. Pertama, asing menarik dana untuk jangka pendek dari emerging markets seperti Indonesia guna menutupi kekurangan likuiditas. Hal ini dapat dilihat dari pelemahan nilai tukar rupiah dan penguatan dolar AS.



“Seluruh emerging markets, antara lain Indonesia, Korsel, dan Taiwan, terkena imbas penarikan dana asing. Mereka menjual sebagian asetnya untuk menambah likuiditas di negaranya,” jelash Felix.



Dia menjelaskan, penurunan aset dipengaruhi anjloknya harga saham selama Oktober 2008. Hal tersebut diperkirakan masih terus berlanjut, bila ekonomi global belum pulih. Soalnya, investor menunggu pulihnya perekonomian global dan dampak resesi terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri.



Menurut dia, pemodal asing dan lokal kini mencermati perkembangan ekonomi dunia. Namun demikian, investasi yang bersifat jangka panjang tidak terlalu berpengaruh dengan krisis.



Felix menambahkan, semua usaha telah ditempuh pemerintah di seluruh dunia untuk menangkal dampak krisis. Tapi, kebijakan tersebut dinilai belum mampu meningkatkan kepercayaan investor, sehingga pasar modal terus tertekan.



“Yang paling sulit dalam mencegah krisis adalah mengembalikan kepercayaan investor kembali masuk pasar. Momentum tepat untuk menggerakkan investor sangat dibutuhkan, sehingga kembali menempatkan dananya di pasar saham dan instrumen investasi lain,” tutur dia.

Apa Benar BUMI Dibeli Northstar?


JAKARTA - Kontroversi suspensi saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih terus berlangsung. Namun demikian, sudah ada kesepakaan jual beli antara Grup Bakrie yang diwakili oleh PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dengan pelepasan 35 persen saham BUMI senilai USD1,3 miliar kepada Northstar Pacific.

"Apa benar dibeli Northstar? Cukup rumit dan perlu penjelasan lebih lanjut dalam public expose (PE) Bakrie," ujar Ketua Masyarakat Investor Sekuritas Seluruh Indonesia (MISSI) ND Murdani, saat dihubungi okezone, di Jakarta, Minggu (9/11/2008).

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, terjadi rapat tertutup antara anggota Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan manajemen PT Bursa Efek Indonesia.

Dalam rapat itu mereka mengajukan usulan untuk menutup kembali perdagangan saham BUMI pekan depan terkait dengan kabar kesimpang siuran penjelasan yang dilakukan pihak manajemen BNBR seminggu terkait siapa pembeli 35 persen saham BUMI serta saham BUMI yang terus merosot harga saham emiten tersebut.

"Kejelasan repurchase agreement (repo) saham BUMI terhadap pergerakan harganya sangat besar. Kalau dibuka terus, harga akan turun terus. Kalau pun investor mau beli juga lebih banyak rugi daripada untung. Ini karena kejelasannya belum tuntas. Saat ini, para pelaku pasar juga mempertanyakan akan jual apa ke Northstar kalau barang hilang di pasar, tergerus habis," ungkap Murdani.

Dia menambahkan, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) sebagai pengawas seharusnya mengerti cara menangani ini dan bersikap tegas terhadap segala bentuk tindakan yang berimbas ke bursa.

"Di sini peran Bapepam harus ada. Selain melibatkan bursa, investor juga kena dampaknya. Desak Bakrie untuk beri kejelasan, triliunan rupiah di mainkan oleh pihak yang tidak jelas di BUMI," tegasnya.

Dia menambahkan, pemberitaan yang ada saat ini sangatlah mempengaruhi pergerakan saham di BEI, jadi Bapepam diimbau agar segera usut dan ambil tindakan tegas.

"Usut sampai tuntas dan beri penjelasan ke masyarakat terkait dengan BUMI serta BNBR. Kalau tidak ada transparasinya yang rugi semua pihak, jadi jangan gegabah, apalagi pemerintah di bawa-bawa, apa itu wajar? Pemerintah yang aman?" tutupnya.

Sebagai catatan, sebelumnya Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa meminta agar otoritas bursa untuk tidak menyampaikan pernyataan yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi pasar.

Hal ini disampaikan Hatta menanggapi pernyataan otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengatakan bahwa penundaan pencabutan suspensi perdaganan efek Bumi Resources pada Rabu (5/11) dilakukan karena adanya permintaan dari pemerintah.

"Coba tanya Pak Erry (Dirut BEI Erry Firmansyah). Yang mengintervensi itu siapa?" katanya seusai acara pemberian Tanda Kehormatan di Istana Negara di Istana Negara.

Hatta membantah adanya permintaan dari pemerintah yang meminta BEI untuk menunda pencabutan penghentian perdagangan saham Bumi Resources. Aktivitas bursa, lanjutnya, bebas dari campur tangan pemerintah.

Harga solar bisa turun tahun ini


JAKARTA: Pemerintah masih memiliki ruang untuk menurunkan harga bahan bakar minyak bersubsidi jenis solar dan minyak tanah sebelum akhir tahun ini, dengan prioritas penurunan pada harga solar.

Harry Azhar Azis, Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR, menegaskan peluang penurunan harga solar dan minyak mentah terbuka lebar. Kebijakan itu bisa ditempuh asalkan pemerintah yakin asumsi penurunan harga minyak mentah dunia pada US$60 per barel hingga akhir tahun ini.

"Ya itu masih memungkinkan. Tapi bergantung pada pemerintah, apakah yakin akan asumsinya sendiri bahwa harga minyak mentah dunia akan terus turun atau justru fluktuatif," katanya kepada Bisnis, kemarin.

Harry menjelaskan penurunan harga solar dan minyak tanah dapat dilakukan dengan besaran masing-masing Rp500 per liter. Kondisi ini mempertimbangkan adanya penghematan Rp8,5 triliun yang bersumber dari subsidi BBM dua bulan terakhir tahun ini pada APBN-P 2008 yang mencapai Rp10 triliun.

Sisa anggaran Rp8,5 triliun itu didapat setelah sisa subsidi Rp10 triliun dikurangi Rp1,5 triliun dari rencana penurunan harga premium sebesar Rp500 per liter untuk konsumsi rata-rata sebanyak 3 juta kilo liter selama Desember.

Menurut dia, yang perlu diprioritaskan untuk dilakukan penurunan adalah BBM jenis solar karena lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah dan dapat memicu penurunan biaya transportasi dan harga barang-barang.

"Kalau minyak tanah, saya rasa tidak terlalu prioritas. Apalagi pemerintah akan mempercepat konversi minyak tanah ke gas sebanyak 4 juta kiloliter pada tahun depan sehingga subsidinya juga akan habis."

Harry mengakui penurunan harga solar dan premium sebelum akhir tahun ini memang mengandung risiko pembengkakan subsidi BBM tahun ini, yang dapat memicu penambahan defisit anggaran dan pemangkasan belanja kementerian/lembaga. Namun, hal tersebut masih dapat diantisipasi karena pemerintah memiliki cadangan risiko fiskal pada APBN-P 2008 sebesar Rp9,3 triliun.

Akhir pekan lalu pemerintah memberi sinyal penurunan harga solar dan minyak tanah bersubsidi dengan syarat harga minyak mentah dunia stabil pada level US$60 per barel dalam satu hingga dua bulan ke depan.

Pemerintah telah memutuskan untuk menurunkan harga premium Rp500 per liter terhitung 1 Desember tahun ini. Sementara itu, harga BBM subsidi lainnya seperti solar dan minyak tanah tidak diturunkan yakni solar tetap Rp5.500 per liter dan minyak tanah Rp2.500 per liter.

Dirjen Minyak dan Gas Bumi Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Evita Herawati Legowo mengakui kemungkinan penurunan solar dan minyak tanah memang masih dimungkinkan, setidaknya dalam dua bulan ke depan.

Namun, kendati departemen teknis telah menyiapkan perhitungannya pihaknya belum bisa memastikan persentase dan waktu penurunan. "Perlu ditanyakan kepada Departemen Keuangan, uangnya ada atau tidak," katanya kepada Bisnis, kemarin.

Namun, seorang pejabat di Departemen ESDM menyebutkan sebenarnya perhitungan besaran penurunan solar dan minyak tanah sudah disiapkan. Menurut dia, perhitungan itu akan dikeluarkan setelah ada perintah resmi dari Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro.

Harga keekonomian

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu menyatakan penurunan harga solar dan minyak tanah belum dapat dilakukan. Alasan pemerintah belum menurunkan harga solar dan minyak tanah karena harga kedua jenis bahan bakar itu masih berada di bawah harga keekonomian.

"Kalau harga premium kan sudah mencapai harga keekonomian sehingga tidak menimbulkan masalah tambahan subsidi BBM," jelasnya melalui pesan singkat, kemarin.

Akan tetapi, Direktur Center of Petroleum and Energy for Economics Studies Kurtubi berkukuh pemerintah harus bersikap adil dengan ikut menurunkan harga BBM selain premium, terutama solar.

Penurunan harga solar, katanya, akan lebih efektif untuk mengurangi beban biaya transportasi barang produksi sehingga bisa menggerakkan sektor riil. "Selain itu, nelayan juga terbantu kehidupannya dengan penurunan solar tersebut," katanya.

Pasar cermati data ekonomi AS


JAKARTA: Pembelian saham secara selektif akan mendominasi pasar sepanjang pekan ini. Aksi beli itu diperkirakan bergerak dengan mengacu pada data perekonomian Amerika Serikat (AS).

Dampak negatif krisis finansial AS yang terlihat dari data ekonomi sepanjang pekan ini, sehingga berpotensi memicu aksi jual investor asing di bursa Indonesia. Hal itu bisa membuat indeks harga saham gabungan kembali tertekan.

Analis PT Reliance Securities Tbk Andrew Sihar Siahaan memperkirakan pelaku bursa Indonesia akan memilih fokus pada perkembangan bursa global yang saat ini memerhatikan kondisi terbaru perekonomian AS.

