BRI akan buyback obligasi Rp500 miliar

JAKARTA: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) akan melakukan pembelian kembali (buyback) obligasi subordinasi yang diterbitkan pada 2004 senilai Rp500 miliar.

Sekretaris Perusahaan BRI Hartono Sukiman menuturkan buyback dilaksanakan pada Januari 2010, dengan menggunakan dana dari internal.

"Kas kami masih mampu untuk melakukan buyback tersebut. Setelah itu, kami akan menerbitkan obligasi subrodinasi senilai Rp2 triliun--Rp3 triliun," ujarnya kemarin.

Opsi beli tersebut telah mendapatkan persetujuan dari Bank Indonesia (BI) pada 9 September.

BRI akan melunasi lebih awal seluruh pokok obligasi subordinasi yang masih terutang kepada pemegang obligasi.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur BRI A. Toni Soetirto menuturkan perseroan menjajaki penambahan jumlah obligasi subordinasi yang akan diterbitkannya menjadi lebih dari Rp3 triliun.

Hal itu dilakukan lantaran ada minat dari BUMN asuransi yang akan mengonversi depositonya menjadi obligasi subordinasi.

Namun demikian, perseroan akan melihat kondisi pasar, sebelum memutuskan untuk meningkatkan jumlah obligasi yang akan diterbitkan.

"Tentu ada kemungkinan untuk menerbitkan obligasi dengan jumlah yang lebih besar dari rencana semula. Namun, kami akan melihat kondisi pasar sebelum memutuskan jumlah obligasi yang akan dilepas," ujarnya kemarin.

Menurut Toni, suku bunga deposito yang rendah menyebabkan para investor mencari alternatif investasi.

Obligasi subordinasi tersebut diproyeksikan bisa dilepas pada akhir tahun ini hingga awal tahun depan.

Perseroan masih merampungkan berbagai persyaratan untuk menjalankan rencana itu.

Bisnis mencatat dalam aksi korporasi tersebut, BRI akan dibantu oleh PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Securities, serta PT Mandiri Sekuritas sebagai underwriter perseroan.

BRI merupakan bank BUMN kedua setelah Bank Mandiri yang mencari dana dari pasar untuk meningkatkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR).

Hartono Sukiman juga menyatakan perseroan akan mengkaji kemungkinan untuk meningkatkan jumlah obligasi subordinasi dari rencana awal menjadi Rp3 triliun dari semula Rp2 triliun guna mengantisipasi lonjakan permintaan pasar.

Peningkatan target itu seiring dengan penjajakan sementara pihak manajemen, di mana terlihat antusiasme pelaku pasar untuk mencari alternatif investasi setelah suku bunga deposito turun.

Menurut Hartono,perseroa masih menunggu rendahnya bunga, sehingga penerbitan obligasi tersebut bisa dilaksanakan pada kuartal I/ 2010. Saat ini CAR perseroan masih memadai untuk menjadi bank jangkar.

Terkait dengan rencana penerbitan obligasi subordinasio Bank Mandiri, sejumlah BUMN asuransi berencana mengonversi deposito yang ada di bank tersebut menjadi obligasi subordinasi, menyusul rencana bank itu menerbitkan surat utang Rp3 triliun untuk memperkuat rasio kecukupan modal.

BUMN asuransi banyak memiliki dana deposito yang tersimpan di Mandiri, dan akan mengubah sebagian dari dana tersebut menjadi obligasi.

Saat ini BUMN asuransi terdiri dari PT Jamsostek, PT Askes, PT Asabri, Jasa Raharja, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), PT Jiwasraya dan PT Taspen.

Direktur Investasi Jamsostek Elvyn G. Masassya menuturkan pihaknya menjajaki konversi sebesar Rp500 miliar-Rp1 triliun.


Mobile-8 bundling notebook

JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom (Mobile-8) menghadirkan paket bundling antara notebook Advan dan modem Mobi 3.5G CDMA berkecepatan tinggi.

Beydra Yendi, Direktur Sales & Marketing Mobile-8, mengatakan Mobile-8 dan Advan mempunyai persamaan visi, yaitu memberikan layanan teknologi komputer dan Internet yang terjangkau untuk masyarakat luas guna menciptakan masyarakat yang 'melek' teknologi informasi.

"Dengan paket Internetan Murah Abis ini kami menargetkan akan menambah 7000 pelanggan data," ujarnya melalui siaran pers Mobile-8 kemarin.


Minat Tinggi, Penjualan Emas Melejit

JAKARTA. Semenjak harga emas melejit, minat investor terhadap emas batangan pun meningkat. Pedagang emas pun memanfaatkannya untuk menggenjot penjualan.

Tingginya minat beli itu tecermin dari realisasi penjualan si kuning kinclong ini. Manajer Pegadaian Syariah Rudy Kurniawan mengungkapkan, tahun ini Pegadaian Syariah menargetkan penjualan emas seberat 90 kilogram (kg). Kini, target itu telah jauh terlewati, bahkan di atas 100 kg. Tahun-tahun sebelumnya, volume penjualannya di bawah 90 kg.

Tahun depan, Pegadaian akan meningkatkan target menjadi 250 kg. Bahkan jika penjualan tahun ini mendekati 200 kg, Pegadaian akan merevisi dan menaikkan lagi target penjualan tahun 2010.

Di Pegadaian, investor memburu koin emas 25, 50 dan 100 gram karena terjangkau. Harga koin emas sekitar Rp 342.000 per gram, belum termasuk biaya lain. "Sekarang investor makin mudah mendapatkan emas untuk investasi," ujar Rudy, kemarin.

PT Logam Mulia, anak usaha PT Aneka Tambang Tbk, menargetkan penjualan 10 ton tahun ini. Hingga kini, Logam Mulia menjual 9 ton. Harga emas batangan Logam Mulia Rp 342.000 per gram untuk emas seberat 1 kg.

Martono, Manajer Pemasaran Logam Mulia, berkata bahwa perusahaannya belum menaikkan target penjualan 2010. Tak mudah memenuhi pasokan emas karena produksi dari Antam pun terbatas.

Tahun ini, ANTM memproduksi sekitar 2,8 ton emas. Kekurangannya dipenuhi dari pasar. Sayang, sulit mencari emas di pasar, karena investor menahan emas. "Jadi, volumenya kurang," kata Martono.

Selain menjual emas batangan, Logam Mulia memperluas pasar dengan meluncurkan perhiasan cincin berkadar emas murni mencapai 99,99%. Produk ini menyasar investor perorangan.




BNI Siap Biayai Proyek Migas & Infrastruktur

INILAH.COM, Jakarta - PT BNI (Persero) Tbk siap mendukung pembiayaan proyek minyak dan gas bumi (migas) serta proyek infrastruktur.

"Kami siap membiayai proyek migas dan infrastruktur lainnya," kata Direktur Utama BNI, Gatot Suwondo usai bertemu Menteri ESDM Darwin Saleh di Departemen ESDM, Jakarta, Senin (26/10).

Gatot melanjutkan, BNI sudah membantu pembiayaan proyek pembangkit listik PLN. "Sekarang kan alokasi pendanaan proyek listrik sudah mencapai Rp4 triliun, dan tahun depan akan ditambah lagi," terang Gatot.

Untuk itu, lanjutnya, BNI ingin mengetahui policy apa yang ditawarkan pemerintah. "Ke depannya kami ingin tahu kayak gimana policy-nya," terangnya.


Copyright © 2008 - Informasi Saham - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template