Sekretaris Perusahaan BRI Hartono Sukiman menuturkan buyback dilaksanakan pada Januari 2010, dengan menggunakan dana dari internal.
"Kas kami masih mampu untuk melakukan buyback tersebut. Setelah itu, kami akan menerbitkan obligasi subrodinasi senilai Rp2 triliun--Rp3 triliun," ujarnya kemarin.
Opsi beli tersebut telah mendapatkan persetujuan dari Bank Indonesia (BI) pada 9 September.
BRI akan melunasi lebih awal seluruh pokok obligasi subordinasi yang masih terutang kepada pemegang obligasi.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur BRI A. Toni Soetirto menuturkan perseroan menjajaki penambahan jumlah obligasi subordinasi yang akan diterbitkannya menjadi lebih dari Rp3 triliun.
Hal itu dilakukan lantaran ada minat dari BUMN asuransi yang akan mengonversi depositonya menjadi obligasi subordinasi.
Namun demikian, perseroan akan melihat kondisi pasar, sebelum memutuskan untuk meningkatkan jumlah obligasi yang akan diterbitkan.
"Tentu ada kemungkinan untuk menerbitkan obligasi dengan jumlah yang lebih besar dari rencana semula. Namun, kami akan melihat kondisi pasar sebelum memutuskan jumlah obligasi yang akan dilepas," ujarnya kemarin.
Menurut Toni, suku bunga deposito yang rendah menyebabkan para investor mencari alternatif investasi.
Obligasi subordinasi tersebut diproyeksikan bisa dilepas pada akhir tahun ini hingga awal tahun depan.
Perseroan masih merampungkan berbagai persyaratan untuk menjalankan rencana itu.
Bisnis mencatat dalam aksi korporasi tersebut, BRI akan dibantu oleh PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Securities, serta PT Mandiri Sekuritas sebagai underwriter perseroan.
BRI merupakan bank BUMN kedua setelah Bank Mandiri yang mencari dana dari pasar untuk meningkatkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR).
Hartono Sukiman juga menyatakan perseroan akan mengkaji kemungkinan untuk meningkatkan jumlah obligasi subordinasi dari rencana awal menjadi Rp3 triliun dari semula Rp2 triliun guna mengantisipasi lonjakan permintaan pasar.
Peningkatan target itu seiring dengan penjajakan sementara pihak manajemen, di mana terlihat antusiasme pelaku pasar untuk mencari alternatif investasi setelah suku bunga deposito turun.
Menurut Hartono,perseroa masih menunggu rendahnya bunga, sehingga penerbitan obligasi tersebut bisa dilaksanakan pada kuartal I/ 2010. Saat ini CAR perseroan masih memadai untuk menjadi bank jangkar.
Terkait dengan rencana penerbitan obligasi subordinasio Bank Mandiri, sejumlah BUMN asuransi berencana mengonversi deposito yang ada di bank tersebut menjadi obligasi subordinasi, menyusul rencana bank itu menerbitkan surat utang Rp3 triliun untuk memperkuat rasio kecukupan modal.
BUMN asuransi banyak memiliki dana deposito yang tersimpan di Mandiri, dan akan mengubah sebagian dari dana tersebut menjadi obligasi.
Saat ini BUMN asuransi terdiri dari PT Jamsostek, PT Askes, PT Asabri, Jasa Raharja, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), PT Jiwasraya dan PT Taspen.
Direktur Investasi Jamsostek Elvyn G. Masassya menuturkan pihaknya menjajaki konversi sebesar Rp500 miliar-Rp1 triliun.