"Fokus bursa Indonesia masih ke pasar global. Laporan perekonomian AS seperti neraca perdagangan, data pengangguran, atau pertumbuhan kredit konsumer menjadi indikator krisis finansial," jelasnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Indikator tersebut, lanjutnya, menjadi ukuran sejauh mana krisis finansial memukul perekonomian negara adikuasa itu. "Pemodal asing yang membutuhkan likuiditas akan melepas efek yang dimilikinya di Indonesia," ujarnya.

Kecemasan perlambatan ekonomi membuat harga kontrak pengiriman minyak mentah untuk Desember anjlok ke level US$59,97, sebelum ditu-tup ke level US$62 per barel.

Harga melemah

Harga komoditas tambang di luar batu bara juga melemah seperti tembaga yang turun 6,5%, nikel anjlok 7,3%, dan tembaga terkoreksi 7%.

"Pemodal akan berhati-hati memilih saham pertambangan dan memerhatikan kondisi fundamental emiten untuk melakukan pembelian di tengah koreksi," kata Andrew.

Bloomberg melaporkan indeks Morgan Stanley Capital untuk Asia Pasifik pekan lalu melemah 1,1% menjadi 87,64 karena kekhawatiran memburuknya data pengangguran AS ke level terburuk sejak 2003.

The Fed diprediksi memangkas suku bunga 50 basis poin dari level saat ini 1%. Otoritas moneter AS ini telah dua kali memangkas bunga acuan sebesar 50 basis poin sejak Agustus."Kami memperkirakan ekonomi global akan melemah, tetapi kerusakannya lebih cepat dari perkiraan," ujar Chief Strategist Daiwa SB Investments Ltd seperti dikutip Bloomberg.

Bursa utama Asia pekan lalu bergerak variatif. Indeks Hang Seng yang naik 3,3%, Kospi menguat 3,87%, Shanghai naik 1,75%, STI Singapura naik 01,53%. Namun, indeks Nikkei dan Australia melemah 3,55% dan 2,4%. Indeks Dow Jones pada Jumat pekan lalu ditutup naik 2,85% ke posisi 8.943,81. Indeks S&P 500 juga menguat 2,89% ke level 930,99.

Andrew menilai pemodal akan berhati-hati membeli saham PT Bumi Resources Tbk, sebagai salah satu saham berkapitalisasi terbesar di bursa, mengingat harga minyak mentah dunia sedang tertekan.

Perjanjian dengan Northstar eksklusif


JAKARTA: Rencana San Miguel untuk mengajukan penawaran tandingan terhadap 51% saham PT Bumi Resources Tbk terganjal oleh hak eksklusif perjanjian penjualan terhadap Northstar Pacific.

Sumber Bisnis mengatakan kesepakatan tersebut mengikat Grup Bakrie dan Northstar Pacific dalam jangka waktu tertentu untuk memberikan waktu uji tuntas terhadap Bumi.

"Seharusnya dalam jangka waktu tertentu, Northstar memiliki hak untuk melanjutkan akuisisi Bumi. Saat ini, uji tuntas terhadap Bumi berlangsung dengan dibantu oleh PricewaterhouseCoopers [PwC]," ujarnya kemarin.

Direktur Keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk Yuanita Rohali ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat tidak membalas.

Secara terpisah, Menkeu Ad Interim Sofyan Abdul Djalil mengatakan pemerintah tidak mengintervensi bursa terkait dengan suspend saham Bumi.

Menurutnya, masalah ini merupakan wewenang sepenuhnya Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dan bursa.

"Yang punya wewenang adalah Bapepam-LK bersama bursa."

Bakrieland Mulai Pembangunan The Wave


Jakarta - PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) memulai pembangunan 3 tower apartemen The Wave yang merupakan bagian dari megaproyek Rasuna Epicentrum tahap I.

"Pembangunan The Wave dimulai dengan membangun 3 tower apartemen dari rencana sebanyak 9 tower," ujar Presiden Direktur ELTY, Hiramsyah S Thaib dalam acara peletakan batu pertama di kantor pemasaran Rasuna Epicentrum Jl Rasuna Said, Jakarta, Sabtu (8/11/2008).

Nilai investasi pembangunan 3 tower The Wave sebesar Rp 400 miliar. Pembangunan 3 tower ini diperkirakan memakan waktu 2 tahun hingga November 2010.

"Pengerjaan tower sisanya mulai 2010 hingga 2012. Total investasi pembangunan 9 tower The Wave sekitar Rp 1,35 triliun," ujar Hiramsyah.

Total unit dalam 3 tower The Wave sebanyak 861 unit dengan luas lahan sekitar 3,6 hektar. Kompleks apartemen dengan target pasar kelas menengah atas sudah terjual sekitar 50% sejak diluncurkan Januari lalu.

"The Wave dijual dengan harga mulai Rp 400 juta hingga Rp 1 miliar lebih," ujar Hiramsyah.

Mekanisme pembiayaan melalui fasilitas Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) diberikan porsi 20%. Sisanya melalui tunai bertahap dan tunai.

"Itulah sebabnya proyek-proyek kita tidak terlalu terganggu dengan krisis saat ini, karena porsi pembiayaan melalui KPA tidak terlalu besar," jelas Hiramsyah.

Dana BRI tertahan di Indover Bank US$60 juta


JAKARTA (Bisnis.com): PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mengaku masih memiliki dana yang tersangkut di Indover Bank senilai US$60 juta.

"BRI mempunyai penempatan di Bank Indvover sebesar US$60 juta. Saat ini perseroan sedang menunggu penyelesaian permasalahan tersebut yang sedang ditangani oleh administrator yang ditunjuk pengadilan Belanda," kata Direktur Utama BRI Sofyan Basir dalam keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Indonesia hari ini.

Sofyan menambahkan berdasarkan pencadangan penghapusan pinjaman yang telah terbentuk, BRI mempunyai cadangan yang cukup untuk mengcover exposure tersebut.

BRI, lanjut dia, memiliki konerja yang sangat baik, sehingga permasalahan yang terjadi di Indover tidak emmengaruhi kinerja perseroan dalam memenuhi target yang telah ditetapkan sebelumnya.

Sejumlah bank pelat merah diberitakan sedang disulitkan oleh pembekuan Indover Bank, anak usaha Bank Indonesia, akibat pembekuan oleh pengadilan Belanda atas permintaan Bank Sentral Belanda (De Nederlandsche Bank/ DNB) pada 7 Oktober akibat kesulitan likuiditas.

Sejumlah dana simpanan tersangkut di Indover termasuk milik tiga bank negara, yaitu PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

PT Bank Lippo Tbk juga mengaku memiliki US$5 miliar yang masih 'nyangkut' di Indonesische Overzeese Bank NV (Indover Bank) di Amsterdam dalam bentuk overnight placement pada 6 Oktober 2008.

XL catat pertumbuhan pendapatan 60%


AKARTA: PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 60% sepanjang periode Januari-September tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang dipicu oleh strategi penurunan tarif telekomunikasi.

Dirut XL Hasnul Suhaimi mengatakan pihaknya mencapai pertumbuhan pendapatan cukup signifikan, sementara pertumbuhan EBITDA pada periode Januari-September 2008 meningkat 70% dan EBITDA margin naik 3% menjadi 45% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Pencapaian ini menunjukkan bahwa stategi kami yaitu menawarkan best value through comparable quality and affordable tariff, berjalan dengan baik,’’ katanya, hari ini.

Menurut Hasnul, pihaknya percaya bahwa XL telah melampaui pertumbuhan industri dan�memperbesar pangsa pasarnya.

“Dengan jaringan yang terbesar kedua di Indonesia, kami dapat menjangkau pelanggan kami di seluruh nusantara,” tegasnya.

Sejak pertengahan tahun 2007, XL telah menikmati keuntungan menjadi pionir yang meluncurkan strategi penurunan tarif dengan harga yang sangat terjangkau sehingga meningkatkan minutes of use dan jumlah pelanggan.

Karena voice revenue per outgoing minute (Voice RPM) menurun sebesar 82% dari Rp740 pada periode Januari–September 2007 menjadi Rp130 pada periode Januari–September 2008, jumlah outgoing minutes meningkat 1.076% sedangkan jumlah pelanggan naik 96% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sampai dengan September 2008, XL memiliki 15.111 base transceiver station (BTS). XL telah menambah 5.164 BTS sepanjang 12 bulan terakhir, meningkat 52% dibandingkan dengan periode Januari-September 2007, dengan cakupan lebih dari 90% populasi Indonesia.

XL juga telah menyelesaikan proses upgrade billing system pada kwartal III 2008 di mana dengan ini kapasitas pelanggan bertambah menjadi dua kali lipat sehingga meningkatkan produktifitas perusahaan.

Panic Selling Saham BUMI Tetap Tak Pengaruhi IHSG


JAKARTA. Dengan adanya kenaikan yang cukup signifikan pada indeks hari ini sebesar 2,33%, hal itu menandakan, kekhawatiran investor akan anjloknya indeks jika suspend saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dicabut tidak terbukti. Padahal pada waktu pertama kali perdagangan di bursa dibuka, harga saham BUMI langsung terjun ke Rp 1.780 atau turun 9,87% dibandingkan harga penutupan kemarin.

Bagi para investor yang ingin melakukan transaksi reguler di bursa, harga ini adalah harga paling mentok untuk saham BUMI hari ini. Maklumlah Bursa Efek Indonesia menetapkan batas bawah auto rejection sebesar 10%. Kalau kita lihat penurunan harganya memang belum genap 10% tapi ini karena harga-harga saham di BEI memakai fraksi atau satuan perubahan harga. Untuk saham seharga Rp 500 sampai Rp 2.000 BEI mempergunakan fraksi Rp 10, maka harga terendah yang bisa dicapai BUMI hari ini dalam transaksi reguler adalah Rp 1.780.

Menurut Kepala Riset Alfa Securities Pardomuan Sihombing, saat ini, investor mengalami kepanikan jual atawa panic selling. “Ini sudah menjadi sentimen di pasar. Kemarin dan hari ini, sebagian investor berupaya merealisasikan kewajibannya yang tidak dapat dipenuhi pada saat BUMI disuspend,” paparnya panjang lebar. Alhasil, yang terjadi adalah kepanikan.

“Padahal, jika dilihat, BUMI masih memiliki kinerja yang sangat bagus. Bahkan ke depannya, harga batu bara dipastikan akan kembali rebound. Seharusnya, saat ini dapat dilihat sebagai peluang oleh para investor,” jelasnya.

Kepanikan investor membuat mereka berupaya menjual saham BUMI yang dimiliki secepat mungkin. Sebaliknya, jumlah investor yang ingin membeli terbatas. Dus, jumlah transaksi penjualan saham BUMI lebih banyak dilakukan di luar pasar reguler, seperti pasar negosiasi dan pasar tutup sendiri.

Catatan saja, berdasarkan data dari RTI, untuk pasar tutup sendiri, kemarin (6/11), saham BUMI terendah ditransaksikan pada harga Rp 1.100 per saham yang dilakukan oleh PT Trimegah Securities Tbk dan tertinggi Rp 7.500 yang dilakukan oleh PT Dhanawibawa Artha Cemerlang.

Hari ini, untuk pasar tutup sendiri, harga terendah BUMI berada pada posisi Rp 1.100 yang dilakukan oleh PT Masindo Artha Securities dan tertinggi Rp 3.275 yang dilakukan oleh PT Dhanawibawa Artha Cemerlang.

Sementara itu, di pasar negosiasi, harga saham bumi terendah kemarin dijual pada harga Rp 1.350 dan tertinggi Rp 1.975. Dalam transaksi ini, yang menjadi pihak pembeli adalah PT Samuel Securitas Indonesia dan pihak penjual adalah PT Bahana Securitas.

Hari ini, di pasar negosiasi, harga terendah dan tertinggi masing-masing berada pada posisi Rp 1.200 dengan satu transaksi dan Rp 1.500 dengan dua transaksi.

Pardomuan memprediksi, penurunan harga saham BUMI di pasar reguler akan terus berlanjut hingga akhir bulan nanti. “Paling tidak, sampai ada kejelasan kepada siapa BUMI bakal dijual,” imbuhnya.

Kalau ternyata belum ada kejelasan, bukan tidak mungkin harga saham BUMI akan terkena auto rejection sehingga ngendon pada level terendah yaitu Rp 50. Namun ia menegaskan, kondisi tersebut bakal berbalik arah dan kembali ke harga wajar. “Tapi pastinya tidak dalam waktu dekat, melainkan jangka panjang. Soalnya kinerja dan permintaan BUMI masih baik kok,” pungkasnya.

Laba XL Naik Tajam


Jakarta - PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL) membukukan laba bersih hingga triwulan III-2008 sebesar Rp 891 miliar atau naik 328% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara Normalized net income sebesar Rp 754 milliar atau naik 64% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Normalized net income adalah pendapatan bersih yang telah disesuaikan dengan selisih kurs yang belum direalisasi setelah pajak dan pengaruh dari pajak penghasilan atas bunga dari obligasi dolar Amerika Serikat setelah pajak untuk periode Januari - September 2007.

Kenaikan laba bersih ini didukung oleh peningkatan pendapatan usaha sebesar Rp 9,2 triliun atau naik 60% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Jumlah pelanggan sebanyak 25,1 juta pelanggan atau naik 96% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan jumlah outgoing minutes sebesar 37,9 miliar menit atau naik 1.076% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

"Perencanaan kami yang matang dan konsisten menerapkan strategi affordable pricing telah membawa pada pertumbuhan yang tinggi. Kami percaya bahwa kami telah melampaui pertumbuhan industri dan
memperbesar pangsa pasar kami," papar Dirut XL, Hasnul Suhaimi dalam siaran pers, Jumat (7/11/2008).

Sampai dengan September 2008, XL memiliki 15.111 BTS. XL telah menambah 5.164 BTS sepanjang 12 bulan terakhir, meningkat 52% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dengan cakupan lebih dari 90% populasi Indonesia.

XL juga telah menyelesaikan proses upgrade billing system pada kwartal III 2008 dimana dengan ini kapasitas pelanggan bertambah menjadi 2 kali lipat sehingga meningkatkan produktifitas perusahaan.

Inilah Klarifikasi BEI Soal BUMI


INILAH.COM, Jakarta - Setelah saham PT Bumi Resources (BUMI) terombang ambing sejak Rabu (5/11) dan akhirnya benar-benar dibuka Kamis (6/11), banyak pihak yang penasaran ingin tahu alasannya.

Untuk mengobati rasa penasaran mereka yang ingin tahu mengapa saham BUMI sampai akhirnya dibuka, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah mencoba angkat bicara.

Erry mengatakan alasan pembukaan suspensi saham BUMI karena otoritas bursa menganggap informasi dari pihak Bakrie & Brothers (BNBR) sudah mencukupi dan tidak ada hal lain lagi yang diperlukan.

"Kita sudah menerima segala informasi yang kita butuhkan (dari Bakrie), jadi tak ada alasan untuk menunda-nunda pembukaan suspensi BUMI," katanya kepada INILAH.COM di Jakarta, Kamis (6/11).

Ketika ditanya mengenai public expose yang belum dilakukan, Erry mencoba berkelit.

Ia mengatakan bahwa public expose itu diwajibkan bagi BNBR. "Yang harus public expose itu BNBR, kalau BUMI tidak harus dan dia juga sudah dijual 35% ke Northstar," ungkapnya.

Menurut Erry, mekanismenya sudah jelas, sehingga pihak bursa segera membuka kembali perdagangan BUMI. Perlakuan terhadap BUMI ini berbeda halnya dengan saham Bakrie & Brothers (BNBR) dan Energi Mega Persada (ENRG).

"Ini sudah jelas, ya kita buka dong, kalau BNBR dan ENRG belum. Khusus BNBR harus public expose dulu, sedangkan ENRG masih belum jelas karena transaksinya belum tahu," ujarnya.

Terkait dengan anggapan pembukaan perdagangan saham BUMI terkesan mendadak, Erry tak sependapat.

"Tidak mendadak kok. Tapi memang ada informasi lain yang harus ditelaah pemerintah agar semua tidak bias, maka lebih baik untuk dikaji kembali dan itulah alasannya kenapa disuspensi lagi. Itu agar tidak ada informasi yang salah di pasar," tandasnya.

Sekali lagi Erry menegaskan bahwa pembukaan suspensi BUMI dilakukan karena otoritas bursa sudah menganggap semua sudah cukup dan mekanisme akan dibuka atau ditutup kembali diserahkan kepada bursa

Indofood Merger Anak Usaha Sektor Distribusi


Jakarta - Perusahaan makanan terpadu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk berencana melakukan merger terhadap dua anak usahanya yang bergerak di bidang distribusi.

Perusahaan yang akan dimerger itu adalah PT Indomarco Adi Prima dan PT Tristara Makmur yang keduanya 100% dimiliki oleh Indofood.

"Merger tersebut untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktifitas dari kelompok usaha strategis distribusi perseroan," kata Corporate Secretary Indofood, Werianty Setiawan dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia, Kamis (6/11/2008).

Rencana penggabungan ini baru akan berlaku seluruhnya setelah semua syarat dipenuhi, termasuk persetujuan dari RUPS dan kreditor masing-masing perusahaan-perusahaan peserta penggabungan.

PT Indomarco Adi Prima adalah perusahaan yang bergerak dalam distribusi dan impor
barang-barang konsumen. Begitu pula dengan PT Tristara Makmur merupakan perusahaan distribusi untuk produk-produk Indofood.

San Miguel Ingin Beli 51% Saham BUMI


Manila - Perusahaan makanan Filipina San Miguel, berniat membeli saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik grup Bakrie hingga 51 persen. Tawaran ini lebih banyak dari konsorsium Northstar Pacific yang ingin membeli saham sebanyak 35 persen.

"Kami mengkonfirmasi bahwa perusahaan berminat untuk membeli saham PT Bumi Resources sedikitnya 51%," ujar Corporate Information Officer San Miguel Ferdinand K Constantino dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Filipina, Kamis (6/11/2008).

Menurut Ferdinand pihaknya kini tengah berdiskusi dengan manajemen BUMI terkait pinangan San Miguel ini.

Sebelumnya manajemen BUMI mengumumkan pihaknya kini tengah menunggu penandatanganan Conditional Sales and Purchase Agreement (CSPA) dengan Northstar terkait penjualan 35 persen saham BUMI.

Harga Premium Turun Rp 500 Mulai 1 Desember


Jakarta - Setelah melewati perhitungan dan analisis yang panjang, pemerintah akhirnya menurunkan harga BBM Premiun. Penurunannya Rp 500 per liter.

"Dengan melihat kondisi APBN kita di tahun ini, maka dengan ini pemerintah menurunkan harga premium sebesar Rp 500/liter dari 6.000 menjadi Rp 5500/liter," kata Menkeu Sri Mulyani di Jakarta, Kamis (6/11/2008).

Penurunan harga hanya berlaku bagi BBM premium. Sedangkan BBM subsidi lainnya seperti solar tidak mengalami perubahan harga.

Ada 2 pertimbangan pemerintah menurunkan harga BBM Premium. Pertama adalah harga
minyak dunia yang terus turun hingga di bawah US$ 65, dan yang kedua adalah aspirasi masyarakat.

"Kedua, menyikapi aspirasi masyarakat, DPR tentang permintaan penurunan harga BBM," tandasnya.

Harga berlaku sejak 1 Desember 2008

PTBA, BUMN Pertama Beli BUMI


Jakarta - PT Tambang Batubara Bukit Asam (PT BA) hampir dipastikan ikut dalam konsorsium Northstar Pacific, pihak pembeli hingga 35% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

"Yang jelas PT BA dulu (masuk konsorsium-red)," kata Menneg BUMN Sofyan Djalil, di Jakarta, Kamis (6/11). Menurut Sofyan, BUMN tambang yang ikut konsorsium harus terlebih dahulu melakukan due diligence (uji tuntas) terhadap rencana tersebut.

Northstar adalah perusahaan investasi bagian dari Texas Pacific Group (AS) memenangkan penawaran pembelian hingga 35% saham BUMI senilai US$ 1,3 miliar mengalahkan penawaran San Miguel (Filipina) dan Tata Group (India).

Selain PT BA, dua BUMN lainnya yaitu PT Antam Tbk dan PT Timah Tbk pernah berminat menjadi pembeli BUMI, namun tidak terealisasi karena harga terlalu tinggi. "Kalau harganya tepat ya... silahkan masuk," kata Sofyan.

Sementara itu PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menyatakan sedang mengkaji kemungkinan bergabung dengan Northstar. "Kita akan meneliti masuk BUMI dari aspek komersialnya, namun terserah kepada pemerintah (Kementerian BUMN-red)," kata Direktur Keuangan Antam, Djaja Tambunan.

Secara prinsip pemerintah mendorong BUMN ikut memiliki saham di BUMI namun harus disesuaikan dengan kemampuan perusahaan dan dilakukan secara bisnis (b to b).Meski begitu harus juga disesuaikan dengan kemampuan likuiditas BUMN yang bersangkutan.

Namun, menurut seorang sumber di pemerintahan bahwa setiap BUMN dalam menempatkan kepemilikan saham di suatu perusahaan harus minimal 10%. Ini bertujuan agar dapat menempatkan satu direksi di sana.

Inco Perpanjang KK


JAKARTA, Investor Daily
PT International Nickel Indonesia (Inco) Tbk akan mengajukan proposal perpanjangan kontrak karya (KK) untuk merealisasikan pembangunan pabrik pengolahan (smelter) nikel milik Inco di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.
Inco mengancam tidak akan membangun smelter nikel bila pemerintah tak memperpanjang KK.

“Sebenarnya Inco berencana memulai pembangunan smelter pada 2010 dan diharapkan tuntas pada 2016,” kata sumber yang mengetahui rencana bisnis Inco tersebut kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (5/11).

Sumber menjelaskan, pemerintah Indonesia sebenarnya telah memodifikasi dan memperpanjang KK Inco pada 15 Januari 1996 selama 30 tahun berikutnya hingga 2025.

Namun, melihat rentang waktu yang hanya delapan tahun sejak beroperasinya smelter pada 2016, Inco menganggap itu tidak ekonomis. “Investasi yang dikucurkan Inco mencapai US$ 2 miliar,” ujarnya.

Di dalam KK, investasi smelter sebenarnya hanya US$ 500 juta. Inco rencananya membangun smelter dengan kapasitas 30.000 ton per tahun.

Dirjen Mineral, Batubara, dan Panas Bumi DESDM Bambang Setiawan mengatakan, Inco saat ini belum bisa meminta perpanjangan KK kembali. Perpanjangan KK Inco baru bisa dilakukan kembali sebelum 10 tahun masa KK saat ini berakhir. “Itu semua diatur telah diatur dalam KK,” katanya kepada Investor Daily, tadi malam.

Ketika ditanya apakah pemerintah akan menyetujui perpanjangan KK tersebut bila Inco mengajukan proposal pengajuan perpanjangan, dia menjawab, “Inco harus menaati KK yang ada saat ini dulu. Jika Inco mengajukan perpanjangan KK, semua keputusan pemerintah yang berkuasa nanti,” jelas dia.

Antam Serius Minati BUMI


Jakarta - BUMN pertambangan PT Antam Tbk kembali menyatakan minatnya untuk membeli saham PT Bumi Resources Tbk. Antam meminta restu kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian BUMN.

"Umumnya up to government dulu tapi bukan berarti penugasan pemerintah, kita juga akan meneliti Bumi dari aspek komersialnya," ujar Direktur Keuangan Antam, Jaya Tambunan di kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (5/11/2008).

Menurutnya, semua BUMN yang terkait dengan pertambangan mineral pasti tengah mengkaji soal penjualan saham BUMI ini.

"Tapi masalahnya siapa yang masuk belum," ujarnya.

Dengan masuknya Antam dalam bursa calon pembeli Bumi, berarti menyusul niat PT Tambang Batubara Bukit Asam TBbk (PTBA) yang mengajukan restu ke Menneg BUMN. Selain 2 BUMN itu dikabarkan PT Timah juga berniat untuk membeli saham BUMI.

Sementara itu mengenai perkembangan buy back atau pembelian kembali saham, Jaya menuturkan pada perseroan hanya ingin menjaga agar harga saham tidak terlalu turun drastis.

"Prinsipnya kita tidak mau jadi market maker, basically kita mau menjaga, supaya sahamnya tidak turun saja, agar jangan sampai shareholder merasa kita tidak melakukan apa-apa," ujarnya.

Telkom diduga paksa diler aktifkan Flexi


JAKARTA (bisnis.com): PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk diduga memaksa authorized dealer untuk melakukan aktivasi nomor Flexi dengan insentif tertentu untuk mendongkrak jumlah pelanggan dan pangsa pasarnya.

Praktisi telekomunikasi dari PT Emslanindo Pratista Mahardika—distributor kartu prabayar-- S. Teguh, mengatakan berdasarkan pengakuan dari sejumlah diler Flexi, terdapat program aktivasi paksa terhadap 3,3 juta kartu perdana produk Telkom tersebut kepada diler kartu prabayar dengan sejumlah imbalan tertentu.

“Bila insentif yang diberikan adalah Rp10.500 per kartu yang aktif, maka untuk 3,3 juta kartu, operator tersebut harus mengeluarkan anggaran hingga Rp3,5 miliar,” ujarnya kepada bisnis.com, hari ini.

Saat ini, jumlah pelanggan layanan Telkom Flexi telah mencapai lebih dari delapan juta orang, sementara jaringan telepon kabel sekitar 8,5 juta sambungan.

Ketika dikonfirmasi, VP Marketing and Public Communication Telkom Eddy Kurnia membantah hal tersebut.

“Tidak benar Telkom memaksa authorized dealer untuk melakukan aktivasi. Kami hanya mendorong diler untuk melaksanakan penjualan dengan target tertentu dan yang dihitung adalah yang aktif saja,” ungkapnya.

Menurut dia, memang benar jika target tercapai dijanjikan ada insentif khusus, tetapi jika tidak mencapai tidak diberikan insentif tersebut dan itu wajar saja dalam mendorong tercapainya penjualan.

PTBA akan gandeng BUMN beli saham Bumi


JAKARTA (bisis.com): PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk (PTBA) akan menggandeng mitra BUMN lainnya untuk membeli sebagian saham PT Bumi Resources Tbk.

Dirut PTBA Sukrisno mengatakan perseroan kemungkinan besar akan mengalokasikan dana internal di atas US$100 juta untuk membeli saham Bumi Resources. Agar pendanaan lebih kuat, BUMN pertambangan ini menawarkan kepada perusahaan pelat merah lainnya untuk bergabung.

"Kami akan menggelar pembicaraan dengan Antam maupun Timah agar masuk ke konsorsium. Saat ini hanya ada dua perusahaan yang ada dalam konsorsium pembeli Bumi, yaitu PTBA dan Northstar," katanya kepada Bisnis hari ini.

Selain akan mengajak BUMN lain untuk bergabung, saat ini PTBA juga tengah menyelesaikan uji tuntas (due dilligence) pembelian saham Bumi.

Menurut Sukrisno, harga yang dipatok saat ini sebesar US$1,3 miliar masih bisa berubah. Hal ini tergantung dari materi uji tuntas yang sedang dibahas, berikut opsi-opsi yang ada.

"Kami juga tengah membahas persentase pembagian saham dalam konsorsium. Saat ini kami masih belum selesai membicarakan pembagian tersebut. Kami masih menunggu BUMN lain yang ingin bergabung. Ditargetkan akhir bulan ini bisa selesai," ujarnya.

Inco Siapkan Dana US$ 200 Juta


JAKARTA, Investor daily

PT International Nickel Indonesia Tbk (Inco) tahun depan berencana mengucurkan dana sekitar US$ 300 juta atau Rp 3,3 triliun. Dana tersebut akan digunakan sebagai modal kerja (capital expenditure/capex) perseroan.



“Mengenai besaran dana yang kami kucurkan, kemungkinan bisa kurang atau lebih dari nilai itu. Namun, sepertinya berada dikisaran angka tersebut,” kata Edi Permadi, directur of regional external relation Inco, ketika dihubungi di Bali, akhir pekan lalu.



Edi mengatakan, capex terbesar akan digunakan untuk meneruskan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Karebbe di Sungai Larona, Sulawesi Tenggara.



“Sekitar US$ 100 juta akan dihabiskan untuk proyek PLTA Karebbe. Saat ini, pembangunan PLTA Karebbe baru terselesaikan sekitar 25% sejak mulai dibangun pada 2006. Total dana yang dibutuhkan untuk proyek itu sekitar US$ 410 juta,” ujar Edi.



Dia menambahkan, jika proyek PLTA Karebbe tuntas dibangun, maka kapasitas pembangkit listrik Inco akan meningkat sebesar 90 megawatt (MW) menjadi 365 MW dari kapasitas saat ini 275 MW. “Kami berharap pembangkit listrik tersebut bisa beroperasi penuh pada 2011-2012,” ujarnya.



Selain digunakan untuk meneruskan pembangunan PLTA Karebbe, imbuh Edi, sisa dana dari US$ 300 juta antara lain akan digunakan untuk melakukan studi kelayakan dan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) tahap dua di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.



“Rencananya, di Pomalaa kami akan membangun pabrik pengolahan bijih nikel (smelter) kapasitas 30.000 ton per tahun. Namun, sebelum pabrik tersebut dibangun, kami akan melihatnya terlebih dahulu apakah menguntungkan secara ekonomis atau tidak,” jelasnya.



Edi menjelaskan, jika tidak ada rintangan, smelter tersebut akan mulai dibangun pada 2010 dan diharapkan selesai dibangun pada 2016 dengan nilai investasi sekitar US$ 2 miliar.



“Tapi sebelum smelter itu dibangun, kami akan coba mengajukan kembali perpanjangan kontrak karya (KK) ke pemerintah Indonesia. Sebab, sisa waktu delapan tahun sebelum berakhirnya KK Inco pada 2025, tidak cukup bagus secara nilai keekonomian,” katanya.



Terima Penghargaan



Sementara itu, pada perayaan Hari Habitat 2008, Inco memperoleh penghargaan dari Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera) dan Corporate Forum for Community Development (CFCD) sebagai perusahaan yang mendukung program pemerintah dalam bidang perumahan.



Pemberian penghargaan tersebut dilakukan pada Jumat (31/10) di Bali dan diserahkan langsung oleh Menpera Yusuf Asy’ari. “Pemberian penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi pemerintah terhadap perusahaan yang telah menjalankan tanggungjawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) dibidang perumahan,” kata Menpera.



Edi Permadi menjelaskan, hingga kini tidak kurang dari 360 unit rumah telah dibangun perseroan dengan dana sekitar Rp 20 miliar. Perumahan tersebut diperuntukan bagi karyawan. Program ini merupakan tanggungjawab sosial perusahaan untuk menjaga keberlanjutan aktivitas perusahaan.

Inflasi rendah, BI Rate harus turun


JAKARTA: Rendahnya laju inflasi pada Oktober 2008 menunjukkan stabilisasi harga yang mulai tercipta, sehingga ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga makin terbuka.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan realisasi inflasi bulanan dan tahunan pada Oktober, masing-masing 0,45% dan 11,77%, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

"Untuk Oktober, terjadi cooling down, konsumsi normal, dan harga-harga juga kembali normal," tuturnya kemarin.

Rusman menjelaskan realisasi inflasi bulanan dan tahunan pada Oktober jauh lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Untuk itu, pemerintah harus berupaya keras meredam laju inflasi di bawah 1% dalam 2 bulan terakhir ini, yakni November dan Desember.
Dalam sisa 2 bulan terakhir itu, inflasi tidak boleh melampaui 1,4% untuk bisa mencapai target inflasi 2008 sebesar 12%, mengingat inflasi tahun kalender sudah 10,96%.

Dari 66 kota yang disurvei BPS, 53 kota mengalami inflasi dan 13 kota terjadi deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Palangkaraya sebesar 1,71%, sedangkan yang terendah di Palu 0,03%. Deflasi tertinggi terjadi di Ambon, yakni 1,63% dan terendah di Jambi 0,03%.

Secara umum, inflasi selama Oktober terjadi pada kelompok barang dan jasa, yang terdiri dari kelompok makanan jadi; minuman; rokok dan tembakau 0,77%; kelompok bahan makanan menyumbang 0,71%; dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,24%.

Selanjutnya, kelompok sandang 0,71%; kelompok kesehatan 0,52%; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,93%; serta kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,10%.

Setelah pengumuman inflasi, rupiah menguat 0,4% menjadi Rp11.000 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan pada akhir pekan lalu, yakni Rp11.050 per dolar AS. Meski menguat, kurs rupiah masih melemah tajam.

Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia melambung 96 poin (7,6%) menjadi 1.352,72.

Kenaikan 96 poin dalam sehari-yang tertinggi sejak 23 Januari-ini melanjutkan penguatan selama 4 hari terakhir sebesar 22%. Indeks harga saham terakhir menguat selama 4 hari berturut-turut pada 2 Februari 1998.

Turunkan BI Rate

Bambang Soesatyo, Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia, mendesak bank sentral menurunkan BI Rate pada bulan ini.

Menurut dia, BI Rate perlu diturunkan agar perbankan dapat menurunkan suku bunga, sehingga memudahkan dunia usaha untuk mengakses kredit. Dia menilai tingkat bunga kredit modal kerja dan investasi, yang saat ini rata-rata 13%, masih terlalu berat bagi pengusaha.

"BI sebaiknya menanggalkan dulu strategi BI Rate yang tinggi sebagai alat pancing hot money sebelum konsolidasi sektor keuangan dan sistem perbankan di AS dan Eropa rampung," tutur Bambang kepada Bisnis.

Lagi pula, tren global ditandai oleh upaya menurunkan suku bunga guna menggerakkan sektor riil dan memulihkan permintaan. Bank sentral pun seharusnya melakukan hal yang sama, yaitu menurunkan BI Rate.

Bambang juga merujuk penarikan investasi asing pada aset berdenominasi rupiah-yang tercermin dari pelepasan SBI dan SUN sebesar US$2,1 miliar-mengindikasikan BI Rate yang tinggi gagal menahan dana asing bertahan di dalam negeri. Kenaikan suku bunga belum menarik minat pengelola dan investor asing untuk menempatkan dana mereka di pasar Indonesia.

Anggota Panitia Ad Hoc Dewan Perwakilan Daerah Marwan Batubara menilai sudah seharusnya bank sentral menurunkan BI Rate untuk menyelamatkan sektor riil yang terkena imbas dari krisis keuangan global.

Alasan BI untuk menjaga larinya dana dalam jumlah besar ke luar negeri, lanjutnya, sebagai ketakutan yang berlebihan. "Ketakutan hot money lari keluar negeri tidak beralasan. Suku bunga kita paling tinggi kok. Jadi, mau dibawa lari ke mana uangnya, toh bunga di sini lebih tinggi, sudah di atas 9%."

Hal senada disampaikan oleh ekonom Indoconsult Farid Prawiranegara yang mempertanyakan korelasi pelarian dolar AS terhadap merosotnya nilai tukar rupiah. Padahal, suku bunga dipatok pada level tinggi.

Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo berkilah krisis keuangan di Indonesia berbeda dengan yang dialami oleh sebagian besar negara di dunia.

Dengan begitu, negeri ini membutuhkan penanganan khusus. Salah satunya adalah dengan menjaga tingkat suku bunga perbankan tetap tinggi, kendati sebagian besar negara menurunkannya.

Northstar bisa menjadi pengendali baru di Bumi


JAKARTA: Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyatakan Northstar Pacific bisa menjadi pemegang saham pengendali baru di PT Bumi Resources Tbk setelah merampungkan akuisisi 35% saham perusahaan itu.

Apabila itu terjadi, Northstar wajib melaksanakan penawaran tender terhadap saham Bumi yang dimiliki pemodal publik.

Langkah itu terkait dengan penjualan 35% saham Bumi oleh pengendali utama PT Bakrie & Brothers Tbk kepada Northstar, yang didukung oleh perusahaan private equity ketiga terbesar dunia Texas Pacific Group, senilai US$1,3 miliar atau setara Rp2.050 per saham (dengan asumsi kurs Rp10.600 per dolar AS)

Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta Bakrie & Brothers menggelar paparan publik pada hari ini atau besok guna memberikan penjelasan mengenai kegunaan dana penjualan Bumi dan repo saham Bumi. Bapepam-LK dan BEI akan mencabut suspensi saham emiten tambang batu bara terbesar di Indonesia apabila paparan publik itu dinilai memuaskan.

Ketua Bapepam-LK Ahmad Fuad Rahmany akan memeriksa lebih lanjut apakah Northstar menjadi pengendali atau tidak dalam laju operasi Bumi untuk mengetahui kewajiban penawaran tender saham Bumi. "Kami akan melihat dulu apakah dia pengendali, karena pemegang saham Bumi banyak, sehingga hampir 100% keluarga Bakrie tidak lagi memegang saham Bumi, tetapi benar-benar dipegang publik," ujarnya kemarin.

Jika ditarik mundur 90 hari sebelum saham Bumi disuspensi, berarti harga rata-rata tertinggi di pasar mencapai Rp5.600 per saham. Apabila mengacu porsi saham publik sebesar 65% atau 12,61 miliar saham, Northstar paling tidak menyiapkan Rp70,62 triliun dalam penawaran tender.

"Boleh dikatakan, saham keluarga Bakrie ini menarik karena dimiliki oleh banyak orang. Yang lain kan 70% dipegang pendiri, 30% dijual ke pasar," tuturnya.

Fuad menegaskan Bapepam-LK menghendaki manajemen Bumi dan Bakrie & Brothers menjelaskan sejauh mana kendali Northstar dalam perseroan.

"Selain itu, kami tidak tahu siapa Northstar, dia kan hanya fund dan di belakangnya ada beberapa lagi, jadi kami tidak tahu siapa yang mengendalikan. Ini harus jelas," ujarnya.

Buka suspensi

Bapepam-LK segera membuka suspensi setelah memperoleh kejelasan mengenai rencana Bakrie & Brothers setelah penjualan saham Bumi, kegunaan dana penjualan Bumi, kejelasan utang, dan repo saham Bumi melalui paparan publik itu. "Nanti kalau sudah jelas baru saya buka suspensinya," ujar Fuad.

Direktur Pencatatan BEI Edy Sugito mengatakan BEI meminta Bumi menggelar paparan publik pada hari ini atau besok.

Heru P., pemodal individu, mengaku senang dengan pelaksanaan penawaran tender. "Namun, sebagai pemegang repo saham Bumi, saya justru khawatir dengan pelaksanaan penawaran tender. Apa Northstar bersedia melaksanakan penawaran tender dengan harga yang tinggi?"

Apabila BEI membuka suspensi saham Bumi, katanya, aksi jual secara masif akan menekan saham itu. "Kalau dibuka, saya yang akan pertama kali ikut balapan menjual Bumi."

Jasa Marga Siapkan Belanja Modal Rp 2,7 Triliun untuk 2009


JAKARTA. Tak terpengaruh krisis keuangan global, PT Jasa Marga, Tbk menyiapkan dana belanja modal (capex) sebanyak Rp 2,7 triliun pada tahun 2009. Dana ini dipakai untuk mengebut pengerjaan enam ruas jalan tol yang direncanakan bisa dimulai pada tahun depan.

Enam proyek itu antara lain adalah Bogor Ring Road sepanjang 11 km, lalu ada Semarang-Solo sepanjang 76 km, Gempol-Pasuruan sepanjang 32 km, Serpong-Kunciran sepanjang 11,2 km, kemudian ada proyek Kunciran-Cengkareng sepanjang 15,2 km dan Jalan Outer Ring Road (JORR) II Cikunir-Tanjungpriok.

Direktur Utama Jasa Marga Frans Sunito mengatakan pembebasan lahan enam proyek jalan tol itu sudah hampir selesai. "Pembebasan lahannya sudah bisa selesai dan konstruksinya bisa dimulai konstruksinya tahun depan," ujar Frans kemarin. Beberapa di antaranya malahan menurut Frans sudah dalam penunjukan kontraktor yang akan menggarap proyek itu. “Semarang-Ungaran, sudah bisa dikerjakan akhir tahun ini,” ujarnya.

Untuk keenam proyek itu menurut Frans ditargetkan akan bisa selesai selama dua tahun. "Jadi tahun 2011 sudah bisa dioperasikan," ujar Frans. Untuk masalah pendanaan, Frans mengatakan proyek ini tak bisa lepas dari bantuan kredit perbankan. Untuk keenam proyek ini, perusahaan pelat merah ini sudah mendapatkan pinjaman sebanyak Rp 7 triliun, sampai proyek ini selesai dikerjakan. "Bank masih komitmen meskipun di tengah krisis," tutur Frans.

Jasa Marga akan mengebut pengerjaan keenam proyek jalan tol ini. Karena menurut Frans, perusahaannya menargetkan akan bisa mendapatkan pendapatan sebesar Rp 7 triliun di tahun 2012.

Harga BBM Turun Tidak Lebih dari 27 Persen


Jakarta - Pemerintah masih memperhitungkan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM). Jika pun akan menurunkan harga, penurunannya tidak akan sebesar 27-28 persen atau sebesar ketika pemerintah menaikkan harga BBM pada akhir Mei lalu.

Hal tersebut disampaikan Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta di Gedung Bappenas, Jalan Taman Surapati, Jakarta, Senin (3/11/2008).

"Penurunannya pasti akan berkurang, kan pemerintah juga memperhitungkan beban yang harus ditanggung, seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai)," ujarnya.

Pemerintah, lanjut Paskah, dalam 6 bulan terakhir saja harus mengeluarkan dana Rp 12 triliun untuk penyaluran BLT. Sehingga jika menurunkan harga BBM yang tentunya menambah beban pemerintah, prosentase penurunannya tidak bakal melebihi kenaikan BBM pada Mei lalu yang rata-rata naik sebesar 28,7 persen.

Paskah juga mengatakan tidak ada faktor politik dalam perhitungan pengurangan harga BBM.

"Tidak ada faktor politik, ini semua faktor perhitungan beban yang selama ini ditanggung pemerintah selama 1 tahun, pokoknya tidak akan seperti naiknya," ujarnya

Target Inflasi 12% Bisa Tercapai


Jakarta - Target inflasi pemerintah 12% sampai akhir tahun 2008 ini dapat tercapai melihat inflasi pada bulan Oktober 2008 mulai menurun di level 0,45%.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan dalam jumpa pers di kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (3/10/2008).

"Inflasi year on year (yoy) di Oktober sudah turun menjadi 11,7% dari 12,14% inflasi yoy di September 2007. Ini mengartikan pada Oktober tingkat inflasi lebih rendah dari Oktober 2007. Jadi inflasi bisa mencapai 12% di 2008 karena sampai akhir tahun masih ada 1,04% karena saat ini year to date sebesar 10,96%," tuturnya.

Inflasi di 2008 bisa dicapai 12% dengan catatan pada November 2008 inflasi harus lebih rendah dari November 2007 yang sebesar 0,18%.

"Kalau November ini lebih tinggi maka yoy akan naik, Desember juga harus lebih rendah dari inflasi Desember 2007 yang sebesar 1,1%," katanya.

Di tempat terpisah, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu mengatakan pemerintah melihat tren inflasi sudah mulai mengalami penurunan.

"Target kita sampai akhir tahun 12%, itu bisa tercapai, kan Oktober ini sudah menurun," ujarnya ketika ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta.

Bakrie Lepas BUMI ke Northstar Pacific


JAKARTA - Teka-teki siapa yang akan menguasai 35 persen saham anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terjawab sudah.

Produsen batu bara itu jatuh ke Northstar Pacific. Northstar membeli BUMI seharga USD1,3 miliar.

"Untuk jumlah sahamnya, bisa kalian hitung sendirilah 35 persen dikalikan 19,404 miliar saham. Hasilnya dikalikan nilai tukar rupiah saat ini," ujar Direktur Utama BUMI Ari S Hudaya, kepada wartawan, saat konferensi pers di Gedung Wisma Bakrie, Jakarta, Sabtu (1/11/2008).

Menurutnya, nota kesepahaman jual-beli BUMI yang tertuang dalam Conditional Sale & Purchase Agreement (CSPA), sudah ditandatangani Jumat (31/10/2008) malam. "Manajemen putuskan bahwa Northstar sebagai pilihan kami," imbuhnya.

Ari S Hudaya menjelaskan, proses pembelian ini memakan waktu kurang lebih tiga pekan. Menurutnya, Northstar merupakan perusahaan yang cukup besar dan terkenal. Northstar juga sudah cukup lama berada di Indonesia dan mengenal BUMI cukup lama.

"Dana yang dihasilkan akan digunakan untuk melunasi kewajiban utang-utang kami," ujarnya.

Soal struktur kepemilikan BUMI yang baru, lanjutnya, masih menunggu proses selanjutnya. "Itu nanti tergantung dari pemilik yang baru untuk merestrukturisasi yang ada," ujarnya.

Northstar Pacific Beli Bumi Resources US$ 1,3 Miliar


Jakarta - Konsorsium Northstar Pacific segera menandatangani Conditional Sale & Purchase Agreement (CSPA) atas pembelian 35% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai US$ 1,3 Miliar.

Acara penandatanganan akan dilaksanakan siang ini, Sabtu (1/11/2008) di Wisma Bakrie 2 pukul 14.00 WIB.

"Konsorsium Northstar Pacific akan menandatangani CSPA pembelian 35% saham BUMI di harga Rp 1.846 per saham siang ini," ujar sumber detikFinance yang mengetahui rencana tersebut saat dihubungi, Sabtu (1/11/2008).

Saham yang akan dibeli oleh konsorsium 1 perusahaan asing dan 1 perusahaan lokal tersebut merupakan seluruh saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) di BUMI. Total kepemilikan BNBR di BUMI sebanyak 6.791.400.000 saham (35%).

Sebelumnya, Northstar dan San Miguel (Filipina) bersaing ketat untuk menguasai 35% saham BUMI. Namun karena Northstar memberikan penawaran lebih tinggi ketimbang San Miguel, manajemen BNBR memilih memberikan seluruh portofolionya di BUMI pada konsorsium Northstar Pacific.

Northstar Pacific adalah perusahaan investasi milik Patrick Walujo yang merupakan kepanjangan tangan Texas di Indonesia. Menurut sumber tersebut, pada awalnya negosiasi pembelian saham itu juga melibatkan Tata Group. Tapi, kelompok
usaha dari India ini memilih mundur sebelum pembicaraan tuntas. Tata Group rela melepas kesempatan memiliki saham perusahaan tambang batubara tersebut.

Salah satu persyaratan yang diajukan BNBR langsung oleh Nirwan Darmawan Bakrie, adalah opsi pembelian kembali (buy back). Nirwan, kata dia, mengajukan opsi pihaknya bisa membeli kembali saham dalam jangka waktu dua tahun.

BNBR terpaksa melepas seluruh portofolionya di BUMI lantaran sedang dililit utang gadai saham dengan jumlah pokok sebesar Rp 11,51 triliun dan bunga pinjaman sekitar Rp 1,22 triliun. Totalnya sekitar Rp 12,73 triliun. Hasil penjualan 15,3% saham ELTY dan 5,6% saham UNSP hanya meraup dana sebesar US$ 56 juta atau setara dengan Rp 516,6 miliar.
Padahal sisa pokok pinjaman berikut bunga yang masih harus dibayarkan BNBR mencapai Rp 12,73 triliun. Artinya, jika dikurangi perolehan penjualan ELTY dan UNSP, total yang masih harus dibayarkan BNBR mencapai Rp 12,213 triliun.

Kabarnya, setelah transaksi ini dilaksanakan, Bursa Efek Indonesia (BEI) berniat membuka penghentian sementara perdagangan saham (suspensi) 3 emiten grup Bakrie pada perdagangan Senin 3 November 2008.

Bakrie Jual Murah BUMI


Jakarta - PT Bakrie and Brothers Tbk melepas 35% sahamnya di PT Bumi Resources Tbk senilai US$ 1,3 miliar kepada Northstar Pacific, yang merupakan afiliasi dari Texas Pacific Group, sebuah private equity fund kelas dunia.

Sayangnya, Presiden Director BUMI Ari S Hudaya enggan mengungkapkan berapa harga pembelian saham BUMI per lembarnya. Ia hanya mengungkapkan, saat ini jumlah saham yang beredar adalah 19,404 miliar lembar saham.

"Kalian tinggal bagi saja, tinggal hitung. Itu kan 35%, nah jumlah saham yang diterbitkan BUMI 19,404 miliar, dikali 35 persen. Kan dapat jumlah sahamnya, tinggal US$ 1,3 miliar dibagi angkanya," jelas Ari dalam konferensi pers di lobi Wisma Bakrie II, Jakarta, Sabtu (1/11/2008).

Berdasarkan hitungan detikFinance, dengan angka tersebut, maka harga BUMI berarti 0,1914 dolar AS per lembar sahamnya. Jika menggunakan kurs sesuai dengan laporan keuangan semester I-2008 BUMI sebesar Rp 9.225 per dolar AS, maka harga saham BUMI hanya Rp 1.816 per lembar. Sementara jika menggunakan kurs penutupan Jumat (30/10/2008) Rp 10.800 per dolar AS, maka harga saham yang dijual sebesar Rp 2.067 per lembarnya.

Kedua asumsi kurs tersebut masih menggambarkan bahwa harga saham BUMI yang dijual ke Northstar Pacific masih lebih rendah dari harga pasar. Pada penutupan perdagangan Senin, 6 Oktober 2008, harga saham BUMI adalah Rp 2.175. Itu adalah harga terakhir, karena pada perdagangan Selasa, 7 Oktober, saham BUMI disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia hingga Jumat, 30 Oktober lalu.

Harga ini juga berarti jauh dibandingkan dengan harga tertinggi saham BUMI yang pernah mencapai Rp 8.500 per lembar pada 9 Juni 2008. Harga itu juga lebih rendah dari harga IPO sebesar Rp 4.500.

Mengenai pemilihan Northstar, Ari mengatakan bahwa pertimbangan paling utama adalah masalah harga. Menurutnya, ada sejumlah BUMN juga yang pernah mengajukan penawaran, namun akhirnya Northstar yang dipilih karena harganya dianggap paling bagus.

"Kami dari manajemen ingin menyelesaikan lebih cepat (transaksi ini) untuk memberikan nilai bagi pemegang saham dan peruisahaan. Transaksi dokumen sudah diteken tadi malam, yang membeli adalah Nortstar Pacific," jelas Ari dalam konferensi pers singkatnya.

Ia menambahkan, Northstar Pacific masih membutuhkan waktu sekitar 21-28 hari untuk mempelajari dokumen-dokumennya.

"Masih banyak dokumen yang harus diselesaikan kita tetap bekerja terus. Ini pasti closing, mungkin yang bisa berubah itu price, ada price adjustment," jelasnya.

Jual Bumi Resources, Bakrie Tak Punya Opsi Beli Kembali


Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menjual 35% saham PT Bumi Resources Tbk senilai US$ 1,3 miliar. Pembelian itu juga tidak menyertakan opsi beli kembali atau buy back atas saham yang sudah dibeli Northstar Pacific.

"Transaksi ini adalah straight deal dan tidak ada opsi buy back," tegas Presiden Director BUMI Ari S Hudaya dalam konferensi pers di lobi Wisma Bakrie II, Jakarta, Sabtu (1/11/2008).

Ari mengungkapkan, dana hasil penjualan saham BUMI itu akan digunakan untuk membayar utang. Dari penjualan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) sebelumnya, BNBR, menurut Ari telah mengantongi US$ 1,357 miliar.

"Meski utang belum jatuh tempo, tapi kita tidak mau spekulasi dengan kondisi market sekarang. Aksi korporasi itu dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban lebih cepat dari yang dijawadwalkan, sebagai bentuk tanggapan proaktif manajeman terhadap kondisi pasar yang irasional sejak terjadinya krisis subprime di AS. Kondisi tersebut menyebabkan rontoknya pasar modal dunia dan terjadinya kekeringan likuiditas. Jadi kita harapkan dengan deal ini, utang bisa selesai," urai Ari.

BNBR terpaksa melepas seluruh portofolionya di BUMI akibat belitan utang gadai saham dengan jumlah pokok sebesar Rp 11,51 triliun dan bunga pinjaman sekitar Rp 1,22 triliun. Totalnya sekitar Rp 12,73 triliun. Hasil penjualan 15,3% saham ELTY dan 5,6% saham UNSP hanya meraup dana sebesar US$ 56 juta atau setara dengan Rp 516,6 miliar.

Padahal sisa pokok pinjaman berikut bunga yang masih harus dibayarkan BNBR mencapai Rp 12,73 triliun. Artinya, jika dikurangi perolehan penjualan ELTY dan UNSP, total yang masih harus dibayarkan BNBR mencapai Rp 12,213 triliun.

Saham BNBR, BUMI dan ENRG (Energi Mega Persada) sudah disuspensi sejak 7 Oktober lalu hingga hari ini. Sementara 3 emiten Grup Bakrie lainnya, ELTY, UNSP dan BTEL sudah dicabut suspensinya.

Terkait suspensi tersebut, Ari mengatakan bahwa pihaknya menyerahkan kepada otoritas Bursa Efek Indonesia, meski tambahan suspensi sebelumnya diajukan oleh BNBR. BNBR juga sudah mengirim surat terkait tercapainya kesepakatan dengan Northstar Pacific pada Jumat (31/10/2008) malam.

Northstar Pacific merupakan afiliasi dari Texas Pacific Group (TPG) , sebuah private equity fund kelas dunia. TPG sendiri saat ini merupakan pemilik 71,61% saham Bank BTPN, setelah melakukan akuisisi pada 14 Maret 2008.

Harga 10 Saham Mentok Batas Atas


Jakarta - Harga saham sejumlah emiten naik drastis sampai kena batas penolakan otomatis baru (auto rejection) yang ditetapkan sebesar 20% pada perdagangan hari ini, Jumat (31/10/2008).

Saham-saham tersebut antara lain:
1. PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), ditutup di level Rp 5.475, naik Rp 900 (19,67%) dari sebelumnya Rp 4.575.
2. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) ditutup di level Rp 270, naik Rp 45 (20%) dari sebelumnya Rp 225.
3. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) ditutup di level Rp 680, naik Rp 110 (19,29%) dari sebelumnya Rp 570.
4. PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) ditutup di level Rp 820, naik Rp 130 (18,84%) dari sebelumnya Rp 690.
5. PT Astra International Tbk (ASII) ditutup di level Rp 9.350, naik Rp 1.550 (19,87%) dari sebelumnya Rp 7.800.
6. PT United Tractors Tbk (UNTR) ditutup di level Rp 3.150, naik Rp 525 (20%) dari sebelumnya Rp 2.625.
7. PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) ditutup di level Rp 720, naik Rp 120 (20%) dari sebelumnya Rp 600.
8. PT Dharma Henwa Tbk (DEWA) ditutup di level Rp 66, naik Rp 11 (20%) dari sebelumnya Rp 55.
9. PT CP Prima Tbk (CPRO) ditutup di level Rp 80, naik Rp 13 (19,74%) dari sebelumnya Rp 67.
10. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) ditutup di level Rp 118, naik Rp 19 (19,19%) dari sebelumnya Rp 99.

Pemberlakuan aplikasi auto rejection asimetris antara batas atas 20% dengan batas bawah 10% rupanya direspons positif oleh pasar.

IHSG hari ini ditutup di level 1.256,704, naik 82,841 poin (7,06%) dari penutupan kemarin di level 1.173,863.

Analis mengatakan, penerapan batas auto rejection asimetris diharapkan dapat mendorong laju kenaikan IHSG setelah mengalami koreksi tajam selama beberapa pekan terakhir.

Laba Astra Melonjak 61%


Jakarta - PT Astra International Tbk dan anak perusahaannya berhasil mencetak laba sebesar Rp 7,37 triliun selama periode 9 bulan pertama tahun 2008. Angka itu melonjak 61% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,58 triliun.

Untuk pendapatan bersih perseroan hingga triwulan III-2008 mencapai Rp 73,77 triliun atau naik 45% dibandingkan dengan Rp 50,8 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba usaha meningkat 65%, yaitu dari Rp 6,03 triliun menjadi Rp 9,96 triliun.

"Pasar akan semakin menantang dengan tingkat likuiditas yang semakin ketat dan penurunan harga komoditas. Meskipun prediksi bisnis mengalami pergeseran, Perseroan tetap memiliki ketahanan keuangan yang baik dan berada dalam posisi yang kuat untuk memanfaatkan kesempatan yang ada," ujar Presiden Direktur Astra Michael D. Ruslim dalam siaran persnya, Jumat (31/10/2008).

Nilai aktiva bersih Perseroan meningkat 15% dari Rp 27 triliun di akhir 2007 menjadi Rp 31 triliun pada 30 September 2008, dengan nilai aktiva bersih per saham mencapai Rp 7.661.

Perseroan memiliki kas bersih sebesar Rp 2,2 triliun per 30 September 2008 (tidak termasuk utang pada aktivitas jasa keuangan) dibandingkan utang bersih sebesar Rp 1,7 triliun pada tahun sebelumnya, yang berasal dari kuatnya arus kas operasional, dividen substansial yang diterima dari asosiasi dan hasil lanjutan dari right issue United Tractors.

Dengan memasukkan aktivitas jasa keuangan, Perseroan memiliki hutang bersih Rp 10,9 triliun per 30 September 2008, dibandingkan Rp 13,5 triliun pada akhir tahun 2007.

Perseroan akan membayar dividen interim sebesar Rp 300 per saham pada 14 November 2008.

Grup Otomotif dan Jasa Keuangan

Untuk laba operasional Grup Otomotif dan Jasa Keuangan Astra, tidak termasuk asosiasi dan joint venture, tercatat sebesar Rp 3,42 triliun, naik 46% dibandingkan periode yang sama tahun 2007. Bagian atas hasil bersih (share of results) dari asosiasi dan joint venture Otomotif dan Jasa Keuangan mencapai Rp 1,84 triliun, lebih tinggi 50% dibandingkan tahun sebelumnya.

Total penjualan mobil nasional sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2008 adalah sebesar sekitar 467.000 unit, naik 47% dibandingkan periode yang sama tahun 2007. Porsi penjualan mobil Grup Astra, yang terdiri dari enam merek (Toyota, Daihatsu, Isuzu, BMW, Peugeot dan Nissan Diesel), meningkat 44% menjadi kurang lebih 236.000 unit, dengan pangsa pasar sedikit turun menjadi 51%.

Untuk penjualan sepeda motor nasional hingga kuartal III-2008 tahun 2008 meningkat 42% menjadi sekitar 4,8 juta unit dibanding periode yang sama tahun 2007. PT Astra Honda Motor (AHM) membukukan peningkatan penjualan sepeda motor Honda sebesar 51% yaitu sebanyak kurang lebih 2,2 juta unit, sehingga mencapai pangsa pasar 47%. Astra meluncurkan produk new Honda Supra X PGM-FI, model bebek 125 cc, pada bulan Agustus 2008.

PT Astra Otoparts Tbk, anak perusahaan dengan kepemilikan 93,9% saham, mencatat kenaikan laba bersih sebesar 118% menjadi Rp 624 miliar selama sembilan bulan pertama 2008. Hasil ini dicapai berkat adanya peningkatan penjualan sebesar 38%, baik pada pasar domestik maupun ekspor, selain juga karena membaiknya margin dan pendapatan dari penjualan aktiva tetap.

Aktifitas bidang usaha jasa keuangan juga menikmati pertumbuhan pasar otomotif. Total nilai pembiayaan PT Federal International Finance dan Astra Credit Companies meningkat 41% menjadi Rp 21,6 triliun. Per 30 September 2008, pembukuan pinjaman consumer finance mencapai Rp 15,5 triliun, sedikit meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Grup SDA dan Agribisnis

Laba usaha dari Grup Sumber Daya Alam dan Agribisnis, yang terdiri dari bidang usaha agribisnis, alat berat, teknologi informasi dan infrastruktur, meningkat 76% menjadi Rp 6,4 triliun.

Laba bersih PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL), anak perusahan dengan kepemilikan saham sebesar 80%, meningkat 66% menjadi Rp 2,13 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pencapaian ini berasal dari peningkatan harga crude palm oil (CPO) sebesar 41% dan peningkatan produksi CPO sebesar 15% menjadi 735.000 ton, terutama disebabkan kondisi cuaca yang lebih baik. Meski demikian, akhir-akhir ini terjadi penurunan yang signifikan pada harga CPO.

Laba bersih PT United Tractors Tbk (UT), anak perusahaan dengan kepemilikan saham sebesar 59,5%, mencapai Rp 2,09 triliun, naik 89% dibandingkan periode yang sama tahun 2007. Permintaan pasar yang kuat menyebabkan penjualan alat berat Komatsu naik 46% menjadi lebih dari 3.800 unit. UT menyelesaikan right issue sebesar Rp 3,6 triliun 1:6 pada bulan September, dimana dana tersebut akan dialokasikan untuk restrukturisasi hutang, modal kerja, dan pengeluaran modal, termasuk beberapa akuisisi potensial.

Anak perusahaan UT di bidang penambangan, PT Pamapersada Nusantara, mengekstraksi 44 juta ton batubara selama periode tiga kuartal, meningkat 12%, sementara overburden removed meningkat 27% menjadi 330 juta bcm dibandingkan periode yang sama di tahun 2007. Melalui anak perusahaannya, Perusahaan menjual 2,8 juta ton batubara selama sembilan bulan pertama tahun 2008.

PT Astra Graphia Tbk, anak perusahaan dengan kepemilikan saham sebesar 77%, membukukan laba bersih sebesar Rp 56 miliar per sembilan bulan kinerja yang berakhir 30 September 2008.

Laba Bersih Indofood Meroket 66,28%


JAKARTA. Meski kondisi perekonomian dalam negeri masih tidak menentu, namun PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mampu membukukan kinerja yang mengkilap. Hingga kuartal III 2008, Indofood mampu membukukan kenaikan laba bersih mencapai Rp 1.136,2 miliar. Angka tersebut naik 66,28% dari periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 683,3 miliar.

Selain itu, Indofood juga berhasil meningkatkan penjualan bersih konsolidasinya sebesar 52% dari Rp 19,67 triliun pada 2007, menjadi Rp 29,90 triliun tahun ini. Kenaikan penjualan tersebut terdongkrak dari adanya konsolidasi dari PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (Lonsum) dan adanya kenaikan harga jual rata-rata yang lebih tinggi.

“Kami terus berupaya mengoptimalkan efisiensi operasional dan memaksimalkan kinerja agar dapat memberikan hasil yang berkesinambungan,” jelas Anthoni Salim, direktur utama dan CEO Indofood.

Pemerintah Tak Mau Dianggap Membela BUMI


JAKARTA - Kementerian Negara BUMN menyatakan bahwa rencana pembelian saham PT BUMI Resources Tbk (BUMI), diserahkan kepada konsorsium BUMN. Pemerintah tidak mau melakukan intervensi, pasalnya intervensi dikhawatirkan justru akan memicu rumor bahwa pemerintah membela BUMI.

"Pemerintah tidak bisa melakukan intervensi karena bisa dianggap memihak Grup Bakrie, namun jika tidak diintervensi, maka BUMI bisa diambil oleh asing. Padahal BUMI dianggap sebagai perusahaan yang bagus dan bisa mengamankan pasokan batu bara dalam negeri," kata Meneg BUMN Sofyan Djalil, di kantornya, Jakarta, Jumat (31/10/2008).

Sofyan menyayangkan, kenyataan bahwa pemerintah tidak bisa melakukan intervensi, sementara sejumlah perusahaan asing dikabarkan berminat untuk membeli saham BUMI.

"Secara hukum tidak bisa melarang asing beli, jadi kita tidak bisa larang beli. Tapi ada DMO penjualan batubara," jelasnya.

Namun jika pemerintah melakukan intervensi, kata Sofyan, maka nanti pemerintah bisa dicap telah ikut membantu Grup Bakrie.

Jasa Marga Ingin Pendapatannya Naik 2 Kali Lipat di 2012


akarta - PT Jasa Marga Tbk menargetkan pendapatan perusahaan naik dua kali lipat pada 2012. Jika target pendapatan tahun ini sebesar Rp 3,2 triliun, maka empat tahun lagi pendapatan perusahaan bisa mencapai sekitar Rp 7 triliun.

Demikian disampaikan Dirut Jasa Marga Frans S Sunito disela penandatanganan kerjasama e-toll card dengan Bank Mandiri di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Jumat (31/10/2008).

"Di 2012 proyeksi pendapatan Jasa Marga naik 2 kali lipat menjadi sekitar Rp 7 triliun," katanya.

Peningkatan pendapatan mulai terlihat pada target 2009 yang sekitar Rp 3,6 triliun atau naik Rp 400 miliar dari pendapatan 2008.

Kenaikan pendapatan ini bisa terlihat dari transaksi per hari yang diraup Jasa Marga. Saat ini transaksi pembayaran toll yang dikelola Jasa Marga sekitar Rp 10 miliar per hari. Pada 2012 diharapkan transaksi ini meningkat menjadi Rp 20 miliar per hari.

Sementara untuk rencana 2009, Jasa Marga juga mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 4 triliun. Dimana Rp 2,7 triliun untuk membangun 6 ruas jalan tol dan Rp 1,3 triliun untuk kebutuhan perangkat perusahaan.

Enam ruas jalan tol yang akan dibagun Jasa Marga pada 2009 adalah Bogor, Gempol-Pasuruan, Serpong, Semarang-Solo, Kunciran dan JORR II Utara

Bank Mandiri Rogoh Kocek Rp 15 Miliar untuk e-Toll Card


Jakarta - Bank Mandiri merogoh kocek Rp 15 miliar untuk investasi pembayaran tol otomatis (e-toll card). Dalam lima tahun kedepan, bank BUMN ini menargetkan bisa menerbitkan 500 ribu kartu.

Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo menuturkan, untuk tahap pertama pihaknya akan menerbitkan 60 ribu kartu pada awal 2009.

"Untuk investasi komputerisasi pada 2008 kami mengalokasikan US$ 8 juta. Khusus untuk pembayaran tol otomatis ini kami sediakan Rp 15 miliar dan diharapkan bisa BEP (Break Even Point) dalam 3 tahun," katanya disela penandatanganan kerjasama e-toll card di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Jumat (31/10/2008).

Optimisme yang sama ditunjukkan Jasa Marga yang menargetkan 40% pelanggan tol yang dikelolanya akan menggunakan e-toll card dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut Dirut Jasa Marga Frans S Sunito, dengan penggunaan pembayaran otomatis ini maka pengelola tol bisa melakukan efisiensi dalam mekanisme pembayaran tol.

"Meski kami mencoba mengurangi kontak fisik manusia dalam hal pembayaran tarif tol, bukan berarti kami akan mengurangi pegawai. Karena kami tetap butuh tambahan pekerja untuk ruas-ruas baru yang akan kami bangun," katanya.

Ia juga menuturkan, tidak ada penambahan pendapatan yang signifikan dari kerjasama ini karena yang terjadi hanyalah perubahan mekanisme pembayarannya saja.

Kredit Jalan Tol Belum Cair

Sementara itu komitmen kredit untuk pembangunan 10 ruas jalan tol senilai Rp 11 triliun dari Bank Mandiri belum dicairkan sama sekali. Pengusaha tol mengeluhkan sulitnya pembebasan lahan hingga waktu pengerjaan tol pun molor.

Komitmen kredit sebesar itu berasal dari sindikasi perbankan dimana Bank Mandiri menjadi salah satu pemberi kredit.

"Dari komitmen Rp 11 triliun untuk 10 ruas jalan tol, belum ada disbursement sama sekali. Belum ada yang terealisasi," ujar Agus.

Komitmen-komitmen tersebut diberikan pada sekitar 8 perusahaan pembangun jalan tol yang disepakati sejak 2007-2008.

Masing-masing kesepakatan biasanya memiliki tenggat waktu 3 tahun agar kredit dicairkan. Jika dalam 3 tahun tidak dicairkan, biasanya perusahaan tol mengajukan evaluasi ulang terhadap kredit yang dipinjamnya.

"Karena pembebasan lahannya lama, biaya bisa jadi membengkak. Apalagi belakangan semua harga juga naik. Biasanya mereka mengajukan evaluasi lagi atau minta perpanjangan masa pencairan kredit. Bisa jadi dengan kondisi sekarang project cost-nya naik," ujarnya.